MUSLIMAH

Menuju Insan yang Shalihah

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

MUTIARA DAKWAH

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label KEBAHAGIAAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KEBAHAGIAAN. Tampilkan semua postingan

15 November 2015

Cara Menghadapi Kritikan dan Hinaan


Kritik dan hinaan adalah keniscayaan yang akan diterima oleh setiap orang yang hidup dalam lingkungan sosial. Orang-orang miskin dan lemah dihina atas kemelaratan dan kepayahannya. Orang kaya dikritik atas pengumpulan dan penggunaan hartanya. Para pejabat dihina dan dikritik atas kebijakannya. Seorang raja juga sering menjadi sasaran hinaan dan kritikan. Bahkan, manusia termulia di muka bumi, Nabi Muhammad, tak lepas dari hinaan. Beliau sebagai manusia maksum, takberdosa, mendapat hinaan dan fitnahan sebagai seorang penyihir dan orang yang gila.

Dengan memahami bahwa panah hinaan dan tombak kritikan selalu mengarah siap menembus kehormatan kita, seyogyanya kita bisa menghadapinya dengan sabar, penuh perhitungan, dengan ketenangan berpikir dan kelapangan jiwa.

Hinaan yang diarahkan kepada kita, anggaplah ia sebagai batu pengasah kesabaran dan keikhlasan kita. Kritikan yang diumpankan kepada kita, ambillah apa yang sekiranya bisa kita ambil sebagai pelajaran. Namun, tak jarang pula kritikan itu hanyalah wujud rasa iri dan dengki dari orang-orang yang hatinya terdapat penyakit.

Allah mengajarkan kepada kita, “Dan, janganlah kamu hiraukan gangguan-gangguan mereka dan bertawakallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai pelindung.” (QS. Al-Ahzab: 48)

Janganlah hinaan dan kritikan yang berdasarkan dengki menghancurkan kita. Janganlah mendengarkan dan menghiraukan segala celaan, gangguan, dan hinaan mereka itu. Karena melayani semua itu hanya akan menguras waktu kita, sedangkan banyak hal bermanfaat yang menunggu untuk kita kerjakan. Serahkanlah urusan orang-orang yang mencela dan menghina kepada Allah. Allah-lah yang akan memberi pembalasan.

“Sesungguhnya Anda akan mendapatkan pahala,” kata Aidh Al-Qarni dalam kitab La Tahzan, “dikarenakan kesabaran Anda menghadapi kritikan dan cercaan itu. Dan kritikan mereka itu pada dasarnya pertanda bahwa Anda memiliki harga dan derajat. Sebab, manusia tak akan pernah menendang bangkai anjing dan orang-orang yang tak berharga pastilah tak akan pernah terkena sasaran pendengki. Artinya, manakala kritikan yang Anda terima semakin pedas maka semakin tinggi pula harga Anda.”

“Jangan bersedih karena banyaknya komentar orang-orang terhadap diri Anda,” nasehat Mahmud Al-Mishri dalam La Tahzan Wabtasim li Al-Hayah. “Sebagian besar gosip itu,” lanjutnya, “tidak ada kebenarannya, bahkan semua hal itu bertentangan dengan kemampuan Anda dan kedudukan Anda di mata mereka. Jika Anda tidak memiliki kedudukan dan nama baik, mereka tidak akan sibuk membicarakan Anda selama-lamanya. Anda mengetahui bahwa orang-orang tidak melempar pohon kurma dengan batu kecuali karena ada kurma yang berbuah. Maka, tidurlah dengan nyenyak dan pikiran tenang.”

Orang-orang hanya melempari pohon mangga yang berbuah. Pohon itu dilempari karena memiliki harga dan derajat, yaitu buah mangga. Pohon mangga yang tak berbuah tentu tak akan menjadi sasaran lemparan. Dan belajar pula dari pohon mangga yang berbuah itu, saat orang-orang melemparinya, justru pohon itu membalasnya dengan memberi buah mangga yang ranum dan manis rasanya. Begitulah, balaslah orang-orang yang memusuhi kita dengan kebaikan. Lalu berdoalah agar Allah membuka pintu hati mereka.

Dengarkan syair yang dikutip Aidh Al-Qarni berikut ini:
Aku berjumpa dengan orang bodoh yang mencelaku
Kutinggalkan ia seraya berkata, “Aku tidak peduli”
Syair yang lain mengungkapkan:
Jika orang bodoh bicara, jangan kau timpali
Sebab sebaik-baik jawaban baginya adalah diam seribu bahasa
Seorang sastrawan Barat mengatakan, “Lakukan apa yang kau pandang benar, dan palingkan punggungmu dari semua kritikan yang tak berharga.”

Lupakan segala cercaan, hinaan, dan kritikan yang tak berharga itu. Lakukan pekerjaan dan ibadah yang memberi manfaat. Ingatlah, waktu kita sedikit sedangkan bekal yang harus kita persiapkan amat banyak. Pergunakan waktu sebaik mungkin untuk menyiapkan bekal, bukan untuk membalas cercaan dan hinaan.

Nasehat Aidh Al-Qarni berikut ini patut kita renungi.
“Jangan pernah membalas cercaan atau olok-olok yang melukai hati Anda. Karena, kesabaranmu dalam menghadapi semua itulah yang akan dengan sendirinya menguburkan semua kehinaan. Kesabaran adalah sumber kemuliaan, diam adalah sumber kekuatan untuk mengalahkan musuh, dan memaafkan adalah sumber dan tangga untuk mencapai pahala dan kemuliaan.

“Ingat, separoh dari orang-orang yang pernah mencerca atau mengkritik Anda itu akan melupakan cercaan mereka, sepertiganya tidak sadar dengan apa yang mereka lontarkan, dan selebihnya tidak akan mengerti apa dan mengapa mereka mencerca Anda. Maka dari itu, jangan pernah cercaan mereka kau masukkan hati dan jangan pula berusaha untuk membalas apa yang mereka katakan itu.”

***

Referensi:
Aidh Al-Qarni. La Tahzan. (Terjemahan: La Tahzan: Jangan Bersedih! Cetakan ke-60. 2015. Jakarta: Qisthi Press)

Mahmud Al-Mishri. La Tahzan Wabtasim li Al-Hayah. (Terjemahan: La Tahzan for Trouble Solutions. 2009. Solo: Pustaka Arafah)
 

***
Sukrisno Santoso
Sukoharjo, 15 November 2015

23 April 2014

Keridhaan dan Ketenangan


Ketika ujian semakin terasa berat, mungkin kita merasakan seolah-olah Allah berlaku zalim kepada kita. Kita merasa ditelantarkan, dihinakan, dan dijatuhkan ke dalam jurang kehancuran. Namun, apakah kita akan menolak takdir itu? Sekali-kali tidak, karena kita tidak mempunyai hak dan tidak mempunyai kemampuan untuk menolak takdir.

Umar bin Khaththab pernah berkata, 
“Aku tidak peduli dengan keadaanku, apakah aku dalam hal yang aku senangi, atau yang aku benci. Itu karena aku tidak tahu apakah kebaikan itu terdapat dalam hal yang aku senangi atau dalam hal yang aku benci.”

Sikap yang baik dalam menghadapi ujian adalah ridha atas ketentuan Allah tersebut. Meskipun kita membenci kejadian buruk menimpa kita, akan tetapi “boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Dalam kitab Jadid Hayataka, Muhammad A-Ghazali mengatakan, 
“Ketentuan yang dialami manusia yang tidak menyenangkannya, tidak ada tempat untuk menyesal atau kecewa dan tidak ada tempat untuk khawatir dan ragu.”

Ketentuan Allah yang “dirasakan tidak menyenangkan” bagi orang-orang beriman tidak ada tempat untuk menghindarinya atau menyesalinya. Juga tidak ada kekhawatiran dan ketakutan. Karena orang-orang yang beriman sudah memasrahkan jiwanya untuk ditimpa ketentuan apapun yang datang dari Allah. Keridhaan semacam itulah yang melahirkan ketenangan hati dan ketenteraman pikiran.

Umar bin Khaththab berkata, “Sesungguhnya kebaikan itu semuanya berada dalam keridhaan. Jika engkau mampu untuk ridha, maka lakukanlah. Dan jika tidak bisa maka bersabarlah.”

Dalam kitabnya, Syarh Ushul Iman, Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menyebutkan salah satu buah iman kepada takdir yaitu dapat menimbulkan ketenangan serta kepuasan jiwa terhadap seluruh takdir yang terjadi, tidak gelisah karena hilangnya sesuatu yang disukai atau sesuatu yang tidak disukai menimpanya. Karena dia tahu bahwa hal itu terjadi dengan takdir Allah, Pemilik langit dan bumi dan bahwa hal itu pasti akan terjadi.

Aidh Al-Qarni memberikan nasehat dalam kitabnya Hada’iq Dzatu Bahjah, “Ridha kepada Allah akan membuat Anda senantiasa ridha dengan semua hukum syariah-Nya sehingga Anda akan ridha dengan semua perintah-Nya dan taat menjalankannya. Anda akan ridha dengan semua larangan-Nya dengan senantiasa menjauhinya.

Anda akan ridha dengan takdirnya yang terasa getir sehingga akhirnya Anda akan ridha dengan semua nikmat dan musibah. Anda akan senantiasa tenang dalam keterhalangan dan pemberian, dalam kesulitan dan kemudahan.

Anda akan ridha kepada-Nya jika Dia memberi kesehatan dan memberi kesembuhan. Anda akan ridha dengan semua cobaan yang Allah timpakan kepada Anda. Anda akan ridha kepada-Nya jika Dia membuat Anda sakit.

Anda akan ridha jika Allah menempatkan Anda dalam penjara sehingga Anda terisolasi. Anda ridha jika Dia membuat Anda kaya dan memanjakan Anda. Anda ridha jika Dia menjadikan Anda fakir dan tak berdaya.

Allah sangat senang jika hambanya ridha dengan semua ketentuan-Nya. Dia Mahabijaksana. Tak diragukan lagi bahwa semua takdir dan qadha-Nya adalah baik. Dia Maha Pengatur dan semua rekayasa-Nya adalah baik.

Dia akan senantiasa memilih yang terindah, paling sempurna, dan paling utama bagi hamba-Nya. Oleh karena itu, janganlah Anda menentang semua pilihan-Nya dengan kebencian. Janganlah Anda membentur semua takdir-Nya dengan penolakan. Jangan pula Anda merespon ketentuan-Nya dengan pembangkangan.”

***
Referensi:
Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Syarh Ushul Iman. (Terjemahan: Penjelasan Tentang Prinsip-prinsip Dasar Keimanan. 2007. Ebook oleh islamhouse.com)

Aidh Abdullah Al-Qarni. Hada’iq Dzatu Bahjah. (Terjemahan: Berbahagialah. 2004. Jakarta: Penerbit Pustaka Al-Kautsar)

Muhammad Al-Ghazali. Jadid Hayataka. (Terjemahan: Perbaharuilah Hidupmu. 2009. Yogyakarta: Sajadah Press.)

Shalih Ahmad Asy-Syami. Mawa’izu Ash-Shahabah. (Terjemahan: Untaian Hikmah Penggugah Jiwa. 1999. Sukoharjo: Penerbit Roemah Buku)
***

Sukrisno Santoso
Ditulis pada hari Rabu, 23 April 2014, di rumah, Kota Sukoharjo


19 Juni 2013

Al-Quran, Kitab Petunjuk Menuju Kebahagiaan


Al-Quran merupakan kitab yang menjadi mata air kebahagiaan. Barangsiapa yang mengharapkan kebahagiaan, hendaklah mencarinya dalam Al-Quran dan Sunnah Nabi Muhammad. Inilah makna firman Allah, “Dan barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku”. Petunjuk Allah adalah Al-Quran dan Sunnah.

Allah telah menurunkan Al-Quran yang agung dan mulia ini untuk para hamba. Al-Quran benar-benar merupakan sumber kebahagiaan. Barangsiapa mencari kebahagiaan, niscaya akan mendapatkannya dalam Al-Quran.

Tatkala Allah menurunkan Al-Quran kepada Nabi Muhammad, kaum musyrikin mulai mencela dan memaki beliau, memanggil beliau dengan ungkapan yang buruk, dan mengatakan bahwa Al-Quran adalah kitab yang ditulis dan dibuat oleh tangan manusia biasa, atau kitab yang diturunkan agar Nabi Muhammad dan para pengikutnya menjadi orang-orang yang sengsara. Mereka terus melontarkan berbagai kedustaan dan melancarkan tindak kezaliman, hingga Allah akhirnya menurunkan ayat:
“Thaahaa. Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah.” (QS. Thaha: 1-2)

Pengertiannya, Kami menurunkannya hanya agar kamu menjadi orang yang berbahagia. Oleh karena itu, pecinta Al-Quran, dialah orang yang berbahagia. Pecinta Al-Quran yang dimaksudkan di sini adalah mereka yang benar-benar mencintainya. Sebagaimana firman Allah:
“Orang-orang yang telah Kami berikan Alkitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. Dan barangsiapa yang ingkar kepadanya, maka mereka Itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Baqarah: 121)

Makna membaca Al-Quran dengan sebenar-benarnya adalah membacanya dan berusaha menghafalkan Al-Quran sesuai dengan kadar kemampuan, baik menghafal nama-nama surat maupun ayat-ayatnya, berusaha memahami maknanya, dan kemudian mengamalkan kandungannya. Bukan berarti, untuk memperoleh kebahagiaan itu harus dengan menghafal seluruh ayat Al-Quran karena tidak semua orang bisa melakukannya. Yang dimaksudkan di sini ialah hendaknya seorang muslim menjadi orang yang senantiasa berhubungan dengan Al-Quran, berusaha memahami dan mengamalkannya. Semakin besar perhatiannyan terhadap Al-Quran, semakin besar pula kebahagiaan yang akan dia reguk.

Apabila seorang muslim membaca Al-Quran dengan sebenar-benarnya, ia akan mendapati bahwa kebahagiaan yang ditunjukkan oleh Al-Quran hanya akan dapat diraih dengan mengimani Allah, Dzat yang berhak diibadahi, Dzat yang Maha Pencipta, Maha memberi rezeki, Maha mMemberi dan menghalangi, berkuasa merendahkan dan meninggikan derajat seseorang, Mahakuasa untuk menahan dan melapangkan, Maha Memuliakan (hamba yang taat) dan menghinakan (pelaku maksiat), Maha pemberi petunjuk dan Maha menyesatkan, dan mengimani bahwa di tangan Allah-lah tersimpan kendali segala perkara dan urusan. Juga dengan mengimani asmaul husna dan sifat-sifat-Nya yang Mahatinggi, meyakini bahwa hanya Allah Dzat yang berhak diibadahi, tiada yang berhak untuk diibadahi selain-Nya, dengan selalu menyerahkan dan menghinakan diri di hadapan-Nya, melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Inilah sumber seluruh kebahagiaan yang utama. Hal ini berdasarkan firman Allah:
“Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik. Dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)

Maksud kehidupan yang baik yaitu kehidupan orang-orang yang berbahagia, yang hanya bisa diraih dengan beriman kepada Allah, mengimani hal-hal yang Allah perintahkan kepada kita untuk mengimaninya, dan dengan beramal shalih.

Memang benar bahwa kebahagiaan itu hanya akan dapat diraih dengan beriman kepada Allah dan berbuat amal shalih yang akan mendekatkan orang kepada Allah. Maka, barangsiapa telah menjadi seorang muslim dengan sifat demikian, dia adalah insan yang berbahagia, baik ia seorang yang kaya atau miskin, penguasa atau rakyat jelata, sehat ataupun sakit. Mereka akan memperoleh kebahagiaan sesuai dengan kadar keimanan dan amal kebaikannya.


Dikutip dari:
Transkip ceramah Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Abbad di Masjid Istiqlal Jakarta pada tanggal 18 Januari 2010. Transkip oleh Majalah As-Sunnah Edisi Khusus Ramadhan - Syawal 1431 H / Agustus - September 2010.

15 Juni 2013

Sumber Kebahagiaan Manusia


Kebahagiaan. Perkara yang selalu dicari oleh setiap orang. Sebuah cita-cita yang selalu berusaha diraih oleh manusia. Tidak ada seorang pun yang mau hidup sengsara. Namun, hakikat kebahagiaan ini pada pandangan manusia berbeda-beda sehingga berbeda-beda pula cara yang ditempuh untuk mewujudkannya.

Di antara mereka ada yang mencari dengan cara yang justru menjerumuskan dirinya pada kesengsaraan. Misalnya, mencari kebahagiaan dengan melakukan perbuatan yang haram, mencarinya dengan cara meneguk minuman keras dan mengkonsumsi obat-obatan terlarang. Ini semua tidak bisa mendatangkan kebahagiaan sedikitpun. Bahkan –demi Allah– sebaliknya, dia telah mengantarkan diri dan keluarganya pada kehancuran.

Ada juga manusia yang mengharapkan kebahagiaan dengan cara melakukan dosa-dosa besar, tindakan keji dan kemungkaran. Padahal, maksiat hanya akan menambahkan kegelapan dan kegelisahan dalam hati, bukan kebahagiaan. Sebagian mencoba menggapai kebahagiaan dengan mengumpulkan harta walaupun dengan cara haram. Dia tidak peduli bagaimana harta ia dapatkan, yang penting baginya adalah harta terkumpul meski dihasilkan melalui praktek riba, jual-beli yang haram, kecurangan, dan praktek transaksi haram lainnya.

Dan begitu seterusnya. Masing-masing menempuh cara-cara berbeda guna mencapai kebahagiaan untuk diri dan keluarganya. Padahal, kebahagiaan itu hanya akan menghampiri hati orang-orang yang mencarinya pada kebenaran yang telah dijelaskan dengan tuntas dalam Al-Quran dan Sunnah Nabi.

Kebahagiaan itu tidak mungkin dapat diraih dengan menempuh jalan yang tidak diridhai Allah meski terkadang pelakunya dapat merasakan kesenangan dengan cara maksiat. Namun, itu hanya sesaat. Kemudian setelah itu, berganti dengan kepedihan yang berkepanjangan. Sebagimana dilukiskan dalam syair berikut.
Kesenangan akan lenyap dari orang yang mencarinya
Melalui perkara yang haram; hinaan dan celaan
Itulah yang tersisa
Dampak-dampak buruknya akan senantiasa meliputi pelakunya
Apatah arti sebuah kesenangan yang berujung pada neraka


Oleh karena itu, seorang muslim yang telah dimudahkan oleh Allah untuk memperoleh ilmu dan dilapangkan hatinya untuk menerima kebaikan, ia tahu benar bahwa hidayah itu di tangan Allah, dan tidak akan bisa diperoleh kecuali dengan menaati-Nya. Ada ungkapan singkat yang mestinya kita hafal dan perhatikan dengan baik, kemudian kita ajarkan kepada anak-anak kita. Kita sebarkan di sekolah-sekolah dan para karib kerabat yang kita cintai. Yaitu, ‘Kebahagiaan itu di tangan Allah, dan tidak akan bisa diraih kecuali dengan menaati Allah’. Inilah kalimat singkat yang mewakili sekian banyak ungkapan lainnya.

Kaum muslimin meyakini dengan sepenuh hati bahwa segala sesuatu di tangan Allah. Apa yang dikehendaki-Nya pasti terjadi dan yang tidak dikehendaki-Nya pasti tidak akan terjadi. Mereka juga yakin bahwa segala sesuatu berjalan sesuai dengan qadha dan taqdir-Nya. Tidak ada yang mampu melawan kehendak dan takdir-Nya.

Di antara ungkapan yang bagus tentang hal ini adalah bait-bait syair yang indah yang berasal dari Imam Syafi’i:
Apa yang Engkau kehendaki pasti akan terjadi walaupun aku tidak menghendakinya
Dan apa yang aku kehendaki tidak akan terjadi jika Engkau tiada menghendakinya
Engkau ciptakan para hamba dengan ilmu-Mu
Yang tua dan yang muda berjalan di atas pengetahuan-Mu
Yang ini Engkau berikan anugerah dan yang itu Engkau biarkan
Yang ini Engkau tolong dan yang itu tidak ditolong
Di antara mereka ada yang bahagia dan ada pula yang sengsara
Di antaranya ada yang buruk rupa, ada pula yang elok menawan


Artinya, segala sesuatu itu di tangan Allah. Jika meyakini hal tersebut, seorang muslim hanya akan menyandarkan seluruh harapannya kepada Allah. Hanya meminta dna menyerahkan segala urusan kepada-Nya. Akan selalu memohon agar Allah berkenan menjadikannya termasuk hamba-hamba yang berbahagia dan mampu menempuh jalur-jalur untuk dapat meraihnya.

Allah telah mentakdirkan dengan takdir kauni dan syar’i bahwa kebahagiaan tidak akan diperoleh melainkan dengan senantiasa patuh dan taat kepada-Nya dan menjauhkan diri dari perbuatan maksiat. Sementara tiada seorang pun yang mampu menolak ketentuan-Nya.

Banyak dalil dalam Al-Quran dan Sunnah tentang ini. Di antarnya, firman Allah berikut.

“Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaha: 123-124) 
Ini merupakan takdir yang telah digariskan oleh Allah bahwa barangsiapa mengikuti petunjuk Allah, ia akan senantiasa berada di atas petunjuk dan dalam kebahagiaan yang abadi di dunia dan akhirat. Sebaliknya, siapa yang berpaling dari peringatan Allah, niscaya akan selalu terhimpit kesusahan, kegundahan, kerisauan, dan kesedihan. Kemudian pada akhirnya penderitaan tersebut diakhiri dengan azab yang pedih dan penyesalan.


Dikutip dari:
Transkip ceramah Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Abbad di Masjid Istiqlal Jakarta pada tanggal 18 Januari 2010. Transkip oleh Majalah As-Sunnah Edisi Khusus Ramadhan - Syawal 1431 H / Agustus - September 2010. 


15 Februari 2013

Di Manakah Kebahagiaan

Cara Menggapai Kebahagiaan

Orang-orang bertanya-tanya, “Di manakah kebahagiaan itu?”
Sebagian besar orang selama hidupnya mencari kebahagiaan dan mereka tidak menemukannya. Orang-orang kaya, pejabat, artis, mereka merasakan kesedihan, kegundahan, dan kebimbangan di sebagian besar waktu mereka. Dan mereka merasa amat jauh dengan kebahagiaan.

Inilah salah satu kebahagiaan yang bisa dirasakan jiwa. Ketika Anda berada di antara saudara-saudara seiman yang shalih, ketika Anda melaksanakan qiyamul lail bersama mereka, ketika kau bersama-sama mendengarkan nasihat-nasihat, ketika Anda bersama-sama makan sahur bersama mereka, dan ketika Anda melaksanakan shalat Subuh berjamaah. Inilah aktivitas-aktivitas yang dapat menghantarkan Anda merasakan kebahagiaan. 

Berkumpul bersama orang-orang shalih akan mampu meningkatkan iman Anda. Benarlah para ulama ketika mereka menulis sebuah kitab tentang kebahagiaan, mereka menempatkan iman dan amal shalih di urutan pertama sebagai jalan untuk menggapai kebahagiaan yang hakiki.

Abdullah Al-Inthaqi berkata, “Ada lima hal yang termasuk penawar hati, yaitu: 1) bergaul dengan orang-orang shalih, 2) membaca Al-Quran, 3) sedikit makan, 4) shalat malam, dan 5) bermunajat kepada Allah pada waktu sahur.” (Nashaihul ’Ibaad)

Berkaitan dengan poin pertama, yaitu bergaul dengan orang-orang shalih, ada sebuah kisah yang dicantumkan dalam kitab Thariq As-Sa’adah tentang seorang pemuda yang tidak menemukan kebahagiaan dalam ketenaran dan kemewahan hidupya sehingga ia berusaha mencari kebahagiaan yang hakiki. Pemuda ini bernama Sa’id Az-Zayyani.

Sa’id Az-Zayyani bercerita, “Saya berkata dalam hati, ‘Sesungguhnya orang-orang yang bahagia adalah para aktor dan aktris.’ Lalu saya ingin bergabung dengan mereka (para artis) sehingga saya ikut dalam dunia film, kemudian menjadi artis papan atas. Saya tidak akan bermain film kecuali menjadi aktor utama dalam semua sesi yang dilakukan. Sebenarnya saya menjadi pribadi yang terkenal di negeriku (yakni Maroko). Saya tidak mengendarai kecuali mobil termewah dan termahal. Saya tidak memakai pakaian kecuali pakaian mahal. Kedudukan sosial berada di strata atas.

Teman-temanku adalah para pembesar dari kalangan pejabat dan lain-lain. Saya berpindah dari satu istana ke istana lainnya. Semua pintu dibukakan bagiku seakan-akan saya adalah pemilik istana itu. Akan tetapi, walaupun mendapatkan semua itu, saya tetap merasa belum mencapai kebahagiaan yang selama ini dicari.”

Begitulah, wahai saudaraku, ternyata harta dunia dan kemewahan perhiasan tidak dapat mendatangkan kebahagiaan. Sa’id Az-Zayyani melanjutkan ceritanya, “Saya berencana untuk mengadakan perjalanan santai ke Belgia untuk mengunjungi saudaraku. Saya berencana lewat sebentar di sana, kemudian melanjutkan perjalanan ke berbagai negara di dunia.

Saya melakukan perjalanan ke Belgia dan bertemu saudaraku di sana. Akan tetapi, saya dikejutkan oleh keadaannya yang berubah dan kehidupannya yang berbeda. Yang paling penting dari semua itu adalah kebahagiaan yang memenuhi rumah dan kehidupannya. Saya banyak terpengaruh dengan apa yang terlihat, terutama hubungan yang kuat di antara pemuda muslim di kota itu. Mereka memelukku dengan penuh kehangatan dan menyambutku dengan sebaik-baik sambutan. Mereka mengundangku untuk menghadiri majelis dan perkumpulan mereka, serta berkenalan dengan mereka secara lebih intens.

Saya menghadiri pertemuan itu. Saya merasakan perasaan yang aneh ketika duduk bersama mereka. Saya merasakan kebahagiaan besar meliputi, sesuatu yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Bersamaan dengan berlalunya waktu, saya menghabiskan liburanku untuk melanjutkan kebahagiaan ini, yaitu kebahagiaan yang selama ini saya cari dan belum mendapatkannya.

Saya merasa bahagia bersama dengan orang-orang pilihan itu. Kebahagiaan itu bertambah hari demi hari, sedangkan kesempitan, kegalauan, dan kesusahan berkurang hari demi hari, sampai akhirnya hatiku dipenuhi cahaya iman. Saya mengetahui jalan menuju Allah yang selama ini saya tersesat menempuhnya, padahal saya memiliki harta, kekayaan, dan ketenaran.

Ketika itu saya mengetahui bahwa bahagia bukanlah dalam perhiasan palsu itu. Kebahagiaan itu hanya ada dalam ketaatan kepada Allah.


SURAT AL-WAQI’AH
Mari kita renungi bersama Al-Quran surat Al-Waqi’ah ayat 10-40, yang terjemahannya berikut ini.

10. Dan orang-orang yang beriman paling dahulu,
11. mereka itulah yang didekatkan kepada Allah.
12. Berada dalam jannah kenikmatan.
13. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu,
14. dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian.
15. Mereka berada di atas dipan yang bertahta emas dan permata,
16. seraya bertelekan di atasnya berhadap-hadapan.
17. Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda,
18. dengan membawa gelas, cerek dan minuman yang diambil dari air yang mengalir.
19. Mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk,
20. dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih,
21. dan daging burung dari apa yang mereka inginkan.
22. dan ada bidadari-bidadari bermata jeli,
23. laksana mutiara yang tersimpan baik.
24. Sebagai balasan bagi apa yang telah mereka kerjakan.
25. Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa,
26. akan tetapi mereka mendengar ucapan salam.
27. Dan golongan kanan, alangkah bahagianya golongan kanan itu.
28. Berada di antara pohon bidara yang tak berduri,
29. dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya),
30. dan naungan yang terbentang luas,
31. dan air yang tercurah,
32. dan buah-buahan yang banyak,
33. yang tidak berhenti (berbuah) dan tidak terlarang mengambilnya,
34. dan kasur-kasur yang tebal lagi empuk.
35. Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung
36. dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan,
37. penuh cinta lagi sebaya umurnya,
38. (kami ciptakan mereka) untuk golongan kanan,
39. (yaitu) segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu,
40. dan segolongan besar pula dari orang-orang yang kemudian.


22 September 2012

Ketika Anda Ditimpa Musibah


http://fathurobbani.files.wordpress.com/2011/06/mecnun1965_ghadr.jpg



Ketika Anda tertimpa musibah, misalnya kendaraan Anda dicuri orang, maka cobalah melihat orang-orang yang berkeliaran di jalan dan tidur di bawah jembatan. Orang-orang tersebut tidak bermimpi mempunyai kendaraan yang bagus, tetapi mimpi mereka adalah esok hari bisa makan sesuap nasi. Sedangkan Anda masih punya tempat tinggal yang menaungi Anda dan makanan bergizi yang dapat menegakkan punggung Anda.

Jika Anda tertimpa musibah kecelakaan, tangan dan kaki Anda remuk dan wajah Anda rusak, cobalah melihat orang-orang yang dimakamkan dalam ruangan dua kali satu meter. Orang-orang tersebut tidak mempunyai waktu untuk merasa bersedih dan mengeluh karena mereka tidak memiliki waktu untuk itu. Bahkan mereka tidak memiliki waktu lagi untuk memperbanyak bekal dalam melalui perjalanan yang panjang dan berat menuju Tuhannya. Dan mereka sangat berharap seandainya mereka diberi kesempatan hidup dunia meskipun hanya beberapa menit saja. Sedangkan Anda masih mempunyai lisan yang bisa digunakan untuk berzikir, mata yang bisa melihat, telinga untuk mendengar. Anda masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menambah dan meyiapkan bekal untuk hari setelah kematian.

Jika Anda tidak lulus dalam ujian studi pendidikan Anda, cobalah melihat orang-orang yang tidak mempunyai kesempatan untuk mengenyam pendidikan. Mereka lebih tersibukkan untuk berjuang hidup. Mereka akan senang hati jika mereka bisa ikut menikmati pendidikan. Sedangkan Anda diberi anugerah oleh Tuhan untuk menikmati pendidikan. Ketidaklulusan Anda adalah ujian dari Allah. Jangan sampai Anda mengeluh dan berburuk sangka kepada Tuhan. Dan jangan terlalu larut dalam kesedihan Anda. Bersabarlah dan berusahalah lebih baik untuk ke depannya.

Jika Anda dipecat dari pekerjaan Anda, ketahuilah bahwa jatah rezeki Anda tidak akan lari ke manapun. Rezeki Anda akan datang kepada Anda. Maka, berusahalah dan berdoalah kepada Tuhan Yang Maha Kaya. Sesungguhnya Anda tidak akan ditelantarkan. Burung saja pergi pagi hari dalam keadaan perut kosong dan kembali sore hari dalam keadaan kenyang. Itulah rezeki dari Tuhan yang dilimpahkan kepada makhluk-Nya.

Dari semua ujian yang menimpa seorang hamba, selayaknya ia tetap bersyukur kepada Allah atas nikmat iman dan Islam. Nikmat dinul Islam ini tidak dapat tergantikan oleh seluruh kenikmatan yang ada di dunia. Maka, bersyukurlah atas nikmat iman dan Islam. Itulah sebesar-besar nikmat dari Allah.

Umar bin Khaththab mengatakan dalam khutbahnya,
“Segala puji bagi Allah yang telah memuliakan kita dengan Islam, dan memuliakan kita dengan iman, serta mengasihi kita dengan mengutus nabi-Nya kepada kita yang menunjuki kita dari kesesatan, dan menyatukan kita dari perpecahan, melunakkan hati kita, menolong kita dari musuh-musuh kita, menempatkan kita dalam sebuah negeri, serta menjadikan kita bersaudara dan saling mencintai.” (Mawa’izu Ash-Shahabah)


JANGAN TANGISI SUSU YANG TELAH TUMPAH
Ada sebuah pepatah Jerman berbunyi, “Orang bahagia adalah orang yang mampu melupakan sesuatu yang tida ada jalan untuk mengubahnya.” Memang benar, tidak ada yang lebih indah dari sikap melupakan dan membuang jauh-jauh dari pikiran kita sesuatu yang telah terjadi dan telah selesai. Memang inilah cara menggapai kebahagiaan dan jalan menggapai ketabahan hati.

Brandoni pernah berkata, “Jangan tangisi susu yang telah tumpah.”

Menangisi terus-menerus sesuatu yang telah terjadi adalah sebuah kesia-siaan. Menghabiskan waktu dan tenaga serta malah menjadikan beban kesedihan semakin berat. Pepatah Indonesia berbunyi, “Nasi sudah menjadi bubur.” Sesuatu yang telah terjadi tidak dapat dikembalikan lagi, tidak dapat diulang lagi. Karena masa (waktu) berjalan maju, bukan berjalan mundur.

Dalam kitab La Tahzan, Aidh al-Qarni mengatakan, “Jangan pernah hidup dalam mimpi buruk masa lalu, atau di bawah payung gelap masa silam. Selamatkan diri Anda dari bayangan masa lalu! Apakah Anda ingin mengembalikan air sungai ke hulu, matahari ke tempatnya terbit, seorok bayi ke perut ibunya, air susu ke payudara sang ibu, dan air mata ke dalam kelopak mata? Ingatlah, keterikatan Anda dengan masa lalu, keresahan Anda atas apa yang telah terjadi padanya, keterbakaran emosi jiwa Anda oleh api panasnya, dan kedekatan jiwa Anda pada pintunya, adalah kondisi yang sangat naif, ironis, memprihatinkan, dan sekaligus menakutkan.” 


1 Agustus 2012

Menggapai Bening Hati


Abdullah Gymnastiar memberikan nasehat berikut ini.

Kejernihan dan kekotoran hati seseorang akan tampak jelas tatkala dirinya ditimpa kritik, celaan, atau penghinaan orang lain. Bagi orang yang lemah akal dan imannya, niscaya akan mudah goyah dan resah. Ia akan sibuk menganiaya diri sendiri dengan memboroskan waktu untuk memikirkan kemungkinan melakukan pembalasan. 
Mungkin dengan cara-cara mengorek-ngorek pula aib lawannya tersebut atau mencari dalih-dalih untuk membela diri, yang ternyata ujung dari perbuatannya tersebut hanya akan membuat dirinya semakin tenggelam dalam kesengsaraan batin dan kegelisahan.

Persis seperti orang yang sedang duduk di sebuah kursi sementara di bawahnya ada seekor ular berbisa yang siap mematuk kakinya. Tiba-tiba datang beberapa orang yang memberitahukan bahaya yang mengancam dirinya itu. Yang seorang menyampaikannya dengan cara halus, sedangkan yang lainnya dengan cara kasar. Namun, apa yang terjadi? Setelah ia mendengar pemberitahuan itu, diambilnya sebuah pemukul, lalu dipukulkannya, bukan kepada ular namun kepada orang-orang yang memberitahukan adanya bahaya tersebut.

Lain halnya dengan orang yang memiliki kejernihan hati dan ketinggian akhlak. Ketika datang badai kritik, celaan, serta penghinaan seberat atau sedahsyat apapun, dia tetap tegar, tak goyah sedikit pun. Malah ia justru dapat menikmati karena yakin betul bahwa semua musibah yang menimpanya tersebut semata-mata terjadi dengan seijin Allah.

Allah tahu persis segala aib dan cela hamba-Nya dan Dia berkenan memberitahunya dengan cara apa saja dan melalui apa saja yang dikehendaki-Nya. Terkadang terbentuk nasehat yang halus, adakalanya lewat obrolan dan guyonan seorang teman, bahkan tak jarang berupa cacian teramat pedas dan menyakitkan. Ia pun bisa muncul melalui lisan seorang guru, ulama, orang tua, sahabat, adik, musuh, atau siapa saja. Terserah Allah.

Jadi, kenapa kita harus merepotkan diri membalas orang-orang yang menjadi jalan keuntungan bagi kita? Padahal seharusnya kita bersyukur dengan sebesar-besar syukur karena tanpa kita bayar atau kita gaji mereka sudi meluangkan waktu memberitahu segala kejelekkan dan aib yang mengancam amal-amal shaleh kita di akhirat kelak.

Karenanya, jangan aneh jika kita saksikan orang-orang mulia dan ulama yang shaleh ketika dihina dan dicaci, sama sekali tidak menunjukkan perasaan sakit hati dan keresahan. Sebaliknya, mereka malahan bersikap penuh dengan kemuliaan, memaafkan dan bahkan mengirimkan hadiah sebagai tanda terima kasih atas pemberitahuan ihwal aib yang justru tidak sempat terlihat oleh dirinya sendiri, tetapi dengan penuh kesungguhan telah disampaikan oleh orang-orang yang tidak menyukainya.

Sahabat, bagi kita yang berlumur dosa ini, haruslah senantiasa waspada terhadap pemberitahuan dari Allah yang setiap saat bisa datang dengan berbagai bentuk.

Ketahuilah, ada tiga bentuk sikap orang yang menyampaikan kritik. Pertama, kritiknya benar dan caranya pun benar. Kedua, kritiknya benar, tetapi caranya menyakitkan. Dan ketiga, kritiknya tidak benar dan caranya pun menyakitkan.

Bentuk kritik yang manapun datang kepada kita, semuanya menguntungkan. Sama sekali tidak menjatuhkan kemuliaan kita dihadapan siapapun, sekiranya sikap kita dalam menghadapinya penuh dengan kemuliaan sesuai dengan ketentuan Allah SWT. Karena, sesungguhnya kemuliaan dan keridhaan-Nyalah yang menjadi penentu itu.

Allah berfirman, “Dan janganlah engkau berduka cita karena perkataan mereka. Sesungguhnya kekuatan itu bagi Allah semuanya. Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Yunus: 65)

Ingatlah, walaupun bergabung jin dan manusia menghina kita, kalau Allah menghendaki kemuliaan kepada diri kita, maka tidak akan membuat diri kita menjadi jatuh ke lembah kehinaan. Apalah artinya kekuatan sang mahluk dibandingkan Khalik-nya? Manusia memang sering lupa bahwa qudrah dan iradah Allah itu berada di atas segalanya. Sehingga menjadi sombong dan takabur, seakan-akan dunia dan isinya ini berada dalam genggaman tangannya. Naudzubillaah!

Padahal, Allah telah berfirman, “Katakanlah, Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan. Engkau berikan kerajaan kepada orang Kau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Kau kehendaki. Engkau muliakan yang Kau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Kau Kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali ‘Imran: 26) 



Jangan Marah


Dari Abu Hurairah, bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi, “Berilah wasiat kepadaku”. Sabda Nabi, ‘Janganlah engkau mudah marah’. Maka diulanginya permintaan itu beberapa kali. Sabda beliau, ‘Janganlah engkau mudah marah’. (HR. Bukhari)

Ibnu Daqiqil 'Ied dalam Syarah Hadits Arba'in An-Nawawi berkata, “Allah memuji orang yang dapat mengendalikan nafsunya ketika marah dan suka memberi maaf kepada orang lain. Diriwayatkan dari Nabi bahwa beliau bersabda, ‘Barang siapa menahan marahnya padahal ia sanggup untuk melampiaskannya, maka kelak Allah akan memanggilnya pada hari kiamat di hadapan segala makhluk, sehingga ia diberi hak memilih bidadari yang disukainya’

Tersebut pada hadits lain, ‘Marah itu dari setan’. Oleh karena itu, orang yang marah menyimpang dari keadaan normal, berkata yang batil, berbuat yang tercela, menginginkan kedengkian, perseteruan, dan perbuatan-perbuatan tercela. Semua itu adalah akibat dari rasa marah. Semoga Allah melindungi kita dari rasa marah. Tersebut pada hadits Sulaiman bin Shard, ‘Sesungguhnya mengucapkan ‘a’udzuubillaahi minasy syaithanirrajiim’ dapat menghilangkan rasa marah”.

Sesungguhnya setanlah yang mendorong marah. Setiap orang yang menginginkan hal-hal yang terpuji, setan selalu membelokkannya dan menjauhkannya dari keridhaan Allah, maka mengucapkan a’udzuubillaahi minasy syaithanirrajiim merupakan senjata yang paling kuat untuk menolak tipu daya setan ini.”

Abdullah Gymnastiar berkata, “Berbahagialah bagi orang yang punya kesadaran untuk menahan amarahnya, bukan tidak boleh marah tapi tahan sekuat-kuatnya. Kita tidak bisa memaksa orang lain berbuat ramah, sopan kepada kita, makin banyak harapan kita kepada orang makin berpeluang kita sakit hati, jadi kita tidak bisa memaksa orang lain bersikap seperti yang kita inginkan. Yang harus kita usahakan, kita harus bisa menyikapi orang lain dengan sikap terbaik, apapun yang mereka lakukan.”



Menikmati Keindahan Alam


MENIKMATI PAGI DAN SORE
Ketika fajar mulai menyingsing, matahari mulai beranjak ke langit dan cahayanya mulai menerangi dan memancar dari ufuk timur, rasakanlah adanya kehidupan baru. Lihatlah pagi ketika matahari dimunculkan oleh Allah dan dipancarkan-Nya cahaya yang menerangi alam. Pepohonan mulai bangun dari tidurnya, binatang-binatang mulai meninggalkan sarangnya, dan embun-embun mulai menetes dari dedaunan.

Rasakanlah bahwa alam menyambut pagi dengan harapan yang penuh keindahan. Lihatlah indahnya cahaya matahari yang menerawang menembus daun-daun pepohonan. Lihatlah cemerlang cahayanya. Lihatlah keindahan yang Allah anugerahkan pada pagi hari. Kemudian tersenyumlah, sambutlah pagi dengan harapan yang tinggi dan rasa optimis yang memenuhi hati Anda. 

Tanamkan semangat dalam dada Anda dan langkahkan kaki Anda menyongsong hari ini. Hari yang baru adalah harapan baru. Tinggalkan kesusahan masa lalu dan gapailah kebahagiaan masa kini dan masa nanti. Dan sebutlah nama Allah memuji keagungan-Nya.

Ketika senja hari, lihatlah cahaya kemerahan dipancarkan matahari dari ufuk barat. Lihatlah seolah-olah langit diwarnai dengan warna merah. Awan berwarna kemerahan, dan pepohonan yang tertimpa cahaya juga berwarna kemerahan. Nikmatilah keindahan alam yang dianugerahkan Allah.


PANDANGLAH LANGIT MALAM INI
Ketika malam hari, saya suka memandangi langit. Saya melihat bintang-bintang yang bertaburan di angkasa. Bulan yang bersinar, apalagi ketika bulan purnama, kian indah wajah dan sinarnya. Ketika Anda dirudung kepedihan dan kesempitan, pandanglah langit malam. Nikmatilah megahnya angkasa dan berkelap-kelipnya bintang yang bertaburan, ada yang dekat dan ada yang jauh. 


Pandanglah bulan yang memancarkan sinarnya. Dan ingatlah Tuhan penguasa malam dan penguasa siang, yang bertahta di atas Arsy. Maka, tahulah Anda bahwa Anda sekali-kali tidak akan ditelantarkan oleh Sang Pencipta.
 

Kiat Menggapai Kebahagiaan


Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di menulis sebuah kitab berjudul Al-Wasailu Al-Mufidah Lil Hayatis Sa’idah. Kitab ini berisi 23 kiat menggapai kebahagiaan. Beliau menulis kitab ini secara ringkas dan dengan bahasa yang mudah. Kiat pertama adalah beriman dan beramal shalih dengan sebenarnya.

Allah berfirman, “Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Qs. An-Nahl: 97)

Sedangkan kiat terakhir atau ke-23 adalah pandai-pandailah memilih dan memilah pekerjaan. Seyogyanya Anda memilih yang terpenting dari sekian pekerjaan yang bermanfaat, lalu yang berikutnya dan berikutnya, sesuai urutan nilai kepentingannya. Juga, hendaklah Anda memilah mana yang dicenderungi dan sangat diminati oleh hati Anda. Karena, hal sebaliknya akan membuahkan kebosanan, menurunnya semangat dan keruhnya pikiran. 

Jadikanlah pemikiran yang benar dan bermusyawarah sebagai penolong anda untuk itu. Maka, tidak akan menyesal seseorang yang meminta pendapat orang bijak. Pelajarilah dengan cermat apa yang hendak Anda lakukan. Jika Anda telah yakin akan kemaslahatan dan bertekad kuat untuk melakukannya, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal.

Merenungi isi kitab ini insya Allah akan mengantarkan Anda ke gerbang kebahagiaan.


MEMANDANG RINGAN SEGALA COBAAN
Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di menyebutkan bahwa di antara sarana yang paling bermanfaat untuk sirnanya keguncangan dan kegundahan manakala seorang hamba tertimpa aneka bencana adalah hendaknya ia berupaya memandang dan menjadikannya ringan. Yaitu dengan mengandaikan atau membayangkan kemungkinan yang lebih buruk dari yang telah terjadi, dan ia kuatkan hatinya dalam menghadapinya.


Jika ia lakukan itu, hendaknya ia berupaya, sejauh kemungkinan untuk meringankan apa yang mungkin diringankan. Maka, dengan penguatan hati dan upaya yang bermanfaat semacam ini akan hilanglah kegelisahan dan kegundahannya, dan berganti menjadi upaya keras untuk meraih berbagai hal yang bermanfaat dan menangkis berbagai madharat yang menimpa hamba. 

Lalu, jika ia terhampiri beberapa penyebab ketakutan, penyebab sakit, penyebab kemiskinan dan ketaktercapainya aneka hal yang disenanginya, hendaklah menghadapinya dengan tenang dan menguatkan hati dalam menanggung derita cobaan akan meringankannya dan menghilangkan tekanannya. Terutama jika ia menyibukkan dirinya untuk menangkis cobaan itu sebatas kemampuannya.

Dengan itu, menyatulah dalam dirinya tekad mengukuhkan batin seiring berupaya yang bermanfaat, yang hal itu akan membuatnya tidak kalut oleh berbagai musibah. Ia tekan dirinya agar memperbaharui kekuatannya untuk melawan berbagai cobaan dan bencana, seiring bersandar dan percaya penuh kepada Allah.

Tidak diragukan, bahwa upaya-upaya ini memiliki manfaat yang sangat agung untuk terwujudnya suatu kegembiraan dan kelapangan dada, di samping ia pun terus berharap pahala, baik didunia maupun di akhirat. Hal ini sudah dicoba dan disaksikan keberhasilannya. Bukti-bukti keberhasilannya bagi mereka yang telah mecobanya banyak sekali.


Ridha AtasTakdir


Disebutkan dalam kitab Fathur Rabbani, Abdul Qadir Al-Jailani berkata,
 “Barangsiapa yang ingin bersikap ridha terhadap takdir Allah, maka biasakanlah selalu mengingat kematian, sebab ingatan pada kematian dapat meringankan (beban) musibah dan petaka. Jangan salahkan Allah atas (musibah yang menimpa) dirimu, harta, dan anakmu, akan tetapi katakanlah, ‘Tuhanku, beritahukan kepadaku tentang diriku.’ 
Jika engkau tekun dan terus-menerus melakukan hal ini, maka engkau akan merasakan lezatnya bersikap ridha dan menerima. Petaka-petaka akan menghilang berikut akar-akar dan cabang-cabangnya, berganti kenikmatan dan kenyamanan hidup. Ketika engkau menerima tanpa membantah dan merasakan kelezatan ridha dalam suasana bencana, maka kenikmatan-kenikmatan akan datang kepadamu dari segala penjuru dan tempat.”

Janganlah Anda sekali-kali berpuruk sangka kepada Allah atas musibah yang menimpa Anda. Janganlah Anda menggugat Allah atas cobaan hidup yang menghimpit Anda.

JANGAN MELETAKKAN BOLA DUNIA DI ATAS KEPALA
Dalam kitabnya La Tahzan, Aidh Al-Qarni menyebutkan kiat agar kita tidak tertimpa beban pikiran yang berat. Beberapa orang merasa bahwa diri mereka terlibat dalam perang dunia, padahal mereka sedang berada di atas tempat tidur. Tatkala perang itu usai, yang mereka peroleh adalah luka di pencernaan mereka, tekanan darah ringgi dan penyakit aula. Mereka selalu merasa terlibat dengan semua peristiwa. 
Mereka marah dengan naiknya harga-harga, gusar karena hujan tak segera turun, dan kalang kabut tak karuan karena turunnya nilai mata uang. Mereka selalu berada dalam kegelisahan dan kesedihan yang tak berkesudahan. “Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka” (QS. Al-Munafiqun: 4).

Nasehat saya untuk Anda: jangan meletakkan bola dunia di atas kepala. Biarkan semua peristiwa itu terjadi, dan jangan disimpan di dalam usus. Orang yang memiliki hati seperti bunga karang akan menyerap semua isu dan kasak-kusuk, termakan oleh masalah-masalah kecil, dan mudah terguncang karena peristiwa-peristiwa yang terjadi. Hati seperti ini sangat potensial menjadi awal kehancuran.

Mereka yang berpegang pada prinsip yang benar akan senantiasa bertambah keimanannya dengan nasehat-nasehat dan ibrah. Sedangkan mereka yang berpegang pada prinsip yang lemah akan semakin takut terhadap keguncangan. Di hadapan segala bencana dan musibah, hal yang paling berguna adalah hati yang berani. 
Seorang pemberani memiliki sikap yang teguh dan emosi yang terkendali, keyakinan yang menancap tajam, syaraf yang dingin dan hati yang lapang. Sedangkan seorang pengecut justru akan membunuh dirinya sendiri berulang kali, setiap hari, dengan pedang khayalan, ramalan, kabar yang tak jelas, dan kasak-kusuk. Jika Anda menginginkan sebuah kehidupan yang berlandasan kuat, maka hadapilah semua permasalahan dengan keberanian dan ketabahan. Jangan terlalu mudah digoyang oleh mereka yang tidak memiliki keyakinan. 
Jangan merasa terjepit oleh semua tipu daya mereka. Jadilah orang yang lebih kuat dari peristiwa itu sendiri, lebih kencang dari angin puyuh, dan lebih kuat dari angin topan. Sungguh kasihan mereka yang memiliki hati yang lemah, betapa hari-hari selalu mengguncang dirinya. 


Buah Iman Terhadap Takdir


Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam kitabnya Syarh Ushul Iman menyebutkan tiga macam buah iman kepada takdir.

1. Tawakkal kepada Allah di saat mengerjakan sebab, tidak bersandar kepada sebab itu sendiri, karena segala sesuatu ditentukan dengan takdir Allah.
Ketika Anda meyakini bahwa segala sesuatu sudah ditakdirkan oleh Allah, niscaya Anda akan merasa tenang dengan segala hal yang menimpa Anda. Kemudian Anda akan mengerjakan sebab-sebab atau usaha untuk menghadapi cobaan atau kesulitan yang menimpa dan Anda akan tawakal kepada-Nya. Dengan begitu, hati Anda akan tenang, jiwa Anda akan tenteram, dan kehidupan Anda akan damai karena Anda selalu menggantungkan diri kepada Allah.

2. Agar seseorang tidak mengagumi dirinya ketika tercapai apa yang dicita-citakan. Karena tercapainya cita-cita merupakan nikmat dari Allah yang telah ditakdirkan-Nya dengan memudahkan sebab-sebab keberhasilan. Sedangkan sifat mengagumi diri akan dapat melupakan syukur kepada nikmat Allah.

Iman kepada takdir akan menghantarkan Anda pada sikap tawadhu’ dan syukur. Ketika Anda menyadari bahwa kesuksesan yang Anda raih, harta benda yang Anda peroleh, dan kemuliaan yang Anda sandang merupakan takdir Allah, maka Anda tidak akan mengagumi diri sendiri, tidak akan ujub, dan tidak akan menyombongkan diri.

3. Menimbulkan ketenangan serta kepuasan jiwa terhadap seluruh takdir yang terjadi, tidak gelisah karena hilangnya sesuatu yang disukai atau sesuatu yang tidak disukai menimpanya. Karena dia tahu bahwa hal itu terjadi dengan takdir Allah, Pemilik langit dan bumi dan bahwa hal itu pasti akan terjadi. Musibah yang menimpa Anda sudah ditakdirkan oleh Allah, jadi mengapa Anda terlalu bersedih. 


Hilangnya harta benda yang Anda kumpulkan juga takdir Allah, jadi mengapa Anda dirudung duka. Perginya orang-orang yang Anda kasihi juga takdir Allah, jadi mengapa Anda tenggelam dalam kenestapaan. Bersabarlah, sesungguhnya Allah bersama Anda.semua hal sudah Allah takdirkan, jadi janganlah bersedih, gundah, dan gelisah.


Mengusir Kegundahan

DUNIA DAN AKHIRAT
Pernahkah Anda mengalami sebuah musibah yang sangat besar. Musibah dunia yang sangat besar yang tidak semua orang mengalaminya. Ketahuilah, jika Allah merahmati Anda sehingga Anda dapat merasakan secuil kenikmatan akhirat, maka segala musibah dunia yang pernah Anda rasakan seolah-olah tidak pernah Anda rasakan. Anda akan mengatakan bahwa musibah terbesar di dunia tidak ada artinya apa-apa dibandingkan secuil kenikmatan di akhirat.


MENJAUHI MAKSIAT
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam kitabnya Ad-Da’ wa Ad-Dawa’ menyebutkan beberapa bahaya dan dampak buruk kemaksiatan. Salah satu dampak kemaksiatan bagi pelakunya adalah ia terhalang mendapatkan ilmu. Ilmu adalah cahaya yang dimasukkan oleh Allah ke dalam hati seorang hamba, sedangkan maksiat akan mematikan cahaya tersebut.

Ketika Imam Syafi’i duduk berguru di hadapan Imam Malik dengan membacakan kitab kepadanya, maka Imam Malik terkagum oleh kecepatan hafalannya, kecerdasannya yang sangat gemilang, dan pemahamannya yang sempurna. Beliau kemudian berkata kepada Imam Syafi’i, “Sungguh aku melihat bahwa Allah telah memberikan cahaya kepadamu, maka jangan padamkan cahaya itu dengan gelapnya kemaksiatan.”

Kemaksiatan juga dapat menghalangi datangnya rezeki. Sebagaimana halnya takwa dapat mendatangkan rezeki, maka meninggalkan ketakwaan akan mendatangkan kefakiran. Dampak lain dari kemaksiatan bagi pelakunya adalah ia akan merasakan kegelapan di dalam hati sebagaimana ia merasakan kegelapan malam yang gelap gulita. 


Kegelapan maksiat bagi hatinya adalah seperti kegelapan malam yang dilihat oleh matanya. Ketaatan adalah cahaya, sedangkan kemaksiatan adalah kegelapan. Manakala kegelapan itu semakin menguat, maka semakin bertambah pula kebingungan yang dirasakan oleh seseorang. Kalau sudah begitu, ia akan terjerumus ke dalam bid’ah, kesesatan, serta kepada hal-hal yang merusak, sedangkan ia tidak merasa. Untuk merasakan kebahagiaan, maka jauhilah kemaksiatan.


18 April 2012

Bersihkan Rasa Dengki dari Hati Anda

Sesungguhnya kedengkian dapat mendatangkan kegundahan hati, kebimbangan, dan kesempitan. Hati yang dengki merasa bahwa dirinya lebih buruk dari orang lain dan ia tidak menerima keadaan itu.

Ia menggugat keadaannya tersebut dan berkeinginan agar ia selalu lebih baik daripada orang lain.

Dadanya selalu merasa sempit jika melihat orang lain mendapatkan kenikmatan.

Ia menginginkan kenikmatan yang dianugerahkan kepada orang lain tersebut berpindah tangan kepadanya.

Dan selamanya ia tidak akan puas meskipun harta dunia ditimpakan di atas kepalanya. Dirinya tamak ingin mendapatkan semua kenikmatan dunia yang ada.

Ia akan terus begitu hingga mulutnya dipenuhi dengan tanah (artinya hingga ia mati).

Maka, bersihkanlah rasa dengki dari hati Anda, niscaya dada Anda akan lapang.

 

Doa Pelebur Dosa
Dalam shalat, setelah takbiratul ihram kita disunnahkan membaca doa iftitaf. Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam kitabnya Sifat Shalat Nabi berkata, “Doa-doa iftitah yang dibaca Rasulullah bermacam-macam. Dalam doa iftitah, Rasulullah mengucapkan pujian, sanjungan, dan kalimat keagungan untuk Allah.” Kemudian beliau mencantumkan salah satu doa iftitah yang dicontohkan oleh Rasulullah adalah yang terjemahannya berikut ini.

“Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahanku sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah kesalahanku sebagaimana baju putih dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, cucilah aku dari kesalahanku dengan es, air, dan embun.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sungguh indah doa yang Rasulullah panjatkan kepada Allah. Pernahkah Anda menghayati kata-kata dalam doa tersebut?



17 April 2012

Ridha dan Sabar Atas Musibah


Umar bin Khaththab pernah berkata, “Aku tidak peduli dengan keadaanku, apakah aku dalam hal yang aku senangi, atau yang aku benci. Itu karena aku tidak tahu apakah kebaikan itu terdapat dalam hal yang aku senangi atau dalam hal yang aku benci.” (Mawa’izu Ash-Shahabah)

Ini adalah ucapan yang menunjukkan keridhaan atas takdir Illahi. Sesuatu keadaan yang dialami oleh seorang hamba merupakan takdir Allah. Kenikmatan yang dianugerahkan dan ujian yang ditimpakan adalah dari Allah. Dan segala yang menimpa seorang hamba mempunyai hikmah. Bencana yang menghancurkan gedung-gedung, mencabik-cabik tanah tempat berpijak, mencurahkan air bah yang deras, mencerabut pepohonan, melontarkan batu-batu panas, dan menurunkan hujan abu panas dan asap beracun. Ketahuilah bahwa ada hikmah di balik semua bencana itu. Mungkin kita merasa menderita dan susah payah ditimpa ujian. Ada dua sikap yang baik, yaitu ridha dan sabar. Karena kita tidak atau belum mengetahui hikmah dalam ujian yang menimpa kita.

Ketika ujian semakin terasa berat, mungkin kita merasakan seolah-olah Allah berlaku zalim kepada kita. Kita merasa ditelantarkan, dihinakan, dan dijatuhkan ke dalam jurang kehancuran. Namun, apakah kita akan menolak takdir itu? Sekali-kali tidak, karena kita tidak mempunyai hak dan tidak mempunyai kemampuan untuk menolak takdir.

Umar bin Khaththab berkata, “Sesungguhnya kebaikan itu semuanya berada dalam keridhaan. Jika engkau mampu untuk ridha, maka lakukanlah. Dan jika tidak bisa maka bersabarlah.” (Mawa’izu Ash-Shahabah)

Sikap yang baik dalam menghadapi ujian adalah ridha atas ketentuan Allah tersebut. Meskipun kita membenci kejadian buruk menimpa kita, akan tetapi “boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui” (Qs. Al-Baqarah: 216).


TERJADILAH APA YANG SEHARUSNYA TERJADI 

Kebijaksanaan orang Jawa mengatakan, “Urip mung sadermo nglakoni”. Ungkapan ini bukanlah suatu bentuk sikap pasrah pada sebuah keadaan. Ketika terjadi musibah gunung meletus, orang-orang mengungsi, persediaan makanan menipis, air bersih langka. Dalam keadaan seperti itu, maka ungkapan Urip mung sadermo nglakoni menjadi penghibur yang dapat menenangkan hati. Bagaimana hati tidak tenang, sedangkan ia tahu bahwa apa yang telah menimpa dirinya sudah merupakan suratan takdir. Hidup sulit di pengungsian dengan makanan seadanya dan diselimuti udara pengab ataupun hidup nyaman dengan makanan enak di ruangan ber-AC, bukankah keduanya adalah takdir Illahi atas hamba-Nya?

Jika kita sadar bahwa senang, susah, kaya, miskin, pintar, bodoh, hidup dan mati kita sudah ada dalam takdir Allah, maka hati ini akan menjadi tenang. Ketika diberi kekayaan maka ia sadar bahwa saat itu ia memang sedang diberi nikmat berupa harta. Harta itu tentu menjadi ujian baginya, apakah ia akan bersyukur atau ia akan mengingkari. Ketika diberi ujian berupa kemiskinan ia akan sabar, berusaha, dan tawakal. Maka, hati akan tenang, jiwa menjadi tenteram.

Keadaan nyaman dengan banyak harta akan membuat ia mengingat Tuhannya dan janji suci-Nya bahwa yang bersyukur kepada-Nya maka akan ditambah baginya nikmat dan yang ingkar maka azab yang pedih baginya. Maka, wajiblah ia bersyukur dengan lisannya dan amal perbuatannya. Lisannya senantiasa memuji-Nya dan mohon ampun kepada-Nya. Gerak badannya senantiasa mengerjakan kebajikan. Nikmat kekayaannya ia gunakan sebaik-baiknya. Ia hitung tiap keping hartanya dan ia perhitungkan dengan cermat akan dikemanakan harta itu dibelanjakan. Ia sadar bahwa setiap hartanya sekecil apapun akan diperhitungkan di Hari Akhir nanti. Tidak akan ada harta yang terbuang sia-sia untuk kenikmatan dunia yang fana ini. Anak-anak yatim ia santuni, orang-orang miskin ia tanggung, dan ia ulurkan bantuan kepada orang-orang yang tertimpa musibah.

Keadaan susah akan membuat ia mengingat Tuhannya dan janji suci-Nya bahwa setiap ada kesulitan pasti selanjutnya ada kelapangan. Setiap masalah pasti ada jalan keluar. Maka, wajiblah bagi setiap orang yang tertimpa kesusahan untuk berusaha mencari jalan keluar seraya tawakal pada Dzat yang Mahakuasa. Ia tahu persis bahwa Dzat yang telah menciptakannya dengan sempurna pasti akan mencurahkan kasih sayang kepadanya. Ia yakin bahwa ia tidak akan diterlantarkan oleh Penciptanya.


Hatinya menjadi tenang dengan mengingat Tuhannya saat ia berdiri, duduk, maupun berbaring. Lisannya senantiasa memuji-Nya dan mohon ampun kepada-Nya. Gerak badannya taat pada perintah Tuhannya. Hatinya menjadi tenang dan penuh gairah hidup. Meski perutnya tidak terisi nasi berhari-hari, namun semangatnya mencapai puncak. Ia yakin dengan pertolongan Tuhannya ia akan mampu melewati cobaan dan akan mendapatkan jalan keluar dan kelapangan hidup.

Aidh Al-Qarni berkata, “Barangsiapa yang tidak pernah tertimpa musibah, maka ditakutkan dirinya akan terkena penyakit lalai. Sehingga dia menjadi orang yang ebrhati keras, memiliki sifat sombong, menganggap remeh nikmat yang telah diberikan kepadanya, dan tidak mau mensyukurinya. Dia menjadi seperti orang mabuk yang tidak mengerti dan peka terhadap keadaan sekitarnya. Yang dia pikirkan hanya masalah makan, minum, dan kesenangan sendiri. Jadi, berbagai musibah yang menimpa merupakan salah satu hal terbesar yang mampu menggugah hati nurani dan kesadaran seseorang.”

PROMO BUKU

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More