MUSLIMAH

Menuju Insan yang Shalihah

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

MUTIARA DAKWAH

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

12 Oktober 2012

Pengertian Ikhlas

Pengertian Ikhlas secara bahasa dan istilah
 
Banyak ulama yang mengemukakan definisi ikhlas. 'Umar Sulayman Al-Asyqar dalam kitab Al-Ikhlas mengemukakan definisi ikhlas dari beberapa ulama, baik secara terminologi maupun epistemologi.

Definisi ikhlas yang banyak dikemukakan tidak berbeda jauh. Intinya adalah menunjukan seluruh ibadah kepada Allah, bukan kepada yang lain. Al-Raghib berkata dalam kitab Mufradat, "Ikhlas adalah menyingkirkan segala sesuatu selain Allah."

Abu Al-Qasim Al-Qusyairi menyatakan bahwa seorang yang ikhlas adalah "yang berkeinginan untuk menegaskan hak-hak Allah dalam setiap perbuatan ketaatannya. Dengan ketaatannya itu ia ingin mendekatkan diri kepada Allah, bukan kepada yang lain. Ia berbuat bukan untuk makhluk, bukan untuk mendapatkan pujian manusia, atau sanjungan dari siapa pun. Satu-satunya yang ia harapkan adalah kedekatan kepada Allah."

Di tempat lain ia (Abu Al-Qasim Al-Qusyair) mengatakan, "Tidak salah jika dikatakan bahwa ikhlas adalah memurnikan perbuatan dari pamrih apa pun terhadap makhluk."

Sementara, Izz Ibn Abdussalam mengatakan, "Ikhlas adalah melakukan ketaatan karena dan demi Allah semata, bukan karena diagungkan atau dimuliakan oleh manusia, juga bukan untuk memperoleh keuntungan agama, atau menolak kemudharatan dunia."


Ulama yang lain, Harits Al-Muhasibi menyatakan, "Ikhlas adalah mengenyahkan makhluk dari hubungan antara seseorang dengan Tuhan."

Definisi lain dikemukakan oleh Sahl Ibn Abdullah, bahwa "Ikhlas adalah menjadikan seluruh gerak dan diam hanya untuk Allah."

Al-Ghazali, setelah mengutip definisi di atas mengatakan bahwa "Ikhlas adalah satu kata yang menghimpun dan meliputi seluruh maksud."

Inti makna ikhlas dalam berbagai buku bahasa adalah murni, atau suci dari noda yang mencampuri sesuatu, Misalnya, jika ada yang mengatakan, "Barang ini murni (khalis) untukmu," berarti tidak ada yang berhak atas barang ini selain dirimu.

Orang Arab juga menggunakan kata Ikhlas untuk menyebut roti murni yang tak bersusu dan tak berkeledak. Sedangkan kata ikhlas dalam bahasa Arab berarti sesuatu yang dimurnikan dengan api, di antaranya emas atau perak.

Kata khalis (min al-awan) berarti sesuatu yang benar-benar bersih, jernih, atau murni. Kata khalashahu berarti menjernihkannya atau memurnikannya.

Ikhlas dalam pengertian di atas terungkap dalam sejumlah ayat Al-Quran, di antaranya:
"Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah,..." (QS. An Nahl: 66)
Maksudnya, tidak bercampur darah dan kotoran.

Firman Allah, "Mereka (saudara-saudara Yusuf) memurnikan diri dan berunding dengan berbisik-bisik." (QS. Yusuf: 80)
Maksudnya, mereka menyendiri dan menyepi dari orang lain.
Ayat- Al-Quran yang berbicara tentang orang musyrik, "..., murni untuk pria kami." (QS. Al-An'am: 139)
Maksudnya adalah wanita-wanita tidak bersekutu dengan mereka.

Allah berfirman tentang perhiasan dan makanan yang lezat-lezat,
"Katakanlah, 'Siapa yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang dikeluarkannya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pula yang mengharamkan) makanan yang enak-enak?' Katakanlah, 'Semua itu (disediakan) bagi orang yang beriman di kehidupan dunia, murni (untuk mereka saja) di hari Kiamat. "QS. Al-A'raf: 32)
Kata ikhlas dalam ayat ini menunjukkan bahwa orang kafir tidak ikut menikmati semua nikmat itu di akhirat nanti.

Dari uraian di atas, kita tidak melihat adanya perbedaan dalam pengertian ikhlas, baik dari segi bahasa maupun isilah. Antara keduanya saling terkait dan bersesuaian. Ikhlas mengarah pada upaya memurnikan maksud dan tujuan kepada Allah dari segala bentuk noda, campuran, dan segala hal lain yang merusak, yang melekati maksud dan tujuan itu. Artinya, semua ibadah yang dilakukan murni dimaksudkan dan ditujukan kepada Allah, bukan kepada yang lain.


Sukoharjo, 3 Oktober 2012


0 komentar:

Posting Komentar

PROMO BUKU

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...