MUSLIMAH

Menuju Insan yang Shalihah

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

MUTIARA DAKWAH

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label HIKMAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HIKMAH. Tampilkan semua postingan

12 Agustus 2016

Syair Imam Syafii tentang Merantau


Tidak ada tempat istirahat bagi orang yang berakal dan beradab
Maka tinggalkanlah tanah air dan asingkan diri
Pergilah!
Niscaya kau akan mendapatkan ganti dari orang-orang yang kautinggalkan
Bersungguh-sungguhlah, karena nikmatnya hidup adalah dengan kesungguhan

Sungguh aku melihat air yang diam itu akan merusak
Jika mengalir ia akan baik, jika menggenang ia akan rusak
Singa jika tidak keluar dari sarangnya tidak akan buas
Sedang anak panah jika tidak keluar dari busurnya tidak akan mengenai sasaran
Jika matahari hanya diam pada satu garis edar
Maka seluruh manusia Ajam dan Arab akan jemu melihatnya

Di tempat asalnya
Bijih emas bagaikan debu yang terbuang
Kayu gaharu yang harum wanginya
Di tempat aslinya hanyalah kayu bakar
Tetapi saat berpindah ke tempat lain, kayu tersebut akan menjadi mulia
Begitu pula bijih emas akan mulia jika sudah menjadi emas di tempat lain



(Diwan Imam Syafii dalam Minhajul Mukmin, Musthafa Murad)




4 Agustus 2016

Lelaki yang Dimandikan oleh Malaikat


Inilah Hanzhalah, lelaki yang dimandikan oleh malaikat. Bagaimanakah kisahnya? Berikut ini kisahnya sebagaimana dikutip dari kitab 184 Kisah Perindu Surga karya Muhammad bin Hamid Abdulwahab.

Ketika itu, Hanzhalah baru menikah dengan Jamilah binti Abdullah bin Ubay bin Sahlul. Ia lalu bermalam dengan istrinya, sedangkan esok paginya akan berkecamuk Perang Uhud. Hanzhalah sebelumnya telah meminta izin kepada Rasulullah dan beliau mengizinkannya.

Pada pagi harinya, setelah shalat Subuh, Hanzhalah bermaksud segera ikut dalam barisan Rasulullah ke Uhud. Akan tetapi, sebelum berangkat, ia terlebih dahulu menggauli istrinya hingga ia junub.

Istrinya lalu menginformasikan dan mempersaksikan hal tersebut, yaitu bahwa Hanzhalah telah menggaulinya, kepada empat orang kerabatnya. Ketika ditanya latar belakang tindakannya itu, Jamilah berkata, “Aku melihat dalam tidur bahwa langit tiba-tiba merekah lalu Hanzhalah masuk ke dalamnya. Setelah itu langit kembali bertaut. Aku lalu menakwilkan bahwa Hanzhalah akan syahid.”

Dari hubungan dengan suaminya tersebut, Jamilah melahirkan anak yang diberi nama Abdullah bin Hanzhalah.

Sambil mengusung pedang, Hanzhalah bergegas menemui Rasulullah yang saat itu tengah merapikan barisan pasukan kaum muslimin. Setelah pertempuran berlangsung beberapa lama dan pasukan kaum muslimin terdesak, Hanzhalah lalu menerjang ke arah Abu Sufyan dan kemudian menebas tumit kuda pemimpin musyrikin Mekah itu dengan pedangnya. Akan tetapi, seorang laki-laki dari pasukan musyrikin lantas menyarangkan tombaknya sehingga Hanzhalah pun roboh.

Ketika peperangan berakhir, Rasulullah lalu berkata, “Aku sungguh melihat para malaikat tengah memandikan Hanzhalah bin Abu ‘Amir di antara langit dan bumi dengan air hujan yang ditampung dalam bejana dari perak.”

Sungguh Hanzhalah telah melakukan perbuatan yang luar biasa dengan meninggalkan istri yang baru satu hari dinikahinya demi memenuhi panggilan perang. Iman yang kuat telah mendorongnya untuk bersegera memenuhi Rasulullah, bahkan meski dengan tidak mandi junub terlebih dahulu agar tidak terlambat. Hasilnya, Allah menganugerahkan kepadanya mati syahid dan rezeki yang melimpah ruah.


Dari kisah di atas dapat kita ambil beberapa pelajaran.

  1. Sunnahnya menikah dan menyegerakannya, bahkan dalam keadaan sehari sebelum perang, pernikahan tetap dilaksanakan.
  2. Etika sahabat meminta izin terlebih dahulu kepada Rasulullah untuk tidak ikut persiapan perang karena ada keperluan menikah dan bermalam dengan istrinya.
  3. Mempersaksikan suatu perbuatan agar tidak menimbulkan prasangka, sebagaimana istri Hanzhalah yang mempersaksikan kepada kerabatnya bahwa suaminya telah menggaulinya agar ketika ia hamil dan melahirkan, orang-orang yakin bahwa itu adalah hasil hubungannya dengan Hanzhalah.
  4. Semangat para sahabat dalam memenuhi panggilan jihad. Hanzhalah rela meninggalkan istri yang baru sehari dinikahinya.
  5. Bersegera dalam berangkat jihad, bahkan Hanzhalah tidak sempat mandi junub terlebih dahulu.
  6. Keutamaan orang yang mati syahid, sebagaimana Hanzhalah yang dimandikan oleh malaikat dengan air hujan yang ditampung di dalam bejana perak.
  7. Kebenaran mimpi orang-orang yang beriman, sebagaimana mimpi istri Hanzhalah yang ditakwilkan bahwa Hanzhalah akan mati syahid.

***
Referensi:
Muhammad bin Hamid Abdulwahab. 184 Kisah Perindu Surga. 2011. Jakarta: Penerbit Al-Qalam)

***
Ditulis oleh: Sukrisno Santoso
Ditulis pada hari Rabu, 14 Mei 2014, di SMPIT Mutiara Insan Sukoharjo




5 Mei 2014

8 Pelajaran dari Hatim Al-A'sham


Disebutkan dalam kitab Mukhtashar Minhajil Qashidin karangan Ibnu Qudamah Al-Maqdisi, dua macam ulama yaitu ulama su’ (buruk) dan ulama akhirat. Ulama su’ (buruk) adalah mereka yang dengan ilmunya ingin mendapatkan kenikmatan di dunia dan mendapatkan kedudukan terpandang di kelompoknya.

Kebalikan dari ulama su’ ialah ulama akhirat. Ibnu Qudamah mengatakan, “Di antara sifat-sifat ulama akhirat, mereka mengetahui bahwa dunia ini hina, sedangkan akhirat adalah mulia. Keduanya seperti dua macam kebutuhan pokok, namun mereka lebih mementingkan akhirat. Perbuatan mereka tidak bertentangan dengan perkataan, kecenderungan mereka hanya kepada ilmu-ilmu yang bermanfaat di akhirat dan menjauhi ilmu-ilmu yang manfaatnya lebih sedikit.”

Berkaitan dengan ulama akhirat, Ibnu Qudamah meriwayatkan sebuah kisah dari Syaqiq Al-Balkhi, bahwa ia pernah bertanya kepada Hatim Al-A’sham –salah seorang muridnya, “Sudah berapa lama engkau menyertai aku? Lalu apa saja pelajaran yang bisa engkau serap?”

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Hatim Al-A’sham berguru kepada Syaqiq Al-Balkhi selama tiga puluh tahun lebih. Hatim Al-A’sham menjawab, “Ada delapan pelajaran.”

Berikut ini delapan pelajaran yang diserap oleh Hatim Al-A’sham dari gurunya tersebut.

1. Aku suka mengamati manusia. Ternyata setiap orang, ada sesuatu yang dicintainya. Namun, jika ia sudah dibawa ke kuburannya, ia harus berpisah dengan sesuatu yang dicintainya. Maka, kujadikan sesuatu yang kucintai adalah amal kebaikanku, agar kebaikan itu tetap menyertaiku di kuburan.

2. Aku merenungi firman Allah, “... dan menahan diri dari keinginan hawa nafsu,” (QS. An-Naziat: 40). Sebisa mungkin aku mengenyahkan hawa nafsu, hingga jiwaku menjadi tenang karena taat kepada Allah.

3. Setelah kurenungi, aku mengetahui bahwa setiap orang mempunyai sesuatu yang bernilai dalam pandangannya, lalu ia pun menjaganya. Kemudian kurenungi firman Allah, “Apa yang di sisi kalian akan lenyap dan apa yang di sisi Allah akan kekal,” (QS. An-Nahl: 96). Setiap kali aku mempunyai sesuatu yang berharga maka aku segera menyerahkannya kepada Allah agar ia kekal di sisi-Nya.

4. Kuamati banyak manusia yang membanggakan harta, keturunan, kemuliaan, dan kedudukannya. Padahal, semua itu tidak ada artinya apa-apa. Lalu kurenungi firman Allah, “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kalian,” (QS. Al-Hujurat: 13). Maka, aku beramal dalam lingkup takwa agar aku menjadi mulia di sisi-Nya.

5. Kulihat manusia sering iri dan dengki. Lalu kurenungi firman Allah, “Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia,” (QS. Az-Zukhruf: 32). Oleh karena itu, kutinggalkan sifat iri dan dengki.

6. Kulihat mereka saling bermusuhan. Lalu kurenungi firman Allah, “Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, Maka anggaplah ia musuh(mu),” (QS. Fathir: 6). Oleh karena itu, aku tidak mau bermusuhan dengan mereka dan hanya setan semata yang kujadikan musuh.

7. Kulihat mereka berjuang habis-habisan untuk mencari rezeki. Lalu kurenungi firman Allah, “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya,” (QS. Hud: 6). Oleh karena itu, aku menyibukkan diri dalam perkara yang memang menjadi kewajibanku dan kutinggalkan sesuatu meskipun memberikan keuntungan kepadaku.

8. Kuamati mereka mengandalkan perdagangan, usaha, dan kesehatan badan mereka, tetapi aku mengandalkan Allah dengan bertawakal kepada-Nya.

Itulah delapan pelajaran yang diserap oleh Hatim Al-A’sham setelah berguru selama tiga puluh tahun lebih kepada Syaqiq Al-Balkhi. Semoga kita bisa mengamalkan apa yang disampaikan oleh Hatim tersebut.

***
Referensi:
Ibnu Qudamah Al-Maqdisi. Mukhtashar Minhajil Qashidin. (Terjemahan: Minhajul Qashidin. Cetakan ke-19. 2013. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar)

***
Sukrisno Santoso
Ditulis pada hari Senin, 5 Mei 2014, di basecamp IMTAQ, Kota Sukoharjo

1 Mei 2014

Kata-kata Mutiara Abu Ubaidah bin Al-Jarrah


Namanya Abu Ubaidah, Amir bin Abdullah Al-Jarrah Al-Fihri, Al-Qurasyi. Orang terpercaya umat ini. Ia adalah salah satu dari sepuluh orang yang diberi kabar gembira dengan surga.

Ia masuk Islam melalui tangan Abu Bakar Ash-Shidiq pada masa-masa awal dakwah Islam. Ia mempunyai beberapa keutamaan. Ia meninggal dunia karena penyakit tha’un, pada masa penyakit ini mewabah di Syam pada tahun 18 H. Saat itu ia berumur 85 tahun.
Semoga Allah meridhainya.

Berikut ini beberapa kata-kata mutiara yang diriwayatkan darinya, sebagaimana dituliskan oleh Shalih Ahmad Asy-Syam dalam kitabnya, Mawa’izhu Ash-Shahabah.

  • Aku Tahu Apa yang Engkau Butuhkan
Umar pernah menulis surat kepada Abu Ubaidah saat penyakit tha’un mewabah. Isi suratnya adalah, “Sesungguhnya aku sangat membutuhkan sesuatu dan aku tidak bisa penuhi tanpa keberadaanmu. Maka segeralah kemari.”

Setelah membaca surat dari Umar tersebut, Abu Ubaidah berkata, “Aku tahu apa yang diinginkan oleh Amirul Mikminin. Sesungguhnya ia menginginkan keberadaan orang yang tidak kekal.”

Lalu Abu Ubaidah membalas surat Umar dengan menulis, “Sesungguhnya aku mengerti apa yang engkau inginkan. Maka izinkanlah aku untuk tidak memenuhi permintaanmu karena saat ini aku adalah salah seorang dari pasukan muslimin. Dan aku tidak akan mementingkan diriku sendiri dan mengabaikan mereka.”

Setelah membaca surat Abu Ubaidah, Umar menangis. Lalu ada yang bertanya kepadanya, “Apakah Abu Ubaidah telah meninggal?”
Ia menjawab, “Tidak, tetapi seakan-akan ia telah tiada.

  • Kehancuran
“Kehancuran itu adalah: orang yang berbuat dosa, lalu ia tidak pernah melakukan satu kebaikan pun setelah itu, hingga ia meninggal.”

  • Buah Kebaikan
“Ketahuilah, sudah berapa banyak orang selalu membersihkan bajunya, namun menodai agamanya. Ketahuilah, sudah berapa banyak orang yang memuliakan dirinya sendiri, padahal ia justru menghinakannya.

Tutuplah keburukan-keburukan yang telah lalu dengan kebaikan-kebaikan yang baru. Seandainya salah seorang dari kalian melakukan keburukan hingga memenuhi apa yang ada di antara langit dan bumi, kemudian ia berbuat sebuah kebaikan, niscaya kebaikan itu akan lebih tinggi daripada keburukan-keburukannya hingga meleburnya.”

  • Bagian dari Kulitnya 
“Tidak seorang pun -baik berkulit hitam maupun merah, merdeka maupun sahaya (budak), orang Arab maupun bukan- yang aku tahu bahwa ia lebih tinggi ketakwaannya daripada aku, kecuali aku pasti lebih suka menjadi bagian dari kulitnya.”

  • Seperti Kertas
“Hati seorang mukmin itu bagaikan selembar kertas yang selalu berbolak-balik begini dan begitu setiap hari.”

  • Andaikan Aku
“Andaikan aku seekor kambing. Lalu pemilikku menyembelihku, kemudian mereka makna dagingku dan menyamak kulitku.”

(Maksudnya, lebih baik baik menjadi hewan yang mati disembelih tanpa menjalani tanggung jawab apapun setelahnya. Sedangkan menjadi manusia, setelah mati, ia masih harus mempertanggungjawabkan amal-amal perbuatannya di akhirat kelak)

  • Introspeksi Diri
Suatu ketika, Abu Ubaidah pernah mengimami (shalat) suatu kaum. Setelah selesai, ia berkata, “Setan masih saja menggangguku tadi, hingga ditampakkan kepadaku bahwa aku mempunyai kelebihan atas yang lain. Maka mulai saat ini aku tidak mau menjadi imam lagi selamanya.”

***
Referensi:
Shalih Ahmad Asy-Syami. Mawa’izu Ash-Shahabah. (Terjemahan: Untaian Hikmah Pelembut Jiwa. 1999. Sukoharjo: Penerbit Roemah Buku)

***
Sukrisno Santoso
Ditulis pada waktu sore, Kamis, 1 Mei 2014, di rumah, Kota Sukoharjo



30 April 2014

Masuk Surga Tanpa Hisab


Dalam Kitabut Tauhid, Muhammad bin Abdulwahab membuat judul bab “Mengamalkan Tauhid dengan Sebenar-benarnya Dapat Menyebabkan Masuk Surga Tanpa Hisab”.

Teladan dalam pengamalan tauhid ada pada diri Nabi Ibrahim. Allah berfirman,

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif (berpegang teguh pada kebenaran), dan sekali kali ia bukanlah termasuk orang orang yang mempersekutukan (Tuhan)” (QS. An-Nahl: 120)
Ibnu Katsir berkata, “Al-hanif artinya menyimpang dari kemusyrikan dan menempuh jalan tauhid. Karena itulah disebutkan di akhir ayat, ‘dan sekali kali ia bukanlah termasuk orang orang yang mempersekutukan (Tuhan).’

Hal tersebut sebagaimana firman Allah,

“Dan orang orang yang tidak mempersekutukan dengan Rabb mereka (sesuatu apapun).” (QS. Al-Mu’minun: 59)
Ibnu Katsir menjelaskan, “Yakni, mereka tidak beribadah kepada yang lain bersama-Nya, tetapi mereka mengesakannya seraya mengetahui bahwasanya tidak ada Rabb selain Allah yang Maha Esa yang menjadi tempat bergantung. Dia tidak mengambil istri dan tidak juga mempunyai anak. Dan bahwasanya tidak ada tandingan bagi-Nya serta tidak ada pula yang setara dengan-Nya.”

Muhammad bin Abdulwahab menyebutkan salah satu hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah bersabda, 

“Telah diperlihatkan kepadaku beberapa umat, lalu aku melihat seorang Nabi, bersamanya sekelompok orang. Dan seorang Nabi, bersamanya satu dan dua orang saja. Dan Nabi yang lain lagi tanpa ada seorang pun yang menyertainya. Tiba-tiba diperlihatkan kepadaku sekelompok orang yang banyak jumlahnya, aku mengira bahwa mereka itu umatku, tetapi dikatakan kepadaku bahwa mereka itu adalah Musa dan kaumnya.
Tiba-tiba aku melihat lagi sekelompok orang yang lain yang jumlahnya sangat besar. Maka dikatakan kepadaku: mereka itu adalah umatmu, dan bersama mereka ada 70.000 (tujuh puluh ribu) orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa disiksa lebih dahulu.”
Kemudian beliau bangkit dan masuk ke dalam rumahnya, maka orang-orang pun memperbincangkan tentang siapakah mereka itu? Ada di antara mereka yang berkata, “Barangkali mereka itu orang-orang yang telah menyertai Nabi dalam hidupnya. Dan ada lagi yang berkata, “Barangkali mereka itu orang-orang yang dilahirkan dalam lingkungan Islam hingga tidak pernah menyekutukan Allah dengan sesuatupun. Dan yang lainnya menyebutkan yang lain pula.
Kemudian Rasulullah keluar dan mereka pun memberitahukan hal tersebut kepada beliau. Maka beliau bersabda, “Mereka itu adalah orang-orang yang tidak pernah minta ruqyah, tidak melakukan tathayyur dan tidak pernah meminta lukanya ditempeli besi yang dipanaskan, dan mereka pun bertawakkal kepada tuhan mereka.”
Kemudian Ukasyah bin Muhshan berdiri dan berkata, “Mohonkanlah kepada Allah agar aku termasuk golongan mereka.”
Kemudian Rasul bersabda, “Ya, engkau termasuk golongan mereka.”
Kemudian seseorang yang lain berdiri juga dan berkata, “Mohonkanlah kepada Allah agar aku juga termasuk golongan mereka.”
Rasul menjawab, “Kamu sudah kedahuluan Ukasyah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
***
Di antara pelajaran paling berharga yang bisa dipetik dari hadits ini adalah bahwa tidak meminta ruqyah, tidak berobat dengan cara ditempeli dengan besi panas (kayy), dan tidak menganggap akan mengalami kesialan setelah mendengar atau melihat sesuatu (tathayyur) merupakan wujud dan realisasi dari tawakal kepada Allah.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menyebutkan dalam kitabnya, Madarijus Salikin, “Pada hakikatnya tawakal ini merupakan keadaan yang terangkai dari berbagai perkara, yang hakikatnya tidak bisa sempurna kecuali dengan seluruh rangkaiannya.”

Salah satu perkara tersebut ialah, “Memantapkan hati pada pijakan tauhid. Tawakal seorang hamba tidak dianggap benar jika tauhidnya tidak benar. Bahkan, hakikat tawakal adalah tauhidnya hati. Selagi di dalam hati masih ada kaitan-kaitan syirik, maka tawakalnya cacat. Seberapa jauh kemurnian tauhid, maka sejauh itu pula kebenaran tawakal. Jika seorang hamba berpaling kepada selain Allah, maka hal ini akan membentuk cabang di dalam hatinya, sehingga mengurangi tawakalnya kepada Allah karena adanya cabang itu.”

Hakikat tawakal adalah tauhidnya hati. Maka, sungguh tepat Muhammad bin Abdulwahab membuat judul bab, “Mengamalkan Tauhid dengan Sebenar-benarnya Dapat Menyebabkan Masuk Surga Tanpa Hisab”.

***
Referensi:
Ibnu Katsir. Tafsir Al-Qur’anil Adzim. Peneliti dan Peringkas: Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh. (Terjemahan: Tafsir Ibnu Katsir. 2008. Jakarta: Penerbit Pustaka Imam Syafi’i)

Muhammad bin Abdulwahab. Kitabut Tauhid. (Terjemahan: Kitab Tauhid. 2009. Yogyakarta: Penerbit Media Hidayah)

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Madarijus Salikin. (Terjemahan: Madarijus Salikin: Pendakian Menuju Allah. 1999. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. Ebook oleh http:kampungsunnah.co.nr)
***
Sukrisno Santoso
Ditulis pada hari Rabu, 30 April 2014, di SMPIT Mutiara Insan Sukoharjo


25 April 2014

Kisah Orang yang Masuk Neraka dan Masuk Surga Gara-gara Seekor Lalat


“Katakanlah, sesungguhnya shalatku, sembelihanku (ibadahku), hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An’am: 162)

Dalam menafsirkan ayat tersebut, Ibnu Katsir berkata, “Allah memerintahkan Rasulullah agar memberitahukan kepada orang-orang musyrik yang menyembelih selain untuk Allah dan menyembelih dengan menyebut selain nama-Nya, bahwa dalam hal itu beliau berseberangan dengan mereka. Karena sesungguhnya shalatnya untuk Allah dan sembelihannya adalah atas nama-Nya saja yang tiada sekutu bagi-Nya.

Hal ini sama seperti firman-Nya, “Maka dirikanlah shalat karena Rabb-mu dan berkurbanlah,” (QS. Al-Kautsar: 2). Dengan pengertian, serahkanlah dengan tulus ikhlas kepada-Nya, shalat dan penyembelihanmu itu. Karena orang-orang musyrik itu menyembah berhala dan menyembelih untuk para berhala tersebut. Maka Allah memerintahkan beliau (Rasulullah) untuk menyelisihi mereka dan berpaling dari apa yang mereka lakukan, dan mengarahkan tujuan, niat, dan keinginan hanya tertuju pada Allah semata.”

Berkurban merupakan bentuk salah satu ibadah. Ibadah haruslah ditujukan hanya untuk Allah. Berkurban (menyembelih) untuk selain Allah merupakan kesyirikan. Dan syirik adalah dosa terbesar. Sebagaimana perkataan Adz-Dzahabi dalam kitabnya Al-Kaba’ir, “Dosa terbesar adalah syirik, menyekutukan Allah.”

Kemudian Adz-Dzahabi menyebutkan dua macam kesyirikan, yang salah satunya yaitu, “menjadikan sesuatu sebagai salah satu tandingan Allah dan atau beribadah kepada selain-Nya, baik berupa batu, pohon, matahari, bulan, nabi, guru, bintang, raja, maupun yang lain.”

Dalam Kitabut Tauhid bab “Menyembelih Binatang Bukan Karena Allah”, Muhammad bin Abdulwahab menyebutkan kisah orang yang berkurban dengan seekor lalat yang menyebabkan ia masuk neraka. Kisah ini dituturkan oleh Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

Rasulullah bersabda, “Ada seseorang yang masuk surga karena seekor lalat, dan ada lagi yang masuk neraka karena seekor lalat pula.”Para sahabat bertanya, “Bagaimana itu bisa terjadi, ya Rasulullah?
Rasul menjawab, “Ada dua orang berjalan melewati sekelompok orang yang memiliki berhala, yang mana tidak boleh seorang pun melewatinya kecuali dengan mempersembahkan sembelihan binatang untuknya terlebih dahulu.
Maka mereka berkata kepada salah satu di antara kedua orang tadi, ‘Persembahkanlah sesuatu untuknya! Ia menjawab, ‘Saya tidak mempunyai apapun yang akan saya persembahkan untuknya.’ Mereka berkata lagi, “Persembahkan untuknya walaupun seekor lalat!’
Ia pun mempersembahkan untuknya seekor lalat, maka mereka lepaskan ia untuk meneruskan perjalanannya, dan ia pun masuk ke dalam neraka karenanya.
Kemudian mereka berkata lagi kepada seseorang yang lain, ‘Persembahkanlah untuknya sesuatu!’ Ia menjawab, “Aku tidak akan mempersembahkan sesuatu apapun untuk selain Allah. Maka mereka pun memenggal lehernya, dan ia pun masuk ke dalam surga.”

Muhammad bin Abdulwahab menyebutkan beberapa faidah dari kisah tersebut di antaranya:
1. Masuknya orang tersebut ke dalam neraka dikarenakan mempersembahkan seekor lalat yang ia sendiri tidak sengaja berbuat demikian, tapi ia melakukan hal tersebut untuk melepaskan diri dari perlakuan buruk para pemuja berhala itu.

2. Mengetahui besarnya bahaya kemusyrikan dalam pandangan orang-orang mukmin, bagaimana ketabahan hatinya dalam menghadapi eksekusi hukuman mati dan penolakannya untuk memenuhi permintaan mereka, padahal mereka tidak meminta kecuali amalan lakhiriyah saja.

3. Mengetahui bahwa amalan hati adalah tolok ukur yang sangat penting, walaupun bagi para pemuja berhala.

***
Referensi:

Ibnu Katsir. Tafsir Al-Qur’anil Adzim. Peneliti dan Peringkas: Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh. (Terjemahan: Tafsir Ibnu Katsir. 2008. Jakarta: Penerbit Pustaka Imam Syafi’i)

Adz-Dzahabi. Al-Kaba’ir. (Terjemahan: Dosa-dosa Besar. 2007. Surakarta: Penerbit Pustaka Arafah)

Muhammad bin Abdulwahab. Kitabut Tauhid. (Terjemahan: Kitab Tauhid. 2009. Yogyakarta: Penerbit Media Hidayah)

***

Sukrisno Santoso
Ditulis pada hari Jumat, 25 April 2014, di rumah, Kota Sukoharjo



20 April 2014

Kisah Dahsyatnya Doa dalam Mendapatkan Keturunan


Ketahuilah bahwa Allah senang apabila hamba-Nya memohon kepada-Nya. Rasulullah bersabda, “Mohonlah kepada Allah dari karunia-Nya, karena Allah suka jika dimintai dari karunia-Nya, dan tidak ada sesuatu yang diminta dari Allah yang lebih disukai-Nya selain dari afiat." (HR. Tirmizi)

Dalam beberapa ayat Allah memerintahkan hamba-Nya untuk berdoa. Allah memiliki sifat Maha Mengabulkan Doa. Barangsiapa yang dengan tulus berdoa kepada-Nya, niscaya akan terkabul permohonannya.

  • “Dan, apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwa Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku." (QS. Al-Baqarah: 186)
  • “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut." (QS. Al-A'raf : 55).
  • “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan kuperkenankan kepada kalian.” (QS. Al-Mukmin: 60)
Dalam menafsirkan Surat Al-Baqarah ayat 186, Ibnu Katsir berkata, “Allah tidak akan mengecewakan orang yang berdoa kepada-Nya, dan tidak sesuatu pun menyibukkan (melalaikan) Dia. Bahkan, Dia Maha Mendengar Doa. Di dalam pengertian ini terkandung anjuran untuk berdoa dan bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan doa yang dipanjatkan kepada-Nya.”

Kemudian Ibnu Katsir menyebutkan beberapa hadits tentang anjuran dan pengabulan doa. Di antaranya:
  • “Sesungguhnya Allah benar-benar malu bila ada seorang hamba mengangkat kedua tangannya memohon suatu kebaikan kepada-Nya, lalu Allah menolak permohonannya dengan kedua tangan yang hampa.” (HR. Ahmad)
  • “Tiada seorang muslim pun yang memanjatkan suatu doa keapda Allah yang di dalamnya tidak mengandung permintaan yang berdosa dan tidak pula memutuskan silaturahim, melainkan Allah pasti memberinya berkat doa itu salah satu dari tiga perkara berikut, yaitu: Adakalanya permohonannya itu segera dikabulkannya, adakalanya permohonannya itu disimpan oleh Allah untuknya kelak di hari kemudian, dan adakalanya dipalingkan darinya suatu keburukan yang semisal dengan permohonannya itu. Mereka (para sahabat berkata, “Kalau begitu, kami akan memperbanyak doa.” Nabi Saw. menjawab, “Allah Maha Banyak (Mengabulkan Doa).” (HR. Ahmad)

Ibnu Qayyim AL-Jauziiyah dalam kitabnya Madarius Salikin berkata, “Hamba mempunyai hak atas Allah, seperti memberikan pahala kepada hamba-hamba yang taat, menerima taubat di antara mereka yang bertaubat dan memenuhi doa mereka. Inilah hak-hak terpenting yang dipenuhi Allah, sesuai dengan hukum janji dan kemurahan-Nya, bukan karena itu semua merupakan hak yang bisa dituntut dari-Nya.”

Demikian dahsyatnya doa. Tak inginkah kita memohon kepada Dzat Yang Maha Mengabulkan Doa. Banyak kebutuhan yang belum tercukupi, mengapa tidak memohon kepada Allah untuk mencukupinya. Banyak keingingan belum terwujud, mengapa tidak memohon kepada Allah untuk mewujudkannya. Banyak halangan dan musibah dalam hidup ini, mengapa tidak memohon kepada Allah untuk meneguhkan hati dan menghilangkan musibah.

Dahsyatnya doa dibuktikan dalam kisah yang disampaikan oleh Abdul Malik bin Muhammad Al-Qasim dalam kitabnya Az-Zaman Al-Qadim berikut ini.

***

Aku sudah menikah lebih dari tujuh tahun. Alhamdulillah, segala yang aku dambakan –dalam pandanganku- sudah aku dapatkan. Aku sudah mapan dalam pekerjaan dan sudah mapan dalam pernikahanku. Yang kukeluhkan hanyalah rasa bosa. Aku dan istriku belum juga dikaruniai seorang anak. Aku pun mulai diiliputi kejemuan.
Aku sudah banyak mengunjungi dokter. Aku yakin bahwa aku sudah semaksimal mungkin. Aku pergi berobat di dalam dan luar negeri. Ketika aku mendengar ada seorang dokter spesialis kemandulan baru datang, aku segera membuat janji untuk konsultasi.
Berbagai kiat banyak diberikan, dan obat-obatan lebih banyak lagi. Namun, tidak ada gunanya sama sekali. Lebih sering kami berbicara tentang dokter “fulan” dan apa yang dia katakan dan apa yang akan kami alami.
Masa menunggu itu terus berlangsung selama setahun atau dua tahun. Masa pengobatan itu lama sekali. Ada yang menyatakan bahwa kemandulan itu berasa dari diriku. Namun, sebagian lain menyatakan bahwa itu berasal dari istriku. Hari-hari kami hanya diisi dengan pemeriksaan dan pemecahan masalah tersebut. 
Bayangan tentang anak menguasai jiwa kami. Padahal, aku sudah berusaha untuk tidak mengusik perasaan istriku. Namun, segala yang berlangsung tetap mengusik perasaannya.
Banyak pertanyaan yang muncul. Ada yang bertanya kepada istriku, “Apa lagi yang kamu tunggu?” Seolah urusan itu berada di tangan istriku.
Ada lagi yang menyarankan agar ia berobat kepada dokter “fulan” di suatu tempat. Seseorang sudah mencoba ke sana dan kini sudah melahirkan anak. Demikian juga orang lain. Begitulah, orang-orang di sekitar istriku memiliki banyak andil dalam melontarkan pertanyaan. Namun, tak seorang pun yang berkata kepada kami, “Mengapa tidak menghadap kepada Allah dan berdoa kepada-Nya dengan penuh keikhlasan?”
Berlalu sudah tujuh tahun, kami seolah menjulurkan lidah di belakang para dokter dan lupa berdoa. Kami lupa berserah diri kepada Allah.
Pada suatu sore, aku menyeberang jalan. Tiba-tiba kulihat seorang laki-laki buta menyeberang jalan yang sama. Aku segera menuntunnya dan menyeberang separuh jalan bersamanya. Di tengah jalan, kami berhenti. Kami menunggu sampai bagian jalan di seberang menjadi agak sepi dari kendaraan.
Lelaki itu menyempatkan untuk bertanya kepadaku, setelah sebelumnya mendoakan diriku agar sehat dan mendapat taufik.“Anda sudah menikah?” tanyanya.“Sudah,” jawabku.
Ia bertanya lagi, “Sudah punya anak?”“Allah belum menakdirkannya untukku,” jawabku. “Sudah tujuh tahun kami menunggu kabar gembira itu.”
Kami pun menyeberangi jalan. Ketika kami hendak berpisah, lelaki itu berkata, “Wahai anakku, Aku sudah pernah mengalami apa yang engkau alami. Namun, dalam setiap shalat aku berdoa, ‘Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah waris yang paling baik’ (QS. Al-Anbiya’: 89). Alhamdulillah, kini aku sudah memiliki tujuh orang anak.”
Lelaki tua itu menekan tanganku sambil berkata, “Jangan lupa berdoa.”Sebelumnya, aku tidak mengharapkan nasehat seperti itu. Aku sudah mendapatkan sesuatu yang hilang.
Aku menceritakan kejadian itu kepada istriku. Kami pun tertarik memperbincangkannya. Mengapa selama ini kami tidak berdoa? Padahal, segala sesuatu sudah kami cari dan kami coba.

Semua dokter sudah kami dengarkan ucapannya dan sudah kami ketuk pintu rumahnya. Mengapa kami tidak pernah mengetuk pintu Allah? Padahal, itulah pintu terbesar dan pintu terdekat. Istriku juga baru ingat bahwa ada wanita tua yang pernah menasehatinya dua tahun yang lalu, “Hendaknya engkau berdoa.”
Namun, sebagaimana dikisahkan istriku, kala itu kami sudah memiliki banyak jam konsultasi bersama banyak dokter sehingga kami sudah terbiasa mengkonsultasikan persoalan kami dengan para dokter tersebut. Tanpa rasa khawatir atau gelisah, hanya sebatas konsultasi saja. Kami hanya menyelidiki cara penyembuhan yang terbatas saja, sebagai salah satu usaha.
Kami pun menghadap Allah dengan sepenuh hati dalam shalat wajib dan juga dalam shalat di tengah malam. Kami berusaha mencari waktu-waktu berdoa yang mudah dikabulkan.
Persangkaan kami tidaklah sia-sia. Kami pun juga tidak ditolak. Bahkan, Allah membuka pintu terkabulnya doa. Istriku hamil, dan akhirnya melahirkan seorang anak. Sungguh Maha Suci Allah, sebaik-baik pencipta.
Kami tidak bisa menyembunyikan kegembiraan dan suka cita. Dan kini yang selalu kami baca berulang-ulang ialah, “Ya Tuhan Kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa” (QS. AL-Furqan: 74).
***
Referensi:

Ibnu Katsir. Tafsir Al-Qur’anil Adzim. Peneliti dan Peringkas: Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh. (Terjemahan: Tafsir Ibnu Katsir. 2008. Jakarta: Penerbit Pustaka Imam Syafi’i)

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Madarijus Salikin. (Terjemahan: Madarijus Salikin: Pendakian Menuju Allah. 1999. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. Ebook oleh http:kampungsunnah.co.nr)

Abdul Malik bin Muhammad Al-Qasim. Az-Zaman Al-Qadim. (Terjemahan: Akhirnya Mereka Bertaubat). 2013. Jakarta: Penerbit Darul Haq)

***


Sukrisno Santoso
Ditulis pada hari Minggu, 20 April 2014, di rumah, Kota Sukoharjo

18 April 2014

Sedekah Secara Sembunyi-sembunyi



Seseorang bertanya kepada Ustadz Abdullah Shaleh Hadrami, “Ustadz tahu apa makanan saya?”
Ustadz Abdullah menjawab, “Apa?”
“Pujian manusia,” jawab orang itu dengan jujur.

Orang itu mempunyai banyak harta dan sering mengeluarkan infaq dan sedekah. Akan tetapi, sebagaimana diakuinya bahwa tujuannya ialah untuk mendapatkan pujian manusia. Orang tersebut ketika mendengarkan kajian tentang keikhlasan, hatinya merasa takut karena sangat jauh niatnya bersedekah dengan keikhlasan.

Kisah tersebut diceritakan oleh Ustadz Abdullah Shaleh Hadrami dalam kajiannya yang bertema “Ilmu Ikhlas”.

Orang-orang yang suka menyebut-nyebut pemberiannya kepada orang lain, difirmankah oleh Allah bahwa pahalanya terhapus. Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 264,


“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia.”

Ibnu Katsir menjelaskan, “Maksudnya, janganlah kalian menghapuskan pahala sedekah kalian dengan menyebut-nyebut pemberian dan menyakiti si penerima sedekah, sebagaimana terhapusnya pahala sedekah yang dikerjakan karena riya’ kepada manusia. Ia memperlihatkan kepada orang-orang bahwa ia bersedekah untuk mencari keridhaan Allah, padahal niat yang sebenarnya adalah agar mendapat pujian orang lain serta bermaksud mendapatkan kepopuleran dengan sifat-sifat yang baik sehingga ia akan memperoleh ucapan terima kasih atau mendapat sebutan orang yang dermawan dan hal-hal duniawi lainyya, dengan memutuskan perhatiannya dari muamalah dengan Allah dan dari tujuan meraih keridhaan Allah serta memperoleh limpahan pahala-Nya.”

Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 271, 


“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka Menyembunyikan itu lebih baik bagimu.”

Ibnu Katsir menjelaskan, “Di dalam ayat tersebut terdapat dalil yang menunjukkan bahwa memberi sedekah secara sembunyi-sembunyi itu lebih baik daripada menampakkannya, karena yang demikian itu lebih jauh dari sikap riya’. Namun, menampakkan sedekah bisa saja dilakukan jika akan mendatangkan kemaslahatan dan menjadi contoh bagi yang lain sehingga hal itu menjadi lebih afdhal. Pada dasarnya, bersedekah secara sembunyi-sembunyi itu lebih afdhal.”

Berikut ini beberapa teladan ulama salaf dalam hal sedekah secara sembunyi-sembunyi.

Abu Bakar Ash-Shidiq

Ada seorang nenek buta yang biasa dibantu oleh Umar bin Khaththab. Suatu hari Umar menjenguknya dan menemukan nenek itu telah dibantu seseorang. Rumah, makanan, dan lain sebagainya telah dalam keadaan baik. Umar bertanya pada nenek buta siapa itu orang yang membantunya. Nenek itu tidak bisa menjawab karena orang itu tidak memberitahukan namanya.
Umar berkali-kali datang ke rumah nenek itu dan menemukannya dalam keadaan baik dan rapi. Akhirnya ia memutuskan untuk mengawasi rumah nenek buta itu 24 jam. Sampai akhirnya ia masuk rumah nenek itu ketika ada seseorang masuk tengah malam. Ternyata orang itu adalah Abu Bakar.

Umar bin Khaththab
Imam Al-Auza’i meriwayatkan bahwa Umar bin Khaththab keluar di kegelapan malam. Thalhah melihatnya. Umar pergi dan masuk sebuah rumah. Lalu masuk rumah lain. Pagi harinya, Thalhah pergi ke rumah itu. Di sana ada seorang nenek tua buta sedang duduk. 
Thalhah berkata kepada nenek itu, “Mengapa orang ini mendatangimu?” Nenek menjawab, “Ia telah bernjanji kepadaku sejak begini dan begini. Ia mendatangiku membawa keperluanku dan mengeluarkan derita dariku.” Thalhah berkata, “Celaka kau Thalhah, apakah pada rahasia Umar kau mengintip-intip?”


Ali bin Al-Husein

Dahulu Ali bin Al-Husein biasa memanggul karung roti bakar (makanan) setiap malam untuk disedekahkan. Dan beliau pernah berkata, “Sesungguhnya sedekah dapat memadamkan kemurkaan Allah.”
Sedekah yang dikeluarkan oleh Ali bin Al-Husein ini tidak ada orang yang mengetahuinya. Bahkan, orang-orang yang diberi sedekah olehnya juga tidak tahu.
Dari Ibnu Aisyah, dia berkata, ayahku pernah berkata, “Aku pernah mendengar penduduk Madinah menyatakan, ‘Kami terus-menerus mendapatkan sedekah misterius (yang diberikan seseorang di malam hari), hingga Ali bin Al-Husein wafat.’”
Setelah Ali bin Al-Husein wafat, sedekah itu tidak datang lagi. Maka, orang-orang pun tahu bahwa yang memberikan sedekah ialah Ali bin Al-Husein. Karena seringnya memanggul karung makanan, pada bagian punggung beliau terdapat bekas-bekas menghitam.
Amr bin Tsabit berkata, “Tatkala Ali bin Al-Husein wafat dan orang-orang memandikannya, tiba-tiba mereka melihat bekas-bekas menghitam di punggung beliau. Mereka lantas bertanya, ‘Apa ini?’ Sebagian mereka menjawab, ‘Beliau biasa memanggul karung gandum di waktu malam untuk dibagikan kepada orang-orang fakir miskin dari penduduk Madinah.’”

Abdullah bin Mubarak

Abdullah bin Mubarak biasa bolak-balik ke Tarsus. Beliau biasa singgah beristirahat di sebuah penginapan di sana. Ada seorang pemuda yang acapkali melayani dan mengurus kebutuhan beliau sambil belajar hadits.
Suatu hari beliau mampir ke penginapan itu, namun tidak mendapati pemuda itu. Kala itu, beliau tergesa-gesa dan keluar berperang bersama sekelompok kaum muslimin. Sepulangnya dari peperangan tersebut, beliau kembali ke penginapan dan menanyakan tentang pemuda itu.

Orang-orang memberitahukan bahwa pemuda itu ditahan akibat hutang yang belum dibayarnya. Abdullah bin Mubarak bertanya, “Berapa jumlah hutangnya?”
Mereka menjawab, “Sepuluh ribu dirham.”
Beliau menyelidiki sampai beliau mendapatkan pemilik piutang tersebut. Beliau memanggil orang tersebut pada malam hari, dan langsung menghitung serta membayar hutang pemuda itu. Lalu beliau meminta lelaki itu bersumpah agar tidak memberitahukan siapapun perihal pelunasan itu selama beliau masih hidup.
Beliau berkata, “Apabila datang pagi, segera keluarkan pemuda tersebut dari tahanan.”
Abdullah bin Mubarak segera pulang. Pemuda itu pun dibebaskan. Orang-orang mengatakan kepadanya, “Kemarin Abdullah bin Mubarak ke sini dan menanyakan tentang dirimu, namun sekarang sudah pergi.”
Si pemuda segera menyusuri jejak Abdullah dan berhasil menyusul beliau dalam jarak dua atau tiga marhalah dari penginapan.
Beliau bertanya, “Ke mana saja engkau anak muda? Aku tidak melihatmu di penginapan.”
Pemuda itu menjawab, “Betul wahai Abu Abdurrahman, saya ditahan karena hutang.”
Beliau bertanya lagi, “Lalu bagaimana engkau dibebaskan?”
Dia berkata, “Seseorang membayarkan hutangku, lalu aku dibebaskan. Aku tidak mengetahui siapa lelaki itu.”
Maka beliau berkata, “wahai pemuda, bersyukurlah kepada Allah yang telah memberi taufik kepadamu sehingga engkau terbebas dari hutang.”
Lelaki yang memberi hutang tidak pernah memberitahukan kepada siapapun sampai Abdullah bin Mubarak wafat.

***
Referensi:
Abdullah Shaleh Hadrami. Rekaman kajian bertema “Ilmu Ikhlas”.

Ibnu Katsir. Tafsir Al-Qur’anil Adzim. Peneliti dan Peringkas: Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh. (Terjemahan: Tafsir Ibnu Katsir. 2008. Jakarta: Penerbit Pustaka Imam Syafi’i)

Abdul Aziz bin Nashir Al-Julayyil & Baha’udin bin Fatih Uqail. Aina Nahnu min Akhlaq As-Salaf. (Terjemahan: Meneladani Akhlak Generasi Terbaik. 2011. Jakarta: Penerbit Darul Haq)

M. Abdul Qadir Abu Faris. Tazkiyatun An-Nafs. (Terjemahan: Menyucikan Jiwa. 2005. Depok: Gema Insani)

***
Sukrisno Santoso
Ditulis pada awal malam, Jumat, 18 April 2014, di rumah, Kota Sukoharjo



Teladan Ulama dalam Berbakti kepada Ibu


Jasa dan budi baik seorang ibu kepada anaknya sangat besar. Seorang ibu telah melahirkan dalam kepayahan, memberikan air susu dengan ketulusan, membesarkan dengan kasih sayang, dan mendidik dengan penuh perhatian. Pengorbanannya sungguh besar. Nyawanya dipertaruhkan untuk anaknya. Maka, siapakah anak yang mampu membalas jasa ibunya.

Dari Abi Burdah, ia melihat Ibnu Umar dan seorang penduduk Yaman yang sedang Thawaf di sekitar Ka’bah sambil menggendong ibunya di punggungnya. Orang itu bersenandung,

“Sesungguhnya diriku adalah tunggangan ibu yang sangat patuh
Apabila tunggangan yang lain lari, maka aku tidak akan lari”
Orang itu lalu berkata, “Wahai Ibnu Umar, apakah aku telah membalas budi kepadanya (ibunya)?
Ibnu Umar menjawab, “Belum, walaupun setarik napas yang ia keluarkan ketika melahirkan.”

Ulama salaf sangat memperhatikan hak ibunya. Mereka senantiasa memenuhi segala kebutuhan, menjaga perasaan, membuat senang, dan tenteram ibunya. Karena mereka tahu, seorang ibu mempunyai hak yang harus ditunaikan oleh anaknya. Dan dosa durhaka kepada ibu sangatlah besar.

Usamah bin Zaid pernah menebang sebatang pohon kurma untuk diambil umbutnya (bagian ujung pokok kurma yang bisa dimakan). Padahal, saat itu harga sebatang kurma mencapai seribu dirham. Ketika orang-orang bertanya kepadanya, ia menjawab, “Ibuku menghendakinya. Setiap ibuku menginginkan sesuatu yang mampu kudapatkan, aku pasti memberikannya.”

Berbakti kepada Ibu bisa dilakukan dengan melayani keperluannya dan memperhatikan kesehatannya.

Suatu malam, Muhammad bin Al-Munkadir pernah memijiti kaki ibunya, sedangkan saudaranya melakukan shalat malam. Muhammad bin Al-Munkadir memilih untuk memijiti kaki ibunya daripada shalat sunnah semalaman. Ia berkata, “Umar (saudaranya) suatu malam melakukan shalat, sementara aku memijit-mijit kaki ibuku. Aku tidak ingin kalau malamku kugunakan seperti malamnya (yaitu digunakan untuk shalat).”

Berbakti kepada ibu dapat ditunjukkan dengan selalu berbicara yang lembut, tidak keras, dan menyenangkan hati kepada ibunya. Berkata, “Ah,” saja tidak diperbolehkan sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran.

Muhammad bin Sirin biasa bertutur lembut kepada ibunya. Ia tidak berani berbicara dengan suara lebih keras dari suara ibunya. Hingga orang-orang yang tidak mengenal Ibnu Sirin bertanya-tanya apakah ia sedang sakit karena suaranya sangat pelan. Orang-orang yang sudah mengenal Ibnu Sirin pun menjawab, “Tidak, tetapi demikianlah dia bila berada di rumah ibunya.”

Ibnu Aun pernah menyahut panggilan ibunya dengan suara yang lebih keras. Ia sangat menyesali hal tersebut. Sebagai tebusannya, ia membebaskan dua orang budak dengan harapan agar perbuatanya itu dapat diampuni.

Berbuat baik kepada ibu harus didahulukan daripada berbuat baik kepada istri. Hal ini ditunjukkan oleh Hudzail bin Hafshah. Ia biasa mengumpulkan kayu bakar pada musim panas. Pada musim dingin, ia membawakan tungku dan meletakkannya di dekat ibunya. Ia duduk; membakar kayu bakar, dan berusaha agar asapnya tidak mengganggu ibunya. Dengan begitu ibunya bisa merasa hangat pada musim dingin.

Ibunya menceritakan, “Sebenarnya ada orang yang bisa menggantikannya melakukan itu, kalau ia mau. Bahkan, ingin kukatakan padanya, ‘Wahai anakku, kamu bisa pulang ke rumah istrimu.’ Tapi kemudian aku teringat apa yang diinginkannya (yaitu berbakti kepada ibunya), maka aku membiarkannya.”
Selain itu, Hudzail bin Hafshah juga biasa mengantarkan susu perasan unta setiap pagi.

Tak lupa, mendoakan ibu merupakan kewajiban seorang anak. Doa anak yang shalih akan dikabulkan oleh Allah. Seorang ibu yang telah mendidik anaknya hingga anaknya menjadi orang yang saleh dan senantiasa mendoakannya, hal itu menjadi amal jariyah bagi sang ibu tersebut.

***

Referensi:
Aina Nahnu min Akhlaq As-Salaf. Abdul Aziz bin Nashir Al-Julayyil & Baha’udin bin Fatih Uqail. (Terjemahan: Meneladani Akhlak Generasi Terbaik. 2011. Jakarta: Penerbit Darul Haq)

Muhammad Abduh Tuasikal. “Sambil Menggendongnya, Tidak Bisa Membalas Budi Baik Orang Tua” dalam http://rumasyo.com
***

Sukrisno Santoso
Ditulis pada pagi yang cerah, hari Jumat, 18 April 2014, di rumah, Kota Sukoharjo 




17 April 2014

Kisah Ahli Taat Masuk Neraka dan Ahli Maksiat Masuk Surga


Fudhail bin Iyadh menyampaikan nasehat, “Wahai orang yang patut dikasihani, kamu orang jahat, tetapi menganggap dirimu baik. Kamu itu orang jahil tetapi menganggap dirimu berilmu. Kamu bakhil, tetapi menganggap dirimu dermawan. Umurmu pendek, tetapi angan-anganmu panjang.”

Perkataan tersebut dibenarkan oleh Imam Dzahabi, “Demi Allah, sungguh benar apa yang beliau nyatakan. Kita ini zalim, tetapi justru merasa dizalimi. Tukang makan yang haram, tetapi merasa diri kita orang suci. Fasik, tetapi merasa diri kita saleh. Mencari ilmu untuk mengejar dunia, tetapi merasa mencarinya karena Allah semata.”

Sungguh, perkataan dua ulama ahlussunnah tersebut menggedor pintu hati, merobek tabir jiwa, dan menampar wajah kita dengan kenyataan yang kita tutupi. Seringkali kali kita merasa sebagai orang baik, saleh, dan berilmu. Padahal, pantaskah kita menyematkan predikat baik, saleh, dan berilmu pada diri kita.

Kita tertipu oleh diri kita sendiri akibat bangga diri dan sifat sombong. Dengan memiliki sedikit dari karunia Allah berupa ilmu dan amal kebaikan, tak lantas menjadikan kita sebagai manusia suci. Tak lantas memberikan wewenang kepada diri kita untuk menduduki peringkat orang-orang saleh.

Keadaan kita di akhirat kelak hanyalah kehendak Allah. Dikarenakan oleh rahmat-Nya saja kita akan bisa mendapatkan kebaikan yang melimpah dan kenikmatan yang tiada akhir di dalam surga yang hijau lagi permai. Sungguh tertipu diri kita jika mengira akan masuk surga disebabkan hanya oleh amalan-amalan kita.

Sedikit amal membuat kita ujub. Sedikit amal membuat kita memandang rendah orang lain. Sedikit amal membuat kita menjadi hakim atas tindakan benar-salahnya orang lain. Tak ingatkah kita kisah ahli taat yang masuk neraka dan ahli maksiat yang masuk surga?

Disebutkan dalam kitab Sittuna Qishshah kisah 
ahli ibadah yang masuk neraka dan ahli maksiat yang masuk surga.
Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, “Pada zaman Bani Israil dahulu, hidup dua orang laki-laki yang berbeda karakternya. Yang satu suka berbuat dosa dan yang lainnya rajin beribadah. Setiap kali orang yang ahli ibadah ini melihat temannya berbuat dosa, ia menyarankan untuk berhenti dari perbuatan dosanya.
Suatu kali orang yang ahli ibadah berkata lagi, ‘Berhentilah dari berbuat dosa.’ Dia menjawab, ‘Jangan pedulikan aku, terserah Allah akan memperlakukan aku bagaimana. Memangnya engkau diutus Allah untuk mengawasi apa yang aku lakukan.’
Laki-laki ahli ibadah itu menimpali, ‘Demi Allah, dosamu tidak akan diampuni oleh-Nya atau kamu tidak mungkin dimasukkan ke dalam surga Allah.’
Kemudian Allah mencabut nyawa kedua orang itu dan mengumpulkan keduanya di hadapan Allah Rabbul’Alamin. Allah ta’ala berfirman kepada lelaki ahli ibadah, ‘Apakah kamu lebih mengetahui daripada Aku? Ataukah kamu dapat merubah apa yang telah berada dalam kekuasaan tanganKu.’
Kemudian kepada ahli maksiat Allah berfirman, ‘Masuklah kamu ke dalam surga berkat rahmat-Ku.’
Sementara kepada ahli ibadah dikatakan, ‘Masukkan orang ini ke neraka’.”
(HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Mubarak dalam Az-Zuhd, dan Ibnu Abi Dunya dalam Husn Az-Zhan, dan Al-Baghawi Syrah As-Sunnah) 
***

Kisah tersebut mengandung celaan kepada seseorang yang mengklaim dirinya sendiri sebagai hakim kebenaran. Kisah tersebut memberikan faidah bahwa seseorang yang memastikan orang lain masuk surga atau neraka, berarti ia telah mengakui memiliki sifat ketuhanan.

***

Referensi:
Sittuna Qishshah, Rawaha An-Nabi Wash-Shahabah Al-Kiram. Muhammad bin Hamid Abdul Wahab. (Terjemahan: 61 Kisah Pengantar Tidur. 2013. Jakarta: Penerbit Darul Haq)

Aina Nahnu min Akhlaq As-Salaf. Abdul Aziz bin Nashir Al-Julayyil; Baha’udin bin Fatih Uqail. (Terjemahan: Meneladani Akhlak Generasi Terbaik. 2011. Jakarta: Penerbit Darul Haq)

***
Sukrisno Santoso
Ditulis pada sepertiga malam terakhir, hari Kamis, 17 April 2014, di rumah, Kota Sukoharjo




16 April 2014

Amalan Selama 60 Tahun Terhapus oleh 1 Dosa, dan Dosa itu Terhapus oleh Sepotong Roti


Terkadang sebagian dari kita mengangap remeh satu perbuatan maksiat. Padahal, maksiat yang kita anggap remeh itu merupakan sebuah dosa besar di sisi Allah. Sebaliknya, terkadang sebagian dari kita mengangap remeh satu amalan kebaikan. Padahal, amalan itu bernilai sangat besar di sisi Allah.

Marilah kita petik hikmah dalam kisah yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban sebagaimana disampaikan oleh Muhammad bin Hamid Abdul Wahab dalam kitabnya Sittuna Qishshah, Rawaha An-Nabi Wash-Shahabah Al-Kiram.

Diriwayatkan dari Abu Dzar, Rasulullah bersabda, “Salah seorang ahli ibadah pada masa Bani Israil selalu beribadah kepada Allah di rumah ibadahnya selama 60 tahun. Suatu ketika, hujan turun membasahi bumi sehingga menjadi hijau subur.
Kemudian, ahli ibadah itu keluar dari rumah ibadahnya sambil berbisik, ‘Sekiranya aku turun dari rumah ibadah ini kemudian memperbanyak dzikir tentulah kebaikanku bertambah.’
Lalu ia turun dari rumah ibadahnya dengan membawa satu atau dua potong roti. Ketika ia berjalan-jalan, tiba-tiba ia bertemu dengan seorang perempuan. Lalu dia mulai bercakap-cakap dengan perempuan tersebut, si perempuan juga nampak asyik ngobrol dengannya sehingga tanpa diduga ahli ibadah tadi terlena dan berzina dengannya.
Lelaki ahli ibadah itu pingsan, kemudian ia menceburkan diri ke danau untuk mandi.
Rupanya datang seorang peminta-minta, maka dia memberi isyarat kepadanya untuk mengambil 2 atau 1 potong roti tersebut. Kemudian lelaki ahli ibadah itu mati.
Selanjutnya, pahala amal ibadah yang dikerjakan selama 60 tahun itu ditimbang dengan dosa perbuatan zinanya, ternyata dosa zinanya lebih berat. Kemudian 1 atau 2 potong roti tadi ditimbang dengan diletakkan pada amal kebaikan lelaki ahli ibadah tersebut, hasilnya adalah lebih berat kebaikannya, maka dosa lelaki tersebut diampuni Allah.”
***
Lihatlah, amalan ibadah selama 60 tahun dikalahkan oleh satu dosa zina. Allah berfirman, “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji (fahisyah) dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isra’: 32)

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam kitabnya Al-Jawabul Kaafi menjelaskan, “Di sini Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan tentang kejinya zina, karena kata “fahisyah” maknanya adalah perbuatan keji atau kotor yang sudah mencapai tingkat yang tinggi dan diakui kekejiannya oleh setiap orang yang berakal, bahkan oleh sebagian banyak binatang.”

Akan tetapi, rahmat Allah sangatlah luas. Dosa yang begitu besar bisa terhapus oleh satu amalan “kecil”. Amalan yang kita anggap kecil bisa bernilai sangat besar di sisi Allah. Sebagaimana kisah di atas, pemberian 1 atau 2 potong roti telah mampu menghapus dosa zina. Sepotong roti ternyata lebih berat timbangan kebaikannya dari dosa zina yang telah melenyapkan amalan ibadahnya selama 60 tahun itu.

***

Referensi:
Sittuna Qishshah, Rawaha An-Nabi Wash-Shahabah Al-Kiram. Muhammad bin Hamid Abdul Wahab. (Terjemahan: 61 Kisah Pengantar Tidur. 2013. Jakarta: Penerbit Darul Haq)

Al-Jawabul Kaafi Liman Sa’ala ‘an Ad Dawaa’ Asy Syafi. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. (Terjemahan: Jangan Dekati Zina. 2007. Ebook oleh Maktabah Ummu Salma al-Atsariyah)
***
Sukrisno Santoso
Ditulis pada malam purnama, Rabu, 16 April 2014, di rumah, Kota Sukoharjo

30 Juli 2013

Kisah Nyata Penuh Haru Mahasiswa Mahasiswa Universitas Islam Madinah

Kisah berikut ini merupakan sebuah kisah nyata yang ditulis oleh Akhyar Hadi, Mahasiswa Univ. Islam Madinah angkatan 1433 H yang diposting di http://serambimadinah.net
***
Selamat membaca dengan hati. 
Jangan lupa siapkan tissu...
***
-------------------------------------------------------------
Cerita Sebuah Kata

 
Lelaki itu seperti lelaki tua biasa. Biasanya lelaki tua sepertinya ditemui di lambung Masjid Nabawi, sebagai jamaah umroh akibat terlalu lama menunggu giliran haji. Atau lelaki tua sepertinya ada di sawah, kelelahan mencangkul walau matahari baru naik setengah. Bisa juga lelaki sepertinya kita temui sedang duduk-duduk di teras sambil menghias pot bunga, membersihkan rumput, dan menanam pohon kecil di pekarangan. Atau, kalau kita menyaksikan berita banjir di TVRI, lelaki seperti ini biasanya diwawancarai karena terlambat mendapat jatah bantuan mie instan. Dia jenis lelaki yang mudah didapati. Lelaki tua yang biasa ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Diusianya yang sudah memasuki kepala enam, wajar jika seluruh rambut di kepalanya memutih. Tiap-tiap helai itu adalah gambaran masalah yang dilaluinya, guratan-guratan kerut di wajahnya adalah lambang goresan waktu yang jemawa. Tangan kanan dan kirinya tak lagi sekuat dulu. Bahunya yang dulu kekar, kini mulai kurus dan membungkuk. Ototnya lemah. Kadang dia beristighfar sambil menarik napas panjang ketika lelah. Tapi kawan, matanya istimewa. Di situlah pusat gravitasi pesona dirinya. Matanya itu, sang jendela hati, adalah layar yang mempertontonkan jiwanya yang tak pernah kosong. Seseorang yang biasa kucium tangannya. Ayah, kupanggil ia.
...

Ayahku adalah ayah pada umumnya. Ayah yang ketika aku kecil, menyediakan tempat duduk istimewa untukku saat karnaval kota malam Idul Fitri. Dia mendudukkanku di bahunya, digenggamnya erat kakiku agar nyaman saat duduk. Tak ia pedulikan karnaval itu. Karena tawaku adalah karnaval baginya. Bahagiaku adalah iringan semangat hidupnya.

Aku juga masih kecil saat itu. Ayah hanya seorang supir truk batubara di pedalaman Kalimantan. Bekerja selepas Isya lalu pulang sehabis Shubuh. Ayah adalah lelaki pendiam, tak banyak bicara. Tak suka memukul. Tak pandai ia marah. Walau begitu, ayah adalah tolak ukur tindakan bagiku, contoh hidup tingkah laku. Tak pernah ia cerewet menyuruhku salat. Ia hanya mengerjakan, lalu mengajakku bersamanya. Sesederhana itu, Kawan. Ia juga sangat ingin aku sering-sering membaca Al-Quran, walau tak pernah ia menyuruh. Walau tak pernah ia mencontohkan cara membaca Al-Quran. Kau tahu kenapa, Kawan? Karena kutahu, ia pun terbata membacanya.

Biasanya aku menghabiskan waktu bersama ayahku tiap akhir pekan. Aku senang berada di bak truk besarnya. Beliau duduk bersamaku sambil bercerita. Tentang para pahlawan, tentang panorama-panorama, bintang dan planet-planetnya, tentang semesta, juga tentang kota-kota yang pernah disinggahinya. Dia senang bercerita tentang banyak kota, dan aku tahu kota impiannya adalah Mekkah dan Madinah. Jauh, jauh di lubuk hatinya ia mendambakan kota itu melebihi kota manapun di dunia. Walau dia tak mengatakannya langsung, tapi aku tahu dengan sendirinya, seolah ada bahasa lain selain bahasa lisan, bahasa yang dijalin antara seorang anak dan ayahnya dari hati ke hati.

“Ayah ingin sekali pergi haji.”
Begitu kiranya jika kata itu diucapkan.
...
 
Aku masih muda, sedang ayah menua. Semenjak krisis ekonomi, harga batubara anjlok. Ayah dengan setumpuk masalah keuangan yang menimpanya bangkrut. Truk besar tua kami mogok. Rusak. Sekarat. Seolah bosan terlalu lama memikul bongkahan-bongkahan batu hitam langka. Tak bisa lagi diperbaiki karena tak ada biaya. Ayah tak bisa lagi bekerja. Ayah menganggur bertahun-tahun lamanya.

Ayah pun sekarang menikmati masa tuanya dengan belajar banyak dari agama. Sering pergi ke kajian-kajian ilmiah. Rajin ia membaca. Berlama-lama dengan kumpulan buku dan majalahnya. Jiwa tua itu masih sangat antusias. Sesuatu yang tak ia dapat selagi muda. Matanya, iya matanya, selalu membulat ketika menjelaskan kalau bid’ah itu semuanya sesat. Walau kata-katanya sedikit, aku dibuatnya percaya kalau semua kesesatan itu tempatnya di neraka. Dia juga orang paling mengamati tiap senti celana. Dijaganya agar aku tak menjulurkan pakaian melebihi batasnya. Ayah sangat senang pergi ke masjid. Tak pernah absen ia ke sana. Tubuh tuanya itu mendadak kuat jika berjalan sebelum waktu Shubuh yang dingin, dan jika ia pergi ke masjid sebelum Maghrib, maka ia akan datang ke rumah setelah Isya. Dengan kaki-kaki tuanya. Hampir satu kilometer jauhnya.

Setelah lulus sekolah menengah atas di sebuah kota di Banjarmasin, aku merantau belajar menjadi mekanik handphone dan komputer di tempat pamanku, di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Setelah setahun di sana dan merasa punya skill, aku kembali ke Banjarmasin dengan tujuan bisa kuliah sambil membuka sebuah toko service handphone dan komputer. Aku mulai membeli alat-alat service, juga iklan di sana-sini. Mendadak, aku terkenal dengan julukan tukang handphone. Aku menjalankan bisnis ini pelan-pelan, dari pintu ke pintu. Mulai dari keluarga sampai orang-orang di sekitarku. Pelangganku pun bermacam-macam, Kawan. Dari tukang kambing, pedagang asongan, pengangguran, ustadz, ibu rumah tangga, sampai mahasiswa. Kau tahu, Kawan, kenapa mereka senang aku memperbaiki telepon tangan mereka? Jawabannya adalah karena mereka bisa menentukan garansi semau mereka.

Namun hari itu, Kawan, hari itu adalah hari aku bersama ayah pergi ke sebuah majelis taklim, di mana setelah memberikan tausiyah, seorang ustadz menawarkan beasiswa bagi lulusan SMA yang ingin menghafal Al-Quran di Bogor. Ayah menunduk. Didengarnya iklan itu dengan seksama. Aku melihat matanya.

“Ayo kita pulang, Yar.”

Mata teduhnya tak bisa mengecohku. Sembilan belas tahun menjadi anaknya tentu aku mengerti maksudnya.

Ia ingin Aku lebih baik darinya. Bisa membaca Al-Quran dengan sempurna. Tak seperti dirinya yang terbata. Namun tak bisa ia meminta. Ia masih tak banyak bicara.

“Saya mendaftar beasiswa itu, Yah. Kalau diterima Saya langsung berangkat ke Bogor.”
 
Kulihat matanya membulat. Wajahnya berseri seketika.Walau tanpa kata, namun ada senyum di sana. Bagiku, melihatnya tersenyum adalah sebuah harta.
...

Dan akhirnya aku benar-benar mendapatkan beasiswa itu. Walau aku tahu, aku sebenarnya tidak bisa membaca Al-Quran dengan baik, setidaknya aku akan berusaha. Setidaknya aku akan belajar untuk membuatnya bangga. Aku ingin mengajarinya, membaca Al-Quran bersamanya. Walau aku sadar, Aku hanya seorang tukang service handphone. Tapi Kawan, bukankah Syaikh Albani yang nama beliau sering kujumpai di buku dan majalah ayahku juga pernah menjadi seorang mekanik jam?

Hari itu aku meninggalkannya merantau lagi ke pulau Jawa. Setelah mencium tangannya, aku memeluknya. Hangat sekali peluknya, seperti selimut bagi seorang gelandangan kota Malang yang kedinginan. Jam dua malam.

“Hati-hati, Yar.”

Ia masih tak banyak berkata. Namun pelukannya itu bermakna. Nasihatnya mengandung harapan besar. Harapan agar anaknya bernasib lebih baik darinya. Dan begitulah seorang ayah seharusnya.
...

Aku merantau, menuju pulau Jawa. Tak muluk aku ingin jadi orang yang hafal Al-Quran, bagiku bisa membaca Al-Quran dengan baik saja sudah lebih dari cukup. Mungkin bisa menjadi imam di kampung saat tarawih dengan ayahku menjadi makmum saja, aku sudah sangat bahagia. Karena aku telah berjanji membuatnya bangga. Tapi karena Allah, tetap menjadi niat yang utama.
...

Musim-musim berganti, setiap tahun aku pulang sekali. Mengunjungi ayah yang kurindui setiap hari. Ayahku adalah anak keenam dari empat belas bersaudara. Semuanya kaya raya kecuali dia, semua sudah naik haji kecuali dia.

Kini, setelah ia tak lagi memiliki perkerjaan, harapannya untuk naik haji hilang pelan-pelan. Namun bukan ayah namanya jika kehilangan semangatnya, dengan sedikit uangnya ia ikut mencicil TV kabel berlangganan, yang mana dibayar urunan beberapa keluarga dalam satu perumahan. Dengan TV tabung tahun 1998, dicarinya channel Mekkah dan Madinah. Di saat ia tidak berada di masjid, maka acara dua stasiun TV Arab Saudi itulah teman kesukaannya. Ia senang memonton sambil bersandar pada sebuah kursi. Jika ia bosan dengan siaran di Mekkah, maka digantinya ke siaran stasiun Madinah, jika bosan lagi, maka akan kembali ke stasiun semula. Terus berpindah seperti itu. Layaknya metromini jurusan Blok M-Pasar Minggu yang tak singgah ke terminal lain. Jika si tukang kameramen mengambil gambar Masjid Nabawi, lalu menyorot karpet hijau antara mimbar dan makam Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam, maka bibirnya bergerak, seolah ia sedang meminta, berharap agar doanya diterima. Lain lagi jika sang kameramen menyorot ka’bah, maka ayah bangun dari sandarannya, dipasangnya kacamatanya agar tak samar pandangannya, seolah ia membayangkan dirinya berada di sana lalu mengitari rumah tua itu dengan bahagianya. Dipandangnya ka’bah dan beberapa bagian Masjidil Harom dengan haru, lalu diliriknya wajahku, seolah berkata,

“Kau lihat, Yar.. itu prosesi umroh. Lihat Yar! Lihat Baitullah, itu kiblat kita. Tahukah engkau, Anakku, Ayah sangat ingin ke sana. Ayah ingin mencium hajar aswad, Ayah ingin berlari-lari kecil seperti orang di Shafa dan Marwa itu, Yar.. Lihat! ”

Aku kelu. Pria pendiam ini juga menyimpan cita-citanya dalam diam.

Yang membuat pilu di hatiku semakin ngilu adalah ketika melihatnya di masjid bergaul dengan teman-teman seumurannya yang semuanya juga sudah pernah menunaikan ibadah haji. Adalah adat di kampung kami bahwa sebuah pemuliaan panggil memanggil dengan sebutan “haji”. Teman-temannya kadang memanggil ayah dengan sebutan haji hanya untuk memuliakan ayah yang umurnya terlihat lebih tua dari mereka. Aku mafhum, ayah kelu di hatinya. Ingin ia seperti teman-temannya. Panggilan itu hanya fatamorgana untuknya. Seperti melihat air di aspal nun jauh, semu, tak ada apa-apa.

Pernah suatu hari ayah menolong seseorang di jalan. Orang itu berterima kasih sembari mendoakan,
“Terimakasih, Pak. Semoga Bapak cepat naik haji,” lirihnya.

Hari itu aku melihat ayahku tersenyum. Senyum itu, Kawan, senyum itu begitu dalam maknanya, untukku dan untuknya. Untuknya karena doa itu masuk ke hatinya lalu ia berharap agar di-ijabah Tuhan pemilik timur dan barat. Untukku, karena aku ingin sekali melihat ayahku tersenyum lagi, seperti hari ini, aku ingin sekali ayah pergi ke rumah Allah. Tuhan pemilik arah kiblat.
...

Di tengah perantauanku di Pulau Jawa. Setelah berganti-ganti pondok tahfizh beberapa kali, aku bermukim di Jogja. Hari itu, aku menelpon ayah, mengabari bahwa ada tes penerimaan mahasiswa baru Universitas Islam Madinah. Pria tua itu terperanjat. Lalu membanjiriku dengan kata. Bercerita ia, tiap detail katanya adalah semangat dan intonasinya berupa letupan-letupan motivasi. Ia laksana merapi yang menumpahkan seluruh larva. Mencurahkan apa yang ia rasa. Ia berjanji akan memberiku apapun yang kuperlukan untuk bisa ikut tes perguruan tinggi yang ia katakan sebagai universitas Islam terbaik di dunia. Aku pun terperanjat. Ganjil sekali, seolah itu bukan ayahku yang pendiam.

Dan yang paling membuatku haru adalah ketika ia berkata, “Jangan pikirkan masalah uang, Nak, jangan pikirkan. Ayah yang akan mencarikan. Insya Allah.”

Terisak ia.

Kau tahu, Kawan, ayahku sekarang hanya supir ambulan sebuah masjid, itu pun terkadang. Tak setiap hari ia dapat uang. Ia berjanji akan menyisipkan namaku dalam setiap doanya, di sepertiga malamnya. Setiap harinya.
...

Hari itu dua puluh dua tahun usiaku. Berada di pedalaman Jawa selepas salat Shubuh. Aku bersama dua orang temanku, Isnan dan Mukhroji. Kami baru saja mengikuti tes masuk Universitas Islam Madinah di Pondok Pesantren Darussalam, Gontor, Ponorogo. Kami memutuskan pulang setelah Shubuh. Nahas, pedalaman Ponorogo itu bukanlah Bogor yang angkot bisa lewat 24 jam. Kami menunggu sampai matahari meninggi. Berharap ada tumpangan transportasi.

Mukhroji cemas, ia harus secepatnya sampai ke Tegal karena ada suatu urusan keluarga. Berkali-kali pemuda tinggi ini menoleh ke sana-kemari berharap angkutan pedesaan segera datang. Sebentar duduk, ia bangkit berdiri, lalu menoleh lagi. Kawanku ini mungkin mendapat musykil yang berat dalam keluarganya. Lain lagi si Isnan, pemuda ramah asal Klaten ini ingin cepat pulang karena hampir setiap hari di sini ia memakan pecel khas Jawa Timur. Yang mana efek sampingnya adalah bosan, tak selera makan, dan sedikit mengganggu pencernaan. Pemuda terakhir, yaitu Aku, dengan alasan yang sama dengan Isnan. Karena kami membeli makanan secara patungan. Di pagi itu, kami menunggu dengan kumpulan rasa bosan.

Namun di ujung jalan, sayup-sayup bayangan kecil muncul, membesar dan kian dekat dengan tiga orang malang tadi. Bayangan itu menjadi nyata berupa sebuah mobil besar, gagah, dan nyaring bunyinya. Sebuah truk. Namun wajah dua temanku datar. Berbeda denganku yang sumringah tiap melihat sebuah truk. Kulambaikan tangan, girang aku. Berteriak-teriak seperti anak kecil yang baru pertama kali melihat ayunan di sebuah taman bermain.

Truk itu berhenti. Aku membuka pintu. Seorang pria di sana. Tak terlalu muda. Kutaksir empat puluhan umurnya. Pandangan matanya, seolah sudah tahu sebelumnya bahwa tiga orang di pinggir jalan itu hanya akan merepotkannya. Wajahnya sangar. Mimiknya kasar. Otot-otot badannya besar. Ia mirip tukang pukul seorang pejabat yang baru saja dilantik menjadi bupati.

Namun semua itu mencair ketika aku menatap matanya. Seolah ia melihat sesuatu di wajahku. Wajah yang seolah bicara. Berbicara bahwa ayahku adalah supir truk seperti dirinya. Dia pun seolah mengerti apa yang kubahasakan lewat wajah. Mungkin ada bahasa yang kurasa hanya aku dan para supir-supir truk saja yang memahaminya. Atau mungkin juga karena wajahku memelas dengan sempurna.

“Naiklah!” Ia langsung ramah. Entah kemana si tukang pukul bupati ini menaruh mimik seram yang diperagakannya sebelumnya.

Isnan dan Mukhroji naik dan duduk disamping sang supir. Hanya bisa untuk dua orang tempat duduknya. Aku? Ah, Kawan, aku mencari tempat favoritku. Menaiki bak truk itu. Bak itu hanya persegi panjang dari besi dengan sisa-sisa pasir berhamburan, melayang dan berputar terbawa angin. Aku duduk di sana. Hening. Bergoyang-goyang di jalan pedesaan yang bergelombang. Aku melamun. Di sana seolah ada lorong waktu yang membawaku jauh. Jauh ke masa lalu. Ke masa kecilku. Bersama ayahku di sebuah bak truk. Aku melihat ia bercerita. Aku mendengar intonasi khasnya. Aku mendengar suara kecilku tertawa. Aku merasa tubuh kecilku digendongnya. Wajah mudanya masih kuingat dalam pikiranku. Sesekali ia bercerita sambil mengusap rambut ikalku. Aku terbuai fantasi. Indah sekali.

Lorong waktu itu lalu mengembalikanku ke dunia nyata. Aku sendiri di sini merindukannya. Dalam sebuah bak truk dengan sisa-sisa pasir di dalamnya. Mataku sakit diserang butiran-butiran pasir yang melayang dalam pusaran angin di bak. Tapi bukan itu alasanku untuk meneteskan air mata. Air itu jatuh karena aku rindu pada ayah. Rindu tak terkira.
...

Beberapa musim berganti dengan cepatnya. Banyak hal-hal yang tak pernah kita kira dan kita duga. Sebuah doa melesat ke langit dan dijawab oleh Tuhan Pemilik Semesta. Aku akhirnya diterima. Aku dapat beasiswa ke Madinah. Lagi-lagi aku merantau jauh meninggalkan seorang lelaki tua. Sebelum pergi aku memeluknya. Ia kembali menjadi dirinya yang tak banyak berkata. Tapi aku tahu, pelukan itu sudah mengatakan semuanya. Bahwa ia bangga. Ia bangga anaknya bisa ke kota impiannya. Kota yang sering ia ceritakan. Bahwa ia pun rela jika seandainya tak pernah bisa ke Madinah, asal anaknya bisa. Anaknya bisa lebih baik darinya. Bisa berangkat haji. Bisa salat dengan ganjaran ribuan kali. Lalu kudengar kata keluar dari mulutnya, pujian untuk Ilahi Robbi.
...

Hari ini, di mana aku berdiri, di kota yang mulia ini, adalah giliranku yang berusaha berbuat untuknya. Aku masuk dalam program persiapan bahasa, dua tahun lamanya, sebelum bisa kuliah di salah satu jurusan yang tersedia. Berada di sini adalah level terendah seorang mahasiswa. Aku di sini adalah gabungan antara kejahilan bahasa dan keberuntungan bisa berada di sini semakin lama.

Kau tahu, Kawan, Kau bisa saja merendahkanku karena hinanya aku di mata kalian, kita berbeda, Kawan. Aku masih memiliki ayah yang harus kubahagiakan. Tiap uang yang kuterima kusisihkan, tiap lantunan doa kuselipkan. Aku ingin pergi haji bersama ayahku. Aku ingin mengitari ka’bah bersamanya. Menuntunnya. Berlari kecil di sampingnya antara Shafa dan Marwa. Aku ingin membimbingnya. Aku ingin suatu hari ia melihatku berada di kampus kita, yang ia sangka terbaik di dunia. Aku ingin ia tahu kalau aku sudah bisa membaca Al-Quran di Masjid Nabawi. Aku ingin memanjatkan doa bersamanya di Raudhoh. Ingin kuceritakan ia tentang seluk beluk kota ini, kota impiannya. Seperti ia menceritakan padaku ketika aku kecil.

Kapankah itu? Entahlah, Kawan. Entahlah kapan. Aku hanya ingin melihatnya tersenyum lagi. Tersenyum saat pergi haji.
…

Ayahku adalah lelaki tua seperti biasanya. Lelaki sepertinya bisa kita jumpai di mana saja. Tapi bagiku, ayah adalah lelaki istimewa. Aku bertahan di sini menunggunya. Menunggu keajaiban Tuhan untuknya. Akan tibakah saatnya?
...

Ini adalah cerita sederhana sebuah kata. Kata yang kita semua memilikinya. Entah kita masih memilikinya, atau telah tiada.

‘Ayah.’

----------------------------------------------------------

Nb: Cerita diangkat dari kisah nyata seorang mahasiswa Univ. Islam Madinah angkatan tahun 1433-1434 H. Tulisan ini berhasil memenangkan Lomba Karya Tulis Bebas dan terpilih sebagai Juara Satu dalam acara tahunan Pekilo (Pekan Kegiatan Ilmiah dan Olahraga) UIM (Universitas Islam Madinah) 1434 H.

17 Mei 2013

Sekali Saja dalam Sepekan


Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, dari Abu Wa'il berkata, "Bahwasanya Abdullah bin Mas'ud memberi nasehat kepada masyarakat setiap hari Kamis. Lalu salah seorang bertanya kepadanya, 'Wahai Abu Abdurrahman, alangkah senangnya saya jika engkau memberi nasehat kepada kami setiap hari.'

Abdullah bin Mas'ud menjawab, 'Yang menghalangiku untuk melakukan hal itu adalah saya khawatir kalian bosan. Maka, aku menasehati kalian dengan tidak terus-menerus., sebagaimana Rasulullah melakukan hal itu kepada kami karena khawatir rasa bosan menimpa kami.'"

Abdullah bin Mas'ud menasehati manusia setiap hari Kamis, sekali dalam sepekan, tidak lebih dari itu, walaupun orang-orang memintanya lebih dari itu. Abdullah bin Mas'ud menerangkan bahwa Rasulullah juga melakukan hal yang sama, dan ia juga ingin mengikuti sunnah Nabi, serta menerangkan hikmah perbuatannya itu.

Ada beberapa faedah yang dapat dipetik dari hadits di atas, sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Shalih Ahmad Asy-Syami dalam kitabnya Mawa'izhu Ash-Shahabah, yaitu:
  1. Bahwasannya Nabi menasehati manusia, dan tidak memperbanyak nasehat sehingga tidak membuat mereka merasa jenuh.
  2. Bahwasanya nasehat ini tidak berkaitan dengan wahyu yang harus segera disampaikan, apalagi ia berkaitan dengan waktu tertentu. Ini berarti sasaran dari peringatan itu adalah memberikan nasehat, dan mengingatkan sesuatu yang telah disampaikan sebelumnya, atau perkara-perkara yang berkaitan dengan akhlak serta hari Kiamat.
  3. Bahwasanya para Sahabat mengambil peran mereka dengan melaksanakan kewajibannya, yaitu menasehati manusia setelah wafatnya Rasulullah. Dan di antara mereka adalah Abdullah bin Mas'ud dan yang lainnya.
  4. Bahwasannya para Sahabat mencontoh Rasulullah dalam segala macam amalannya.

*Sukoharjo, 26 September 2012


PROMO BUKU

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More