MUSLIMAH

Menuju Insan yang Shalihah

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

MUTIARA DAKWAH

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label BIOGRAFI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BIOGRAFI. Tampilkan semua postingan

7 Mei 2014

Khansa’: Ibunda Para Syuhada


Jika umat Islam tidak mempelajari perjalanan perjuangan generasi pertama umat Islam, kepada siapa mereka akan mengambil teladan. Akankah kisah-kisah menakjubkan dari Rasulullah dan para sahabatnya hanya akan tercetak di dalam buku tanpa ada yang membaca dan mempelajarinya?

Aktivitas mempelajari dan mengajarkan kisah-kisah perjuangan generasi salaf menjadi kebutuhan yang akan berguna untuk menguatkan ruhani, menambah semangat, dan membakar gelora perjuangan di dalam dada-dada kaum muslimin. Ada beberapa manfaat ketika kita mau mempelajari sejarah mereka sebagaimana disebutkan oleh Ahmad Farid dalam kitabnya Min A’lam As-Salaf.

Salah satu manfaat tersebut yaitu kita dapat mengetahui kedudukan kita dibandingkan dengan mrereka. Dengan memperlajari kisah-kisah salaf, kita menjadi sadar diri bahwa kita sebenarnya sangat jauh dari mereka dalam hal iman dan amal. Dengan begitu, akan terdorong dalam diri kita untuk meningkatkan iman dan amal.

Manfaat lainnya yaitu kita dapat meneladani amal-amal mereka yang melimpah. Dengan mempelajari sejarah generasi salaf yang penuh dengan amal-amal kebaikan yang melimpah akan menimbulkan motivasi dalam diri untuk meniru amalan mereka.

Sungguh, telah ada teladan pada generasi yang membersamai Nabi Muhammad menyampaikan risalah Islam. Salah satunya seorang shahabiyat (sahabat wanita). Marilah kita simak kisah Khansa’ yang menakjubkan sebagaimana disebutkan dalam kitab Nisaa Haular Rasul.

Nama lengkapnya ialah Tumadhir binti ‘Amr bin Al-Harits bin Syarid. Dikenal dengan nama Khansa’. Ia terkenal sebagai seorang penyair wanita yang ulung. Suatu ketika Rasulullah meminta Khansa’ untuk bersyair dan beliau sangat mengaguminya. Ketika Khansa’ sedang bersyair, Rasulullah bersabda, “Aduhai, wahai Khansa’, hariku terasa indah dengan syairku.

Di samping keahliannya dalam syair, Khansa’ juga menjadi muslimah yang memiliki semangat juang yang tinggi dalam membela agama Allah. Hal itu terlihat dari seringnya ia keluar berjihad bersama kaum muslimin.

Ketika Mutsanna bin Haritsah asy-Syaibani berangkat ke Qadisiyah di masa Amirul Mukminin Umar bin Khaththab, Khansa’ berangkat bersama keempat putranya untuk menyertai pasukan tersebut.

Di medan peperangan, di saat malam ketika para pasukan sedang siap berperang satu sama lain, Khansa’ mengumpulkan keempat putranya untuk memberikan pengarahan kepada mereka dan mengobarkan semangat kepada mereka untuk berperang dan agar mereka tidak lari dari peperangan serta agar mereka mengharapkan syahid di jalan Allah. Dengarkanlah wasiat al-Khansa’ yang mulia tersebut :

“Wahai anak-anakku, sesungguhnya kalian telah masuk Islam dengan ketaatan, kalian telah berhijrah dengan sukarela dan Demi Allah, tiada ilah selain Dia, sesungguhnya kalian adalah putra-putra dari seorang wanita yang tidak pernah berkhianat kepada ayah kalian, kalian juga tidak pernah memerlukan paman kalian, tidak pernah merusak kehormatan kalian dan tidak pula berubah nasab kalian.
Kalian mengetahui apa yang telah Allah janjikan bagi kaum muslimin berupa pahala yang agung bagi yang memerangi orang-orang kafir, dan ketahuilah bahwa negeri yang kekal lebih baik dari negeri yang fana (binasa).
Allah befirman, ‘Wahai orang-orang yang berfirman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.’ (Ali Imran: 20).
Maka, ketika datang waktu esok, jika Allah menghendaki kalian masih selamat, persiapkanlah diri kalian untuk memerangi musuh dengan penuh semangat dan mohonlah kepada Allah untuk kemenangan kaum muslimin.
Jika kalian melihat perang telah berkecamuk, ketika api telah berkobar, maka terjunlah kalian di medan laga, bersabarlah kalian menghadapi panasnya perjuangan, niscaya kalian akan berjaya dengan ghanimah (rampasan perang) dan kemuliaan atau syahid di negeri yang kekal.”


Setelah keempat putranya mendengarkan nasehat tersebut dengan penuh seksama, mereka keluar dari kamar ibu mereka dengan menerima nasihatnya dan tekad hatinya untuk melaksanakan nasihat tersebut. Maka, ketika datang waktu pagi, mereka segera bergabung bersama pasukan dan bertolak untuk menghadapi musuh, sedangkan mereka berangkat seraya melantunkan syair. Keempat putra Khansa’ tersebut akhirnya mendapat kemuliaan berupa mati syahid.

Ketika berita syahidnya empat bersaudara itu sampai kepada ibunya yang mukminah dan sabar, beliau tidaklah menjadi goncang ataupun meratap, bahkan beliau mengatakan suatu perkataan yang masyhur yang dicatat oleh sejarah dan akan senantiasa diulang-ulang oleh sejarah sampai waktu yang dikehendaki Allah, yakni, “Segala puji bagi Allah yang memuliakan diriku dengan syahidnya mereka, dan aku berharap kepada Rabb-ku agar Dia mengumpulkan diriku dengan mereka dalam rahmat-Nya”.

Umar bin Khaththab mengetahui keutamaan al-Khansa’ dan putra-putranya sehingga beliau senantiasa memberikan bantuan yang merupakan jatah keempat anaknya kepada beliau hingga beliau wafat.

***
Referensi:
Mahmud Mahdi Al-Istanbuli & Musthafa Abu Nashr Asy-Syilbi. Nisaa Haular Rasul. (Terjemahan: Wanita Teladan. 2005. Bandung: Penerbit Irsyad Baitus Salam)
 Ahmad Farid. Min A’lam As-Salaf. (Terjemahan: Biografi 50 Ulama Ahlisunnah. 2012. Jakarta: Penerbit Darul Haq)

***
Sukrisno Santoso
Ditulis saat senja pada hari Rabu, 7 Mei 2014, di rumah, Kota Sukoharjo





2 Mei 2014

Kisah Bekas Perampok Menjadi Ulama


Al-Fudhail bin Iyadh, dijuluki sebagai Abid Al-Haramain (Ahli Ibadah Makkah Madinah). Kawan sejawatnya ialah Imam Malik, Sufyan, dan Ibnul Mubarak. Para ulama memberikan pujian atasnya. Ahmad Farid dalam kitabnya Min A’lam As-Salaf menyebutkan pujian beberapa ulama kepada Al-Fudhail bin Iyadh.

  • Ibnu Sa’ad mengatakan, “Ia adalah tsiqah, memiliki keutamaan, ahli ibadah, wara’, dan banyak hadits.”
  • Adz-Dzahabi mengatakan, “Al-Fudhail bin Iyadh, orang zuhud, syaikh al-haram, salah seorang perawi yang tsabat, disepakati ketsiqahan dan kebesarannya.”
  • Ibnul Mubarak mengatakan, “Menurutku, tidak tersisa lagi di permukaan bumi ini seorang pun yang lebih utama daripada Al-Fudhail bin Iyadh.”

Al-Fudhail bin Iyadh dahulunya ialah seorang perampok atau pemalak jalanan. Kisah taubatnya disebutkan oleh Ibnu Qudamah dalam kitab At-Tawwabin berikut ini.

Dulu Al-Fudhail bin Iyadh menjadi pemalak jalanan. Suatu malam, ia keluar untuk memalak. Ternyata, ada satu kafilah (kelompok) yang mendekat ke arahnya.
Salah seorang dari mereka berkata kepada yang lainnya, “Mari kita singgah terlebih dahulu ke desa ini, karena di hadapan kita ada orang yang biasa merampok bernama Fudhail.”
Fudhail mendengarnya dan menggigil gemetar seraya berseru, “Hai kalian, akulah Fudhail, teruskanlah perjalanan kalian. Demi Allah, aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk tidak mendurhakai Allah untuk selama-lamanya.”
Lalu ia meninggalkan apa yang biasa dilakukannya.
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Fudhail menjamu rombongan kafilah pada malam itu juga. “Kalian aman dari bahaya Fudhail,” seru Fudhail.
Kemudian ia keluar untuk mencari makanan buat mereka. Setelah kembali, tiba-tiba ia mendengar seorang pembaca Al-Quran tengah membaca, “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah,” (QS. Al-Hadid: 16).
Fudhail berseru, “Tentu, telah tiba waktunya....” Inilah awal taubatnya.

Abu 'Ammaar Al-Husain bin Huraits meriwayatkan kisah yang mempunyai kemiripan, sebagaimana dikutip oleh Ustadz Firanda dalam firanda.com berikut ini.

Al-Fadhl bin Musa berkata, “Al-Fudhail bin ‘Iyadh dulunya adalah seorang perampok yang menghadang orang-orang di daerah antara daerah Abiwarda dan dan daerah Sarkhos. Sebab beliau bertaubat adalah beliau pernah terpikat dengan seorang wanita, maka tatkala beliau tengah memanjat tembok untuk menemui (mengintip) wanita tersebut, tiba-tiba saja beliau mendengar seseorang membaca firman Allah, “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah,” (QS Al-Hadid : 16).
Maka tatkala beliau mendengar lantunan ayat tersebut maka beliau langsung berkata, “Tentu saja, wahai Rabbku. Sungguh telah tiba saatku (untuk tunduk hati mereka mengingat Allah).”
Maka beliau pun kembali, dan beliau pun beristirahat di sebuah bangunan rusak. Tiba-tiba saja di sana ada sekelompok orang yang sedang lewat. Sebagian mereka berkata, “Kita jalan terus,” dan sebagian yang lain berkata, “Kita istirahat saja sampai pagi, karena si Fudhail berada di arah jalan kita ini, dan ia akan menghadang dan merampok kita.”
(Mendengar hal ini) Fudhail pun berkata, “Kemudian aku merenung dan berkata, ‘Aku sedang melakukan kemaksiatan di malam hari (yaitu ia berusaha untuk mengintip sang wanita-pent) padahal sebagian dari kaum muslimin di sini ketakutan kepadaku (karena menyangka Fudhal sedang menghadang mereka, padahal Fudhail sedang mau mengintip wanita-pent), dan menurutku tidaklah Allah menggiringku kepada mereka ini melainkan agar aku berhenti (dari kemaksiatan ini). Ya Allah, sungguh aku telah bertaubat kepada-Mu dan aku jadikan taubatku itu dengan tinggal di Baitul Haram’.”
(Lihat biografi beliau di Siyar A'lam An-Nubala dan Tahdzib At-Tahdzib)
***
Referensi:
Ibnu Qudamah Al-Maqdisi. Kitab At-Tawwabin. Peneliti (tahqiq): Abdul Qadir Al-Arnauth. (Terjemahan: Menuju Surga-Mu. 2007. Yogyakarta: Penerbit Uswah, Kelompok Pro-U Media)

Ahmad Farid. Min A’lam As-Salaf. (Terjemahan: Biografi 50 Ulama Ahlisunnah. 2012. Jakarta: Penerbit Darul Haq)

Firanda Andirja. 2010. “Bekas Perampok Jadi Ulama?” dalam http://firanda.com (diakses pada tanggal 2 Mei 2014)

***
Sukrisno Santoso
Ditulis saat hujan gerimis pada hari Jumat, 2 Mei 2014, di rumah, Kota Sukoharjo


8 April 2014

Faidah Mempelajari Biografi Ulama


“Siapakah pemimpin kota ini?”
Pertanyaan itu dilontarkan oleh seorang laki-laki yang masuk kota Bashrah.
Orang-orang menjawab, “Hasan Al-Bashri.”
“Karena apakah, “tanya laki-laki itu, “dia menjadi pemimpin mereka?”
“Mereka membutuhkan ilmunya, sedangkan dia tidak membutuhkan harta benda mereka.”

Demikianlah ilmu telah mengangkat pemiliknya menjadi orang yang mulia. Sebagaimana sabda Rasulullah, “Sesungguhnya Allah meninggikan beberapa kaum dengan ilmu ini, dan merendahkan beberapa kaum lainnya dengannya.” (HR. Muslim)

Sufyan bin Uyainah berkata, “Orang yang paling tinggi kedudukannya ialah orang yang berada di antara Allah dengan para hamba-Nya, yaitu para nabi dan ulama.”

Seorang mantan budak, Atha’ bin Abi Rabah, yang berkulit hitam dan berhidung pesek, menjadi mulia kedudukannya karena ilmu bersemayam dalam hatinya. Bahkan, khalifah Sulaiman bin Abdul Malik pun membawa kedua putranya untuk belajar kepadanya.

Lihatlah seorang perampok jalanan yang bertaubat, Fudhail bin Iyadh. Hingga ia kemudian menjadi orang yang mulia dengan memepelajari ilmu dan mengamalkannya. Para ulama memuji-muji kebaikannya. Dan kata-kata mutiaranya menghias buku-buku para ulama.

As-Syafi’i, yang sejak kecilnya hidup sebagai anak yatim yang miskin. Ia menggunakan tulang yang lebar sebagai tempat untuk menuliskan hadits karena tidak memiliki harta untuk membeli kertas. Hingga saat ini, namanya masih disebut-sebut, kitabnya dipelajari dan disebarluaskan, pemahaman dan pemikirannya menjadi panduan umat Islam.

Umat Islam telah mencatatkan tokoh-tokoh besar sepanjang perjalanan masa. Mereka –para ulama– telah membimbing umat dengan dua tongkat rabbaninya, Al-Qur’an dan Hadits. Melalui tangan merekalah, cahaya Islam menyebar ke seluruh belahan dunia.

Oleh karena itu, begitu perlunya kita untuk mengetahui kehidupan mereka. Perlu kita ketahui bagaimana perjalanan mereka dalam menuntut ilmu, amalan-amalan wajib dan sunah mereka, semangat mereka dalam menyebarkan benih-benih kebaikan, nasehat-nasehat yang meluruh dalam hati, dan pemikiran-pemikiran mereka yang cemerlang.

Jika umat sudah dijauhkan dari mengenal kehidupan mereka, siapakah yang akan menjadi teladan umat ini? Apakah para artis, atlet, dan para pelawak yang akan menjadi panutan umat?

Sungguh, saat ini generasi Islam perlu didekatkan dengan ulama agama ini. Sangat perlu adanya majelis-majelis yang di dalamnya disampaikan sejarah kehidupan para ulama. Para dai perlu mengenalkan ulama kepada para penuntut ilmu. Harapannya, kebaikan yang ditinggalkan para ulama itu akan diraih, diamalkan, dan disebarkan oleh generasi umat ini.

Ada banyak faidah yang akan kita dapatkan tatkala mempelajari biografi para ulama. Syaikh Ahmad Farid menyebutkan beberapa faidah di dalam kitabnya, Min A’lam As-Salaf.

  1. Mendidik bagi para pemuda untuk meraih kebangkitan Islam.
  2. Menghimpun rangkuman pengalaman, sari pemikiran, dan pendirian para ulama, lalu ia dapat berpegang teguh dan bersungguh-sungguh dalam kebaikan.
  3. Mengetahui kemuliaan ilmu dan pengembannya.
  4. Menambah kecintaan kepada ulama, orang-orang yang shalih. Bukankah Rasulullah pernah bersabda, “Seseorang itu bersama orang yang dicintainya.” (HR. Bukhari)
  5. Menyebarkan ilmu mereka, memetik pemahaman mereka, dan mengambil pelajaran dari nasehat mereka.
  6. Rahmat-rahmat akan turun ketika mengenang orang-orang yang shalih.
  7. Mengetahui kedudukan diri kita dibandingkan mereka.
  8. Meneladani amal-amal mereka yang melimpah.
  9. Mengetahui tingkatan para ulama dan mengetahui guru dan murid mereka.
  10. Memperbaharui kemauan untuk berusaha meniru kebaikan mereka.
***

Referensi:
Kitab Min A’lam As-Salaf. Ahmad Farid. (Terjemahan: Biografi 60 Ulama Ahlisunnah. 2012. Jakarta: Penerbit Darul Haq)

***


Sukrisno Santoso
Ditulis pada pagi hari yang cerah, Selasa, 8 April 2014, di rumah, Kota Sukoharjo


26 Maret 2012

Biografi Umar bin Khaththab


Nama lengkapnya adalah Umar bin Khaththab bin Nufail bin Abdul Izzy bin Rabah bin Qirath bin Razah bin Adi bin Ka’ab bin Luay al-Quraisy al-‘Adawy. Terkadang dipanggil dengan Abu Hafash dan digelari dengan al-Faruq. Ibunya bernama Hantimah binti Hasyim bin al-Muqhirah al-Makhzumiyah.

Awal Keislamannya
Umar masuk Islam ketika para penganut Islam kurang lebih sekitar 40 (empat puluh) orang terdiri dari laki-laki dan perempuan.
Imam Tirmidzi, Imam Thabrani dan Hakim telah meriwayatkan dengan riwayat yang sama bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam telah berdo’a, ”Ya Allah, muliakanlah agama Islam ini dengan orang yang paling Engkau cintai diantara kedua orang ini, yaitu Umar bin al-Khaththab atau Abu Jahal ‘Amr bin Hisyam.”.

Berkenaan dengan masuknya Umar bin al-Khaththab ke dalam Islam yang diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad yang diungkap oleh Imam Suyuti dalam kitab “ Tarikh al-Khulafa’ ar-Rasyidin” sebagai berikut:

Anas bin Malik berkata:” Pada suatu hari Umar keluar sambil menyandang pedangnya, lalu Bani Zahrah bertanya” Wahai Umar, hendak kemana engkau?,” maka Umar menjawab, “ Aku hendak membunuh Muhammad.” Selanjutnya orang tadi bertanya:” Bagaimana dengan perdamaian yang telah dibuat antara Bani Hasyim dengan Bani Zuhrah, sementara engkau hendak membunuh Muhammad”. Lalu orang tadi berkata,” Tidak kau tahu bahwa adikmu dan saudara iparmu telah meninggalkan agamamu”. Kemudian Umar pergi menuju rumah adiknya dilihatnya adik dan iparnya sedang membaca lembaran Al-Quran, lalu Umar berkata, “barangkali keduanya benar telah berpindah agama”,. Maka Umar melompat dan menginjaknya dengan keras, lalu adiknya (Fathimah binti Khaththab) datang mendorong Umar, tetapi Umar menamparnya dengan keras sehingga muka adiknya mengeluarkan darah.

Kemudian Umar berkata: “Berikan lembaran (al-Quran) itu kepadaku, aku ingin membacanya”, maka adiknya berkata.” Kamu itu dalam keadaan najis tidak boleh menyentuhnya kecuali kamu dalam keadaan suci, kalau engaku ingin tahu maka mandilah (berwudhulah/bersuci).”. Lalu Umar berdiri dan mandi (bersuci) kemudian membaca lembaran (al-Quran) tersebut yaitu surat Thaha sampai ayat,” Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dirikanlah Shalat untuk mengingatku.” (Qs.Thaha:14). 

Setelah itu Umar berkata,” Bawalah aku menemui Muhammad.”. Mendengar perkataan Umar tersebut langsung Khabbab keluar dari sembunyianya seraya berkata:”Wahai Umar, aku merasa bahagia, aku harap do’a yang dipanjatkan Nabi pada malam kamis menjadi kenyataan, Ia (Nabi) berdo’a “Ya Allah, muliakanlah agama Islam ini dengan orang yang paling Engkau cintai diantara kedua orang ini, yaitu Umar bin al-Khaththab atau Abu Jahal ‘Amr bin Hisyam.”. Lalu Umar berangkat menuju tempat Muhammad Shallallahu alaihi wassalam, didepan pintu berdiri Hamzah, Thalhah dan sahabat lainnya. Lalu Hamzah seraya berkata,” jika Allah menghendaki kebaikan baginya, niscaya dia akan masuk Islam, tetapi jika ada tujuan lain kita akan membunuhnya”. Lalu kemudian Umar menyatakan masuk Islam dihadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam.

Lalu bertambahlah kejayaan Islam dan Kaum Muslimin dengan masuknya Umar bin Khaththab, sebagaimana ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Ibnu Mas’ud, seraya berkata,” Kejayaan kami bertambah sejak masuknya Umar.”. Umar turut serta dalam peperangan yang dilakukan bersama Rasulullah, dan tetap bertahan dalam perang Uhud bersama Rasulullah sebagaimana dijelaskan oleh Imam Suyuthi dalam “Tarikh al-Khulafa’ar Rasyidin”.

Rasulullah memberikan gelar al-Faruq kepadanya, sebagaimana ini diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dari Dzakwan, seraya dia berkata,” Aku telah bertanya kepada Aisyah, “ Siapakah yang memanggil Umar dengan nama al-Faruq?”, maka Aisyah menjawab “Rasulullah”.
Hadist Imam Bukhari dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda:” Sungguh telah ada dari umat-umat sebelum kamu para pembaharu, dan jika ada pembaharu dari umatku niscaya ‘Umarlah orangnya”. Hadist ini dishahihkan oleh Imam Hakim. Demikian juga Imam Tirmidzi telah meriwayatkan dari Uqbah bin Amir bahwa Nabi bersabda,” Seandainya ada seorang Nabi setelahku, tentulah Umar bin al-Khaththab orangnya.”.

Diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Ibnu Umar dia berkata,” Nabi telah bersabda:”Sesungguhnya Allah telah mengalirkan kebenaran melalui lidah dan hati Umar”. Anaknya Umar (Abdullah) berkata,” Apa yang pernah dikatakan oleh ayahku (Umar) tentang sesuatu maka kejadiannya seperti apa yang diperkirakan oleh ayahku”.

Keberaniannya

Riwayat dari Ibnu ‘Asakir telah meriwayatkan dari Ali, dia berkata,” Aku tidak mengetahui seorangpun yang hijrah dengan sembunyi sembunyi kecuali Umar bi al-Khaththab melakukan dengan terang terangan”. Dimana Umar seraya menyandang pedang dan busur anak panahnya di pundak lalu dia mendatangi Ka’bah dimana kaum Quraisy sedang berada di halamannya, lalu ia melakukan thawaf sebanyak 7 kali dan mengerjakan shalat 2 rakaat di maqam Ibrahim.

Kemudian ia mendatangi perkumpulan mereka satu persatu dan berkata,” Barang siapa orang yang ibunya merelakan kematiannya, anaknya menjadi yatim dan istrinya menjadi janda, maka temuilah aku di belakang lembah itu”. Kesaksian tersebut menunjukan keberanian Umar bin Khaththab Radhiyallahu’Anhu.

Wafatnya

Pada hari rabu bulan Dzulhijah tahun 23 H ia wafat, ia ditikam ketika sedang melakukan Shalat Subuh beliau ditikam oleh seorang Majusi yang bernama Abu Lu’luah budak milik al-Mughirah bin Syu’bah diduga ia mendapat perintah dari kalangan Majusi. Umar dimakamkan di samping Nabi dan Abu Bakar ash Shiddiq, beliau wafat dalam usia 63 tahun.

Disalin dari Biografi Umar Ibn Khaththab dalam Tahbaqat Ibn Sa’ad, Tarikh al-Khulafa’ar Rasyidin Imam Suyuthi

Sumber: ahlulhadiits.wordpress.com 


PROMO BUKU

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More