MUSLIMAH

Menuju Insan yang Shalihah

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

MUTIARA DAKWAH

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

7 Mei 2013

Beberapa Permasalahan yang Berkaitan dengan Wudlu





 
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub Maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, Maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.” (Qs. Al-Maidah: 6)
 
Beberapa Permasalahan yang Berkaitan dengan Wudlu

1. Buang air kecil harus dibersihkan dengan baik agar wudlu menjadi sah
Sebelum wudlu kita harus yakin bahwa pakaian kita tidak terkena najis. Dan yang penting adalah kita membersihkan diri dengan baik ketika buang air kencing.

Dari Ibnu Abbas ra., ia berkata: Rasulullah saw. pernah melewati dua buah kuburan, lalu beliau bersabda: Ingat, sesungguhnya dua mayit ini sedang disiksa, namun bukan karena dosa besar. Yang satu disiksa karena ia dahulu suka mengadu domba, sedang yang lainnya disiksa karena tidak membersihkan dirinya dari air kencingnya. …….. (HR. Muslim)

Maka dari itu, buang air kecil tidak boleh di sembarang tempat. Usahakan buang air kecil di kamar mandi/toilet sehingga kita bisa membersihkan diri.

2. Niat wudlu
Niat wudlu tidak harus dilafalkan. Niat letaknya di dalam hati. Setiap orang yang hendak berwudlu berarti ia sudah mempunyai niat di dalam hatinya sehingga tidak perlu melafalkan niat. Jadi, kita tidak perlu mengucapkan niat, misalnya nawaitu wudlu…, atau niat saya wudlu…, atau niat ingsun wudlu….dan sebagainya. Niat cukup di dalam hati saja. Sedangkan, untuk memulai wudlu kita membaca basmallah.

3. Tidak boleh wudlu dengan tergesa-gesa
Berwudlu harus dengan baik dan tidak boleh tergesa-gesa agar wudlunya sempurna, agar bagian-bagian tubuh terkena basuhan air. Meskipun kita sedang tergesa-gesa (misalnya ketika sudah iqomat) kita tidak boleh berwudlu dengan terlalu cepat sehingga ada bagian yang tidak terbasuh air. Termasuk tidak boleh tergesa-gesa juga ketika kita mendatangi tempat shalat. Biasanya kalau sudah iqomat, orang yang terlambat terburu-buru berjalan, sampai ada yang berlari kecil, sehingga menimbulkan mengganggu jamaah shalat. Meskipun sudah iqomat dan imam sudah takbir, kita mendatangi tempat shalat harus dengan tenang, tidak boleh tergesa-gesa. Begitu pula dengan berwudlu kita juga tidak boleh tergesa-gesa agar wudlu kita sempurna.

Hadis riwayat Abdullah bin Umru ra., ia berkata: Bersama Rasulullah saw. kami kembali dari Mekah menuju Madinah. Ketika kami berada pada sebuah oase (danau kecil) di tengah jalan, beberapa orang tergesa-gesa menunaikan salat Ashar. Mereka berwudlu dengan tergesa-gesa. Lalu kami dekati mereka, tampak tumit mereka tidak terkena air, maka Rasulullah saw. bersabda: “Siksa neraka bagi (pemilik) tumit itu. Sempurnakanlah wudlu kalian”. (HR. Muslim)

4. Tidak boleh wudlu menggunakan air yang berlebihan
Islam mengajarkan untuk tidak berlebih-lebihan dalam segala hal, termasuk dalam wudlu. Wudlu harus menggunakan air secukupnya, tidak boleh membuang-buang air yang banyak.

Nabi SAW melihat Sa'ad yang sedang berwudhu, lalu beliau berkata, “Pemborosan apa itu, hai Sa'ad?” Sa'ad bertanya, “Apakah dalam wudhu ada pemborosan?” Nabi menjawab, “Ya, meskipun kamu (berwudhu) di sungai yang mengalir.” (HR. Ahmad)

Nabi mengisyaratkan bahwa meskipun berwudlu di tempat yang banyak airnya kita tetap tidak boleh berlebih-lebihan.

5. Sunnah menghisap air dengan hidung dan menghembuskannya
Dalam wudlu ada wajib dan sunnah wudlu. Salah satu sunnah wudlu yang jarang dimengerti dan dilaksanakan orang adalah menghisap air dengan hidung dan menghembuskannya.

Dari Humran bahwa Utsman meminta air wudlu. Ia membasuh kedua telapak tangannya tiga kali, lalu berkumur dan menghisap air dengan hidung dan menghembuskannya keluar, kemudian membasuh wajahnya tiga kali. Lalu membasuh tangan kanannya hingga siku-siku tiga kali dan tangan kirinya pun begitu pula. Kemudian mengusap kepalanya, lalu membasuh kaki kanannya hingga kedua mata kaki tiga kali dan kaki kirinya pun begitu pula. Kemudian ia berkata: Saya melihat Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam berwudlu seperti wudlu-ku ini. (HR. Bukhari & Muslim)

6. Tidak perlu berwudhu karena ada keragu-raguan (apakah berhadats atau tidak) hingga dia yakin sudah batal wudhunya

Abu Hurairah radliyallaahu 'anhu berkata bahwa Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila seseorang di antara kamu merasakan sesuatu dalam perutnya, kemudian dia ragu-ragu apakah dia mengeluarkan sesuatu (kentut) atau tidak, maka janganlah sekali-kali ia keluar dari masjid kecuali ia mendengar suara atau mencium baunya." (HR. Bukhari & Muslim)

7. Memulai dengan anggota badan yang kanan
Dari Abu Hurairah radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila kamu sekalian berwudlu maka mulailah dengan bagian-bagian anggotamu yang kanan.” (HR. Imam Empat dan shahih menurut Ibnu Khuzaimah)

8. Sunnah bersiwak dalam wudlu
Termasuk sunnah Nabi yang sekarang ini sudah jarang dilaksanakan adalah bersiwak dalam wudlu.

Dari Abu Hurairah radliyallaahu 'anhu dari Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa Sallam bahwa beliau bersabda: “Seandainya tidak memberatkan atas umatku niscaya aku perintahkan mereka bersiwak pada setiap kali wudlu.” (HR. Malik, Ahmad dan Nasa'i)

Menurut ilmu kesehatan, bersiwak sangat bermanfaat bagi kesehatan mulut dan gigi. Para dokter modern memuji siwak sebagai alat yang bagus dan bermanfaat sekali untuk menjaga kesehatan mulut dan gigi.

9. Makan dan minum tidak membatalkan wudlu, kecuali makan daging unta
Makan dan minum tidak membatalkan wudlu, kecuali makan daging unta. Jadi, tidak apa-apa ketika kita sudah berwudlu kemudian makan atau minum, setelah itu shalat tidak perlu berwudlu lagi. Kecuali kalau kita makan daging unta, maka kita wajib wudlu lagi.

Dari Jabir Ibnu Samurah radliyallaahu 'anhu bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shallallaahu 'alaihi wa Sallam : Apakah aku harus berwudlu setelah makan daging kambing? Beliau menjawab: “Jika engkau mau.” Orang itu bertanya lagi: Apakah aku harus berwudlu setelah memakan daging unta? Beliau menjawab: “Ya.” (HR. Muslim)

10. Berdoa setelah wudlu
Salah satu doa setelah wudlu adalah sebagai berikut:

  Ø£َØ´ْÙ‡َدُ Ø£َÙ†ْ لاَ Ø¥ِÙ„َـهَ Ø¥ِلاَّ اللهُ ÙˆَØ­ْدَÙ‡ُ لاَ Ø´َرِÙŠْÙƒَ Ù„َÙ‡ُ ÙˆَØ£َØ´ْÙ‡َدُ
Ø£َÙ†َّ Ù…ُØ­َÙ…َّدًا عَبْدُÙ‡ُ ÙˆَرَسُÙˆْÙ„ُÙ‡ُ  

“Aku bersaksi, bahwa tiada Tuhan yang haq kecuali Allah, Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagiNya. Aku bersaksi, bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya”.

Umar radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Tiada seorang pun di antara kamu yang berwudlu dengan sempurna, kemudian berdo'a: Ashadu alla ilaha illallah wahdahula syarikalahu wa asyhaduanna muhammadan abduhu wa rasuluhu,-kecuali telah dibukakan baginya pintu syurga yang delapan, ia dapat masuk melalui pintu manapun yang ia kehendaki." (HR. Muslim) 



Bagaimana Cara Shalatnya Musafir?




 
Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya: Bagaimana cara shalat musafir dan bagaimana pula puasanya ?

Jawaban Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
Shalat musafir adalah dua rakaat sejak saat dia keluar dari kampung halamannya sampai kembali kepadanya, berdasarkan kata-kata Aisyah:
"Awal diwajibkannya shalat adalah dua rakaat, lalu ditetapkanlah hal itu untuk shalat di waktu safar dan disempurnakan shalat di waktu mukim, dalam riwayat lain dan ditambahi untuk shalat di waktu mukim." [1]

Anas bin Malik berkata.

"Kami keluar bersama Nabi dari Madinah menuju Makkah, lalu beliau shalat dua rakaat dua rakaat sampai kami kembali ke Madinah." [2]

Akan tetapi apabila seseorang shalat bersama imam, maka ia harus menyempurnakan shalat empat rakaat, sama saja apakah dia mengikuti shalat sejak awal atau kehilangan sebagian rakaat darinya; berdasarkan keumuman sabda Nabi.

"Apabila kalian mendengar iqamah maka berjalanlah menuju shalat dan wajib atas kalian menjaga ketenangan dan ketentraman, jangan terburu-buru, apa yang kalian dapati (dari shalat) kerjakanlah sedangkan apa yang hilang dari kalian sempurnakanlah." [3]

Keumuman sabda beliau "apa yang kalian dapati (dari shalat) kerjakanlah sedangkan apa yang hilang dari kalian sempurnakanlah" meliputi para musafir yang shalat di belakang imam yang mengerjakan shalat empat rakaat dan selain mereka. Ibnu Abbas ditanya tentang bagaimana keadaan musafir yang shalat dua rakaat manakala bersendiri dan empat rakaat apabila bersama orang tempatan? Dia menjawab, "Itulah sunnah".

Kewajiban shalat jamaah tidak gugur bagi musafir, karena Allah memerintahkannya di dalam kondisi perang, Dia berfirman.

"Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat bersertamu) sujud (telah menyempurnakan serakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersembahyang, lalu bersembahyanglah mereka denganmu." )Qs. An-Nisa: 102)

Berdasarkan dalil ini, apabila ada seorang musafir berada di suatu daerah yang bukan daerahnya, dia wajib menghadiri shalat jamaah di masjid ketika mendengar adzan, kecuali bila letaknya sangat jauh, atau khawatir kehilangan teman-temannya, sesuai keumuman dalil yang menunjukkan pada wajibnya shalat berjamaah bila mendengar adzan atau iqamah.

Sedangkan mengenai mengerjakan shalat sunnat; seorang musafir boleh melaksanakan shalat sunnat selain rawatib Dhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya, dia boleh mengerjakan shalat Witir, shalat Lail, shalat Dhuha, shalat rawatib Fajar dan selain dari itu berupa shalat sunnat selain rawatib yang dikecualikan tersebut.

Tentang menjamak (mengumpulkan shalat): jika dia dalam keadaan berjalan (naik kendaraan) yang lebih utama adalah menjamak antara Dhuhur dan Ashar, antara Maghrib dan Isya, bisa dengan jama taqdim maupun jama takhir, melihat mana yang lebih mudah baginya, segala hal yang lebih mudah adalah lebih utama.

Jika dia dalam keadaan berhenti (tinggal di suatu daerah) yang lebih utama adalah tidak menjamak shalat, jika dia tetap menjamak maka tidak mengapa; berdasarkan pengesahan dua hal itu dari Rasulullah.

Adapun tentang puasa musafir di bulan Ramadhan, yang lebih utama adalah dia tetap berpuasa, namun jika dia berbuka pun tidak mengapa, lalu dia mengganti jumlah hari berbukanya, kecuali jika berbuka lebih memudahkannya maka berbuka menjadi lebh utama, karena Allah menyukai orang yang menjalankan rukhshah (keringanan)nya, segala puji milik Allah Pemelihara semesta alam.


[Disalin dari kitab Majmu Fatawa Arkanil Islam, edisi Indonesia Majmu Fatawa Solusi Problematika Umat Islam Seputar Akidah dan Ibadah, Oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, terbitan Pustaka Arafah]
_________
Foote Note
[1]. Bukhari mengeluarkannya : Kitab Taqshir Shalat, Bab : Meringkas Apabila Kaluar dari Tempat Tinggalnya 1090. Muslim : Kitab Shalat Musafirin wa Qashriha. Bab : Shalat Para Musafir dan Peringkasannya 685.
[2]. Telah diriwayatkan oleh Bukhari : Kitab Taqshir Shalat, Bab : Apa Yang Datang Tentang Meringkas 1081. Muslim : Kitab Shalat Musafirin qa Qashriha, Bab Shalat Para Musafir dan Peringkasannya 693
[3]. Bukhari mengeluarkan dalam Kitab Adzan, Bab : Tidak Boleh Terburu-Buru Mendatangi Shalat, Hendaklah Datang Dengan tenang dan Tentram 636

Sumber: http://almanhaj.or.id 

29 Maret 2013

Download Kitab Aqidah Washitiyah Karya Ibnu Taimiyah dengan Syarah Said bin Ali Al-Qahthani


Muqaddimah dari Said bin Ali Al-Qahthani

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam yang lengkap dan sempurna semoga dilimpahkan kepada Nabi dan Rasul paling mulia, Nabi dan Imam kita, Muhammad bin Abdullah, juga kepada segenap keluarga, shahabatnya, dan siapa saja yang mengikuti jejak mereka dengan baik, hingga Hari Kiamat. Amma ba'du.

Kitab "Al-Aqidah Al Wasithiyah" tulisan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah adalah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Adapun latar belakang penulisan, dan penamaannya dengan Al Wasithiyah, ialah: bahwa seorang Qadhi dari negeri Wasith yang sedang melaksanakan haji datang kepada Syaikhul Islam dan memohon beliau untuk menulis tentang Aqidah Salafiyah yang beliau yakini. Maka, beliau menulisnya dalam tempo sekali jalsah (sekali duduk), seusai shalat 'Ashar.

Ini merupakan bukti nyata bahwa beliau memiliki ilmu yang luas dan dikaruniai oleh Allah kecerdasan dan keluasan ilmu yang mengagumkan. Dan itu tidak aneh, karena karunia Allah itu diberikan dan diharamkan bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Kepada Allah Yang Maha Tinggi dan Agung, kita memohon akan keutamaan dan kemuliaan-Nya.

Ketika saya mengetahui betapa pentingnya kandungan Kitab "Al-'Aqidah Al-Wasithiyah" tersebut, saya berkeinginan untuk membuat syarah -penjelasan- ringkas tentang kitab Aqidah ini. Saya memohon kepada Allah agar hal itu saya laksanakan semata-mata untuk mencari ridha-Nya. Tidak diragukan lagi bahwa banyak ulama telah melakukan upaya yang besar untuk menjaga, mengajarkan, mengulas, dan mensyarah, terhadap kitab "Al-.'Aqidah Al-Wasithiyah" ini dan di antara yang aku ketahui dari syarah-syarah tersebut antara lain : "Ar-Raudhah An-Nadiyyah, Syarh Al-'Aqidah Al-Wasithiyah" tulisan Syaikh Zaid bin Fayadh, "Al-Kawasyif Al-Jaliyyah 'An- Ma'ani Al-Aqidah Al-Wasithiyah" tulisan Syaikh Abdul Aziz bin Muhammad1, "Syarh Al-'Aqidah Al-Wasithiyah" tulisan Muhammad Khalil Al-Haras, dan "At-Ta'liqat Al-Mufidah 'ala Al-''Aqidah Al-Wasithiyah" tulisan Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Asy-Syarif.

Beberapa syarah tersebut cukup baik dan berhasil menjelaskan makna-makna aqidah tersebut. Adapun dalam syarah ringkas yang saya susun ini, saya melakukan hal-hal sebagai berikut:

Saya mentakhrij hadist-hadits Rasulullah dan menisbahkannya, kadang-kadang kepada sumber aslinya, tapi kadang-kadang cukup saya tunjukkan sumber aslinya tanpa teks. Saya juga menisbahkan ayat-ayat kepada surah dan nomornya, selain saya juga memberikan judul yang sesuai untuk setiap tema, misalnya : "Definisi Al-Firqah An-Najiyah:, "Madzhab Ahlus Sunnah wal Jama'ah tentang Sifat-sifat Allah", "Rukun Iman menurut Firqah Najiyah", Metode Ahlus Sunnah wal Jama'ah dalam Menafikan dan Menetapkan Asma' dan Sifat-sifat Allah", "Madzhab Mereka dan Ayat-ayat serta hadits-hadits tentang Asma' dan Sifat-sifat Allah".

Kemudian saya membuat judul sendiri untuk masing-masing sifat, tapi kadang-kadang saya gabungkan beberapa sifat dalam satu judul. Ini tidak saya maksudkan untuk membatasi, melainkan untuk menyebutkan sifat-sifat yang telah disebutkan oleh penulis. Penulis juga menyebutkan banyak ayat dan hadits, akan tetapi saya hanya menyebutkan satu dalil untuk setiap sifat, dari ayat atau hadits, sementara yang lain saya hapuskan untuk meringkaskan syarah ini.

Kemudian saya menyebutkan "Sikap pertengahan Ahlus Sunnah dalam masalah sifat Allah" di antara golongan-golongan lain yang ada. Sikap pertengahan mereka dalam masalah perbuatan manusia, Sikap pertengahan mereka dalam masalah ancaman Allah", Sikap pertengahan mereka mengenai nama-nama Iman dan Dien", "Sikap pertengahan mereka mengenai shahabat-shahabat Rasulullah, "Iman kepada Hari Akhir dan hal-hal yang berkaitan dengannya", "Takdir dengan keempat tingkatannya", "Madzhab Ahlus Sunnah wal Jama'ah tentang Iman dan Dien, Shahabat Rasulullah, dan Karamah para wali", serta "Akhlak mulia Ahlus Sunnah wal Jama'ah".

Semoga Allah memberikan taufik kepada saya dalam melaksanakan apa yang dicintai dan diridhai-Nya. Shalawat, salam, dan barakah, semoga dilimpahkan Allah kepada hamba dan Rasul-Nya, Muhammad, juga kepada segenap keluarga dan shahabatnya.


Download Kitab Aqidah Washitiyah Karya Ibnu Taimiyah
dengan Syarah Said bin Ali Al-Qahthani (chm)
DOWNLOAD


20 Maret 2013

Teladan Akhlak Syaikh Abdurrazaq Al-Badr



Ada banyak pelajaran akhlak yang dapat kita petik dari kehidupan Syaikh Abdurrazaq Al-Badr sebagaimana ditulis oleh Ustadz Firanda dengan judul “Dari Madinah Hingga ke RadioRodja: Mendulang Pelajaran Akhlak dari Syaikh Abdurrazaq Al-Badr.”

Ustadz Abu Muhsin Firanda Andirja merupakan salah satu murid Syaikh Abdurrazaq Al-Badr di Universitas Islam Madinah. Ustadz Firanda menceritakan pelajaran-pelajaran akhlak yang dapat diambil selama pergaulannya dengan Syaikh Abdurrazaq Al-Badr.

Syaikh Abdurrazaq Al-Badr mempunyai pengalaman yang sangat berkesan dengan gurunya, yaitu Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Syaikh Abdurrazaq Al-Badr pernah menjadi moderator saat Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menyampaikan nasehat kepada para mahasiswa di Universitas Islam Madinah. Syaikh Abdurrazaq Al-Badr memulai moderasinya dengan kalimat, “Alhamdulillah, pada kesempatan yang berbahagia ini kita akan mendengarkan muhadharah yang akan disampaikan oleh Al-‘Alamah Muhammad bin Shalih….”

Tiba-tiba Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menimpali dengan suara yang lantang, “Uskut!” (Diam!)

Syaikh Abdurrazaq tersentak mendengar kalimat Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin yang memintanya diam. Beberapa saat kemudian barulah beliau sadar bahwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin tidak ridha jika digelari dengan Al-‘Alamah (orang yang sangat alim).

Peristiwa itu sangat membekas di dalam hati Syaikh Abdurrazaq sehigga beliau sering mengulang-ulang cerita ini dengan mengatakan, “Lihatlah bagaimana Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin sama sekali tidak suka untuk digelari dengan gelar Al-’Allamah. Spontan beliau menegurku di hadapan begitu banyak mahasiswa, tanpa ragu-ragu dan tidak dibuat-buat.”

Menolak Penulisan Gelar
Syaikh Abdurrazaq Al-Badr merasa enggan mencantumkan gelarnya pada buku-buku karangannya. Dikisahkan bahwa Saat salah seorang ikhwan dari Indonesia meminta izin untuk menerjemahkan buku beliau yang berjudul Fikhul Ad’iyaa wal Adzkar (Fikh Doa dan Dzikir) ke dalam bahasa Indonesia, beliau mengizinkan dengan syarat: tatkala buku tersebut dicetak, nama beliau hanya ditulis ‘Abdurrozaq bin Abdulmuhsin Al-Badr’, tanpa embel-embel gelaran Profesor Doktor. Begitu pula buku-buku beliau yang dicetak di Arab Saudi maupun di Aljazair (Algeria), semua tanpa embel-embel gelar tersebut.

Mengajarkan Ilmu kepada Siapa pun
Syaikh Abdurrazaq Al-Badr mempunyai semangat yang tinggi dalam menyampaikan ilmu. Beliau tidak menolak -bahkan sangat bersemangat- untuk mengisi kajian di Radio Rodja agar umat Islam di Indonesia dapat mengenyam ilmu dari beliau.
Padahal, beliau sangat sibuk mengajar di universitas dan di tempat lain. 

Ustadz Abu Muhsin mengisahkan saat ia menyampaikan permintaan kepada beliau untuk mengisi kajian di RadioRodja.
“Syaikh, saya menyampaikan permintaan teman-teman di Radiorodja agar Syaikh mengisi kajian rutin, seminggu sekali.”

Dan, jawaban beliau sungguh-sungguh di luar dugaan saya (Abu Muhsin). Syaikh berkata: “Saya siap mengisi kajian setiap hari.”

Saya takjub sekaligus bingung mendengar jawaban tersebut, karena justru sayalah yang tidak siap. Saya pun menawarkan kepada beliau untuk mengisi kajian sepekan dua kali, dengan mempertimbangkan kesiapan dari berbagai teknisnya. Alhamdulillah, Syaikh setuju dengan usulan tersebut.

Tawadhu’
Syaikh Abdurrazaq Al-Badr menunjukkan sikap tawadhu yang patut kita teladani. Dalam salah satu kajian, Syaikh Abdurrazaq Al-Badr memaksa penerjemahnya yaitu Ustadz Abu Muhsin agar mau duduk di kursi yang bagus, sedangkan beliau memilih duduk di kursi yang jelek dan datar tanpa spon. 


Tatkala kru Radio Rodja mengabarkan kepada Syaikh bahwa ternyata yang menghadiri tabligh akbar Syaikh Abdurrozzaq dengan materi yang berjudul "Sebab-sebab kebahagiaan" berjumlah lebih dari 100 ribu peserta, dan ini merupakan rekor terbaru, karena Masjid Istiqlal tidak pernah dihadiri oleh jamaah pengajian seramai ini dalam sejarah Indonesia. Maka Syaikh dengan tersenyum berkata, "Mereka para hadirin yang datang bukan karena aku akan tetapi karena si penerjemah Firanda". Spontan kami pun tertawa tatkala mendengar hal ini.

Ada juga kejadian lain yang menunjukan sikap tawadhu Syaikh, yaitu suatu ketika tatkala Syaikh mengisi pengajian di Radio Rodja ada seseorang yang bertanya kepada beliau, dan sebelum bertanya penanya tersebut berkata, "Wahai syaikh, aku setiap mendengar pengajian yang Anda sampaikan hatiku menjadi lembut, dan aku lihat dari tutur kata Anda tatkala menyampaikan pengajian menunjukan bahwa Anda adalah orang yang berhati lembut". 

Syaikh berkata mengomentari perkataan si penanya ini, "Adapun perkataan si penanya bahwa aku berhati lembut, maka itu hanyalah persangkaan penanya saja, dan
aku berharap dan berdoa agar Allah menjadikan aku berakhlak mulia, dan juga para
pendengar Radio Rodja sekalian". Sungguh sikap tawadhu dan tidak terpedaya dengan pujian yang sampai kepada beliau.


Syaikh Abdurrazaq Al-Badr bersikap lemah lembut kepada anak-anak orang tua. Beliau menyalami anak-anak, mengusap kepala mereka, dan memberikan hadiah kepada mereka. Terhadap orang tua, beliau merangkul mereka dengan sikap tawadhu dan sopan.
 
Menyenangkan Hati Saudara

Berikut ini pelajaran akhlak yang berharga dari Syaikh Utsaimin dan Syaikh Abdurrazaq.
Suatu saat, Syaikh Utsaimin datang mengunjungi kota Madinah. Salah seorang kaya
mengundang beliau makan malam di rumahnya. Hadir bersama beliau dalam jamuan makan malam tersebut, empat orang, termasuk Syaikh Abdrurrozaq dan Syaikh Utsaimin. 


Saat memasuki ruang makan, pandangan Syaikh Utsaimin tertuju pada tumpukan buah-buahan beraneka ragam yang tertata rapi menyerupai gunung kecil. Syaikh lalu mengambil buah apel dari tumpukan tersebut, lantas berkata kepada kami, “Tahukah kalian, kapan pertama kali akumemakan buah apel?”

Kemudian, Syaikh Utsaimin pun bercerita, “Dahulu, Syaikh As-Sa’di mengajar buku yang agak berat, yaitu Qawa’id Ibni Rajab. Kitab ini agak sulit dipahami karena berkaitan dengan kaidah-kaidah fikih. Pada awalnya, banyak murid beliau yang hadir, namun lama-kelamaan berkurang, hingga akhirnya saat beliau menamatkan kitab tersebut, hanya tinggal aku sendiri bersama beliau. Setelah itu, beliau merogoh sakunya dan mengeluarkan sebutir apel berwarna merah. Baru pertama kali aku melihat buah seperti itu. Beliau berkata, ‘Ini buah tuffahah (apel), yang dimakan bagian dalamnya. Ada bijinya di dalam. Jangan dimakan.’ Aku sangat gembira menerima hadiah tersebut, maka aku segera pulang dan mengumpulkan seluruh keluargaku, istri dan anak-anakku, lalu kutunjukkan kepada mereka buah tersebut. Karena mereka juga baru pertama kali melihat buah apel, maka ada yang berkata, ‘Apakah ini tomat?’ Akhirnya aku membelah-belah buah apel tersebut lantas kubagikan kepada
keluargaku.”


Demikianlah, Syaikh Abdurrozak menceritakan kisah yang pernah didengarnya langsung dari Syaikh Utsaimin. Hanya sebutir apel akan tetapi sangat berkesan di hati Syaikh Utsaimin dan menyenangkan beliau bahkan keluarga beliau. 

Syaikh Abdurrozaq pernah berkata, “Ya Firanda, meskipun sebuah hadiah nilainya tidak
seberapa tetapi bisa jadi sangat menyenangkan hati orang yang diberi. Suatu saat, aku pernah bertemu seorang penuntut ilmu dari Kuwait, dan aku hampir lupa kalau aku pernah mengajarnya. Lantas, saat kami bertemu, dia segera memelukku kemudian mengingatkan aku bahwa dia pernah aku ajar di bangku kuliah. Bahkan dia berkata, ‘Ya Syaikh, aku tidak pernah lupa hadiah bunga yang Syaikh berikan kepadaku, sampai sekarang masih aku simpan di bukuku.”
Lihatlah setangkai bunga yang tidak bernilai tetapi sangat berkesan di hati orang tersebut.


Akhlak dalam Dakwah
Ust. Firanda bertanya, “Ya Syaikh, sebagian orang ada yang menyatakan bahwa aku adalah kadzab (pendusta). Apakah aku berhak membela diri dan membantah tuduhan tersebut?”

“Wahai Firanda, jangan kau bantah dia, bagaimanapun dia adalah saudaramu se-aqidah,” jawab beliau. 

“Bahkan jika ada orang yang bertanya kepadamu tentang dia, maka tunjukkan bahwa engkau tidak suka untuk membantahnya dan tidak suka membicarakan tentangnya.”

Beliau terdiam sejenak, lalu melanjutkan nasihatnya, “Engkau bersabar, dan jika engkau
bersabar percayalah suatu saat dia akan melunak dan akan menjadi sahabatmu.”


Seorang mahasiwa berkata kepada Syaikh, "Ya Syaikh, sesungguhnya saya telah dikatakan sebagai seorang pendusta, dajjaal, dan khobiits oleh seseorang yang bermasalah denganku. Padahal orang tersebut telah merendahkan engkau dan merendahkan Syaikh Abdul Muhsin Al-'Abbad, serta menyatakan bahwa Syaikh Ibnu Jibrin adalah imam kesesatan, dan lain-lainnya. Saya sudah mengajak orang itu untuk berdialog perihal tuduhan yang ia lontarkan kepadaku dengan syarat pembicaraan kita harus direkam, akan tetapi orang itu menolak dan berkata bahwa jika aku datang menemuinya untuk mengakui kesalahanku maka dia akan menerimaku di rumahnya, namun jika aku mendatanginya untuk mendebatnya maka dia akan mengusirku dan akan memboikot aku serta tidak akan memberi salam kepadaku jika bertemu denganku. Bahkan orang ini mendoakan keburukan kepadaku dengan perkataannya, 'Semoga Allah memeranginya, aku berlindung kepada Allah dari si pendusta yang sombong, dan dia akan menjadi sampah sejarah.'


Demikianlah, ya Syaikh, perkataannya yang buruk yang dia lontarkan untukku, dan aku mendengarnya sendiri dengan kedua telingaku. Yang jadi masalah juga dia menyebarkan tuduhan tersebut di kalangan para da'i di negaraku. Apakah aku berhak untuk membela diriku dan menjelaskan keadaan yang sesungguhnya, mengingat terlalu banyak ikhwan yang bertanya melalui telepon atau surat perihal masalah ini?.

Syaikh serta merta berkata, "Sekali-kali jangan kau bantah dia, selamanya jangan kau bantah dia!. Apakah engkau ingin engkau yang membela dirimu sendiri?, ataukah engkau ingin Allah yang akan membelamu??!!". 

Lalu syaikh menunjukkan buah hadits yang terdapat dalam kitab Al-Adab Al-Mufrod karya Al-Imam Al-Bukhori yang menjelaskan agar seseorang sejauh mungkin menjauhkan dirinya dari perdebatan dengan saudaranya.

Dari 'Iyaadl bin Himaar bahwasanya ia bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
seraya berkata, "Wahai Rasulullah, bagaiamana pendapatmu jika ada  seseorang mencelaku padahal nasabnya lebih rendah daripada nasabku?, maka Nabi berkata , "Dua orang yang saling mencela adalah dua syaitan yang saling mengucapkan perkataan yang batil dan buruk dan saling berdusta" (HR. Ahmad 29/37 no 17489 dan Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrod no 427 dan dishahihkan oleh syaikh Al-Albani)


Syaikh berkata, "Hadits ini menunjukan bahwa dua orang yang bertikai dan saling mencaci
maka disifati oleh Nabi dengan 2 syaitan.  Bahkan Nabi berkata bahwa keduanya pendusta dan saling mengucapkan perkataan yang buruk, rendah dan batil. Orang yang membantah saudaranya pasti –mau tidak mau- akan terjerumus dalam kedustaan agar bisa membuat orang-orang benci terhadap musuhnya. Atau paling tidak dia tidak akan menjelaskan kejadian yang terjadi antara dia dan musuhnya sebagaimana mestinya, akan tetapi dia menyajikan kejadian itu seakan-akan dialah yang berada di pihak yang benar, dan dengan cara pengajian yang menjadikan para pendengar akan benci terhadap musuhnya.
Selain itu dia akan terjerumus dalam peraktaan-perkataan yang rendah dan kotor serta batil"


 
Sukoharjo, 20 Maret 2013


18 Maret 2013

Menggapai Keikhlasan


Dalam kitab Tazkiyatun An-Nafs disebutkan bahwa Abu Muslim Abdullah bin Qutaibah Ad-Danuri menuturkan dalam kitabnya ‘Uyunul Akhbar bahwa Maslamah mengepung sebuah benteng. Ia menyuruh orang-orang untuk meyelinap masuk ke terowongannya. Tapi tidak ada seorang pun yang masuk. 

Lalu ada seorang lelaki dari pasukannya yang menawarkan diri. Ia berhasil menembusnya. Dan Allah akhirnya memenangkan mereka. Maslamah lalu memanggil, “Mana pemilik terowongan (maksudnya orang yang menembus lewat terowongan)?” Tidak ada seorang pun datang.

Maslamah lalu memanggil, “Aku telah memerintahkan memasukkan dia saat ini. Aku berharap di datang.”

Lalu seorang lelaki datang, “Izinkan aku menghadap panglima.”
Seorang pengawal bertanya, “Apakah kamu pemilik terowongan?”
Lelaki itu menjawab, “Aku akan mengabarkan kepadanya tentang pemilik terowongan.”

Pengawal lalu menghadap Maslamah dan mengabarkan tentangnya. Maslamah mengizinkannya menghadap. Lelaki itu berkata kepada Maslamah, “Pemilik terowongan memintamu untuk menepati tiga hal. Jangan kau tulis namanya dalam catatan ke khalifah, jangan kau perintahkan untuk member sesuatu kepadanya, dan jangan kau tanyakan dari mana dia?”

Maslamah menjawab, “Itu akan penuhi untuknya.”
Lelaki itu menjawab, “Akulah dia.”
Se
telah itu, setiap shalat Maslamah selalu berdoa, “Ya Allah, jadikanlah aku bersama pemilik terowongan.”

Menghindari Riya'
ibnu Qudamah dalam Mukhtashar Minhajil Qasidin berkata, "Bila seseorang merasakan adanya perbedaan amal yang dilihat manusia dan amal yang tidak dilihat manusia, maka di dalam dirinya terdapat suatu unsur riya’.

Termasuk obat yang manjur untuk menyembuhkan penyakit riya’ adalah membiasakan diri mengerjakan ibadah secara sembunyi-sembunyi dan menutup tempat beribadah persis seperti menutup pintu rumah agar tidak bisa mengerjakan perbuatan-perbuatan jahat. Sungguh tidak ada obat yang lebih manjur menyembuhkan penyakit riya’ daripada merahasiakan amal.

Merahasiakan ketaatan dapat memelihara keikhlasan dan menyelamatkan diri dari riya’. Sementara memperlihatkannya bisa mendorong orang lain untuk mengikuti dan memotivasi mereka untuk berbuat kebaikan. Orang yang memperlihatkan amalnya wajib memeriksa hatinya agar ia bebas dari riya’ samar dan mesti meniatkannya untuk menjadi teladan bagi orang lain."

Ibnul Jauzi dalam kitabnya Talbis Iblis menyebutkan kisah orang-orang shalih yang menyembunyikan amal mereka karena takut terhadap riya'. Amir bin Abdi Qais tidak suka jika orang-orang melihat dia sedang mendirikan shalat. Karena itu. Dia tidak pernah shalat sunnat di masjid.

Salafush shalih suka menyembunyikan ibadahnya. Bahkan, semua amal yang dilakukan Ar-Rabi’ bin Khutsaim tersembunyi. Ketika ada seseorang masuk ke dalam rumahnya, yang saat itu dia sedang menggelar mushaf, maka dia segera menutupi mushaf dengan selembar kain. Ahmad bin Hambal juga senantiasa membaca Al-Qur’an, namun tidak pernah diketahui kapan dia mengkhatamkannya.

Karena takut pada riya’, orang-orang shalih biasa menyembunyikan amal-amal mereka dan menampakkan sikap sebaliknya. Ibnu Sirin biasa tersenyum pada siang hari, namun dia banyak menangis pada malam harinya. Jika Ibnu Adham sakit, maka dia memperlihatkan makanannya seperti yang biasa dimakan orang yang sehat.

Sufyan Ats-Tsauri pernah berkata, “Aku tidak terbiasa memperlihatkan amalku.” Dia pernah berkata kepada seorang teman yang dilihatnya sedang shalat, “Apa yang mendorongmu berani mendirikan shalat, sementara semua orang melihatmu?”

Dari Muhammad bin Ziyad, dia berkata, “Abu Umamah melewati seseorang yang sedang sujud. Lalu dia berkata, “Buat apa dia mendirikan shalat itu? Andaikan saja dia mendirikannya di dalam rumahnya.”
Di antara orang-orang yang mempunyai harta ada yang membelanjakan harta untuk membangun masjid dan jembatan. Hanya saja dia melakukannya untuk riya’ dan mencari ketenaran, agar dirinya tetap dikenang dan namanya ditulis pada bangnunan itu. Andaikan perbuatannya itu karena Allah, cukuplah Allah yang mengetahuinya.

Orang-orang shalih pada zaman dulu suka memasukkan kepingan uang dinar yang lebih berat ke dalam tempat yang kecil, ia memberikannya kepada orang-orang miskin secara sembunyi-sembunyi.

Imam Adz-Dzahabi dalam Al-Kabair menyebutkan bahwa Muhammad bin Mubarok Ash-Shuri berkata, “Menampakkan ketaatan itu lebih baik di malam hari daripada di siang hari. Sebab, menampakkan ketaatan di siang hari itu untuk makhluk, sedangkan di malam hari untuk Rabb Semesta alam.”

Suatu hari Ibnu Sirin mendengar seseorang berkata kepada temannya, “Aku sudah berbuat baik kepadamu. Aku sudah melakukan ini dan itu.” Maka Ibnu Sirin menegurnya, “Hei, diamlah! Tidak ada kebaikan dalam amal kebajikanmu jika ia disebut-sebut.”

Sebagian ulama berkata, “Barangsiapa mengungkit-ungkit kebaikannya, ia bukan termasuk orang yang bersyukur. Dan barangsiapa merasa bangga dengan amalnya, pahalanya menjadi terhapus.”

Imam Syafi’I bersyair,

Janganlah engkau menerima kebaikan dari mereka
Yang mereka akan mengungkit-ungkitnya di hadapanmu
Pilihlah bagi dirimu apa yang menjadi bagianmu
Dan bersabarlah, karena sabar itu adalah surge
Ungkitan seseorang itu apabila melukai hati
Itu lebih sakit daripada tusukan tombak


Imam Nawawi dalam Syarh Hadits Arba'in berkata, "Sebagaimana halnya dengan riya’, sum’ah juga dapat menghapus (pahala) amalan. Sum’ah adalah mengerjakan amalan untuk Allah dalam kesendirian (tidak dilihat manusia), kemudian dia menceritakan amalannya itu di depan manusia.

Nabi bersabda,
“Barangsiapa berbuat sum’ah (menceritakan amalannya kepada orang lain), maka Allah akan menceritakan aibnya, dan barangsiapa berbuat riya’ (memperlihatkan amalannya kepada orang lain), maka Allah akan memperlihatkan aibnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Para ulama berkata, “Jika dia seorang ‘alim yang menjadi teladan, dan dia menyebutkan amalannya itu dalam rangka mendorong orang-orang yang mendengarnya agar mengerjakan amalan tersebut, maka tidaklah mengapa.”


Referensi:
Ibnul Jauzi. Talbis Iblis. (Terjemahan Kathur Suhardi). 2011. Perangkap Setan. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar

Imam Adz-Dzahabi. Al-Kabair. (Terjemahan Abu Zufar Imtihan Asy-Syafi’i). 2007. Dosa-dosa Besar. Surakarta: Pustaka Arafah

Imam An-Nawawi. Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah. (Terjemahan Ahmad S. Marzuqi). 2006. Syarah Hadits Arba’in Imam Nawawi. Yogyakarta: Media Hidayah

M. Abdul Qadir Abu Faris. Tazkiyatun An-Nafs. (Terjemahan Habiburrahman Saerozi). 2005. Menyucikan Jiwa. Depok: Gema Insani 


7 Maret 2013

Jatuh Cinta


Sesungguhnya, telah ditanamkan rasa cinta ke dalam diri manusia. Itulah salah satu fitrah manusia. Termasuk rasa cinta kepada lawan jenis, itulah sunnatullah.

Disebutkan dalam kitab Raudhatul Muhibbin karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah:
Berkata seorang penyair,

Jika engkau tidak mencinta
Maka engkau tidak pernah mengerti apa itu cinta
Maka apa bedanya dirimu dengan unta padang sahara itu

Penyair lain juga berkata,

Jika engkau tidak mencinta
Maka engkau tidak pernah mengerti apa itu cinta
Lebih baik engkau menjadi batu-batuan padang pasir yang berserakan

Al-Marzubani berkata, "Abu Naufal pernah ditanya, 'Mungkinkah seseorang bisa terlepas dari perasaan jatuh cinta?'

Ia menjawab, 'Ya bisa, yaitu seseorang yang hatinya keras lagi bodoh, yang tidak memiliki keutamaan dan juga tidak memiliki pemahaman. Sekalipun seseorang hanya memiliki sedikit kepandaian atau kehalusan orang-orang Hijaz dan kepintaran orang-orang Irak, maka sekali-kali ia tidak mungkin terlepas dari perasaan jatuh cinta.'"


Sukoharjo, 16 September 2012


Engkau Bersama Orang yang Engkau Cintai


Berbahagialah orang-orang yang saling mencintai karena Allah.
Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya Allah berfirman pada hari Kiamat, 'Di mana orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Naungan mereka pada hari Kiamat berada di bawah naungan-Ku, di mana tidak ada naungan selain naungan-Ku.'"
(HR. Muslim)

Dari Annas bin Malik, ia berkata, "Ada seseorang bertanya kepada Rasulullah tentang hari Kiamat, 'Kapankah hari Kiamat itu?'
Beliau balik bertanya, 'Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?'
Laki-laki tersebut menjawab, 'Tidak ada, kecuali bahwa aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.'
Rasulullah bersabda, 'Engkau bersama orang yang engkau cintai.'"

Anas berkata, "Tiada sesuatu yang membahagiakan kami daripada perkataan Rasulullah, 'Engkau bersama orang yang engkau cintai.'"

Anas berkata, "Aku mencintai Nabi, Abu Bakar, dan Umar. Dan aku berharap bisa berkumpul bersama mereka karena kecintaanku kepada mereka. Meskipun aku tidak beramal seperti amalan yang mereka lakukan, (HR. Bukhari dan Muslim)

Wahai orang-orang yang beriman, cintailah Rasulullah, para sahabat yang diridhai oleh Allah, serta orang-orang shalih yang takut kepada Allah. Dan, semoga kecintaanmu pada mereka menghantarkanmu pada perkumpulan dengan mereka di Surga.


*Sukoharjo, 25 September 2012 


15 Februari 2013

Di Manakah Kebahagiaan

Cara Menggapai Kebahagiaan

Orang-orang bertanya-tanya, “Di manakah kebahagiaan itu?”
Sebagian besar orang selama hidupnya mencari kebahagiaan dan mereka tidak menemukannya. Orang-orang kaya, pejabat, artis, mereka merasakan kesedihan, kegundahan, dan kebimbangan di sebagian besar waktu mereka. Dan mereka merasa amat jauh dengan kebahagiaan.

Inilah salah satu kebahagiaan yang bisa dirasakan jiwa. Ketika Anda berada di antara saudara-saudara seiman yang shalih, ketika Anda melaksanakan qiyamul lail bersama mereka, ketika kau bersama-sama mendengarkan nasihat-nasihat, ketika Anda bersama-sama makan sahur bersama mereka, dan ketika Anda melaksanakan shalat Subuh berjamaah. Inilah aktivitas-aktivitas yang dapat menghantarkan Anda merasakan kebahagiaan. 

Berkumpul bersama orang-orang shalih akan mampu meningkatkan iman Anda. Benarlah para ulama ketika mereka menulis sebuah kitab tentang kebahagiaan, mereka menempatkan iman dan amal shalih di urutan pertama sebagai jalan untuk menggapai kebahagiaan yang hakiki.

Abdullah Al-Inthaqi berkata, “Ada lima hal yang termasuk penawar hati, yaitu: 1) bergaul dengan orang-orang shalih, 2) membaca Al-Quran, 3) sedikit makan, 4) shalat malam, dan 5) bermunajat kepada Allah pada waktu sahur.” (Nashaihul ’Ibaad)

Berkaitan dengan poin pertama, yaitu bergaul dengan orang-orang shalih, ada sebuah kisah yang dicantumkan dalam kitab Thariq As-Sa’adah tentang seorang pemuda yang tidak menemukan kebahagiaan dalam ketenaran dan kemewahan hidupya sehingga ia berusaha mencari kebahagiaan yang hakiki. Pemuda ini bernama Sa’id Az-Zayyani.

Sa’id Az-Zayyani bercerita, “Saya berkata dalam hati, ‘Sesungguhnya orang-orang yang bahagia adalah para aktor dan aktris.’ Lalu saya ingin bergabung dengan mereka (para artis) sehingga saya ikut dalam dunia film, kemudian menjadi artis papan atas. Saya tidak akan bermain film kecuali menjadi aktor utama dalam semua sesi yang dilakukan. Sebenarnya saya menjadi pribadi yang terkenal di negeriku (yakni Maroko). Saya tidak mengendarai kecuali mobil termewah dan termahal. Saya tidak memakai pakaian kecuali pakaian mahal. Kedudukan sosial berada di strata atas.

Teman-temanku adalah para pembesar dari kalangan pejabat dan lain-lain. Saya berpindah dari satu istana ke istana lainnya. Semua pintu dibukakan bagiku seakan-akan saya adalah pemilik istana itu. Akan tetapi, walaupun mendapatkan semua itu, saya tetap merasa belum mencapai kebahagiaan yang selama ini dicari.”

Begitulah, wahai saudaraku, ternyata harta dunia dan kemewahan perhiasan tidak dapat mendatangkan kebahagiaan. Sa’id Az-Zayyani melanjutkan ceritanya, “Saya berencana untuk mengadakan perjalanan santai ke Belgia untuk mengunjungi saudaraku. Saya berencana lewat sebentar di sana, kemudian melanjutkan perjalanan ke berbagai negara di dunia.

Saya melakukan perjalanan ke Belgia dan bertemu saudaraku di sana. Akan tetapi, saya dikejutkan oleh keadaannya yang berubah dan kehidupannya yang berbeda. Yang paling penting dari semua itu adalah kebahagiaan yang memenuhi rumah dan kehidupannya. Saya banyak terpengaruh dengan apa yang terlihat, terutama hubungan yang kuat di antara pemuda muslim di kota itu. Mereka memelukku dengan penuh kehangatan dan menyambutku dengan sebaik-baik sambutan. Mereka mengundangku untuk menghadiri majelis dan perkumpulan mereka, serta berkenalan dengan mereka secara lebih intens.

Saya menghadiri pertemuan itu. Saya merasakan perasaan yang aneh ketika duduk bersama mereka. Saya merasakan kebahagiaan besar meliputi, sesuatu yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Bersamaan dengan berlalunya waktu, saya menghabiskan liburanku untuk melanjutkan kebahagiaan ini, yaitu kebahagiaan yang selama ini saya cari dan belum mendapatkannya.

Saya merasa bahagia bersama dengan orang-orang pilihan itu. Kebahagiaan itu bertambah hari demi hari, sedangkan kesempitan, kegalauan, dan kesusahan berkurang hari demi hari, sampai akhirnya hatiku dipenuhi cahaya iman. Saya mengetahui jalan menuju Allah yang selama ini saya tersesat menempuhnya, padahal saya memiliki harta, kekayaan, dan ketenaran.

Ketika itu saya mengetahui bahwa bahagia bukanlah dalam perhiasan palsu itu. Kebahagiaan itu hanya ada dalam ketaatan kepada Allah.


SURAT AL-WAQI’AH
Mari kita renungi bersama Al-Quran surat Al-Waqi’ah ayat 10-40, yang terjemahannya berikut ini.

10. Dan orang-orang yang beriman paling dahulu,
11. mereka itulah yang didekatkan kepada Allah.
12. Berada dalam jannah kenikmatan.
13. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu,
14. dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian.
15. Mereka berada di atas dipan yang bertahta emas dan permata,
16. seraya bertelekan di atasnya berhadap-hadapan.
17. Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda,
18. dengan membawa gelas, cerek dan minuman yang diambil dari air yang mengalir.
19. Mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk,
20. dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih,
21. dan daging burung dari apa yang mereka inginkan.
22. dan ada bidadari-bidadari bermata jeli,
23. laksana mutiara yang tersimpan baik.
24. Sebagai balasan bagi apa yang telah mereka kerjakan.
25. Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa,
26. akan tetapi mereka mendengar ucapan salam.
27. Dan golongan kanan, alangkah bahagianya golongan kanan itu.
28. Berada di antara pohon bidara yang tak berduri,
29. dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya),
30. dan naungan yang terbentang luas,
31. dan air yang tercurah,
32. dan buah-buahan yang banyak,
33. yang tidak berhenti (berbuah) dan tidak terlarang mengambilnya,
34. dan kasur-kasur yang tebal lagi empuk.
35. Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung
36. dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan,
37. penuh cinta lagi sebaya umurnya,
38. (kami ciptakan mereka) untuk golongan kanan,
39. (yaitu) segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu,
40. dan segolongan besar pula dari orang-orang yang kemudian.


Tanda-tanda Cinta



Orang yang sedang merasakan cinta kepada seseorang akan nampak perasaan cinta itu pada sifat dan perbuatan anggota badannya. Rasa cinta yang bersemayam dalam hati akan melahirkan tindakan-tindakan yang mencerminkan apa yang sedang dirasakan oleh hatinya.

Rasa cinta mempunyai tanda-tanda pada diri seseorang. Berikut ini beberapa tanda cinta yang akan nampak pada diri seseorang yang sedang jatuh cinta.

1. Senantiasa menghujamkan pandangan mata kepada orang yang dicintainya
Mata adalah pintu hati, ia juga merupakan pengungkap isi hati dan penyibak rahasia-rahasianya. Maka tak heran jika engkau saksikan pandangan orang yang jatuh cinta tertuju kepada orang yang dicintainya ke manapun ia pergi.

Sebagaimana ungkapan sebuah syair:
Pandangan mataku terikat pada gerakmu
Meski tubuhku terdiam membeku
Namun pandanganku senantiasa mengikutimu


2. Malu-malu jika orang yang dicintainya memandangnya
Salah satu tanda cinta adalah dirinya malu-malu bila dipandang oleh orang yang dicintainya. Untuk itu ia hanya bisa memandang ke bawah, ke permukaan tanah, karena dia merasa sungkan kepada orang yang dicintainya, karena didorong perasaan malu kepadanya, dan karena adanya keagungan kedudukan orang yang dicintainya di dalam hatinya.

Sebagaimana ungkapan sebuah syair:
Hujaman tombak niscaya kan bisa kuhadang
Namun, hujaman pandanganmu membuatku tak berdaya
Karna pandanganmu lebih tajam dari ujung tombak
Dan lebih cepat dari lesatan anak panah


3. Senantiasa menyebut nama orang yang dicintainya
Di antara tanda-tanda cinta yang menunjukkan seseorang jatuh cinta kepada orang yang dicintainya adalah dia senantiasa menyebut orang yang dicintainya, selalu mengingatnya, dan membicarakannya. Barangsiapa yang mencintai seseorang maka sudah pasti dia banyak mengingatnya di dalam hati dan menyebut namanya dengan lisannya.

4. Selalu taat terhadap perintah sang kekasih
Salah satu tanda cinta yaitu selalu taat terhadap perintah sang kekasih, mendahulukan kehendak sang kekasih daripada kehendaknya sendiri. Bahkan, tanda cinta ini adalah penyatuan kehendak orang yang mencintai dengan orang yang dicintai.

5. Memperhatikan perkataan orang yang dicintai dan mendengarkannya dengan sungguh-sungguh
Salah satu tanda cinta adalah senantiasa memperhatikan perkataan orang yang dicintai dan mendengarkannya. Hatinya senantiasa ada untuk mendengarkan perkata orang ayng dicintai.

6. Mencintai tempat tinggal orang yang dicintai
Salah satu tanda cinta adalah mencintai tempat tinggal orang yang dicintai, bahkan mencintai tempat yang disenangi oleh orang yang dicintai.

Sebagaimana ungkapan sebuah syair yang disebutkan dalam kitab Raudhatul Muhibbin:
Kulewati malam dari satu rumah ke rumah lain
Kuraba setiap permukaan dinding ke dinding lain
Mencintai tempat tinggal adalah sebagian dari cinta
Yang lebih penting lagi adalah mencintai penghuninya


7. Segera menghampiri orang yang dicintainya
Salah satu tanda cinta adalah orang yang jatuh cinta segera menghampiri orang yang dicintainya, dia akan menempuh seluruh jalan yang bisa mengantarkannya kepada orang yang dicintainya. Dia terus berusaha agar bisa berdekatan dengan orang yang dicintainya.

Dirinya selalu berusaha mencari jalan menuju kekasihnya, terus bersungguh-sungguh untuk bisa bersua dengan kekasihnya, dan menyukai apapun jalan yang bisa mengantarkannya kepada kekasihnya.

8. Jalan yang dilalui terasa pendek saat mengunjungi orang yang dicintai
Jalan yang dilalui terasa cepat baginya, seakan-akan jalan itu terasa dilipat untuknya.
Sebaliknya, jalan yang ditempuh saat kembali dari orang yang dicintai terasa panjang sekali -meskipun sebenarnya jalan itu pendek.

Dalam sebuah syair disebutkan:
Jika hati ini hendak melihatmu
Seakan-akan jalan panjang itu terlipat
Waktu berputar cepat
Dan tiba-tiba aku berada dihadapanmu

9. Cemburu kepada orang yang cintai
Salah satu tanda cinta adalah perasaan cemburu di dalam hatinya kepada orang yang dicintainya. Rasa cemburu juga bisa bangkit jika orang yang dicintainya disakiti, dirampas haknya, dan diganggu urusannya. Ini merupakan gambaran cemburu yang hakiki dari orang yang sedang jatuh cinta.

10. Rela berkorban untuk mendapatkan keridhaan orang yang dicintai
Salah satu tanda cinta adalah orang yang mencinta rela berkorban untuk mendapatkan keridhaan orang yang dicintainya, semampu yang bisa dia lakukan.

Dalam masalah ini, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam Raudhatul Muhibbin menyebutkan tiga keadaan orang yang jatuh cinta:

  1. Pada awalnya, pengorbanan yang dilakukan terasa berat dan membebani. 
  2. Jika perasaan cinta semakin kuat, maka pengorbanan akan dilakukan dengan sukarela dan senang hati. 
  3. Jika cinta itu tertanam kuat di dalam hati, maka pengorbanannya sudah menjadi tuntutan dan permintaan yang seakan-akan harus dipenuhi dari orang yang dicintainya. Bahkan, dia rela mengorbankan nyawanya sekalipun, demi membela orang yang dicintainya.

*Sukoharjo, 27 September 2012



Wanita Itu Mulia dan Ingin Dimuliakan


Anda begitu mulia. Sadarkah Anda wahai saudariku jika Anda begitu mulia.

Anda begitu mulia. Anda adalah permata zaman. Anda adalah oase kesejukan. Anda selembut sutra sekuat berlian, begitulah kata pujangga.

Tentu Anda sering mendengar ada dua orang berkelahi memperebutkan seorang wanita. Atau Anda mendengar seseorang rela menempuh bahaya demi seorang wanita. Betapa berharganya diri Anda.

“Ladies first” adalah sebuah ungkapan yang juga untuk menghormati wanita. Ada juga ungkapan “Perlakukan wanita dengan perasaan”. Memang sudah selayaknya setiap laki-laki menghargai dan memuliakan wanita. Dari rahim seorang wanitalah eksistensi manusia terus berlanjut. Betapa besar peran wanita dalam kehidupan ini. Maka, mestinya setiap wanita di dunia ini mendapatkan penghargaan.

Tidak pantas bila seorang laki-laki menghina dan melecehkan wanita. Bukankah laki-laki itu juga terlahir dari rahim wanita. Tidak pantas bila seorang lelaki berkata-kata kasar kepada wanita, terlebih lagi kepada ibunya. Berkata, “Ah…” pun juga tidak pantas.

Tapi kenyataannya sekarang banyak tindakan pelecehan yang dialami wanita. Bagaimana ini bisa terjadi? Sudah sebegitu jahatkah laki-laki sekarang ini? Apa zaman memang sudah benar-benar rusak?

Atau memang wanitanya yang ingin dilecehkan? Tidak mungkin ada wanita yang ingin dilecehkan. Tapi, bisa juga benar. Bukankah laki-laki tertarik kepada wanita salah satunya karena fisiknya, karena kecantikan wajahnya? 
Apalagi yang dipandang tidak hanya sebatas wajah. Laki-laki yang di dalam hatinya terdapat penyakit suka memandang wanita yang mengenakan pakaian yang tidak menutup aurat secara sempurna sehingga memperlihatkan bagian yang seharusnya tak terlihat. Jika laki-laki yang memandang itu tidak bisa menahan nafsu syahwatnya, maka terjadilah apa yang terjadi. Wanita menjadi korban pelecehan.

Wanita memang mulia. Tetapi wanita itu sendiri yang menjadikan ia mulia atau sebaliknya. Jadi, muliakanlah diri Anda sendiri maka orang lain akan memuliakan Anda. 



4 Februari 2013

Putra Khalifah Menjadi Kuli



Dikisahkan dalam kitab At-Tawwabin karya Ibnu Qudamah tentang seorangputra khalifah yang meninggalkan kehidupan mewah di istana dan menjadi seorang kuli panggul.

Suatu hari ‘Abdullah bin Faraj Al-Abid memerlukan buruh harian untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Maka ia pun pergi ke pasar. Sesampainya di sana, ia menemukan sekumpulan buruh harian. Ternyata di barisan paling belakangnya ada seorang pemuda berjubah dan berpakaian dari bulu yang wajahnya pucat pasi. Ia tengah membawa kerangjang besar.

“Kamu mau bekerja?” tanya ‘Abdullah bin Faraj kepadanya.
“Ya,” jawabnya.
“Berapa bayarannya?”
“Satu seperenam dirham.”
“Baiklah!”
“Tapi, ada syaratnya.”

“Apa syaratnya?” tanya ‘Abdullah bin Faraj. 

“Jika waktu Dhuhur tiba dan muadzin telah mengumandangkan adzan, aku akan berhenti bekerja; kemudian bersuci dan menunaikan shalat secara berjama’ah di masjid. Lalu kembali bekerja lagi. Demikian pula pada waktu shalat Ahsar,” pintanya.
“Baiklah!”

‘Abdullah bin Faraj menyuruhnya memindahkan barang dari satu tempat ke tempat lainnya. Pemuda itu pun mengikat tubuhnya lalu mulai bekerja dan sama sekali tidak mengajak ‘Abdullah bicara hingga muadzin mengumandangkan adzan Dhuhur.

“Hai, hamba Allah. Muadzin telah mengumandangkan adzan,” serunya.
“Silakan!” jawab ‘Abdullah.

Ia pergi dan menunaikan shalat. Setelah pulang, ia kembali bekerja dengan baik hingga waktu Ashar, ketika muadzin mengumandangkan adzan.
“Hai, hamba Allah. Muadzin telah mengumandangkan adzan,” serunya.
“Silakan!” jawab ‘Abdullah.

Ia pergi dan menunaikan shalat Ashar. Setelah pulang, ia kembali bekerja hingga sore. ‘Abdullah kemudian memberinya upah. Setelah itu, pemuda tersebut pulang.

Beberapa waktu berselang, ‘Abdullah bin Faraj membutuhkan lagi seorang buruh.
“Carilah buruh muda kemarin. Sungguh ia telah member teladan kepada kita ketika bekerja,” pinta istrinya.


‘Abdullah pergi ke pasar, namun tidak melihatnya. Ia menanyakan kepada orang-orang di pasar.
“Anda menanyakan pemuda yang pucat dan lemah yang tidak kami lihat selain hari Sabtu dan yang tidak duduk kecuali sendirian di bagian belakang?” jawab orang di pasar.
Maka ‘Abdullah pun pulang. Barulah pada hari Sabtu ia pergi ke pasar. Benar, ia pun menemukannya.

“Kamu mau bekerja?”
“Anda telah mengetahui upah dan syaratnya.”
“Ya, aku menyetujuinya.”

Ia bangkit dan bekerja dengan baik seperti sebelumnya. Ketika tiba saatnya memberi upah, ‘Abdullah menambahinya. Ternyata pemuda itu menolak menerima tambahannya. Namun, ‘Abdullah memaksanya untuk menerima. Kali ini pemuda itu merasa risih sehingga ia pergi meninggalkan ‘Abdullah. ‘Abdullah merasa tidak enak. Ia pun membuntuti dan membujuknya sampai akhirnya ia mau menerima, tetapi hanya upahnya saja.

Beberapa waktu kemudian, ‘Abdullah kembali hendak memerlukannya. Ia pergi ke pasar pada hari Sabtu namun ia tidak menemukannya.
“Ia sakit,” jawab seseorang.
“Ia hanya datang ke pasar setiap hari Sabtu untuk bekerja dengan upah satu seperenam dirham. Setiap hari ia menghabiskan seperenam dirham untuk makan. Dan kini ia telah jatuh sakit.

‘Abdullah menanyakan rumahnya untuk membesuk.
Dijumpainya seorang wanita tua.
“Apakah di sini tinggal seorang pemuda yang biasa bekerja sebagai buruh harian?” tanya ‘Abdullah kepada wanita tua yang ternyata pemilik rumah.
“Ia sakit sejak beberapa hari yang lalu.”

‘Abdullah masuk dan mendapatinya sakit dengan berbantalkan batu bata. Setelah mengucap salam kepadanya, ‘Abdullah bertanya, “Apakah kamu mempunyai suatu keperluan?”
“Ya, jika Anda mau memenuhinya,” jawabnya.
“Ya, aku mau memenuhinya.”

“Setelah aku mati nanti, juallah tali ini dan cucilah jubah dan kain dari bulu ini. Kemudian kafanilah aku dengannya. Setelah itu, bukalah saku ini karena di dalamnya ada sebuah cincin. Lalu pada saat Harun Ar-Rasyid lewat, berdirilah di tempat yang terlihat olehnya, bicaralah, dan perlihatkan cincin itu kepadanya. Jangan lakukan ini kecuali setelah aku dikuburkan.”

“Baiklah!” jawab ‘Abdullah.

Setelah ia meninggal, ‘Abdullah bermaksud melakukan apa yang dimintanya. Suatu hari, dengan duduk di sisi jalan, ia menanti lewatnya Harun Ar-Rasyid. Harun Ar-Rasyid melintas di hadapannya.

“Wahai Amirul Mukmini, ada titipan untukmu padaku!” seru ‘Abdullah seraya memperlihatkan cincin itu. Namun, Harun Ar-Rasyid menyuruh anak buahnya menangkap ‘Abdullah untuk dibawa ke istana.

Sesampainya di sana, Harun Ar-Rasyid memanggil ‘Abdullah dan menyuruh keluar semua orang yang ada di tempat itu.

“Siapa Anda?” tanya Harun Ar-Rasyid.
“’Abdullah bin Faraj.”
“Dari mana kamu mendapatkan cincin itu?”

‘Abdullah bin Faraj kemudian menuturkan kisah pemuda yang pernah ditemuinya. Tiba-tiba Harun Ar-Rasyid menangis hingga ‘Abdullah merasa iba. Setelah kembali tenang, ‘Abdullah memberanikan diri untuk bertanya.

“Wahai Amirul Mukminin, ada hubungan apa antara dia dengan Anda?”
“Ia anakku.”
“Bagaimana ia bisa seeprti itu?”

“Ia lahir sebelum aku diangkat menjadi khalifah. Lalu tumbuh sebagai anak yang baik, yang belajar Al-Quran serta ilmu-ilmu lainnya. Namun, ketika aku telah diangkat menjadi khalifah, ia meninggalkanku dan tidak mau menikmati sedikitpun dari kenikmatan yang aku peroleh. Aku kemudian memberikan cincin ini –cincin yaqut yang harganya sangat mahal– kepada ibunya sambil mengatakan, ‘Berikan ini kepadanya (karena ia sangat patuh kepada ibunya), dan suruhlah ia selalu membawanya. Siapa tahu sewaktu-waktu ia membutuhkannya’. Lalu ibunya meninggal dan saya sama sekali tidak mengetahui kabar beritanya hingga Anda datang memberitahukannya kepadaku ini,” jelas Harun Ar-Rasyid.
“Jika malam telah tiba, tunjukkanlah aku kuburannya.”

Dan kala malam telah gelap, keduanya pergi tanpa pengawalan hingga tiba di kuburan putranya. Harun Ar-Rasyid duduk di dekatnya dan menangis. Ketika fajar menyingsing, mereka bangkit untuk pulang.

“Temanilah aku menziarahi kuburnya beberapa malam lagi,” pinta Harun Ar-Rasyid. Pada malam berikutnya, ‘Abdullah bin Faraj menemaninya.



Alangkah Merdunya Suaramu


Pada zaman ini, fitnah nyanyian banyak menimpa manusia. Setiap saat lisan-lisan mereka mendendangkan nyanyian. Lantunan nyanyian mereka jadikan wirid harian lisan mereka hingga ayat-ayat Al-Quran pun terlalaikan. Mushaf Al-Quran hanya dijadikan pajangan dan kaligrafi ayat suci dijadikan hiasan-hiasan di dinding.

Al-Quran telah dilalaikan oleh sebagian orang. Mereka larut dalam nyanyian yang melenakan. Suara lisan yang merdu mereka gunakan untuk menyenandungkan nyanyian-nyanyian yang dapat melalaikan dari dzikrullah. Alangkah merdu suaramu seandainya engkau gunakan untuk membaca AlQuran.

Dikisahkan oleh Ibnu Qudamah dalam kitabnya At-Tawwabin tentang seorang pemuda yang senang menghabiskan waktu untuk menyenandungkan dan menikmati nyanyian. Pemuda itu bernama Zadzan al-Kindii, julukannya Abu ‘Umar.

Suatu hari, Abdullah bin Mas’ud melewati suatu kawasan di Kufah. Ternyata di sana ada beberapa anak muda yang tengah berkumpul sambil minum-minuman keras. Ada di antara mereka seorang penyanyi bernama Zadzan Al-Kindi yang sedang menabuh alat music dan bernyanyi dengan suara merdu.

Ketika mendengarnya, ‘Abdullah bin Mas’ud berseru, “Alangkah baiknya suara ini seandainya saja ia gunakan membaca kitab Allah!” Sambil merapikan surbannya ia pergi.

Ternyata Zadzan mendengar perkataan itu.
“Siapa tadi?”
“’Abdullah bin Mas’ud, sahabat Rasulullah,” jawan temannya.
“Apa yang dikatakannya?” tanya Zadzan lagi.
“Alangkah baiknya suaramu seandainya saja digunakan membaca Kitab Allah,” jawab temannya.

Zadzan langsung bangkit dan membanting alat musiknya ke tanah hingga remuk. Kemudian ia bergegas mengejar Ibnu Mas’ud dan berhasil mendapatinya. Ia menbaruh sapu tangan di lehernya, lalu ia menangis di hadapan Abdullah bin Mas’ud. Abdullah bin Mas’ud memeluknya lalu keduanya pun sama-sama menangis.
“Bagaimana aku tidak mencintai orang yang telah dicintai Allah azza wa jalla!” seru Ibnu Mas’ud.

Lalu Zadzan Al-Kindi bertaubat kepada Allah dari dosa-dosanya dan terus mengikuti Ibnu Mas’ud untuk belajar Al-Quran dan ilmu lainnya hingga ia menjadi panutan dalam bidang keilmuan. Ia pun meriwayatkan hadits dari Abdullah bin Mas’ud, Salman Al-Farisi, serta dari yang lainnya. Begitulah hidayah Allah telah menghunjam ke dalam hati Zadzan Al-Kindi, seorang pemuda yang gemar mabuk dan bernyanyi, hingga akhirnya ia menjadi ulama yang mempunyai kedudukan mulia. 
Abdul Qadir Al-Arna’uth dalam tahqiq-nya terhadap kitab At-Tawwabin menyebutkan bahwa Zadzan Al-Kindi adalah salah seorang tabi’in. Al-Khatib mengatakan, “Ia (Zadzan Al-Kindi) tsiqat.” Al-Ajli mengatakan, “(Ia) seorang penduduk Kufah, tabi’in, dan tsiqat.” Sedang Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan dalam Taqrib At-Tahdzib, “Tsiqat yang meriwayatkan hadits secara mursal. Zadzan Al-Kindi wafat pada tahun 82 Hijriyah.


1 Februari 2013

Minum dari Cawan Kematian


Dalam kitab Mukhtashar Minhajil Qashidin disebutkan kisah Imam Syafi’i ketika menjelang kematiannya. Al-Muzani menuturkan, “Aku membesuk Imam Syafi’i ketika sedang sakit yang menyebabkan kematiannya. Aku menanyainya, ‘Bagaimana keadaan Anda?’

Dia menjawab, ‘Aku akan pergi dari dunia, akan meninggalkan saudara, akan bertemu amal jahatku, akan meminum dari cawan kematian, dan akan datang kepada Allah, sementara aku tidak mengetahui apakah ruhku akan ke Surga sehingga aku akan mengucapkan selamat kepadanya atau akan ke Neraka sehingga aku akan mengucapkan belasungkawa untuknya.’

Kemudian dia melantunkan syair:

Tatkala hatiku telah keras dan semua jalanku telah buntu
Aku menjadikan harapanku pada ampunan-Mu sebagai tangga
Aku menganggap besar dosaku, tapi saat aku membandingkannya
Dengan ampunan-Mu, wahai Tuhanku, maka ia lebih besar
Engkau senantiasa mempunyai ampunan untuk dosa
Engkau memberi dan mengampuni murni karena kedermawaan 



*Sukoharjo, 12 September 2012

31 Januari 2013

Allah yang Akan Membelamu


Tabiat sebagian besar manusia adalah ingin diperhatikan, ingin dipuji, dan ingin tampil di depan. Maka, banyak orang yang berlomba-lomba memunculkan dirinya agar dikenal orang banyak.

Ada sebagian orang yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kedudukan mulia di hadapan manusia. Bahkan, dengan cara merendahkan orang lain, menuduh, dan mencaci maki orang lain agar dirinya dilihat orang banyak sebagai orang yang lebih baik, lebih mulia. Maka terjadilah perdebatan antara yang dicaci dan yang mencaci.

Jika Anda berada dalam keadaan tertindas, difitnah dan dicaci, maka bersabarlah. Jika Anda membalas caci maki dan fitnah yang ditujukan kepada Anda, maka waktu Anda akan habis untuk hal itu. Padahal, waktu seorang mukmin adalah sesuatu yang sangat berharga. Pergunakanlah waktu yang berharga itu sebaik-baiknya. Janganlah Anda sia-siakan dalam perdebatan yang tidak bermanfaat.

Dikisahkan oleh Ustadz Firanda dalam buku Dari Madinah Hingga ke Radio Rodja tentang nasehat seorang guru kepada muridnya yang sedang ditimpa cobaan berupa fitnah dan caci maki. Ustadz Firanda bertanya kepada gurunya, Syaikh Abdurrazaq Al-Badr, “Ya Syaikh, sebagian orang ada yang menyatakan bahwa aku adalah kadzdzab (pendusta). Apakah aku berhak membela diri dan membantah tuduhan tersebut?”

“Wahai Firanda, jangan engkau bantah dia. Bagaimanapun dia adalah saudaramu seakidah,” jawab Syaikh Abdurrazaq. “Bahkan jika ada orang yang bertanya kepadamu tentang dia, maka tunjukkan bahwa engkau tidak suka untuk membantahnya dan tidak suka membicarakan tentangnya.”

Syaikh Abdurrazaq terdiam sejenak, lalu melanjutkan nasehatnya, “Engkau bersabar, dan jika engkau bersabar, percayalah suatu saat dia akan melunak dan akan menjadi sahabatmu.”

Ustadz Firanda teringat tatkala ada seorang mahasiswa program pascasarjana meminta nasehat kepada Syaikh Abdurrazaq perihal tuduhan kedustaan kepadanya. Mahasiswa tersebut berkata, “Ya Syaikh, sesungguhnya aku telah dikatakan sebagai seorang pendusta, dajjal, dan khabbits oleh seseorang yang bermasalah denganku. Padahal, orang tersebut telah merendahkan Anda dan merendahkan Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad, serta menyatakan bahwa Syaikh Ibnu Jibrin adalah imam kesesatan, dan lain-lainnya. 
"Aku sudah mengajak orang itu untuk berdialog perihal tuduhan yang dia lontarkan kepadaku dengan syarat pembicaraan antara kami harus direkam. Akan tetapi, orang itu menolak dan berkata bahwa jika aku datang menemuinya untuk mengakui kesalahan, maka dia akan menerimaku di rumahnya. Namun, jika aku mendatanginya untuk mendebatnya maka dia akan mengusir dan akan memboikotku serta tidak akan member salam kepadaku jika bertemu. Bahkan, orang ini mendoakan keburukan kepadaku dengan perkataan, “Semoga Allah memerangimu, aku berlindung kepada Allah dari si pendusta yang sombong, dan dia akan menjadi sampah sejarah.’

“Demikian, ya Syaikh, perkataan buruk yang dia lontakan untukku dan aku mendengarnya sendiri dengan kedua telingaku. Yang jadi masalah juga, dia juga menyebarkan tuduhan tersebut di kalangan para dai di negeriku. Apakah aku berhak untuk membela diriku dan menjelaskan keadaan yang sesungguhnya? Mengingat terlalu banyak ikhwan yang bertanya melalui telepon atau surat perihal masalah ini.”

Serta merta Syaikh Abdurrazaq berkata, “Sekali-kali jangan kaubantah dia. Selamanya jangan kaubantah dia. Apakah kau ingin, engkau yang membela dirimu sendiri ataukah engkau ingin Allah yang membelamu?”

Demikianlah kisah yang disampaikan Ustadz Firanda. Sungguh benarlah nasehat Syaikh Abdurrazaq, “Sekali-kali jangan kaubantah dia. Selamanya jangan kaubantah dia. Apakah kau ingin, engkau yang membela dirimu sendiri ataukah engkau ingin Allah yang membelamu?”

Allah tidak akan meninggalkan hamba-Nya yang senantiasa menegakkan agama-Nya. Allah pasti membelanya. Kewajiban seorang hamba hanyalah menyampaikan.


*Sukoharjo, 12 September 2012


PROMO BUKU

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More