MUSLIMAH

Menuju Insan yang Shalihah

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

MUTIARA DAKWAH

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

6 Desember 2015

Al-Kabair: Dosa-dosa Besar

Al-Kabair: Dosa-dosa Besar
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menulis sebuah kitab berjudul Al-Kabair yang menerangkan sebanyak tujuh puluh dosa besar. Pengertian kabair (dosa-dosa besar) adalah semua larangan Allah dan Rasulullah yang tercantum di dalam Al-Quran dan As-Sunn­ah, serta atsar dari para salafus shalih.

Allah menjamin bagi siapa saja yang menjauhi dosa-dosa besar dan perkara-perkara yang diharamkan akan diampuni semua dosa-dosa kecil yang dilakukannya. Allah berfirman, 

“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (Surga).” (QS. An-Nisa’: 31)
Berdasarkan nash di atas, Allah menjamin Surga bagi yang menjauhi dosa-dosa besar.
Allah juga berfirman,

“Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf.” (QS. Asy-Syura’: 37)

“(Yaitu ) orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Rabb-mu maha luas ampunan-Nya.” (QS. An-Najm: 32)

Rasulullah bersabda, “Shalat lima waktu, shalat Jumat, dan puasa Ramadhan menghapuskan dosa-dosa yang dilakukan di sela-selanya jika dosa-dosa besar telah dijauhi.” (HR. Muslim)

Dari sini lazim bagi kita untuk meneliti apa saja yang termasuk kabair (dosa-dosa besar) supaya kita dan semua orang Islam bisa menjauhinya. Para ulama berbeda pendapat di dalam menentukannya. Ada yang mengatakan kabair itu ada tujuh, berdasarkan sabda Nabi, “Jauhilah tujuh perkara yang merusak!” Lalu beliau menyebutkan, “Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali karena alasan yang dibenarkan, memakan harta anak yatim, memakan riba, meninggalkan medan perang, dan menuduh wanita mukminah baik-baik telah berzina.” (HR. Bukhari & Muslim)

Ibnu ‘Abbas berkata, “Kabair itu jumlahnya lebih dekat kepada tujuh puluh daripada kepada tujuh.”

Demi Allah, ucapan Ibnu ‘Abbas di atas benar adanya. Hadits sebelumnya tidaklah membatasi jumlah kabair. Pendapat yang benar dan dilandasi dengan dalil menyebutkan bahwa siapapun yang melakukan perbuatan dosa yang memiliki had di dunia, seperti membunuh, berzina, mencuri, atau yang pelakunya mendapat ancaman, kemurkaan, serta laknat dari Nabi Muhammad di akhirat, maka perbuatan itu termasuk dosa besar. Harus diterima pula bahwa dosa besar yang satu bisa lebih besar daripada dosa besar yang lain. Adalah Rasulullah menghitung syirik sebagai salah satu dosa besar, padahal pelakunya kekal di neraka dan tidak akan diampuni selama-lamanya.

Allah berfirman, 

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa: 48 & 116)

Tujuh Puluh Dosa Besar

1. Syirik (mempersekutukan Allah)
2. Membunuh
3. Sihir
4. Meninggalkan Shalat
5. Tidak membayar Zakat
 

6. Berbuka di siang hari pada bulan Ramadhan tanpa udzur
7. Meninggalkan haji padahal mampu
8. Mendurhakai orang tua
9. Memutuskan hubungan kerabat
10. Zina
 

11. Liwath (homoseks)
12. Riba
13. Memakan harta anak yatim dan menzhaliminya.
14. Berbuat dusta terhadap Allah dan Rasulullah
15. Melarikan diri dari medan perang
 

16. Pemimpin penipu dan penganiaya rakyat
17. Sombong dan yang sejenisnya
18. Kesaksian palsu
19. Minum-minuman keras
20. Berjudi
 

21. Menuduh wanita mukminah berbuat zina
22. Ghulul terhadap harta ghanimah, baitul mal, dan zakat
23. Mencuri
24. Menyamun
25. Sumpah palsu
 

26. Berbuat aniaya
27. Memungut cukai
28. Memakan barang haram
29. Bunuh diri
30. Banyak berdusta
 

31. Hakim yang jahat
32. Menerima suap
33. Perempuan menyerupai lelaki dan sebaliknya
34. Lelaki yang membiarkan istrinya berbuat serong (dayyuts)
35. Muhallil dan muhallil lahu
 

36. Tidak menjaga diri dengan saksama terhadap air seni
37. Riya’
38. Menuntut ilmu untuk dunia dan menyembunyikan ilmu
39. Khianat
40. Mengungkit-ungkit pemberian
 

41. Mendustakan takdir
42. Menguping rahasia orang lain
43. Namimah (mengadu domba)
44. Banyak melaknat
45. Menipu dan mengingkari janji
 

46. Membenarkan dukun dan tukang ramal
47. Durhaka terhadap suami
48. Menggambar dan melukis
49. Memukul wajah, menjerit-jerit, merobek baju, menggunduli kepala, dan bersumpah serapah di kala mengalami musibah
 

50. Bertindak melampaui batas
51. Bertindak semena-mena terhadap orang yang lemah, budak, istri, dan binatang
52. Menyakiti tetangga
53. Menyakiti orang-orang Islam dan mencela mereka
54. Menyakiti hamba Allah dan bertindak lalim terhadap mereka
 

55. Isbal (menjulurkan kain di bawah mata kaki dengan sombong)
56. Memakai kain sutera dan emas bagi kaum lelaki
57. Budak yang melarikan diri dari tuannya
58. Menyembelih karena selain Allah
59. Menasabkan diri kepada selain bapaknya sendiri
60. Berdebat dan bersengketa
 

61. Menahan kelebihan air dari orang yang memerlukan
62. Mengurangi timbangan dan ukuran
63. Merasa aman dari makar Allah
64. Berputus asa dari rahmat Allah
65. Meninggalkan shalat jamaah lalu mengerjakannya sendirian tanpa udzur

66. Terus-menerus menginggalkan shalat Jumat dan shalat jamaah tanpa halangan
67. Mendatangkan kerugian dalam wasiat
68. Makar dan tipu daya
69. Memata-matai orang Islam dan membeberkan rahasia mereka
70. Mencela salah seorang sahahat Nabi


Referensi:
Adz-Dzahabi. Al-Kabair. Terjemahan: Imtihan Asy-Syafi’i. 2013. Dosa-dosa Besar. Solo: Pustaka Arafah


---------------------------------------------------------

PEMESANAN BUKU
Dosa-Dosa Besar karya Imam Adz-Dzahabi, diterbitkan oleh penerbit Pustaka Arafah

Judul buku : Dosa-Dosa Besar
Penulis : Imam Adz-Dzahabi
Penerbit : Pustaka Arafah
Halaman : 418 halaman
Harga : Rp 55.000,- 45.000,-

 
--------------------------------------------------------------------
Cara pembelian
SMS dengan format :
(buku) DOSA-DOSA BESAR (nama) (alamat)
Kirim ke : 0856 4231 8421


Contoh:
(buku)
DOSA-DOSA BESAR (Santoso) (Kec. Grogol, Kab. Sukoharjo)

Selanjutnya kami akan segera membalas dan memproses pesanan anda.
Informasi pembelian buku:
Telp/SMS: 0856 4231 8421
Pin BBM: 5782EAE1


Prosedur pembelian
1. Kirim SMS pesanan ke nomor 0856 4231 8421.
2. Kami akan konfirmasi harga dan biaya kirim.
3. Membayar sejumlah harga pesanan dan biaya kirim ke rekening:
 
  • Bank Muamalat a.n. Sukrisno Santoso. Nomor rekening: 5300001052 
  • Bank Syariah Mandiri (BSM) a.n. Sukrisno Santoso, Nomor rekening: 7076497065 
4. Kami akan mengirimkan pesanan setelah transfer pembayaran sudah masuk.
5. Kami akan mengirimkan SMS yang berisi nomor resi pengiriman sebagai bukti bahwa barang pesanan benar-benar sudah dikirim.



15 November 2015

Cara Menghadapi Kritikan dan Hinaan


Kritik dan hinaan adalah keniscayaan yang akan diterima oleh setiap orang yang hidup dalam lingkungan sosial. Orang-orang miskin dan lemah dihina atas kemelaratan dan kepayahannya. Orang kaya dikritik atas pengumpulan dan penggunaan hartanya. Para pejabat dihina dan dikritik atas kebijakannya. Seorang raja juga sering menjadi sasaran hinaan dan kritikan. Bahkan, manusia termulia di muka bumi, Nabi Muhammad, tak lepas dari hinaan. Beliau sebagai manusia maksum, takberdosa, mendapat hinaan dan fitnahan sebagai seorang penyihir dan orang yang gila.

Dengan memahami bahwa panah hinaan dan tombak kritikan selalu mengarah siap menembus kehormatan kita, seyogyanya kita bisa menghadapinya dengan sabar, penuh perhitungan, dengan ketenangan berpikir dan kelapangan jiwa.

Hinaan yang diarahkan kepada kita, anggaplah ia sebagai batu pengasah kesabaran dan keikhlasan kita. Kritikan yang diumpankan kepada kita, ambillah apa yang sekiranya bisa kita ambil sebagai pelajaran. Namun, tak jarang pula kritikan itu hanyalah wujud rasa iri dan dengki dari orang-orang yang hatinya terdapat penyakit.

Allah mengajarkan kepada kita, “Dan, janganlah kamu hiraukan gangguan-gangguan mereka dan bertawakallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai pelindung.” (QS. Al-Ahzab: 48)

Janganlah hinaan dan kritikan yang berdasarkan dengki menghancurkan kita. Janganlah mendengarkan dan menghiraukan segala celaan, gangguan, dan hinaan mereka itu. Karena melayani semua itu hanya akan menguras waktu kita, sedangkan banyak hal bermanfaat yang menunggu untuk kita kerjakan. Serahkanlah urusan orang-orang yang mencela dan menghina kepada Allah. Allah-lah yang akan memberi pembalasan.

“Sesungguhnya Anda akan mendapatkan pahala,” kata Aidh Al-Qarni dalam kitab La Tahzan, “dikarenakan kesabaran Anda menghadapi kritikan dan cercaan itu. Dan kritikan mereka itu pada dasarnya pertanda bahwa Anda memiliki harga dan derajat. Sebab, manusia tak akan pernah menendang bangkai anjing dan orang-orang yang tak berharga pastilah tak akan pernah terkena sasaran pendengki. Artinya, manakala kritikan yang Anda terima semakin pedas maka semakin tinggi pula harga Anda.”

“Jangan bersedih karena banyaknya komentar orang-orang terhadap diri Anda,” nasehat Mahmud Al-Mishri dalam La Tahzan Wabtasim li Al-Hayah. “Sebagian besar gosip itu,” lanjutnya, “tidak ada kebenarannya, bahkan semua hal itu bertentangan dengan kemampuan Anda dan kedudukan Anda di mata mereka. Jika Anda tidak memiliki kedudukan dan nama baik, mereka tidak akan sibuk membicarakan Anda selama-lamanya. Anda mengetahui bahwa orang-orang tidak melempar pohon kurma dengan batu kecuali karena ada kurma yang berbuah. Maka, tidurlah dengan nyenyak dan pikiran tenang.”

Orang-orang hanya melempari pohon mangga yang berbuah. Pohon itu dilempari karena memiliki harga dan derajat, yaitu buah mangga. Pohon mangga yang tak berbuah tentu tak akan menjadi sasaran lemparan. Dan belajar pula dari pohon mangga yang berbuah itu, saat orang-orang melemparinya, justru pohon itu membalasnya dengan memberi buah mangga yang ranum dan manis rasanya. Begitulah, balaslah orang-orang yang memusuhi kita dengan kebaikan. Lalu berdoalah agar Allah membuka pintu hati mereka.

Dengarkan syair yang dikutip Aidh Al-Qarni berikut ini:
Aku berjumpa dengan orang bodoh yang mencelaku
Kutinggalkan ia seraya berkata, “Aku tidak peduli”
Syair yang lain mengungkapkan:
Jika orang bodoh bicara, jangan kau timpali
Sebab sebaik-baik jawaban baginya adalah diam seribu bahasa
Seorang sastrawan Barat mengatakan, “Lakukan apa yang kau pandang benar, dan palingkan punggungmu dari semua kritikan yang tak berharga.”

Lupakan segala cercaan, hinaan, dan kritikan yang tak berharga itu. Lakukan pekerjaan dan ibadah yang memberi manfaat. Ingatlah, waktu kita sedikit sedangkan bekal yang harus kita persiapkan amat banyak. Pergunakan waktu sebaik mungkin untuk menyiapkan bekal, bukan untuk membalas cercaan dan hinaan.

Nasehat Aidh Al-Qarni berikut ini patut kita renungi.
“Jangan pernah membalas cercaan atau olok-olok yang melukai hati Anda. Karena, kesabaranmu dalam menghadapi semua itulah yang akan dengan sendirinya menguburkan semua kehinaan. Kesabaran adalah sumber kemuliaan, diam adalah sumber kekuatan untuk mengalahkan musuh, dan memaafkan adalah sumber dan tangga untuk mencapai pahala dan kemuliaan.

“Ingat, separoh dari orang-orang yang pernah mencerca atau mengkritik Anda itu akan melupakan cercaan mereka, sepertiganya tidak sadar dengan apa yang mereka lontarkan, dan selebihnya tidak akan mengerti apa dan mengapa mereka mencerca Anda. Maka dari itu, jangan pernah cercaan mereka kau masukkan hati dan jangan pula berusaha untuk membalas apa yang mereka katakan itu.”

***

Referensi:
Aidh Al-Qarni. La Tahzan. (Terjemahan: La Tahzan: Jangan Bersedih! Cetakan ke-60. 2015. Jakarta: Qisthi Press)

Mahmud Al-Mishri. La Tahzan Wabtasim li Al-Hayah. (Terjemahan: La Tahzan for Trouble Solutions. 2009. Solo: Pustaka Arafah)
 

***
Sukrisno Santoso
Sukoharjo, 15 November 2015

20 Juli 2015

Keutamaan Ilmu


Ilmu memiliki keutamaan yang besar, khususnya ilmu yang diwariskan oleh para nabi, yaitu ilmu yang membawa kepada keselamatan dan kebahagiaan abadi di akhirat. 

Rasulullah bersabda, 
"Sesungguhnya para nabi tidak pernah mewariskan dinar ataupun dirham, akan tetapi mereka mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambilnya, ia telah mendapatkan bagian yang sangat besar." (HR. Abu Dawud, At-Tirmizi, dan Ibnu Majah. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami')

Imam Al-Manawi dalam Faidhul Qadir --sebagaimana dikutip oleh Abu Anas Majid Al-Bankani dalam Rihlatul Ulama fi Thalibil Ilmi-- mengatakan tentang hadits tersebut, 

"Maksudnya mencakup seluruh para rasul, sebagaimana yang sudah jelas. Para nabi tidak mewariskan dinar ataupun dirham, akan tetapi mereka mewariskan ilmu. Sebagian ulama berkata, 'Seseorang biasanya hanya mewariskan kepada orang yang paling dekat dengannya, baik dari segi keluarga, nasab, atau amal. Maka, para ulama adalah yang paling dekat kepada para nabi dan yang paling berani dalam mengikuti amal mereka; mereka mewariskan keadaan, perkataan, dan amalan, secara zahir maupun batin. Bisa kita ketahui bahwa memperoleh kedudukan ini hanyalah karena pengamalan mereka akan ilmunya. Orang yang mengamalkannya berhak untuk dihormati dan dimuliakan karena adalah orang-orang pilihan, cahaya, yang menerangi bumi, pilar-pilar agama, dan pejuang-pejuang yang akan menghadapi musuh Allah. Mereka adalah wali Allah dan pengganti para Nabi."

Terkait dengan hadits di atas, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah membawakan sebuah riwayat dalam kitabnya Miftah Dar As-Sa'adah sebagai berikut

Dikisahkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa pada suatu hari ia melewati sebuah pasar dan melihat orang-orang sedang berdagang dan berjual beli, lalu Abu Hurairah r.a. berkata, "Kalian ada di sini. Mengapa kalian tidak ikut mengambil warisan Rasulullah saw. yang dibagikan di mesjid?" Lalu mereka segera bangkit dan pergi menuju ke masjid. Akan tetapi, ketika sampai di masjid mereka tidak menemukan sesuatu kecuali orang-orang yang membaca Al-Qur'an, berzikir, dan majelis ilmu. Maka, mereka pun bertanya kepada Abu Hurairah r.a., "Wahai Abu Hurairah, mana yang engkau katakan tadi?" Abu Hurairah menjawab, "Inilah warisan Nabi Muhammad saw. yang dibagikan kepada para ahli warisnya, bukannya harta dan kernewahan dunia."

Ilmu memiliki keutamaan yang besar dan banyak. Muhammad Al-Utsaimin dalam Kitabul llmi merangkum keutamaan ilmu dalam tiga belas poin sebagai berikut. 


1. Ilmu adalah Warisan Para Nabi

Para nabi tidaklah mewariskan dirham ataupun dinar. Yang mereka wariskan hanyalah ilmu. Maka barangsiapa yang telah mengambil ilmu berarti dia telah mengambil bagian yang banyak dari warisan para nabi. Engkau sekarang berada pada abad ke-15 Hijriah, jika engkau seorang ahli ilmu berarti engkau menerima warisan dari Nabi, dan ini adalah keutamaan yang paling besar.

2. Ilmu itu Abadi, sedangkan Harta adalah Fana (akan sirna)

Contohnya adalah Abu Hurairah, ia termasuk Sahabat yang fakir sehingga ia sering terjatuh seperti pingsan menahan lapar. Dan -demi Allah- saya bertanya kepada kalian, apakah nama Abu Hurairah selalu disebut di kalangan manusia pada zaman kita sekarang atau tidak? Ya, namanya banyak disebut sehingga Abu Hurairah mendapatkan pahala dari pemanfaatan hadits-haditsnya, karena ilmu akan abadi, sedangkan harta akan rusak. Maka engkau wahai penuntut ilmu, wajib memegang teguh ilmu.
Di dalam satu hadits, Nabi menyatakan, "Apabila anak Adam mati, maka terputuslah segala amalnya, kecuali tiga: shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakan orang tuanya." (HR. Muslim)

3. Pemilik Ilmu Tidak Merasa Lelah dalam Menjaga Ilmu

Apabila Allah memberi rezeki kepadamu berupa ilmu, maka tempat ilmu itu adalah di dalam hati yang tidak membutuhkan peti, kunci, atau yang lainnya. Dia akan terpelihara di dalam hati dan terjaga di dalam jiwa. Dan dalam waktu yang bersamaan, dia pun menjagamu karena dia akan memeliharamu dari bahaya atas izin Allah, maka ilmu itu akan menjagamu. Adapun harta, engkaulah yang harusn menjaganya, yang harus engkau simpan dalam peti-peti yang terkunci. Sekalipun demikian, hatimu tetap tidak merasa tenang."

4. Dengan Ilmu, Manusia dapat Menjadi Para Saksi atas Kebenaran

Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala, 'Allah bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Dia, demikian juga para malaikat, dan orang-orang berilmu yang tegak di atas keadilan.' (QS. Ali Imran: 18)
Apakah dalam ayat ini Allah berfirman, 'dan juga pemilik harga'? Tidak! Tetapi Dia berfirman, 'dan orang-orang berilmu yang tegak di atas keadilan'. 
Maka cukupkah menjadi kebanggaan bagimu, wahai penuntut ilmu, engkau menjadi orang yang bersaksi bagi Allah bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Dia, beserta para malaikat yang menyaksikan keesaan Allah."

5. Ahli Ilmu Termasuk Salah Seorang dari Dua Golongan Ulil Amri yang Wajib Ditaati

Hal ini berdasarkan perintah Allah, 'Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan ulul amri di antara kalian.' (QS. An-Nisa: 59)

Ulul amri di sini mencakup Ulul amri dari kalangan para penguasa dan para hakim, ulama dan para penuntut ilmu. Maka, wewenang ahli ilmu adalah menjelaskan syariat Allah dan mengajak manusia untuk melaksanakannya, sedangkan wewenang penguasa adalah menerapkan syariat Allah dan mewajibkan manusia untuk melaksanakannya.

6. Ahli Ilmu adalah Orang yang Melaksanakan Perintah Allah Sampai Hari Kiamat

Yang menjadi dalil tentang hal itu adalah hadits Muawiyah bahwa ia berkata, 'Aku mendengar Nabi bersabda, 'Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan membuatnya paham tentang agamanya. Aku hanyalah Qasim dan Allah-lah yang memberi. Dan di kalangan umat ini akan senantiasa ada sekelompok orang yang selalu tegak di atas perintah Allah, tidak ada yang akan membahayakan mereka dari orang-orang yang menyelisihi mereka. Hingga datang urusan Allah.'' (HR. Bukhari)
Imam Ahmad telah berkata tentang kelompok ini, 'Jika mereka bukan kelompok ahli hadits, maka aku tidak tahu lagi siapa mereka itu.' 
Al-Qadhi 'Iyadh mengatakan, 'Yang dimaksud oleh Imam Ahmad adalah ahlussunnah dan orang yang meyakini madzab ahlul hadits.'

7. Besarnya Keutamaan Ilmu sehingga Boleh Iri terhadap Orang yang Mencari dan Mengamalkannya

Rasulullah tidak pernah mendorong seseorang agar iri kepada orang lain atas suatu nikmat yang telah Allah karuniakan, kecuali dua macam nikmat: pertama, mencari ilmu dan mengamalkannya; kedua, pedagang yang menjadikan hartanya sebagai alat untuk memperjuangkan Islam.
Dari Abdullah bin Mas'ud, ia berkata, "Rasulullah bersabda, 'Tidak boleh iri kecuali dalam dua hal: seseorang yang diberi harta oleh Allah lalu dia habiskan hartanya itu untuk membela kebenaran, dan seseorang yang diberi ilmu oleh Allah lalu dia mengamalkan dan mengajarkannya.'" (HR. Bukhari & Muslim)

8. Ilmu bisa Memberi Manfaat pada Diri Sendiri dan Orang Lain

Sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Abu Musa Al-Asy'ary, dari Nabi shalallahu alaihi wassalam, beliau bersabda, "Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang Allah telah mengutusku dengan membawa keduanya adalah seperti hujan yang turun ke bumi,maka di antara bumi itu ada tanah yang baik yang menyerap air dan menumbuhkan tumbuhan dan rumput yang banyak. Ada pula tanah yang keras yang bisa menahan air, lalu Allah memberi manfaat kepada manusia dari tanah itu, mereka minum dan bercocok tanam. Hujan pun menimpa tanah yang lain yaitu qii'aan yang tidak bisa menahan air dan tidak bisa menumbuhkan rumput.
Demikianlah perumpamaan orang yang memahami agama Allah dan bisa memberikan manfaat dari apa yang Allah telah mengutusku dengan membawa ajaran ini, lalu dia mengetahui dan mengajarkannya. Dan perumpamaan orang yang tidak mau mengangkat kepalanya untuk hal itu dan orang yang tidak mau menerima petunjuk dari Allah yang aku diutus dengan membawa petunjuk itu."

9. Ilmu adalah Jalan Menuju Surga

Sebagaimana ditunjukkan oleh hadits Abu Hurairah, bahwa Nabi shalallahu alaihi wassalam bersabda, "Dan barangsiapa yang meniti jalan untuk mencari ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim)

10. Barangsiapa yang Dikehendaki Kebaikan oleh Allah, maka Allah Akan Membuatnya Paham tentang Agamanya

Sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadits dari Mu'awiyah, ia berkata, Rasulullah bersabda, "Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan membuatnya paham tentang agamanya." (HR. Bukhari & Muslim)
Artinya, Allah akan menjadikannya seorang yang faqih tentang agama Allah. Dan faqih tentang agama Allah bukan hanya memahami hukum-hukum amaliyah tertentu menurut ahli ilmu berdasarkan ilmu fiqih saja, akan tetapi maksudnya adalah ilmu tauhid dan ushuluddin (pokok-pokok agama) dan apa-apa yang berkaitan dengan syariat Allah.
Seandainya tidak ada keterangan dari Al-Kitab dan As-Sunnah tentang keutamaan ilmu kecuali hadits ini saja, maka ini pun sudah sempurna dalam mrmberikan dorongan untuk mencari ilmu syariat dan pemahaman terhadapnya.

11. Ilmu adalah Cahaya yang Menerangi Jalan Hidup Seorang Hamba

Dia pun akan mengetahui bagaimana (seharusnya) beribadah kepada Rabb-nya dan bagaimana cara bergaul dengan sesama hamba-Nya, maka jalan hidupnya akan selalu berada di atas ilmu dan bashirah.

12. Orang yang Berilmu Adalah Cahaya yang Menerangi Manusia dalam Urusan Agama dan Dunia Mereka

Tidaklah samar dalam ingatan kebanyakan manusia tentang orang yang membunuh 99 orang dari kalangan Bani Israil, lalu dia bertanya tentang orang yang paling berilmu di muka bumi, lalu dia ditunjukkan kepada seorang abid (ahli ibadah), lalu dia bertanya apakah dia bisa bertaubat?
Ahli ibadah itu telah menganggap dosanya terlalu besar sehingga dia menjawab, "Tidak!"
Lalu dibunuhnya ahli ibadah tadi sehingga dia membunuh genap 100 orang.

Kemudian dia pergi menemui seorang alim (orang yang berilmu), lalu dia bertanya kepadanya (dengan pertanyaan yang sama). Maka orang yang berilmu tersebut menjawab bahwa dia bisa bertaubat dan tidak ada yang bisa menghalangi antara dia dengan taubatnya.
Lalu orang alim itu menunjukkannya pada suatu negeri yang penduduknya adalah orang-orang saleh agar dia datang ke negeri itu. Kemudian dia pun pergi, tetapi di tengah jalan, maut pun menjemputnya.
Kisah ini amat masyur. Perhatikanlah perbedaan orang yang berilmu dan orang yang bodoh.

13. Sesungguhnya Allah Akan Mengangkat Derajat Ahli Ilmu di Akhirat dan juga di Dunia

Adapun di akhirat, Allah mengangkat derajat mereka sesuai dengan dakwah mereka kepada Allah dan amal yang mereka lakukan berdasarkan ilmu mereka. Sedangkan di dunia, Allah akan mengangkat derajat mereka di kalangan hamba-hamba-Nya yang juga sesuai dengan amal mereka. Allah ta'ala berfirman, "Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat." (QS. Al-Mujadilah: 11)

------------------------------------------------------------

Referennsi:
Abu Anas Majid Al-Bankani. Rihlatul Ulama fil Thalibil Ilmi. Terjemahan: Perjalanan Ulama Menuntuk Ilmu. 2012. Bekasi: Darul Falah
 

Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Kitabul Ilmi. Terjemahan: Panduan Menuntut Ilmu. 2012. Jakarta: Pustaka Ibnu Katsir
 

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Miftah Dar As-Sa'adah. Terjemahan: Kunci Kebahagiaan. 2004. Jakarta: Abrar (ebook oleh Maktabah Raudhatul Muhibbin)




Sesungguhnya Semua Amalan Tergantung Niatnya


Dari Umar bin al-Khaththab radhiallahu 'anhu, beliau berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Sesungguhnya perbuatan-perbuatan itu dengan niat, dan sesungguhnya setiap orang bergantung dengan apa yang ia niatkan. Maka barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya untuk dunia yang ingin ia perolehnya, atau untuk wanita yang ingin ia nikahinya, maka hijrahnya kepada apa-apa yang ia berhijrah kepadanya."

(Diriwayatkan oleh dua orang Imam ahli hadits; Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Bardizbah Al-Bukhari, dan Abul Husain Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim Al-Qusyairi An-Naisaburi, di dalam kedua kitab Shahih mereka yang merupakan kitab paling shahih yang pernah ditulis.)

Ibnu Rajab, dalam Jami'ul 'Ulumi wal Hikam berkata, "Para ulama telah sepakat atas keshahihan dan diterimanya hadits ini. Dan Al-Bukhari pun memulai kitab Shahihnya dengan hadits ini, dan memposisikannya sebagai khuthbah (muqaddimah)nya. Hal ini sebagai isyarat dari beliau bahwa setiap amalan (apapun) yang tidak diperuntukkan (dalam mengamalkannya) karena wajah Allah, maka amalan tersebut bathil, tidak menghasilkan suatu apapun, baik di dunia maupun di akhirat".



 

Asbabul Wurud
Imam Nawawi dalam Riyadhush Shalihin mengatakan, “Hadis di atas adalah berhubungan erat dengan persoalan niat. Rasulullah menyabdakannya itu ialah karena di antara para sahabat sewaktu mengikuti untuk berhijrah dari Makkah ke Madinah, semata-mata sebab terpikat oleh seorang wanita yakni Ummu Qais. Beliau mengetahui maksud orang itu, lalu bersabda sebagaimana di atas. Karena orang itu memperlihatkan sesuatu yang bertentangan dengan maksud yang terkandung dalam hatinya -meskipun sedemikian itu boleh saja- tetapi sebenarnya tidak patut sekali sebab saat itu sedang dalam suasana yang amat genting dan rumit, maka ditegurlah secara terang-terangan oleh Rasulullah."

Meskipun hadits itu berkaitan dengan seseorang, namun kaidahnya bisa diberlakukan untuk umum. Kata Imam Nawawi, "Sekalipun datangnya hadis itu mula-mula tertuju pada manusia yang salah niatnya ketika ia mengikuti hijrah, tetapi sifatnya adalah umum. Para imam mujtahidin berpendapat bahwa sesuatu amal itu dapat sah dan diterima serta dapat dianggap sempurna apabila disertai niat. Niat itu ialah sengaja yang disembunyikan dalam hati, ialah seperti ketika mengambil air sembahyang atau wudhu', mandi shalat dan lain-lain sebagainya."

Bagaimana jika berniat mengerjakan suatu amalan, namun karena suatu hal ia terhalangi untuk mengerjakannya? Dalam masalah ini, Imam Nawawi mengatakan, "Perlu pula kita maklumi bahwa barangsiapa berniat mengerjakan suatu amalan yang bersangkutan dengan ketaatan kepada Allah ia mendapatkan pahala. Demikian pula jikalau seseorang itu berniat hendak melakukan sesuatu yang baik, tetapi tidak jadi dilakukan, maka dalam hal ini orang itupun tetap juga menerima pahala. Ini berdasarkan Hadis yang berbunyi: "Niat seseorang itu lebih baik daripada amalannya."
Maksudnya: Berniatkan sesuatu yang tidak jadi dilakukan sebab adanya halangan yang tidak dapat dihindarkan itu adalah lebih baik daripada sesuatu kelakuan yang benar-benar dilaksanakan, tetapi tanpa disertai niat apa-apa.

 

Arti Niat 
"Ketahuilah bahwa niat," kata Imam Nawawi dalam Syarah Hadits Arbain, "menurut istilah bahasa artinya adalah qashdu (maksud, kehendak). Dikatakan: nawakallahu bikhair, yakni qashadakan bihi. Sedangkan niat menurut istilah syar'i adalah bermaksud kepada sesuatu yang disertai perbuatan. Jika dia bermaksud kepada sesuatu, tetapi tidak disertai perbuatan, maka ini namanya 'azzam. Niat itu disyariatkan dengan tujuan untuk membedakan urusan adat kebiasaan dengan ibadah atau untuk membedakan tingkatan antara ibadah yang satu dengan yang lain."

Kemudian Imam Nawawi mencontohkan niat orang yang duduk di masjid. Ada yang niat sekadar istirahat, ada yang niat untuk beribadah itikaf. Juga niat dalam shalat, misalnya shalat empat rakaat, ada yang meniatkannya untuk shalat Dhuhur, ada yang meniatkannya untuk shalat sunnah.

Syaikh Utsaimin dalam Syarah Hadits Arbain menyebutkan, "Semua amalan sesuai dengan wasilahnya. Kadangkala sesuatu yang asalnya mudah dapat menjadi ibadah ketaatan jika diniatkan untuk kebaikan, misalnya seseorang yang makan dan minum dengan niat agar badannya menjadi kuat untuk mengerjakan ibadah ketaatan kepada Allah"

Dalam Fathul Bari’ disebutkan, “ Setiap pekerjaan harus didasari dengan niat. Al Khauyi mengatakan, seakan-akan Rasulullah memberi pengertian bahwa niat itu bermacam-macam sebagaimana perbuatan. Seperti orang yang melakukan perbuatan dengan motivasi ingin mendapat ridha Allah dan apa yang dijanjikan kepadanya, atau ingin menjauhkan diri dari ancaman-Nya.”


 
Faidah Hadits
Syaikh 'Abdul-Muhsin bin Hamd Al-'Abbad Al-Badr dalam Fat-hul Qawiyyil Matin menyampaikan beberapa pelajaran faidah dari hadits niat ini.
  1. Sesungguhnya tidak ada amal (perbuatan) kecuali dengan niat.
  2. Sesungguhnya setiap amal (perbuatan) itu dianggap sah dengan niat-niatnya.
  3. Sesungguhnya balasan untuk si pelaku amalan (perbuatan) berdasarkan niatnya.
  4. Hendaknya seorang alim (ulama) memberikan perumpamaan sebagai penjelasan dan penerangan.
  5. Keutamaan hijrah, karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melakukannya. Dan telah terdapat dalam Shahih Muslim (121) dari 'Amr bin Al-'Ash radhiallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Tidakkah engkau mengetahui bahwa Islam menghapuskan apa-apa yang terjadi sebelumnya? Dan hijrah juga menghapuskan apa-apa yang terjadi sebelumnya?Dan ibadah haji juga menghapuskan apa-apa yang terjadi sebelumnya?”
  6. Seseorang itu mendapatkan pahala, atau dosa, atau tidak mendapatkan apapun sesuai dengan niatnya.
  7. Almalan-amalan bergantung pada wasilah yang mengantarkan kepadanya. Mungkin saja sesuatu itu pada asalnya hukumnya mubah, namun ia dapat berubah menjadai sebuah ketaatan (ibadah) jika seseorang berniat kebaikan dengannya. Seperti makan dan minum, jika seseorang meniatkan dengannya sebagai penguat dirinya untuk beribadah.
  8. Sesungguhnya sebuah amalan (perbuatan) dapat menjadi pahala bagi pelakunya, dan dapat pula menjadi penghalang dari pahala tersebut.

---------------------------------------------------------------------------
Referensi:
Riyadush Shalihin, Imam Nawawi
Fathul Bari’, Ibnu Hajar Al-Asqalani
Fat-hul Qawiyyil Matin fi Syarhil Arba'in wa Tatimmatul Khamsin, 'Abdul-Muhsin bin Hamd Al-'Abbad Al-Badr
Syarhul Hadits Arba'in Nawawiyah, Imam Nawawi


---------------------------------------------------------------------------
Sukrisno Santoso
Disusun pada pagi hari yang cerah, Selasa, 8 Oktober 2014, di rumah, Kota Sukoharjo 



22 Februari 2015

Lelaki yang Teguh Hatinya


Udara dingin menggingit. Malam yang pekat menyergap area camping. Hanya cahaya lampu emergency yang sedikit bisa memberi penglihatan.

Di dalam tenda, tiga orang bercengkerama akrab ditemani makanan ringan dan segelas minuman hangat. Suara dering telepon genggam terdengar. Salah seorang di antara mereka mengangkat, lalu ia terlibat pembicaraan yang santai dengan seseorang di sana.

"Sedang istirahat," kata lelaki itu. Suaranya dibuat mendayu. Tahulah teman-temannya bahwa yang menelepon tersebut adalah istrinya.

Lalu seisi tenda pun menjadi gaduh. Lelaki itu pun menjadi olok-olokan.
"Baru sehari camping sudah ditelepon."
"Kayak pengantin baru aja."

Yang disindir pun hanya tersenyum karena ia maklum, dua orang temannya yang masih membujang itu belum merasai perasaan rindu kepada sang istri ketika berpisah jauh.

Lelaki itu, sebut saja namanya Hamzah (bukan nama sebenarnya), sebenarnya adalah lelaki dengan perangai yang tegas dan keras. Namun ketika berbicara dengan istrinya, tiba-tiba saja nada bicaranya lembut dan mendayu.

Kisah ini adalah kisah seorang lelaki yang teguh memegang prinsip. Ia mempunyai keyakinan dan tawakkal yang tinggi kepada Allah.

Berawal pada suatu masa ketika Hamzah baru lulus dari SMA. Ekonomi keluarga yang pas-pasan membuat Hamzah harus bekerja di sebuah perusahaan. Namun, ia pun berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.

Hamzah mendaftar di sebuah akademi swasta dengan tetap bekerja paruh waktu. Ia memang ulet. Kesulitan hidup tidak membuatmya menyerah. Selain belajar, selama kuliah Hamzah juga berusaha untuk melakukan aktivitas dakwah. Memang sejak SMA ia giat mengaji dan mengikuti kegiatan dakwah.

Yang paling menonjol dari perangai Hamzah ialah sikap tegasnya. Ia tegas dalam amar ma'ruf nahi mungkar. Tak segan-segan ia menasehati dan membubarkan orang-orang yang melakukan kemaksiatan di daerahnya, misalnya minum-minuman keras.

Jika sudah memiliki sebuah niat, ia akan bertekad akan mewujudkannya. Hingga ia terkesan sebagai orang yang keras. Hamzah juga orang yang sangat mudah menerima kebenaran. Nasehat-nasehat yang lurus dan benar akan mudah untuk diikutinya. Teman-temannya sangat menghormati Hamzah.

Di kampusnya, Hamzah menjadi pelopor dalam kegiatan dakwah. Sebelumnya, kampus kecilnya kering dari aktivitas menimba ilmu agama dan dakwah. Ia membuat kelompok kajian dan dakwah dengan beberapa temannya.

Mulailah kampus tempatnya belajar tercelup cahaya Ilahiah. Rintisan dakwahnya mulai berkembang. Di kampusnya ia menjadi sosok yang terkenal sebagai seorang dai.

Di sinilah dimulai kisah cinta itu.
Adalah seorang gadis yang bersahaja, dengan pakaian simpel dan jilbab kecil menutup rambutnya. Ia adalah gadis yang belum teracuni oleh gaya hidup hedonisme. Sebut saja namanya Zahra (bukan nama sebenarnya).

Dalam masalah agama, ia termasuk awam karena minimnya didikan agama dalam keluarganya. Yang menjadi sifat baiknya ialah ia mudah menerima nasehat-nasehat khususnya dalam hal agama.

Sosok tegas Hamzah pun menjadi perhatian Zahra. Ia mulai aktif mengikuti kajian yang diadakan Hamzah. Kajian-kajian ringan agar teman-temannya tidak meninggalkan ajaran agama.

Dari kajian itu, Zahra mulai mengenal ajaran agama lebih banyak. Ia berusaha memperbaiki sifat dan sikapnya. Nasehat-nasehat Hamzah dalam kajian, selalu dicobanya untuk dipahami dan dipraktekkan. Zahra sangat tertarik mempelajari agama. Terkadang ia bertanya kepada Hamzah hal-hal yang tak diketahuinya.

Lalu, sebagaimana datangnya angin sore yang lembut dan tak terasa, benih-benih perasaan itu pun muncul. Zahra tidak menyengaja untuk menumbuhkannya. Ia hanya merasainya, menikmatinya, dan bertanya-tanya tentang hal itu. Apakah yang aku rasakan?

Bagi sebagian besar wanita, Hamzah adalah lelaki yang kaku dan terlihat tidak keren. Tapi bagi Zahra, lain dalam pandangan dan hatinya. Hamzah adalah lelaki yang baik.

Ia pun memendam benih itu dalam-dalam. Takut akan muncul dan terlihat oleh orang lain, apalagi terlihat oleh Hamzah. Ia takut, Hamzah akan membencinya. Ia tahu, Hamzah adalah lelaki saleh yang tak kan mau berurusan dengan perasaan wanita.

Adapun dengan perasaan Hamzah, ia memandang Zahra dengan pandangan yang biasa saja. Jikapun ada yang menarik dari gadis bersaja ini ialah sifat pemalunya. Zahra memang pemalu. Sifat pemalu tersebut membuat Zahra menjadi gadis yang mudah menuruti apa yang dinasehatkan oleh Hamzah. Saat ini Zahra sudah memakai kerudung lebar yang syar’i. Tak sia-sia aku memberinya nasehat, batin Hamzah.

Hamzah menjalani masa kuliah sambil terus bekerja paruh waktu. Aktivitasnya padat; kuliah, bekerja, mengaji. Hamzah mesti lebih giat bekerja karena kebutuhan kuliahnya semakin meningkat.

Beberapa kali ia harus meminjam uang kepada temannya untuk menutupi biaya kuliahnya. Namun, ia tetap yakin bahwa ia akan bisa menyelesaikan kuliahnya dengan baik. Sedangkan Zahra, selain disibukkan oleh kuliahnya, hatinya disibukkan oleh bayangan lelaki yang tegas dan baik itu. Hati Zahra dibakar oleh perasaan kagumnya. Berdebar hatinya kala berjumpa dengan Hamzah. Inikah cinta?

Masa kuliah diselesaikan dengan baik oleh Hamzah. Begitu juga Zahra. Kelulusan yang mestinya disambut dengan bahagia, mengukirkan duka dalam hati Hamzah. Ia tak akan bertemu Hamzah lagi.

Kata orang, perasaan cinta tak dapat disembunyikan. Cahayanya akan selalu memancar, dan aroma wanginya akan tercium. Hamzah mengetahui bahwa Zahra menyukai dirinya. Gerak tingkah Zahra memperlihatkan hal itu. Namun, Hamzah berusaha untuk tidak menanggapinya, takut terjerumus dosa.

Apa kriteria calon istri menurutmu? Tanya seorang teman kepada Hamzah.
“Wanita yang pemalu,” jawabnya.
“Mengapa?”
“Karena wanita yang pemalu lebih mudah untuk dibimbing.”

Wanita pemalu lebih mudah untuk dibimbing, begitulah keyakinan Hamzah. Lalu ia pun teringat dengan wanita pemalu di kampusnya dahulu, Zahra. Sedang apa kiranya ia sekarang?

Zahra ditimpa kebimbangan. Hatinya dibakar rindu. Sesekali dikirimnya pesan singkat kepada Hamzah untuk menanyakan masalah agama atau materi kuliah yang dulu belum dipahaminya. Hal itu sedikit mengobati rindunya.

Hamzah, setelah kuliah tak segera mendapat pekerjaan sesuai kualifikasinya. Ia masih bekerja paruh waktu di perusahaannya dahulu. Saat mendapatkan sebuah pekerjaan, ia hanya bertahan beberapa minggu saja karena ia tak tahan dengan tekanan pekerjaan dan terkekangnya waktu.

Kemudian ia mendirikan sebuah usaha kecil-kecilan dengan modal pinjaman. Ia harus bekerja keras agar bisa mandiri. Selama beberapa waktu, usahanya tidak berjalan dengan lancar. Ia merasa tertekan dengan tuntutan ekonominya. Orang tuanya sudah tua. Ia ingin orang tuanya segera beristirahat dari pekerjaan. Namun untuk hal itu, ia haruslah bisa mandiri dan menghidupi orang tuanya.

Semakin lama usahanya semakin menurun. Lantas karena tak menghasilkan profit yang berarti, ditutupnya usaha tersebut. Hamzah bimbang. Himpitan ekonomi semakin menyesakkan dadanya.

Di usianya yang sekarang, semestinya ia sudah menikah dan mandiri. Sebenarnya ia pun sudah berencana akan menikah. Ketika memikirkan pernikahan, pikiran Hamzah terbayang wanita pemalu itu, Zahra. Ah, aneh, mengapa ia yang terbayang, batin Hamzah.

Impian pernikahannya tak mungkin terwujud sebelum ia bisa mandiri. Sedangkan, kini ia menganggur, tak punya penghasilan yang berarti. Meskipun ia masih bekerja paruh waktu pada perusahaannya dahulu, penghasilannya masih pas-pasan.

Dalam keadaan seperti, Zahra masih kadang mengirim pesan singkat. Hamzah semakin bimbang. Ia tak ingin larut memberikan harapan kepada Zahra. Ia pun tak mau sering-sering berkomunikasi dengan Zahra meskipun hanya komunikasi tanya jawab masalah agama.

Ia harus mengambil keputusan. Ia tak mau semakin lama bermimpi. Ia tak mau Zahra semakin memupuk harapan. Ia mengambil keputusan.

“Jika ada laki-laki yang baik datang melamar, terimalah.” Itu isi pesan singkat Hamzah kepada Zahra. Nasehat yang biasa saja, namun sebenarnya isinya menusuk hati Zahra.

Zahra paham apa maksud pesan tersebut. Hamzah ingin ia pergi dari hidupnya. Hatinya menangis. Gadis yang bersahaja itu terluka. Harapannya bertahun-tahun punah. Benih yang dahulu disimpannya dalam-dalam telah layu.

Air mata membasahi pipi gadis pemalu itu. Pilu dan sendu senantiasa menaungi hari-hari Zahra. Hanya kepada Allah-lah diutarakan kesedihannya. Dihaturkannya doa-doa ke atas langit dengan penuh ketulusan.

Hamzah, lelaki yang teguh pendirian itu kini sedang goyah. Himpitan ekonomi menyesakkan dadanya. Ditambah keputusannya untuk melepaskan Zahra. Zahra, gadis yang diam-diam diidamkannya.

Hamzah mengadu kepada Allah. Apa yang harus ia lakukan. Ia berharap jalan keluar segera datang.

Jika ada hati yang seteguh karang, itulah hatinya Hamzah. Ia lelaki yang yakin bahwa Allah tidak akan menelantarkan hamba-Nya. Ia yakin, bersama kesulitan ada kemudahan.

Hamzah selalu yakin dengan janji-janji Allah yang termaktub dalam kitab-Nya dan tersampaikan oleh Rasul-Nya. Salah satu janji-Nya ialah orang yang bertakwa akan dicukupkan kebutuhannya oleh Allah. Hamzah pun bersandar hanya kepada Dzat Yang Maha Pemberi Rezeki.

Hatinya menjadi lebih tenang. Jiwanya tenteram. Sesak hatinya oleh himpitan ekonomi yang telah menimpanya sedikit-demi sedikit terurai.

Mantaplah hati Hamzah. Ia kembali menjadi pribadi yang kukuh dan penuh percaya diri. Maka, meskipun ia memiliki penghasilan yang pas-pasan, dibulatkan tekadnya untuk segera menikah. Ia yakin bahwa orang yang menikah takkan ditelantarkan oleh Allah. Rezeki di tangan Allah.

Tanpa banyak basa-basi, dikiriminya sebuah pesan singkat kepada Zahra. Ia ingin menemui orang tua Zahra untuk melamarnya.

Hati Zahra bersorak. Bagai kering yang tersiram air hujan, tumbuhlah kembali bunga-bunga cinta dalam hatinya. Inilah jawaban doa-doanya.

Beberapa hari kemudian Hamzah datang ke rumah Zahra. Ia harus berputar-putar mencari rumah Zahra hingga dua jam karena belum mengetahui lokasinya. Dengan sedikit tersesat, Hamzah akhirnya tiba di rumah Zahra.

Hamzah, dengah penuh percaya diri, mengutarakan maksud kedatanganya. Zahra, gadis pemalu itu tertunduk semakin malu.

Ia adalah Hamzah, yang keyakinannya sekukuh karang.
Ia adalah Hamzah, yang yakin atas kuasa Allah, yang mengendalikan jodoh dan rezeki manusia.

Dilangsungkanlah pernikahan dengan penuh kesederhanaan. Mulai saat itu, Hamzah dan Zahra bersama-sama meniti hidup, melewati setiap rintangan dengan kasih sayang dan cinta.

Saat ini Hamzah dan Zahra dikaruniai seorang anak yang lucu, saat ini mereka sedang membangun rumah baru untuk tempat tinggalnya.

***
Berdasarkan kisah nyata.
Ditulis oleh
Sukrisno Santoso, pada malam yang dingin, 29 Juli 2014, di kota Sukoharjo.


Lelaki yang Setia Mencari


Menikah. Betapa indahnya sunnah Rasul yang satu ini. Bukanlah umat Nabi, jika enggan menikah. Menikah, menyatukan dua hati yang dirudung rindu. Mengikat dua insan yang mendamba bahagia.

Seorang muslim pasti mendambakan pasangan yang baik; yang saleh atau salehah. Segala cara ditempuh agar mendapatkan jodoh penenteram hati.

Kisah ini adalah kisah seorang laki-laki yang tetap setia mencari. Ia tidak berpangku tangan dalam penantian. Ia mengejar bidadarinya.

Di sebuah kampus terkenal, seorang wanita berdiri dengan anggun. Sebut saja namanya Dewi (bukan nama sebenarnya).Corak dan warna pakaiannya yang kalem serta dipadu dengan kerudung besarnya membuat ia seakan bidadari yang turun dari surga.

Dewi adalah seorang mahasiswi yang berasal dari luar kota. Pembawaanya tenang. Lembut tutur katanya, dan senyum yang menghias wajah cerahnya menandakan ia seorang pribadi yang ramah. Dewi adalah seorang mahasiswi yang cerdas. Nilai akademiknya bagus. Ia pun aktif di organisasi. Ia seorang aktivis muslimah.

Banyak laki-laki yang tertarik pada Dewi. Dan mereka yang mengungkapkan ketertarikannya harus menanggung kecewa karena Dewi bukanlah wanita yang mau menjalani hubungan yang tak halal. Ia akan menyerahkan hati dan raganya hanya kepada lelaki yang menjadi suaminya.

Salah seorang laki-laki yang tertarik kepada Dewi ialah adik tingkatnya sendiri. Sebut saja namanya Gilang (bukan nama sebenarnya). Dewi dan Gilang aktif dalam organisasi yang sama.

Kecantikan, kecerdasan, dan kesalehahan Dewi membuat Gilang jatuh hati. Namun, Gilang bukan lelaki yang mudah mengungkapkan perasaannya. Ia pun sadar bahwa wanita sebaik Dewi tentu banyak yang menginginkannya.

Semakin lama persahabatan Dewi dengan Gilang, semakin dalam perasaan Gilang kepada wanita yang memesona itu. Gilang pun bertekad akan mengutarakan niatnya untuk menyunting Dewi.

Manusia hanyalah bisa berencana, Tuhanlah yang menentukan. Sebuah kabar tak terduga menyambar hati Gilang.
Dewi, wanita yang anggun dan memesona itu sudah dikhitbah oleh orang lain. Dan undangan pernikahan pun sudah tersiar.

Gilang memang kecewa. Namun, ia tak mengeluh atau meratap. Ia yakin Tuhan sudah menetapkan jodoh bagi setiap hamba-Nya.
Gilang berusaha berdamai dengan hatinya. Dia bukan jodohku, kata Gilang. Namun, Gilang penasaran siapakah lelaki yang beruntung mendapatkan Dewi.

Gilang bertanya kepada teman-temannya siapakah calon suami Dewi. Dari keterangan yang ia peroleh, Gilang mengetahui bahwa calon suami Dewi adalah lelaki yang baik, saleh, dan sudah mandiri.

Hati Gilang pun menjadi tenang. Ia teringat sebuah ayat yang menyebutkan bahwa laki-laki yang baik untuk wanita yang baik. Gilang pun kemudian mengetahui bagaimana kisah lelaki tersebut bisa mendapatkan Dewi. Hingga Gilang pun menyebutnya sebagai lelaki yang setia mencari.

Lelaki
yang setia mencari itu bernama Fariz (bukan nama sebenarnya). Berasal dari kota yang sama dengan Dewi. Kisah Fariz dan Dewi dimulai saat masa putih abu-abu. Fariz dan Dewi aktif di organisasi kerohanian di sekolahnya. Fariz adalah kakak kelas Dewi.

Fariz adalah pemuda yang baik, santun, dan saleh. Ia seorang muslim yang pemberani; berani dalam menyuarakan kebenaran dan dakwah kepada Allah.
Banyaklah siswi sekolahnya yang jatuh hati pada Fariz. Namun, Fariz tiada menggubris masalah seperti itu. Ia menjadi teladan dalam kepandaian dan kesalehan.

Dewi sudah aktif di organisasi sejak SMA. Di situlah Fariz mengenal Dewi dengan segala kelebihannya. Kecantikannya, ketegasannya, kebaikannya, kesalehahannya, dan semangat dakwahnya.

Secara diam-diam hati Fariz tercuri. Perlahan-lahan tumbuh benih-benih cinta dalam hatinya. Namun, ia sadar bahwa belum waktunya ia mengungkapkan perasaan.
Fariz dan Dewi masih SMA. Masa depan masih terbentang panjang.

Fariz pun bertekad untuk memendam perasaannya. Ia berjanji pada dirinya sendiri, suatu hari nanti akan meminang Dewi. Iya, suatu hari nanti.

Akan halnya dengan Dewi, siapa yang tahu perasaan seorang wanita. Adakah perasaan yang sama hadir di dalam hati Dewi sebagimana dirasakan oleh Fariz? Dewi adalah wanita yang pandai menjaga kehormatan diri dan senantiasa menjaga pandangan.

Masa SMA pun terlewati. Fariz dan Dewi berpisah. Keduanya kuliah di kota yang berbeda; berjarak ratusan kilometer.

Sejak saat itu, mereka tidak berkomunikasi. Mereka menjalani kehidupan masing-masing. Keduanya disibukkan dengan aktivitas perkuliahan dan dakwah di kampus mereka.

Beberapa tahun berpisah, tidaklah menggugurkan perasaan Fariz kepada Dewi. Tiada bersua atau sekadar berkomunikasi, tak membuat Fariz melupakan Dewi. Ia selalu memegang janjinya kepada diri sendiri dahulu bahwa ia akan menyunting Dewi suatu hari nanti.

Setelah lulus kuliah, Fariz mendapatkan pekerjaan yang layak. Ia berusaha untuk hidup mandiri. Ia sadar bahwa seorang laki-laki haruslah berpijak di atas kakinya sendiri. Lebih-lebih jika ingin menyunting seorang wanita, ia harus sudah mandiri.

Saat itu Dewi masih kuliah semester akhir. Fariz, yang telah menabur benih cinta sejak SMA, sudah memantapkan hati untuk menyunting Dewi. Yang menjadi masalah ialah, mereka sudah lama tidak bertemu dan tidak berkomunikasi.

Segala puji bagi Allah, Fariz dan Dewi aktif dalam barisan dakwah. Melalui sarana dakwah, Fariz bisa mendapatkan kabar tentang Dewi. Fariz mengikuti kajian rutin seminggu sekali, yang sering disebut halaqah atau liqa. Kajian itu dibimbing oleh seorang ustadz yang biasa disebut sebagai murabbi. Begitu juga dengan Dewi. Meski berada di kota yang berbeda, keduanya ditakdirkan untuk kembali bersua.

Bagaimanakah cara Fariz menghubungi Dewi? Awalnya ia mengutarakan niatnya untuk menyunting Dewi kepaa ustadznya. Fariz menyebutkan ciri-ciri Dewi, asal kota, dan tempat kuliah.

Dari situ, sang ustadz berhasil menelusuri keberadaan Dewi melalui guru ngajinya. Ustadz dari Fariz kemudian menghubungi ustadzah dari Dewi. Lalu, tersampaikanla niat Fariz untuk menyunting Dewi.

Fariz tidak ingin langsung mengutarakan niatnya kepada Dewi. Melalui ustadznya, Faris menyodorkan biodata dirinya secara lengkap. Biodata tersebut kemudian diberikan kepada ustadzahnya Dewi.

Lalu, kepada Dewi, disampaikanlah oleh ustadzahnya bahwa ada seorang lelaki yan ingin ta’aruf dengannya. Dewi tidak mengetahui bahwa yang ingin ta’aruf ialah Fariz. Ia tidak mempunyai bayangan siapa yang akan ta’aruf dengannya.

Diberikanlah biodata Fariz kepada Dewi. Lalu, seakan hatinya mendengar suara petir di siang hari, Dewi tersentak saat mengetahui bahwa biodata tersebut adalah biodata Fariz. Kakak kelasnya dahulu saat SMA, lelaki saleh yang banyak dikagumi oleh wanita.

Berbungalah hati Dewi. Ia tahu, Fariz adalah lelaki yang baik dan pantas menjadi imam baginya. Apalagi, Fariz masih mengingatnya meskipun sudah lama berpisah. Perjuangan Fariz untuk bisa ta’aruf dengannya membuktikan bahwa Fariz adalah laki-laki yang pantang menyerah. Dan setia.

Jika datang laki-laki yang baik untuk melamar, maka tak ada alasan untuk menolak. Karena penolakan terhadap lamaran laki-laki saleh akan berujung musibah dan penyesalan. Sebaliknya, penerimaan terhadapnya merupakan sebuah usaha untuk menggapai ridha Allah.

Singkat cerita, Fariz dan Dewi pun berta’aruf, kemudian terjadi proses khitbah. Dan mereka pun mengambil mitsaqan ghalizan (perjanjian yang kuat), yaitu janji pernikahan; untuk sama-sama mengarungi kehidupan dalam rangka menggapai ridha Allah.

Fariz dan Dewi tidak hanya memperjuangkan kebahagiaan dalam kebersamaan di dunia, tapi juga kebahagiaan dalam kebersamaan di akhirat.


Walhamdulillahirabbil 'alamin.

***
Berdasarkan kisah nyata.
Ditulis oleh Sukrisno Santoso, pada sepertiga malam terakhir, 25 Juli 2014, di kota Sukoharjo.

Pilihan Allah adalah yang Terbaik


"Demi Allah, saya tidak ada rasa cinta."

Kata-kata tersebut merupakan ungkapan jujur seorang suami pada masa awal pernikahannya.

Kisahnya berawal dari seorang ikhwan, sebut saja namanya Said (bukan nama sebenarnya). Ia adalah seorang ikhwan yang terdidik agamanya dengan baik.
Said adalah lulusan magister dari universitas negeri yang ternama. Ia sudah mendapatkan pekerjaan sebagai seorang guru, sesuai dengan kualifikasi pendidikannya.

Di usianya yang sudah menginjak 28 tahun, keinginannya untuk membangun rumah tangga mulai menggebu. Satu-satunya cara yang ia tahu untuk menjemput jodohnya ialah dengan meminta bantuan guru mengajinya (murabbi).

Said pun dipertemukan dengan seorang akhwat. Setelah proses ta'aruf, Allah pun berkehendak untuk tidak menjodohkan keduanya.

Tawaran akhwat lain pun datang dari murabbi-nya. Namun, ta'aruf pun berakhir sebagaimana proses dengan akhwat yang pertama. Tawaran lain menyusul datang, dan berakhir tiada beda.

Setelah tidak berhasil dalam proses ta'aruf dengan beberapa akhwat, Said tiada jera dalam menjemput jodohnya. Ia yakin bahwa Allah sudah menuliskan nama seseorang untuk mengisi hatinya.

Said merasakan bahwa proses menjemput jodohnya akan segera berhasil tatkala murabbi-nya menawarkan seorang akhwat yang menarik hatinya. Said sangat tertarik dengan akhwat tersebut bukan karena keindahan paras wajahnya, namun karena keindahan hatinya. Akhwat yang shalihah, cerdas, dan mandiri. Sebut saja namanya Rina (bukan nama sebenarnya).

Proses ta'aruf berjalan lancar. Perkenalan dengan orang tua juga tiada terhambat. Khitbah pun dilaksanakan. Tanggal akad nikah ditentukan.

Dalam masa penantian menuju hari-H, hati Said senantiasa berbunga-bunga. Dialah jodohku, batin Said. Sedikit demi sedikit dalam hatinya tumbuh harapan-harapan kebahagiaan. Pernikahan yang ia idamkan akan segera terlaksana. Inilah masa yang ditunggu-tunggunya.

Siang dan malam bergulir. Orang tua Said merasa bahagia akan mendapatkan seorang menantu. Apalagi orang tuanya juga cocok dengan Rina, calon istrinya.

Tanggal yang ditentukan semakin dekat. Akan tetapi, benarlah kata-kata bijak, manusia boleh membuat rencana, Allah-lah yang menentukan. Salah satu "kekurangan" Rina ialah ia mempunyai penyakit yang tidak ringan. Penyakit tersebut berpotensi akan diturunkan pada anak keturunannya.

Hati Said sempat goyah. Namun kemudian ia kembali teguh. Ia paham betul bahwa segala penyakit merupakan ujian dari Allah. Dan kesembuhan dari segala penyakit hanya berasal dari Allah. Said pun tetap menerima Rina.

Namun, kali ini orang tua Said berbeda pandangan dengannya. Sebagai orang tua, mereka menginginkan "jaminan" akan keturunan yang baik. Mereka memikirkan keturunan mereka selanjutnya.

Badai menyapu benih-benih kebahagiaan dalam hati Said. Ia tak bisa mengacuhkan pandangan orang tuanya. Ia mesti setuju dengan orang tuanya meski hatinya berseberangan.

Rencana pernikahan telah gagal. Kapal yang hendak berlayar, patah tiang sebelum menyentuh lautan. Awan mendung menaungi hari-hari Said. Hati Rina tak jauh berbeda. Duka lara ia kecap setelah sebelumnya hatinya melayang oleh impian pernikahan. Namun, ia pasrah pada takdir yang tiada bisa terelakkan.

Said memendam kecewa dalam hatinya. Dicobanya menghapus bayangan Rina. Berharap luka hatinya segera terobati.

Selama beberapa waktu Said masih belum bisa menghapus jejak Rina. Lalu, ia kembali berikhtiar. Ia paham bahwa pencarian jodohnya harus tetap berlanjut.

Tawaran seorang akhwat dari murabbi-nya datang lagi. Kali ini hanya biodata si akhwat, tanpa adanya foto.

Said sudah memasrahkan jodohnya di tangan Allah. Ia pun juga tsiqah (percaya) kepada murabbi-nya bahwa akhwat yang ditawarkan kepadanya pastilah akhwat yang shalihah.

Maka, dengan keyakinan hati, tanpa mengetahui wajah si akhwat, Said setuju untuk proses ta'aruf dengannya. Si akhwat, sebut saja namanya Putri (bukan nama sebenarnya), juga setuju untuk ta'aruf.

Said berdoa agar Allah memperlancar dan mempermudah urusannya.

Pada hari yang ditentukan, Said datang ke rumah orang tua Putri ditemani oleh murabbinya. Dalam proses ta'aruf, Said dan Putri melakukan tanya jawab tentang visi misi pernikahan.

Selama proses ta'aruf itu, Putri senantiasa menundukkan pandangan. Said pun tidak mencoba mencuri pandang karena yang ia cari bukanlah keelokan wajah, tetapi keshalihan pribadi. Proses ta'aruf berlanjut pada khitbah. Tanggal pernikahan ditentukan.

Pada hari-H, semua orang bersuka cita. Inilah pertemuan dua insan atas dasar cinta kepada Allah.

Akad nikah dan walimahan berjalan lancar. Akan tetapi, hati Said merasa ada yang kurang. Seolah-olah secuil hatinya ada yang hilang.

Ia kemudian sadar bahwa secuil hatinya itu telah diberikannya kepada akhwat lain, yaitu Rina, mantan calon istrinya dahulu.

Pesta walimahan yang meriah tak mampu mengembalikan hatinya secara utuh. Di hari itu pun terjadi sedikit insiden, yaitu ketika ibunya memanggil istri Said -Putri- dengan panggilan "Rina". Ibunya Said silap lidah karena memang hubungannya dengan Rina sudah dekat sehingga saat hendak memanggil Putri, yang keluar dari lidahnya justru kata Rina. Untung saja Putri tidak mengenal Rina, begitu kata Said dalam hati.

Pada hari-hari selanjutnya, Said dan Putri hidup berumah tangga dengan rukun karena keduanya paham nilai-nilai agama. Namun, Said merasakan bahwa tidak ada perasaan cinta di dalam hatinya untuk istrinya. Hatinya memang masih belum utuh.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Sebagaimana kata orang bijak, waktu adalah penyembuh luka hati yang paling mujarab, luka hati Said pun sembuh. Hatinya sudah utuh. Bayangan Rina mulai pudar. Ia akan menempuh bahtera rumah tangga bersama Putri dengan sepenuh hati.

Bagaimana dengan Rina? Rina pun akhirnya menikah dengan seorang ikhwan. Jalan bahagia ditempuh masing-masing.

Ada ungkapan jawa, witing tresna jalaran saka kulina, 'adanya cinta karena terbiasa'. Said mulai bisa mencintai istrinya. Benih-benih cinta dan kasih sayang menghiasi rumah tangganya.

Bahagia senantiasa dirasakan Said bersama istrinya. Tiada hari tanpa kasih dan cinta di dalam rumahnya.

Said bersyukur kepada Allah yang telah menghantarkan Putri sebagai istrinya. Didapatinya Putri ialah istri yang shalihah, cerdas, penyabar, tegar, dan bisa mendidik anak dengan baik.

Saat ini Said dan Putri sudah dikaruniai tiga anak. Mereka menjadi keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah.

Walhamdulillahirabbil 'alamin.

***
Berdasarkan kisah nyata.
Ditulis oleh
Sukrisno Santoso, pada sepertiga malam terakhir, 22 Juli 2014, di kota Sukoharjo.

PROMO BUKU

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More