MUSLIMAH

Menuju Insan yang Shalihah

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

MUTIARA DAKWAH

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

22 Februari 2015

Lelaki yang Setia Mencari


Menikah. Betapa indahnya sunnah Rasul yang satu ini. Bukanlah umat Nabi, jika enggan menikah. Menikah, menyatukan dua hati yang dirudung rindu. Mengikat dua insan yang mendamba bahagia.

Seorang muslim pasti mendambakan pasangan yang baik; yang saleh atau salehah. Segala cara ditempuh agar mendapatkan jodoh penenteram hati.

Kisah ini adalah kisah seorang laki-laki yang tetap setia mencari. Ia tidak berpangku tangan dalam penantian. Ia mengejar bidadarinya.

Di sebuah kampus terkenal, seorang wanita berdiri dengan anggun. Sebut saja namanya Dewi (bukan nama sebenarnya).Corak dan warna pakaiannya yang kalem serta dipadu dengan kerudung besarnya membuat ia seakan bidadari yang turun dari surga.

Dewi adalah seorang mahasiswi yang berasal dari luar kota. Pembawaanya tenang. Lembut tutur katanya, dan senyum yang menghias wajah cerahnya menandakan ia seorang pribadi yang ramah. Dewi adalah seorang mahasiswi yang cerdas. Nilai akademiknya bagus. Ia pun aktif di organisasi. Ia seorang aktivis muslimah.

Banyak laki-laki yang tertarik pada Dewi. Dan mereka yang mengungkapkan ketertarikannya harus menanggung kecewa karena Dewi bukanlah wanita yang mau menjalani hubungan yang tak halal. Ia akan menyerahkan hati dan raganya hanya kepada lelaki yang menjadi suaminya.

Salah seorang laki-laki yang tertarik kepada Dewi ialah adik tingkatnya sendiri. Sebut saja namanya Gilang (bukan nama sebenarnya). Dewi dan Gilang aktif dalam organisasi yang sama.

Kecantikan, kecerdasan, dan kesalehahan Dewi membuat Gilang jatuh hati. Namun, Gilang bukan lelaki yang mudah mengungkapkan perasaannya. Ia pun sadar bahwa wanita sebaik Dewi tentu banyak yang menginginkannya.

Semakin lama persahabatan Dewi dengan Gilang, semakin dalam perasaan Gilang kepada wanita yang memesona itu. Gilang pun bertekad akan mengutarakan niatnya untuk menyunting Dewi.

Manusia hanyalah bisa berencana, Tuhanlah yang menentukan. Sebuah kabar tak terduga menyambar hati Gilang.
Dewi, wanita yang anggun dan memesona itu sudah dikhitbah oleh orang lain. Dan undangan pernikahan pun sudah tersiar.

Gilang memang kecewa. Namun, ia tak mengeluh atau meratap. Ia yakin Tuhan sudah menetapkan jodoh bagi setiap hamba-Nya.
Gilang berusaha berdamai dengan hatinya. Dia bukan jodohku, kata Gilang. Namun, Gilang penasaran siapakah lelaki yang beruntung mendapatkan Dewi.

Gilang bertanya kepada teman-temannya siapakah calon suami Dewi. Dari keterangan yang ia peroleh, Gilang mengetahui bahwa calon suami Dewi adalah lelaki yang baik, saleh, dan sudah mandiri.

Hati Gilang pun menjadi tenang. Ia teringat sebuah ayat yang menyebutkan bahwa laki-laki yang baik untuk wanita yang baik. Gilang pun kemudian mengetahui bagaimana kisah lelaki tersebut bisa mendapatkan Dewi. Hingga Gilang pun menyebutnya sebagai lelaki yang setia mencari.

Lelaki
yang setia mencari itu bernama Fariz (bukan nama sebenarnya). Berasal dari kota yang sama dengan Dewi. Kisah Fariz dan Dewi dimulai saat masa putih abu-abu. Fariz dan Dewi aktif di organisasi kerohanian di sekolahnya. Fariz adalah kakak kelas Dewi.

Fariz adalah pemuda yang baik, santun, dan saleh. Ia seorang muslim yang pemberani; berani dalam menyuarakan kebenaran dan dakwah kepada Allah.
Banyaklah siswi sekolahnya yang jatuh hati pada Fariz. Namun, Fariz tiada menggubris masalah seperti itu. Ia menjadi teladan dalam kepandaian dan kesalehan.

Dewi sudah aktif di organisasi sejak SMA. Di situlah Fariz mengenal Dewi dengan segala kelebihannya. Kecantikannya, ketegasannya, kebaikannya, kesalehahannya, dan semangat dakwahnya.

Secara diam-diam hati Fariz tercuri. Perlahan-lahan tumbuh benih-benih cinta dalam hatinya. Namun, ia sadar bahwa belum waktunya ia mengungkapkan perasaan.
Fariz dan Dewi masih SMA. Masa depan masih terbentang panjang.

Fariz pun bertekad untuk memendam perasaannya. Ia berjanji pada dirinya sendiri, suatu hari nanti akan meminang Dewi. Iya, suatu hari nanti.

Akan halnya dengan Dewi, siapa yang tahu perasaan seorang wanita. Adakah perasaan yang sama hadir di dalam hati Dewi sebagimana dirasakan oleh Fariz? Dewi adalah wanita yang pandai menjaga kehormatan diri dan senantiasa menjaga pandangan.

Masa SMA pun terlewati. Fariz dan Dewi berpisah. Keduanya kuliah di kota yang berbeda; berjarak ratusan kilometer.

Sejak saat itu, mereka tidak berkomunikasi. Mereka menjalani kehidupan masing-masing. Keduanya disibukkan dengan aktivitas perkuliahan dan dakwah di kampus mereka.

Beberapa tahun berpisah, tidaklah menggugurkan perasaan Fariz kepada Dewi. Tiada bersua atau sekadar berkomunikasi, tak membuat Fariz melupakan Dewi. Ia selalu memegang janjinya kepada diri sendiri dahulu bahwa ia akan menyunting Dewi suatu hari nanti.

Setelah lulus kuliah, Fariz mendapatkan pekerjaan yang layak. Ia berusaha untuk hidup mandiri. Ia sadar bahwa seorang laki-laki haruslah berpijak di atas kakinya sendiri. Lebih-lebih jika ingin menyunting seorang wanita, ia harus sudah mandiri.

Saat itu Dewi masih kuliah semester akhir. Fariz, yang telah menabur benih cinta sejak SMA, sudah memantapkan hati untuk menyunting Dewi. Yang menjadi masalah ialah, mereka sudah lama tidak bertemu dan tidak berkomunikasi.

Segala puji bagi Allah, Fariz dan Dewi aktif dalam barisan dakwah. Melalui sarana dakwah, Fariz bisa mendapatkan kabar tentang Dewi. Fariz mengikuti kajian rutin seminggu sekali, yang sering disebut halaqah atau liqa. Kajian itu dibimbing oleh seorang ustadz yang biasa disebut sebagai murabbi. Begitu juga dengan Dewi. Meski berada di kota yang berbeda, keduanya ditakdirkan untuk kembali bersua.

Bagaimanakah cara Fariz menghubungi Dewi? Awalnya ia mengutarakan niatnya untuk menyunting Dewi kepaa ustadznya. Fariz menyebutkan ciri-ciri Dewi, asal kota, dan tempat kuliah.

Dari situ, sang ustadz berhasil menelusuri keberadaan Dewi melalui guru ngajinya. Ustadz dari Fariz kemudian menghubungi ustadzah dari Dewi. Lalu, tersampaikanla niat Fariz untuk menyunting Dewi.

Fariz tidak ingin langsung mengutarakan niatnya kepada Dewi. Melalui ustadznya, Faris menyodorkan biodata dirinya secara lengkap. Biodata tersebut kemudian diberikan kepada ustadzahnya Dewi.

Lalu, kepada Dewi, disampaikanlah oleh ustadzahnya bahwa ada seorang lelaki yan ingin ta’aruf dengannya. Dewi tidak mengetahui bahwa yang ingin ta’aruf ialah Fariz. Ia tidak mempunyai bayangan siapa yang akan ta’aruf dengannya.

Diberikanlah biodata Fariz kepada Dewi. Lalu, seakan hatinya mendengar suara petir di siang hari, Dewi tersentak saat mengetahui bahwa biodata tersebut adalah biodata Fariz. Kakak kelasnya dahulu saat SMA, lelaki saleh yang banyak dikagumi oleh wanita.

Berbungalah hati Dewi. Ia tahu, Fariz adalah lelaki yang baik dan pantas menjadi imam baginya. Apalagi, Fariz masih mengingatnya meskipun sudah lama berpisah. Perjuangan Fariz untuk bisa ta’aruf dengannya membuktikan bahwa Fariz adalah laki-laki yang pantang menyerah. Dan setia.

Jika datang laki-laki yang baik untuk melamar, maka tak ada alasan untuk menolak. Karena penolakan terhadap lamaran laki-laki saleh akan berujung musibah dan penyesalan. Sebaliknya, penerimaan terhadapnya merupakan sebuah usaha untuk menggapai ridha Allah.

Singkat cerita, Fariz dan Dewi pun berta’aruf, kemudian terjadi proses khitbah. Dan mereka pun mengambil mitsaqan ghalizan (perjanjian yang kuat), yaitu janji pernikahan; untuk sama-sama mengarungi kehidupan dalam rangka menggapai ridha Allah.

Fariz dan Dewi tidak hanya memperjuangkan kebahagiaan dalam kebersamaan di dunia, tapi juga kebahagiaan dalam kebersamaan di akhirat.


Walhamdulillahirabbil 'alamin.

***
Berdasarkan kisah nyata.
Ditulis oleh Sukrisno Santoso, pada sepertiga malam terakhir, 25 Juli 2014, di kota Sukoharjo.

Pilihan Allah adalah yang Terbaik


"Demi Allah, saya tidak ada rasa cinta."

Kata-kata tersebut merupakan ungkapan jujur seorang suami pada masa awal pernikahannya.

Kisahnya berawal dari seorang ikhwan, sebut saja namanya Said (bukan nama sebenarnya). Ia adalah seorang ikhwan yang terdidik agamanya dengan baik.
Said adalah lulusan magister dari universitas negeri yang ternama. Ia sudah mendapatkan pekerjaan sebagai seorang guru, sesuai dengan kualifikasi pendidikannya.

Di usianya yang sudah menginjak 28 tahun, keinginannya untuk membangun rumah tangga mulai menggebu. Satu-satunya cara yang ia tahu untuk menjemput jodohnya ialah dengan meminta bantuan guru mengajinya (murabbi).

Said pun dipertemukan dengan seorang akhwat. Setelah proses ta'aruf, Allah pun berkehendak untuk tidak menjodohkan keduanya.

Tawaran akhwat lain pun datang dari murabbi-nya. Namun, ta'aruf pun berakhir sebagaimana proses dengan akhwat yang pertama. Tawaran lain menyusul datang, dan berakhir tiada beda.

Setelah tidak berhasil dalam proses ta'aruf dengan beberapa akhwat, Said tiada jera dalam menjemput jodohnya. Ia yakin bahwa Allah sudah menuliskan nama seseorang untuk mengisi hatinya.

Said merasakan bahwa proses menjemput jodohnya akan segera berhasil tatkala murabbi-nya menawarkan seorang akhwat yang menarik hatinya. Said sangat tertarik dengan akhwat tersebut bukan karena keindahan paras wajahnya, namun karena keindahan hatinya. Akhwat yang shalihah, cerdas, dan mandiri. Sebut saja namanya Rina (bukan nama sebenarnya).

Proses ta'aruf berjalan lancar. Perkenalan dengan orang tua juga tiada terhambat. Khitbah pun dilaksanakan. Tanggal akad nikah ditentukan.

Dalam masa penantian menuju hari-H, hati Said senantiasa berbunga-bunga. Dialah jodohku, batin Said. Sedikit demi sedikit dalam hatinya tumbuh harapan-harapan kebahagiaan. Pernikahan yang ia idamkan akan segera terlaksana. Inilah masa yang ditunggu-tunggunya.

Siang dan malam bergulir. Orang tua Said merasa bahagia akan mendapatkan seorang menantu. Apalagi orang tuanya juga cocok dengan Rina, calon istrinya.

Tanggal yang ditentukan semakin dekat. Akan tetapi, benarlah kata-kata bijak, manusia boleh membuat rencana, Allah-lah yang menentukan. Salah satu "kekurangan" Rina ialah ia mempunyai penyakit yang tidak ringan. Penyakit tersebut berpotensi akan diturunkan pada anak keturunannya.

Hati Said sempat goyah. Namun kemudian ia kembali teguh. Ia paham betul bahwa segala penyakit merupakan ujian dari Allah. Dan kesembuhan dari segala penyakit hanya berasal dari Allah. Said pun tetap menerima Rina.

Namun, kali ini orang tua Said berbeda pandangan dengannya. Sebagai orang tua, mereka menginginkan "jaminan" akan keturunan yang baik. Mereka memikirkan keturunan mereka selanjutnya.

Badai menyapu benih-benih kebahagiaan dalam hati Said. Ia tak bisa mengacuhkan pandangan orang tuanya. Ia mesti setuju dengan orang tuanya meski hatinya berseberangan.

Rencana pernikahan telah gagal. Kapal yang hendak berlayar, patah tiang sebelum menyentuh lautan. Awan mendung menaungi hari-hari Said. Hati Rina tak jauh berbeda. Duka lara ia kecap setelah sebelumnya hatinya melayang oleh impian pernikahan. Namun, ia pasrah pada takdir yang tiada bisa terelakkan.

Said memendam kecewa dalam hatinya. Dicobanya menghapus bayangan Rina. Berharap luka hatinya segera terobati.

Selama beberapa waktu Said masih belum bisa menghapus jejak Rina. Lalu, ia kembali berikhtiar. Ia paham bahwa pencarian jodohnya harus tetap berlanjut.

Tawaran seorang akhwat dari murabbi-nya datang lagi. Kali ini hanya biodata si akhwat, tanpa adanya foto.

Said sudah memasrahkan jodohnya di tangan Allah. Ia pun juga tsiqah (percaya) kepada murabbi-nya bahwa akhwat yang ditawarkan kepadanya pastilah akhwat yang shalihah.

Maka, dengan keyakinan hati, tanpa mengetahui wajah si akhwat, Said setuju untuk proses ta'aruf dengannya. Si akhwat, sebut saja namanya Putri (bukan nama sebenarnya), juga setuju untuk ta'aruf.

Said berdoa agar Allah memperlancar dan mempermudah urusannya.

Pada hari yang ditentukan, Said datang ke rumah orang tua Putri ditemani oleh murabbinya. Dalam proses ta'aruf, Said dan Putri melakukan tanya jawab tentang visi misi pernikahan.

Selama proses ta'aruf itu, Putri senantiasa menundukkan pandangan. Said pun tidak mencoba mencuri pandang karena yang ia cari bukanlah keelokan wajah, tetapi keshalihan pribadi. Proses ta'aruf berlanjut pada khitbah. Tanggal pernikahan ditentukan.

Pada hari-H, semua orang bersuka cita. Inilah pertemuan dua insan atas dasar cinta kepada Allah.

Akad nikah dan walimahan berjalan lancar. Akan tetapi, hati Said merasa ada yang kurang. Seolah-olah secuil hatinya ada yang hilang.

Ia kemudian sadar bahwa secuil hatinya itu telah diberikannya kepada akhwat lain, yaitu Rina, mantan calon istrinya dahulu.

Pesta walimahan yang meriah tak mampu mengembalikan hatinya secara utuh. Di hari itu pun terjadi sedikit insiden, yaitu ketika ibunya memanggil istri Said -Putri- dengan panggilan "Rina". Ibunya Said silap lidah karena memang hubungannya dengan Rina sudah dekat sehingga saat hendak memanggil Putri, yang keluar dari lidahnya justru kata Rina. Untung saja Putri tidak mengenal Rina, begitu kata Said dalam hati.

Pada hari-hari selanjutnya, Said dan Putri hidup berumah tangga dengan rukun karena keduanya paham nilai-nilai agama. Namun, Said merasakan bahwa tidak ada perasaan cinta di dalam hatinya untuk istrinya. Hatinya memang masih belum utuh.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Sebagaimana kata orang bijak, waktu adalah penyembuh luka hati yang paling mujarab, luka hati Said pun sembuh. Hatinya sudah utuh. Bayangan Rina mulai pudar. Ia akan menempuh bahtera rumah tangga bersama Putri dengan sepenuh hati.

Bagaimana dengan Rina? Rina pun akhirnya menikah dengan seorang ikhwan. Jalan bahagia ditempuh masing-masing.

Ada ungkapan jawa, witing tresna jalaran saka kulina, 'adanya cinta karena terbiasa'. Said mulai bisa mencintai istrinya. Benih-benih cinta dan kasih sayang menghiasi rumah tangganya.

Bahagia senantiasa dirasakan Said bersama istrinya. Tiada hari tanpa kasih dan cinta di dalam rumahnya.

Said bersyukur kepada Allah yang telah menghantarkan Putri sebagai istrinya. Didapatinya Putri ialah istri yang shalihah, cerdas, penyabar, tegar, dan bisa mendidik anak dengan baik.

Saat ini Said dan Putri sudah dikaruniai tiga anak. Mereka menjadi keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah.

Walhamdulillahirabbil 'alamin.

***
Berdasarkan kisah nyata.
Ditulis oleh
Sukrisno Santoso, pada sepertiga malam terakhir, 22 Juli 2014, di kota Sukoharjo.

5 November 2014

Bulughul Maram Karya Ibnu Hajar Al-Asqalani


Judul buku : Bulughul Maram
Penulis : Ibnu Hajar Al-Asqalani
Penerbit : Insan Kamil
Harga : Rp. 90.000 ---> 80.000,-

 

--------------------------------------------------------------------

Kitab ini merupakan kitab yang membawa berkah dan manfaat, walaupun ukurannya yang kecil, namun di dalamnya terkandung ilmu yang terdapat pada kitab-kitab yang berukuran besar. Para ulama zaman dahulu sampai sekarang menerimanya dan mengambil manfaat darinya.

Bahkan tidak ada suatu majelisnya seorang ulama, melainkan kitab Bulughul Maram dijadikan sebagai pelajaran pokoknya. Para penuntut ilmupun menghafalkannya dan mengambil manfaat darinya.

Di antara keistimewaan kitab ini :

  1. Penulis (Ibnu Hajar Al-Asqalani) menjelaskan martabat (derajat) hadits berupa shahih, hasan, dan dhoifnya, sehingga para penuntut ilmu tidak perlu mencari rujukan dari kitab lain.
  2. Beliau menuliskan sebagian matan hadits saja yang berhubungan dengan bab yang di maksud, sehingga singkat dan padat manfaat.
  3. Jika suatu hadits memiliki riwayat lain yang dapat menjadi tambahan yang bermanfaat, penulis membawakannya dengan ringkas dan jelas. Dengan demikian riwayat-riwayat hadits saling menyempurnakan terhadap suatu masalah.
  4. Penulis menyeleksi hadits-hadits dari diwan dan kitab induk yang terkenal, seperti musnad Imam Ahmad, Shahih Bukhori dan Shohih Muslim, Kitab Sunan yang empat, dll.
  5. Kebanyakan hadits bersumber Shahih Bukhori dan Muslim atau Shahih salah satunya, kemudian diikuti dengan riwayat Sunan agar hadits-hadits yang benar-benar shahih menjadi landasan dan referensi terhadap suatu masalah dan selainnya menjadi penyempurna.
  6. Penulis menyebutkan 'illah (cacat) yang ada pada hadits tertentu.
  7. Jika hadits tersebut memiliki penguat (taabi' atau syaahid), beliau mengisyaratkannya dengan isyarat yang lembut. Dari sini teraihlah faedah dari sisi menjama' (menggabungkan) hadits lebih baik dibandingkan mencelanya.
  8. Penulis mengurutkan bab-bab dan hadits-hadits sesuai dengan kitab-kitab fiqh, agar memudahkan pembacanya untuk muroja'ah.
  9. Beliau menutup kitabnya dengan bab tentang adab yang merupakan kumpulan-kumpulan dari hadits-hadits pilihan yang beliau namakan bab "Jami' fil Adab" agar pembaca mengambil manfaat dari kitab ini, bukan hanya hukum tetapi juga akhlak.

Secara keseluruhan, kitab Bulughul Maram ini merupakan ruhnya kitab-kitab ahkam (tentang hukum). Layak bagi penuntut ilmu untuk menghafal dan memahaminya.

***


--------------------------------------------------------------------
Cara pembelian
SMS dengan format :
(buku) BULUGHUL MARAM (nama) (alamat)
Kirim ke : 0856 4231 8421


Contoh:
(buku)
BULUGHUL MARAM (Santoso) (Kec. Grogol, Kab. Sukoharjo)

Selanjutnya kami akan segera membalas dan memproses pesanan anda.
Informasi pembelian buku:
Telp/SMS: 0856 4231 8421
Pin BBM: 5782EAE1


Prosedur pembelian

  1. Kirim SMS pesanan ke nomor 0856 4231 8421.
  2. Kami akan konfirmasi harga dan biaya kirim.
  3. Membayar sejumlah harga pesanan dan biaya kirim ke rekening: Bank Syariah Mandiri (BSM) a.n. Sukrisno Santoso, Nomor rekening: 7076497065
  4. Kami akan mengirimkan pesanan setelah transfer pembayaran sudah masuk.
  5. Kami akan mengirimkan SMS yang berisi nomor resi pengiriman sebagai bukti bahwa barang pesanan benar-benar sudah dikirim.

3 November 2014

Sirah Nabawiyah (Ar-Rahiq Al-Makhtum) karya Shafiyyurahman Al-Mubarakfuri



Judul: Ar-Rahiq Al-Makhtum: Sirah Nabawiyah
Penulis: Syaikh Shafiyyurahman al-Mubarakfuri
Ukuran: 17,5 x 24,5 cm (HC)
Tebal: 864 hal
Harga: Rp 115.000,-
Penerbit: Ummul Qura


***
Adakah kita Mencintai Rasulullah saw? Belajar sirah Nabi saw, Satu cara mencintai Rasul

Banyak sudah buku yang membahas sisik melik kehidupan Rasulullah saw. Namun, buku yang satu ini telah mendapatkan sertifikasi internasional sebagai buku sirah Nabi terbaik.

Kupasannya omplit, namun mudah dipahami; tidak bertele-tele. Mendokumentasikan kejadian demi kejadian dalam kehidupan Rasulullah saw - di mana beberapa buku sirah lain melewatkannya.

Segala hal dan peristiwa yang ingin Anda ketahui dari kehidupan Nabi, ada di dalamnya. Riwayat yang digunakan penulis pun hanya berasal dari sumber yang otentik.

Itulah mengapa kemudian Rabithah Alam Islami menetapkannya sebagai juara 1 lomba penulisan sirah Nabi.

Kini, beberapa versi terjemah Indonesia dari buku ini telah banyak diterbitkan. Namun, buku yang ada di tangan Anda ini memiliki kelebihan dibanding buku lainnya.
Dilengkapi dengan takhrij riwayat Syaikh Al-Albani dan beberapa pakar hadits lainnya. Anda pun akan diajak turut serta dalam peristiwa yang dialami Rasulullah saw, dengan kehadiran peta-peta klasik saat itu.

Sementara, CD interaktif yang berfungsi sebagai audiobook yang disertakan di buku ini semakin memudahkan Anda untuk paham fase demi fase kehidupan soosk yang wajib kita cintai ini.



--------------------------------------------------------------------
Cara pembelian
SMS dengan format :
(buku) SIRAH NABAWIYAH (nama) (alamat)
Kirim ke : 0856 4231 8421


Contoh:
(buku)
SIRAH NABAWIYAH (Santoso) (Kec. Grogol, Kab. Sukoharjo)

Selanjutnya kami akan segera membalas dan memproses pesanan anda.
Informasi pembelian buku:
Telp/SMS: 0856 4231 8421
Pin BBM: 5782EAE1


Prosedur pembelian

  1. Kirim SMS pesanan ke nomor 0856 4231 8421.
  2. Kami akan konfirmasi harga dan biaya kirim (pengiriman barang melalu jasa pengiriman JNE)
  3. Membayar sejumlah harga pesanan dan biaya kirim ke rekening: Bank Syariah Mandiri (BSM) a.n. Sukrisno Santoso, Nomor rekening: 7076497065
  4. Kami akan mengirimkan pesanan setelah transfer pembayaran sudah masuk.
  5. Kami akan mengirimkan SMS yang berisi nomor resi pengiriman sebagai bukti bahwa barang pesanan benar-benar sudah dikirim.
 

Fiqhussunnah Lin Nisa: Panduan Fikih Lengkap Bagi Wanita

 


Judul: Fiqhussunnah Lin Nisa: Panduan Fikih Lengkap Bagi Wanita
Penulis Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim
Penerbit: Pustaka Arafah
Isi: 804 halaman
Harga: Rp.100.000


--------------------------------------------------------------------
Fiqhussunnah Lin Nisa, berisi penjelasan fikih wanita secara lengkap, mencakup perkara-perkara kontemporer dengan bahasa yang mudah dipahami berdasarkan dalil-dalil yang diambil dari Alquran dan Sunnah/Hadits.

Daftar Isi:

  • Thaharah
  • Shalat
  • Jenazah
  • Zakat, Sedekah dan Jual Beli Bagi
  • Wanita
  • Puasa
  • Haji dan Umrah
  • Sumpah dan Nadzar
  • Makanan Minuman dan Wadah
  • Pakaian dan Perhiasan Untuk Wanita
  • Nikah, Pranikah dan Pascanikah
  • Talak
  • Warisan

--------------------------------------------------------------------
Cara pembelian
SMS dengan format :
(buku) FIQHUSSUNNAH LIN NISA (nama) (alamat)
Kirim ke : 0856 4231 8421


Contoh:
(buku) FIQHUSSUNNAH LIN NISA
(Santoso) (Kec. Grogol, Kab. Sukoharjo)

Selanjutnya kami akan segera membalas dan memproses pesanan anda.
Informasi pembelian buku:
Telp/SMS: 0856 4231 8421
Pin BBM: 5782EAE1


Prosedur pembelian

  1. Kirim SMS pesanan ke nomor 0856 4231 8421.
  2. Kami akan konfirmasi harga dan biaya kirim.
  3. Membayar sejumlah harga pesanan dan biaya kirim ke rekening:Bank Syariah Mandiri (BSM) a.n. Sukrisno Santoso, Nomor rekening: 7076497065
  4. Kami akan mengirimkan pesanan setelah transfer pembayaran sudah masuk.
  5. Kami akan mengirimkan SMS yang berisi nomor resi pengiriman sebagai bukti bahwa barang pesanan benar-benar sudah dikirim.

7 Mei 2014

Khansa’: Ibunda Para Syuhada


Jika umat Islam tidak mempelajari perjalanan perjuangan generasi pertama umat Islam, kepada siapa mereka akan mengambil teladan. Akankah kisah-kisah menakjubkan dari Rasulullah dan para sahabatnya hanya akan tercetak di dalam buku tanpa ada yang membaca dan mempelajarinya?

Aktivitas mempelajari dan mengajarkan kisah-kisah perjuangan generasi salaf menjadi kebutuhan yang akan berguna untuk menguatkan ruhani, menambah semangat, dan membakar gelora perjuangan di dalam dada-dada kaum muslimin. Ada beberapa manfaat ketika kita mau mempelajari sejarah mereka sebagaimana disebutkan oleh Ahmad Farid dalam kitabnya Min A’lam As-Salaf.

Salah satu manfaat tersebut yaitu kita dapat mengetahui kedudukan kita dibandingkan dengan mrereka. Dengan memperlajari kisah-kisah salaf, kita menjadi sadar diri bahwa kita sebenarnya sangat jauh dari mereka dalam hal iman dan amal. Dengan begitu, akan terdorong dalam diri kita untuk meningkatkan iman dan amal.

Manfaat lainnya yaitu kita dapat meneladani amal-amal mereka yang melimpah. Dengan mempelajari sejarah generasi salaf yang penuh dengan amal-amal kebaikan yang melimpah akan menimbulkan motivasi dalam diri untuk meniru amalan mereka.

Sungguh, telah ada teladan pada generasi yang membersamai Nabi Muhammad menyampaikan risalah Islam. Salah satunya seorang shahabiyat (sahabat wanita). Marilah kita simak kisah Khansa’ yang menakjubkan sebagaimana disebutkan dalam kitab Nisaa Haular Rasul.

Nama lengkapnya ialah Tumadhir binti ‘Amr bin Al-Harits bin Syarid. Dikenal dengan nama Khansa’. Ia terkenal sebagai seorang penyair wanita yang ulung. Suatu ketika Rasulullah meminta Khansa’ untuk bersyair dan beliau sangat mengaguminya. Ketika Khansa’ sedang bersyair, Rasulullah bersabda, “Aduhai, wahai Khansa’, hariku terasa indah dengan syairku.

Di samping keahliannya dalam syair, Khansa’ juga menjadi muslimah yang memiliki semangat juang yang tinggi dalam membela agama Allah. Hal itu terlihat dari seringnya ia keluar berjihad bersama kaum muslimin.

Ketika Mutsanna bin Haritsah asy-Syaibani berangkat ke Qadisiyah di masa Amirul Mukminin Umar bin Khaththab, Khansa’ berangkat bersama keempat putranya untuk menyertai pasukan tersebut.

Di medan peperangan, di saat malam ketika para pasukan sedang siap berperang satu sama lain, Khansa’ mengumpulkan keempat putranya untuk memberikan pengarahan kepada mereka dan mengobarkan semangat kepada mereka untuk berperang dan agar mereka tidak lari dari peperangan serta agar mereka mengharapkan syahid di jalan Allah. Dengarkanlah wasiat al-Khansa’ yang mulia tersebut :

“Wahai anak-anakku, sesungguhnya kalian telah masuk Islam dengan ketaatan, kalian telah berhijrah dengan sukarela dan Demi Allah, tiada ilah selain Dia, sesungguhnya kalian adalah putra-putra dari seorang wanita yang tidak pernah berkhianat kepada ayah kalian, kalian juga tidak pernah memerlukan paman kalian, tidak pernah merusak kehormatan kalian dan tidak pula berubah nasab kalian.
Kalian mengetahui apa yang telah Allah janjikan bagi kaum muslimin berupa pahala yang agung bagi yang memerangi orang-orang kafir, dan ketahuilah bahwa negeri yang kekal lebih baik dari negeri yang fana (binasa).
Allah befirman, ‘Wahai orang-orang yang berfirman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.’ (Ali Imran: 20).
Maka, ketika datang waktu esok, jika Allah menghendaki kalian masih selamat, persiapkanlah diri kalian untuk memerangi musuh dengan penuh semangat dan mohonlah kepada Allah untuk kemenangan kaum muslimin.
Jika kalian melihat perang telah berkecamuk, ketika api telah berkobar, maka terjunlah kalian di medan laga, bersabarlah kalian menghadapi panasnya perjuangan, niscaya kalian akan berjaya dengan ghanimah (rampasan perang) dan kemuliaan atau syahid di negeri yang kekal.”


Setelah keempat putranya mendengarkan nasehat tersebut dengan penuh seksama, mereka keluar dari kamar ibu mereka dengan menerima nasihatnya dan tekad hatinya untuk melaksanakan nasihat tersebut. Maka, ketika datang waktu pagi, mereka segera bergabung bersama pasukan dan bertolak untuk menghadapi musuh, sedangkan mereka berangkat seraya melantunkan syair. Keempat putra Khansa’ tersebut akhirnya mendapat kemuliaan berupa mati syahid.

Ketika berita syahidnya empat bersaudara itu sampai kepada ibunya yang mukminah dan sabar, beliau tidaklah menjadi goncang ataupun meratap, bahkan beliau mengatakan suatu perkataan yang masyhur yang dicatat oleh sejarah dan akan senantiasa diulang-ulang oleh sejarah sampai waktu yang dikehendaki Allah, yakni, “Segala puji bagi Allah yang memuliakan diriku dengan syahidnya mereka, dan aku berharap kepada Rabb-ku agar Dia mengumpulkan diriku dengan mereka dalam rahmat-Nya”.

Umar bin Khaththab mengetahui keutamaan al-Khansa’ dan putra-putranya sehingga beliau senantiasa memberikan bantuan yang merupakan jatah keempat anaknya kepada beliau hingga beliau wafat.

***
Referensi:
Mahmud Mahdi Al-Istanbuli & Musthafa Abu Nashr Asy-Syilbi. Nisaa Haular Rasul. (Terjemahan: Wanita Teladan. 2005. Bandung: Penerbit Irsyad Baitus Salam)
 Ahmad Farid. Min A’lam As-Salaf. (Terjemahan: Biografi 50 Ulama Ahlisunnah. 2012. Jakarta: Penerbit Darul Haq)

***
Sukrisno Santoso
Ditulis saat senja pada hari Rabu, 7 Mei 2014, di rumah, Kota Sukoharjo





6 Mei 2014

Dzikir Sesudah Shalat Fardhu


Berikut ini dzikir dan doa dari Rasulullah sebagaimana ditulis oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz dalam kitabnya Tuhfatul Akhyar.
  • Telah menjadi kebiasaan Rasulullah setelah mengucapkan salam pada setiap shalat fardhu beliau beristighfar tiga kali.

  • Kemudian mengucapkan:


(( اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ تَبَارَكْتَ يَا ذَا الجَلاَلِ وَالإِكْرَام لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، اللهمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الجدُّ مِنْكَ الجَدِّ. لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الحَسَنُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الكَافِرُوْنَ ))
“Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Pemberi Sejahtera, dan dari-Mu kesejahteraan, Engkau Pemberi barakah, wahai pemilik Keagungan dan Kemuliaan. Tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah, yang Esa tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kekuasaan dan segala pujian, dan Ia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Ya Allah tiada seorangpun yang mampu menghalangi terhadap pemberian-Mu dan tidak ada pula yang dapat memberi sesuatu yang Engkau halangi, dan tidak ada manfaat kekayaan seseorang dari siksa-Mu, tidak ada upaya dan kekuatan kecuali dari Allah, tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah, dan tidaklah kami beribadah kecuali kepada-Nya, hanya milik-Nya kenikmatan, keutamaan dan sanjungan yang baik. Tidak ada Ilah yang berhak disembah melainkan Allah dengan rasa ikhlas kami beribadah kepada-Nya walaupun orang-orang kafir benci”.

  • Kemudian membaca tasbih, tahmid dan takbir masing-masing 33 kali:
Maha suci Allah :سُبْحَانَ اللهِ
Segala puji bagi Allah: الْحَمْدُ ِللهِ
Allah Maha Besar: اللهُ أَكْبَرُ

  • Kemudian digenapkan yang keseratusnya dengan ucapan:


(( لا إِلَهَ إِلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ))

“Tidak ada Ilah yang berhak disembah melainkan Allah yang Maha Esa tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kekuasaan dan segala pujian dan Dia atas segala sesuatu Maha Kuasa”

  • Dilanjutkan dengan membaca ayat kursi (QS. Al Baqarah: 255).
  • Kemudian membaca surat Al-ikhlas
  • Kemudian membaca surat Al Falaq
  • Lalu membaca surat An-Nas
(Dan disunnahkan mengulang sampai tiga kali untuk tiga surat yang terakhir (
Al-ikhlas, Al-Falaq, An-Nas), khusus setelah shalat subuh dan shalat maghrib. Hal ini berdasarkan hadits shahih dari Nabi.)
  • Di samping itu, sesuai dengan sunnah Nabi pada setiap selesai shalat maghrib dan subuh, juga disunnahkan membaca dzikir di bawah ini 10 kali:

(( لا إِلَهَ إِلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ )) 
“Tidak ada Ilah yang berhak disembah melainkan Allah, Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi-Nya, hanya milik-Nya kekuasaan dan segala pujian. Ia yang menghidupkan dan yang mematikan dan Dia berkuasa atas segala sesuatu”. (HR. Muslim).
  • Apabila ia seorang imam, sesudah mengucapkan istighfar tiga kali, dan mengucapkan: “Allahumma antas salaam wa minkas salaam tabaarakta ya dzal jalali wal ikram” disunnahkan mengubah posisi duduk menghadap kepada jama'ah. Setelah itu barulah ia melanjutkan dzikir sesuai dengan yang dijelaskan di atas. Ini sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits-hadits yang cukup banyak dari Aisyah dalam riwayat Muslim. Semua do’a dan dzikir tersebut hukumnya sunnah bukan wajib.

***
Referensi:
Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz. Tuhfatul Akhyar Bibayaani Jumlah Nafi’ah Mimmaa Warada fil Kitab was Aunnah minal Ad’iyah wal Adzkar. (Terjemahan: Do’a dan Dzikir Pilihan. 2007. Jakarta: Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. Ebook oleh islamhouse.com)

***
Sukrisno Santoso
Ditulis selepas Ashar pada hari Selasa, 6 Mei 2014, di rumah, Kota Sukoharjo


5 Mei 2014

8 Pelajaran dari Hatim Al-A'sham


Disebutkan dalam kitab Mukhtashar Minhajil Qashidin karangan Ibnu Qudamah Al-Maqdisi, dua macam ulama yaitu ulama su’ (buruk) dan ulama akhirat. Ulama su’ (buruk) adalah mereka yang dengan ilmunya ingin mendapatkan kenikmatan di dunia dan mendapatkan kedudukan terpandang di kelompoknya.

Kebalikan dari ulama su’ ialah ulama akhirat. Ibnu Qudamah mengatakan, “Di antara sifat-sifat ulama akhirat, mereka mengetahui bahwa dunia ini hina, sedangkan akhirat adalah mulia. Keduanya seperti dua macam kebutuhan pokok, namun mereka lebih mementingkan akhirat. Perbuatan mereka tidak bertentangan dengan perkataan, kecenderungan mereka hanya kepada ilmu-ilmu yang bermanfaat di akhirat dan menjauhi ilmu-ilmu yang manfaatnya lebih sedikit.”

Berkaitan dengan ulama akhirat, Ibnu Qudamah meriwayatkan sebuah kisah dari Syaqiq Al-Balkhi, bahwa ia pernah bertanya kepada Hatim Al-A’sham –salah seorang muridnya, “Sudah berapa lama engkau menyertai aku? Lalu apa saja pelajaran yang bisa engkau serap?”

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Hatim Al-A’sham berguru kepada Syaqiq Al-Balkhi selama tiga puluh tahun lebih. Hatim Al-A’sham menjawab, “Ada delapan pelajaran.”

Berikut ini delapan pelajaran yang diserap oleh Hatim Al-A’sham dari gurunya tersebut.

1. Aku suka mengamati manusia. Ternyata setiap orang, ada sesuatu yang dicintainya. Namun, jika ia sudah dibawa ke kuburannya, ia harus berpisah dengan sesuatu yang dicintainya. Maka, kujadikan sesuatu yang kucintai adalah amal kebaikanku, agar kebaikan itu tetap menyertaiku di kuburan.

2. Aku merenungi firman Allah, “... dan menahan diri dari keinginan hawa nafsu,” (QS. An-Naziat: 40). Sebisa mungkin aku mengenyahkan hawa nafsu, hingga jiwaku menjadi tenang karena taat kepada Allah.

3. Setelah kurenungi, aku mengetahui bahwa setiap orang mempunyai sesuatu yang bernilai dalam pandangannya, lalu ia pun menjaganya. Kemudian kurenungi firman Allah, “Apa yang di sisi kalian akan lenyap dan apa yang di sisi Allah akan kekal,” (QS. An-Nahl: 96). Setiap kali aku mempunyai sesuatu yang berharga maka aku segera menyerahkannya kepada Allah agar ia kekal di sisi-Nya.

4. Kuamati banyak manusia yang membanggakan harta, keturunan, kemuliaan, dan kedudukannya. Padahal, semua itu tidak ada artinya apa-apa. Lalu kurenungi firman Allah, “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kalian,” (QS. Al-Hujurat: 13). Maka, aku beramal dalam lingkup takwa agar aku menjadi mulia di sisi-Nya.

5. Kulihat manusia sering iri dan dengki. Lalu kurenungi firman Allah, “Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia,” (QS. Az-Zukhruf: 32). Oleh karena itu, kutinggalkan sifat iri dan dengki.

6. Kulihat mereka saling bermusuhan. Lalu kurenungi firman Allah, “Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, Maka anggaplah ia musuh(mu),” (QS. Fathir: 6). Oleh karena itu, aku tidak mau bermusuhan dengan mereka dan hanya setan semata yang kujadikan musuh.

7. Kulihat mereka berjuang habis-habisan untuk mencari rezeki. Lalu kurenungi firman Allah, “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya,” (QS. Hud: 6). Oleh karena itu, aku menyibukkan diri dalam perkara yang memang menjadi kewajibanku dan kutinggalkan sesuatu meskipun memberikan keuntungan kepadaku.

8. Kuamati mereka mengandalkan perdagangan, usaha, dan kesehatan badan mereka, tetapi aku mengandalkan Allah dengan bertawakal kepada-Nya.

Itulah delapan pelajaran yang diserap oleh Hatim Al-A’sham setelah berguru selama tiga puluh tahun lebih kepada Syaqiq Al-Balkhi. Semoga kita bisa mengamalkan apa yang disampaikan oleh Hatim tersebut.

***
Referensi:
Ibnu Qudamah Al-Maqdisi. Mukhtashar Minhajil Qashidin. (Terjemahan: Minhajul Qashidin. Cetakan ke-19. 2013. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar)

***
Sukrisno Santoso
Ditulis pada hari Senin, 5 Mei 2014, di basecamp IMTAQ, Kota Sukoharjo

Inilah Perjalanan Ruh Orang Beriman Menuju Alam Barzakh


Salah satu keyakinan orang-orang beriman yaitu meyakini adanya alam barzakh sesudah kematian. Dalam Aqidah Wasithiyah disebutkan, “Dan termasuk beriman dengan hari akhir adalah beriman dengan segala sesuatu yang Nabi kabarkan tentang apa yang terjadi setelah mati. Maka Ahlussunnah beriman (mempercayai) dengan fitnah kubur dan beriman dengan azab kubur dan nikmat kubur.”

Fitnah kubur adalah benar adanya. Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin memberikan penjelasan, “Fitnah di sini bermakna ujian. Yang dimaksud dengan fitnah kubur adalah apabila selesai dikubur akan diajukan kepada mayit pertanyaan-pertanyaan berupa pertanyaan tentang Rabbnya, agamanya dan nabinya. Sesungguhnya Ahlussunnah wal Jamaah beriman kepada fitnah kubur karena Al-Quran dan Assunnah telah menerangkan demikian.”

Sesungguhnya fitnah kubur sangat dahsyat. Dan orang-orang yang beriman akan melalui fitnah kubur dengan selamat dan mendapat janji surga dari Allah. Bagi orang-orang beriman, Allah benar-benar memberi kabar gembira. Kabar gembira ini tentu akan menenteramkan orang-orang yang beriman.

Allah memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin tentang hal tersebut. Melalui lisan Rasul-Nya, Allah mengabarkan kejadian dicabutnya ruh dari jasad kemudian dinaikkan ruh tersebut ke langit dan kemudian diturunkan kembali ke bumi ke alam kubur.

Perjalanan ruh orang-orang beriman sejak berpisah dengan raganya hingga ke alam barzakh dikisahkan oleh Nabi Muhammad yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Al Barra’ bin ‘Azib berikut ini.

***

Kami berangkat bersama Nabi mengiringi seorang jenazah Anshar. Lantas kami sampai pekuburan. Ketika tanah digali, Rasulullah duduk dan kami duduk di sekitarnya, seolah-olah kepala kami ada burung-burung sedang tangan beliau membawa dahan yang beliau pukulkan ke tanah.
Beliau tengadahkan kepala beliau ke langit dan bersabda, “Mintalah kalian perlindungan kepada Allah dari siksa kubur.” (Beliau mengucapkannya dua atau tiga kali).
Kemudian beliau bersabda, “Seorang hamba mukmin jika berpisah dari dunia dan menghadapi akhirat, malaikat dari langit turun menemuinya dengan wajah putih seolah-olah wajah mereka matahari. Mereka membawa sebuah kafan dari kafan surga dan minyak wangi dari minyak wangi surga hingga duduk di sisinya (yang besarnya malaikat tersebut) sejauh mata memandang. Kemudian malaikat maut datang hingga duduk di sisi kepalanya dan berucap, ‘Wahai jiwa yang tenang, sambutlah olehmu ampunan Allah dan keridhaan.’”
Nabi bersabda, “Lantas jenazah tersebut mengalir sebagaimana tetesan air mengalir dari mulut kendi dan malaikat mencabutnya. Jika malaikat mencabutnya, ia tidak membiarkannya di tangannya sekejap mata pun hingga ia cabut rohnya dan ia masukkan dalam kafan dan minyak wangi tersebut. Maka si mayit meninggal dunia sebagaimana halnya aroma minyak wangi paling harum yang ada dimuka bumi.”
Nabi bersabda, “Malaikat tersebut lantas membawa naik jenazah itu, hingga tidaklah mereka melewati sekawanan malaikat selain mereka bertanya-tanya, ‘Oh, oh, oh, roh siapa sewangi ini?’
Para malaikat menjawab, ’Amboi, ini roh si fulan anak si fulan’, dan mereka sebut dengan nama terbaiknya yang manusia pergunakan untuk menyebutnya ketika di dunia, begitulah terus hingga mereka sampai ke langit dunia dan mereka meminta dibukakan, lantas dibukakan.
Para malaikat ahli taqarrub mengabarkan berita kematiannya kepada penghuni langit berikutnya hingga sampai ke langit ke tujuh, lantas Alllah 'azza wajalla berfirman, ‘Tulislah catatan hamba-Ku di 'iliyyin dan kembalikanlah ia ke bumi, sebab darinya Aku mencipta mereka dan ke dalamnya Aku mengembalikan, serta darinya Aku membangkitkan sekali lagi.”
Nabi bersabda, “Lantas rohnya dikembalikan ke jasadnya, kemudian dua malaikat mendatanginya dan mendudukkannya dan bertanya, 'Siapa Tuhanmu?'.Ia menjawab, 'Tuhanku Allah'.
Tanya keduanya, ‘Apa agamamu?’‘Agamaku Islam,’ jawabnya.
Keduanya bertanya, ‘Bagaimana pendapatmu tentang laki-laki yang diutus kepada kamu ini?’Si mayit menjawab, ‘Dia Rasulullah’.
Keduanya bertanya, ‘Dari mana kamu tahu?’Ia menjawab, ‘Aku membaca kitabullah sehingga aku mengimaninya dan membenarkannya.’
Lantas ada Penyeru di langit memanggil-manggil, ‘Hamba-Ku benar, hamparkanlah surga baginya dan berilah pakaian surga, dan bukakanlah pintu baginya menuju surga.”
Nabi bersabda, “Maka hamba itu memperoleh bau harum dan wangi surga dan kuburannya diperluas sejauh mata memandang. Lantas ia didatangi oleh laki-laki berwajah tampan, pakainnya indah, wanginya semerbak, dan malaikat itu berucap, ‘Bergembiralah dengan kabar yang menggembirakanmu. Inilah hari yang dijanjikan untukmu’.
Si mayit bertanya, ‘Siapa kamu ini sebenarnya, wajahmu adalah wajah yang mendatangkan kebaikan’.Si laki-laki tampan menjawab, ‘Aku adalah amalan salehmu’.
Lantas hamba tadi meminta, ‘Ya Rabbi, tolong jadikan Kiamat sekarang juga sehingga aku bisa kembali menemui keluargaku dan hartaku.’”

***
Demikianlah perjalanan panjang ruh menuju alam barzakh. Orang-orang beriman –atas taufik dari Allah- mampu melewati fitnah kubur. Mereka mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan malaikat di dalam kubur. Jawaban yang benar yang Allah teguhkan pada orang-orang beriman ialah, “Rabb-ku adalah Allah, agamaku Islam, dan Nabiku Muhammad.”

Allah berfirman, “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.” (QS. Ibrahim: 27)

Dalam menafsirkan ayat tersebut, Ibnu Katsir membawakan hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari bahwa Nabi bersabda: “Apabila (jenazah) seorang muslim sudah didudukkan dalam kuburnya maka dia akan dihadapkan (pertanyaan malaikat), kemudian ia bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad utusan Allah. Itulah perkataan seorang muslim sebagaimana firman Allah, ‘Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.’”


Dalam kitabnya At-Ta’liqat Al-Mukhtasharah ‘ala Matni Al-Aqidah Ath-Thahawiyah, Shalih bin Fauzan Al-Fauzan menjelaskan, "Kesaksian seorang mukmin di dalam kubur ini disebabkan imannya kepada Allah dan Rasul-Nya bukan karena belajar atau berwawasan luas. Barangsiapa yang tidak memiliki iman, ia tidak akan bisa menjawab, yaitu orang munafik yang menampakkan iman di dunia dan menyimpan kekufuran di dalam batinnya. Ia (orang munafik) tidak akan bisa menjawab, dan hanya akan mengatakan, 'Ah... ah... saya tidak tahu, aku mendengar orang mengatakan sesuatu maka aku mengatakannya.'"

Alam barzakh ialah negeri tempat singgah sementara sebelum akhirnya menuju negeri keabadian. Bagi orang-orang yang beriman dan dianugerahi rahmat oleh Allah, alam barzakh (kubur) dikatakan oleh Ath-Thahawi sebagai, “kebun indah di antara kebun-kebun surga.”

***
Referensi:
Ibnu Katsir. Tafsir Al-Qur’anil Adzim. Peneliti dan Peringkas: Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh. (Terjemahan: Tafsir Ibnu Katsir. 2008. Jakarta: Penerbit Pustaka Imam Syafi’i)

Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyah bab Al-Iman bil Yaumil Akhir. (Terjemahan: Ada Apa Setelah Kematian. 2008. Tangerang: Pustaka Al-Isnaad)

Shalih bin Fauzan Al-Fauzan. At-Ta’liqat Al-Mukhtasharah ‘ala Matni Al-Aqidah Ath-Thahawiyah. (Terjemahan: Penjelasan Matan Al-Aqidah Ath-Thahawiyah. Cetakan V. 2013. Jakarta: Darul Haq)


***
Sukrisno Santoso
Ditulis saat pagi pada hari Senin, 5 Mei 2014, di rumah, Kota Sukoharjo


3 Mei 2014

Jenis-jenis Mimpi Menurut Islam

Jenis-jenis Mimpi Menurut Islam

Sebagian orang mengatakan bahwa mimpi sekadar bunga tidur. Sebagian yang lain berucap bahwa mimpi adalah angan-angan yang tak nyata. Sedangkan yang lain mengemukakan pendapat bahwa mimpi itu tidak ada artinya apa-apa. Lalu bagaimanakah Islam memandang masalah mimpi?

Dalam Islam, mimpi mempunyai kedudukan yang tinggi. Para Nabi mendapatkan wahyu dari Allah, salah satunya melalui mimpi. Sebagaimana yang terjadi pada Nabi Ibrahim. Allah mewahyukan kepadanya untuk menyembelih anaknya melalui perantara mimpi. Allah berfirman, “Ibrahim berkata, ‘Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!’” (QS. Ash-Shaffat: 102)

Berdasarkan wahyu Allah yang diturunkan melalui mimpi tersebut, Nabi Ibrahim berniat menyembelih anaknya, Ismail. Namun, kemudian Allah menggantinya dengan hewan ternak. Dari peristiwa yang berawal dari mimpi Nabi Ibrahim tersebut, kini umat Islam memperingati Hari Raya Idhul Adha dengan menyembelih hewan kurban.

Demikian halnya dengan Nabi Yusuf yang bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; dan semuanya sujud kepadanya. Allah berfirman, “(ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, ‘Wahai ayahku, Sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.’” (QS. Yusuf: 4)

Dalam menafsirkan ayat tersebut, Ibnu Katsir mengemukakan, “Ibnu Abbas berkata, ‘Mimpi para nabi itu merupakan wahyu.’ Para ulama tafsir telah membicarakan ta’bir (penafsiran) mimpi Nabi Yusuf itu bahwa sebelas bintang menunjukkan saudara-saudaranya yang berjumlah tepat sebelas orang laki-laki, sedang matahari dan bulan menunjukkan pada ibu dan bapaknya.”

“Tafsir dari mimpi tersebut,” lanjut Ibnu Katsir, “menjadi kenyataan 40 tahun kemudian. Ada pula yang mengatakan 80 tahun kemudian. Yaitu ketika ia menaikkan kedua orang tuanya di atas singgasananya, sementara saudara-saudaranya berada di depannya, sedang mereka semua sujud kepadanya, dan Yusuf berkata, “Wahai ayahku, inilah ta'bir mimpiku yang dahulu itu; Sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan,” (QS. Yusuf: 100)

Imam Bukhari dalam kitab Shahih-nya menulis bab “Permulaan Wahyu”. Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskannya dalam Fathul Bari’, “...turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad tidak berbeda dengan cara turunnya wahyu kepada nabi-nabi sebelumnya. Seperti cara turunnya wahyu pertama kali kepada para nabi adalah dengan mimpi, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dalam kitab Dalail dengan sanad hasan dari Alqamah bin Qais, teman Ibnu Mas'ud, dia berkata, “Sesungguhnya wahyu yang pertama turun kepada para nabi adalah dengan cara mimpi sehingga hati mereka menjadi tenang, setelah itu Allah menurunkan wahyu kepada mereka dalam keadaan sadar.”

Mimpi yang benar juga dialami oleh orang-orang saleh. Bahkan mimpi tersebut merupakan bagian dari nubuwah. Rasulullah bersabda, “Mimpi yang baik dari orang yang saleh adalah satu dari 
empat puluh enam bagian kenabian (nubuwah).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain disebutkan, “Mimpi seorang mukmin adalah satu bagian dari empat puluh enam bagian kenabian.”

Adakalahnya seseorang bermimpi yang baik, melihat sesuatu yang indah dan menyenangkan. Di lain waktu bisa jadi ia bermimpi sebaliknya, yaitu mimpi yang buruk dan menakutkan. Di lain waktu, ia bermimpi mendapatkan apa yang diinginkannya atau melakukan kegiatan yang menjadi kebiasaannya.

Dari berbagai keadaan tersebut, mimpi dapat digolongkan menjadi tiga jenis. Pembagian jenis mimpi ini berdasarkan sabda Nabi Muhammad yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Dari Abu Hurairah, dari Nabi Muhammad beliau telah bersabda, “Apabila hari kiamat sudah dekat, maka jarang mimpi seorang muslim yang tidak benar dan orang yang paling benar mimpinya adalah orang yang paling benar bicaranya. Mimpi seorang muslim adalah satu bagian dari empat puluh lima bagian kenabian.

Mimpi itu sendiri terbagi menjadi tiga bagian, yaitu:
1) Mimpi yang baik adalah berita gembira dari Allah.
2) Mimpi yang menyedihkan adalah dari syetan.
3) Mimpi dari bisikan (angan-angan) dari diri sendiri.

Apabila ada seseorang yang bermimpi yang tidak ia sukai, maka bangunlah dan laksanakan shalat serta jangan menceritakan mimpinya kepada orang lain.”

Abdullah bin Muhammad Ath-Thayar menjelaskan –setelah menyebutkan beberapa nash tentang mimpi, “Ru’ya (mimpi) itu tidak keluar dari tiga hal berikut ini:
1) Ru’ya shalihah (mimpi yang baik), yang tidak sedikitpun mengandung sesuatu yang dibenci oleh orang yang melihatnya. Bahkan, di dalamnya terdapat kemaslahatan agama dan dunia.

2) Ru’ya (mimpi) yang merupakan upaya setan untuk menimbulkan rasa duka cita bagi orang yang melihatnya. Mimpi ini dari setan.

3) Ru’ya al-khathir (mimpi lintasan pikiran), yang dinamakan juga oleh Nabi dengan bisikan jiwa seseorang. Adapun, hakikatnya ialah sibuknya alam pikiran seseorang dengan satu permasalahan lalu ia tertidur, kemudian ia melihat hal-hal yang menyibukkan pikirannya tadi. Ini termasuk hal-hal yang tidak ada bahaya ataupun manfaatnya.”

***
Referensi:
Ibnu Katsir. Tafsir Al-Qur’anil Adzim. Peneliti dan Peringkas: Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh. (Terjemahan: Tafsir Ibnu Katsir. 2008. Jakarta: Penerbit Pustaka Imam Syafi’i)

Ibnu Hajar Al-Asqalani. Fathul Bari’ Syarh Shahih Bukhari. (Terjemahan: Fathul Bari’: Penjelasan Kitab Shahih Bukhari. 2002. Jakarta: Penerbit Putaka Azzam. Ebook oleh kampungsunnah.co.nr)

Khalid Al-Anbari & Abdullah bin Muhammad Ath-Thayar. Kamus Tafsir Mimpi. 2008. Kartasura: Penerbit Pustaka Ar-Rayyan)

***
Sukrisno Santoso
Ditulis saat sepertiga malam terakhir pada hari Jumat, 2 Mei 2014, di basecamp IMTAQ, Kota Sukoharjo


2 Mei 2014

Kisah Bekas Perampok Menjadi Ulama


Al-Fudhail bin Iyadh, dijuluki sebagai Abid Al-Haramain (Ahli Ibadah Makkah Madinah). Kawan sejawatnya ialah Imam Malik, Sufyan, dan Ibnul Mubarak. Para ulama memberikan pujian atasnya. Ahmad Farid dalam kitabnya Min A’lam As-Salaf menyebutkan pujian beberapa ulama kepada Al-Fudhail bin Iyadh.

  • Ibnu Sa’ad mengatakan, “Ia adalah tsiqah, memiliki keutamaan, ahli ibadah, wara’, dan banyak hadits.”
  • Adz-Dzahabi mengatakan, “Al-Fudhail bin Iyadh, orang zuhud, syaikh al-haram, salah seorang perawi yang tsabat, disepakati ketsiqahan dan kebesarannya.”
  • Ibnul Mubarak mengatakan, “Menurutku, tidak tersisa lagi di permukaan bumi ini seorang pun yang lebih utama daripada Al-Fudhail bin Iyadh.”

Al-Fudhail bin Iyadh dahulunya ialah seorang perampok atau pemalak jalanan. Kisah taubatnya disebutkan oleh Ibnu Qudamah dalam kitab At-Tawwabin berikut ini.

Dulu Al-Fudhail bin Iyadh menjadi pemalak jalanan. Suatu malam, ia keluar untuk memalak. Ternyata, ada satu kafilah (kelompok) yang mendekat ke arahnya.
Salah seorang dari mereka berkata kepada yang lainnya, “Mari kita singgah terlebih dahulu ke desa ini, karena di hadapan kita ada orang yang biasa merampok bernama Fudhail.”
Fudhail mendengarnya dan menggigil gemetar seraya berseru, “Hai kalian, akulah Fudhail, teruskanlah perjalanan kalian. Demi Allah, aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk tidak mendurhakai Allah untuk selama-lamanya.”
Lalu ia meninggalkan apa yang biasa dilakukannya.
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Fudhail menjamu rombongan kafilah pada malam itu juga. “Kalian aman dari bahaya Fudhail,” seru Fudhail.
Kemudian ia keluar untuk mencari makanan buat mereka. Setelah kembali, tiba-tiba ia mendengar seorang pembaca Al-Quran tengah membaca, “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah,” (QS. Al-Hadid: 16).
Fudhail berseru, “Tentu, telah tiba waktunya....” Inilah awal taubatnya.

Abu 'Ammaar Al-Husain bin Huraits meriwayatkan kisah yang mempunyai kemiripan, sebagaimana dikutip oleh Ustadz Firanda dalam firanda.com berikut ini.

Al-Fadhl bin Musa berkata, “Al-Fudhail bin ‘Iyadh dulunya adalah seorang perampok yang menghadang orang-orang di daerah antara daerah Abiwarda dan dan daerah Sarkhos. Sebab beliau bertaubat adalah beliau pernah terpikat dengan seorang wanita, maka tatkala beliau tengah memanjat tembok untuk menemui (mengintip) wanita tersebut, tiba-tiba saja beliau mendengar seseorang membaca firman Allah, “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah,” (QS Al-Hadid : 16).
Maka tatkala beliau mendengar lantunan ayat tersebut maka beliau langsung berkata, “Tentu saja, wahai Rabbku. Sungguh telah tiba saatku (untuk tunduk hati mereka mengingat Allah).”
Maka beliau pun kembali, dan beliau pun beristirahat di sebuah bangunan rusak. Tiba-tiba saja di sana ada sekelompok orang yang sedang lewat. Sebagian mereka berkata, “Kita jalan terus,” dan sebagian yang lain berkata, “Kita istirahat saja sampai pagi, karena si Fudhail berada di arah jalan kita ini, dan ia akan menghadang dan merampok kita.”
(Mendengar hal ini) Fudhail pun berkata, “Kemudian aku merenung dan berkata, ‘Aku sedang melakukan kemaksiatan di malam hari (yaitu ia berusaha untuk mengintip sang wanita-pent) padahal sebagian dari kaum muslimin di sini ketakutan kepadaku (karena menyangka Fudhal sedang menghadang mereka, padahal Fudhail sedang mau mengintip wanita-pent), dan menurutku tidaklah Allah menggiringku kepada mereka ini melainkan agar aku berhenti (dari kemaksiatan ini). Ya Allah, sungguh aku telah bertaubat kepada-Mu dan aku jadikan taubatku itu dengan tinggal di Baitul Haram’.”
(Lihat biografi beliau di Siyar A'lam An-Nubala dan Tahdzib At-Tahdzib)
***
Referensi:
Ibnu Qudamah Al-Maqdisi. Kitab At-Tawwabin. Peneliti (tahqiq): Abdul Qadir Al-Arnauth. (Terjemahan: Menuju Surga-Mu. 2007. Yogyakarta: Penerbit Uswah, Kelompok Pro-U Media)

Ahmad Farid. Min A’lam As-Salaf. (Terjemahan: Biografi 50 Ulama Ahlisunnah. 2012. Jakarta: Penerbit Darul Haq)

Firanda Andirja. 2010. “Bekas Perampok Jadi Ulama?” dalam http://firanda.com (diakses pada tanggal 2 Mei 2014)

***
Sukrisno Santoso
Ditulis saat hujan gerimis pada hari Jumat, 2 Mei 2014, di rumah, Kota Sukoharjo


1 Mei 2014

Kata-kata Mutiara Abu Ubaidah bin Al-Jarrah


Namanya Abu Ubaidah, Amir bin Abdullah Al-Jarrah Al-Fihri, Al-Qurasyi. Orang terpercaya umat ini. Ia adalah salah satu dari sepuluh orang yang diberi kabar gembira dengan surga.

Ia masuk Islam melalui tangan Abu Bakar Ash-Shidiq pada masa-masa awal dakwah Islam. Ia mempunyai beberapa keutamaan. Ia meninggal dunia karena penyakit tha’un, pada masa penyakit ini mewabah di Syam pada tahun 18 H. Saat itu ia berumur 85 tahun.
Semoga Allah meridhainya.

Berikut ini beberapa kata-kata mutiara yang diriwayatkan darinya, sebagaimana dituliskan oleh Shalih Ahmad Asy-Syam dalam kitabnya, Mawa’izhu Ash-Shahabah.

  • Aku Tahu Apa yang Engkau Butuhkan
Umar pernah menulis surat kepada Abu Ubaidah saat penyakit tha’un mewabah. Isi suratnya adalah, “Sesungguhnya aku sangat membutuhkan sesuatu dan aku tidak bisa penuhi tanpa keberadaanmu. Maka segeralah kemari.”

Setelah membaca surat dari Umar tersebut, Abu Ubaidah berkata, “Aku tahu apa yang diinginkan oleh Amirul Mikminin. Sesungguhnya ia menginginkan keberadaan orang yang tidak kekal.”

Lalu Abu Ubaidah membalas surat Umar dengan menulis, “Sesungguhnya aku mengerti apa yang engkau inginkan. Maka izinkanlah aku untuk tidak memenuhi permintaanmu karena saat ini aku adalah salah seorang dari pasukan muslimin. Dan aku tidak akan mementingkan diriku sendiri dan mengabaikan mereka.”

Setelah membaca surat Abu Ubaidah, Umar menangis. Lalu ada yang bertanya kepadanya, “Apakah Abu Ubaidah telah meninggal?”
Ia menjawab, “Tidak, tetapi seakan-akan ia telah tiada.

  • Kehancuran
“Kehancuran itu adalah: orang yang berbuat dosa, lalu ia tidak pernah melakukan satu kebaikan pun setelah itu, hingga ia meninggal.”

  • Buah Kebaikan
“Ketahuilah, sudah berapa banyak orang selalu membersihkan bajunya, namun menodai agamanya. Ketahuilah, sudah berapa banyak orang yang memuliakan dirinya sendiri, padahal ia justru menghinakannya.

Tutuplah keburukan-keburukan yang telah lalu dengan kebaikan-kebaikan yang baru. Seandainya salah seorang dari kalian melakukan keburukan hingga memenuhi apa yang ada di antara langit dan bumi, kemudian ia berbuat sebuah kebaikan, niscaya kebaikan itu akan lebih tinggi daripada keburukan-keburukannya hingga meleburnya.”

  • Bagian dari Kulitnya 
“Tidak seorang pun -baik berkulit hitam maupun merah, merdeka maupun sahaya (budak), orang Arab maupun bukan- yang aku tahu bahwa ia lebih tinggi ketakwaannya daripada aku, kecuali aku pasti lebih suka menjadi bagian dari kulitnya.”

  • Seperti Kertas
“Hati seorang mukmin itu bagaikan selembar kertas yang selalu berbolak-balik begini dan begitu setiap hari.”

  • Andaikan Aku
“Andaikan aku seekor kambing. Lalu pemilikku menyembelihku, kemudian mereka makna dagingku dan menyamak kulitku.”

(Maksudnya, lebih baik baik menjadi hewan yang mati disembelih tanpa menjalani tanggung jawab apapun setelahnya. Sedangkan menjadi manusia, setelah mati, ia masih harus mempertanggungjawabkan amal-amal perbuatannya di akhirat kelak)

  • Introspeksi Diri
Suatu ketika, Abu Ubaidah pernah mengimami (shalat) suatu kaum. Setelah selesai, ia berkata, “Setan masih saja menggangguku tadi, hingga ditampakkan kepadaku bahwa aku mempunyai kelebihan atas yang lain. Maka mulai saat ini aku tidak mau menjadi imam lagi selamanya.”

***
Referensi:
Shalih Ahmad Asy-Syami. Mawa’izu Ash-Shahabah. (Terjemahan: Untaian Hikmah Pelembut Jiwa. 1999. Sukoharjo: Penerbit Roemah Buku)

***
Sukrisno Santoso
Ditulis pada waktu sore, Kamis, 1 Mei 2014, di rumah, Kota Sukoharjo



PROMO BUKU

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More