MUSLIMAH

Menuju Insan yang Shalihah

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

MUTIARA DAKWAH

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

15 Juni 2013

Sumber Kebahagiaan Manusia


Kebahagiaan. Perkara yang selalu dicari oleh setiap orang. Sebuah cita-cita yang selalu berusaha diraih oleh manusia. Tidak ada seorang pun yang mau hidup sengsara. Namun, hakikat kebahagiaan ini pada pandangan manusia berbeda-beda sehingga berbeda-beda pula cara yang ditempuh untuk mewujudkannya.

Di antara mereka ada yang mencari dengan cara yang justru menjerumuskan dirinya pada kesengsaraan. Misalnya, mencari kebahagiaan dengan melakukan perbuatan yang haram, mencarinya dengan cara meneguk minuman keras dan mengkonsumsi obat-obatan terlarang. Ini semua tidak bisa mendatangkan kebahagiaan sedikitpun. Bahkan –demi Allah– sebaliknya, dia telah mengantarkan diri dan keluarganya pada kehancuran.

Ada juga manusia yang mengharapkan kebahagiaan dengan cara melakukan dosa-dosa besar, tindakan keji dan kemungkaran. Padahal, maksiat hanya akan menambahkan kegelapan dan kegelisahan dalam hati, bukan kebahagiaan. Sebagian mencoba menggapai kebahagiaan dengan mengumpulkan harta walaupun dengan cara haram. Dia tidak peduli bagaimana harta ia dapatkan, yang penting baginya adalah harta terkumpul meski dihasilkan melalui praktek riba, jual-beli yang haram, kecurangan, dan praktek transaksi haram lainnya.

Dan begitu seterusnya. Masing-masing menempuh cara-cara berbeda guna mencapai kebahagiaan untuk diri dan keluarganya. Padahal, kebahagiaan itu hanya akan menghampiri hati orang-orang yang mencarinya pada kebenaran yang telah dijelaskan dengan tuntas dalam Al-Quran dan Sunnah Nabi.

Kebahagiaan itu tidak mungkin dapat diraih dengan menempuh jalan yang tidak diridhai Allah meski terkadang pelakunya dapat merasakan kesenangan dengan cara maksiat. Namun, itu hanya sesaat. Kemudian setelah itu, berganti dengan kepedihan yang berkepanjangan. Sebagimana dilukiskan dalam syair berikut.
Kesenangan akan lenyap dari orang yang mencarinya
Melalui perkara yang haram; hinaan dan celaan
Itulah yang tersisa
Dampak-dampak buruknya akan senantiasa meliputi pelakunya
Apatah arti sebuah kesenangan yang berujung pada neraka


Oleh karena itu, seorang muslim yang telah dimudahkan oleh Allah untuk memperoleh ilmu dan dilapangkan hatinya untuk menerima kebaikan, ia tahu benar bahwa hidayah itu di tangan Allah, dan tidak akan bisa diperoleh kecuali dengan menaati-Nya. Ada ungkapan singkat yang mestinya kita hafal dan perhatikan dengan baik, kemudian kita ajarkan kepada anak-anak kita. Kita sebarkan di sekolah-sekolah dan para karib kerabat yang kita cintai. Yaitu, ‘Kebahagiaan itu di tangan Allah, dan tidak akan bisa diraih kecuali dengan menaati Allah’. Inilah kalimat singkat yang mewakili sekian banyak ungkapan lainnya.

Kaum muslimin meyakini dengan sepenuh hati bahwa segala sesuatu di tangan Allah. Apa yang dikehendaki-Nya pasti terjadi dan yang tidak dikehendaki-Nya pasti tidak akan terjadi. Mereka juga yakin bahwa segala sesuatu berjalan sesuai dengan qadha dan taqdir-Nya. Tidak ada yang mampu melawan kehendak dan takdir-Nya.

Di antara ungkapan yang bagus tentang hal ini adalah bait-bait syair yang indah yang berasal dari Imam Syafi’i:
Apa yang Engkau kehendaki pasti akan terjadi walaupun aku tidak menghendakinya
Dan apa yang aku kehendaki tidak akan terjadi jika Engkau tiada menghendakinya
Engkau ciptakan para hamba dengan ilmu-Mu
Yang tua dan yang muda berjalan di atas pengetahuan-Mu
Yang ini Engkau berikan anugerah dan yang itu Engkau biarkan
Yang ini Engkau tolong dan yang itu tidak ditolong
Di antara mereka ada yang bahagia dan ada pula yang sengsara
Di antaranya ada yang buruk rupa, ada pula yang elok menawan


Artinya, segala sesuatu itu di tangan Allah. Jika meyakini hal tersebut, seorang muslim hanya akan menyandarkan seluruh harapannya kepada Allah. Hanya meminta dna menyerahkan segala urusan kepada-Nya. Akan selalu memohon agar Allah berkenan menjadikannya termasuk hamba-hamba yang berbahagia dan mampu menempuh jalur-jalur untuk dapat meraihnya.

Allah telah mentakdirkan dengan takdir kauni dan syar’i bahwa kebahagiaan tidak akan diperoleh melainkan dengan senantiasa patuh dan taat kepada-Nya dan menjauhkan diri dari perbuatan maksiat. Sementara tiada seorang pun yang mampu menolak ketentuan-Nya.

Banyak dalil dalam Al-Quran dan Sunnah tentang ini. Di antarnya, firman Allah berikut.

“Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaha: 123-124) 
Ini merupakan takdir yang telah digariskan oleh Allah bahwa barangsiapa mengikuti petunjuk Allah, ia akan senantiasa berada di atas petunjuk dan dalam kebahagiaan yang abadi di dunia dan akhirat. Sebaliknya, siapa yang berpaling dari peringatan Allah, niscaya akan selalu terhimpit kesusahan, kegundahan, kerisauan, dan kesedihan. Kemudian pada akhirnya penderitaan tersebut diakhiri dengan azab yang pedih dan penyesalan.


Dikutip dari:
Transkip ceramah Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Abbad di Masjid Istiqlal Jakarta pada tanggal 18 Januari 2010. Transkip oleh Majalah As-Sunnah Edisi Khusus Ramadhan - Syawal 1431 H / Agustus - September 2010. 


18 Mei 2013

Faktor-faktor Menurunnya Iman


Bila seorang muslim dituntut mengetahui faktor-faktor penguatnya iman agar dia menerapkannya, maka demikian juga dia dituntut untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat mengurangi iman agar dia waspada dan menjauhinya. Dan perlu disampaikan terlebih dahulu bahwa menyepelekan masalah faktor-faktor kembang kempesnya iman termasuk faktor utama lemahnya iman.

Faktor-faktor lemahnya iman banyak sekali, namun dapat diklasifikasikan menjadi dua: faktor internal (dalam) dan faktor eksternal (luar).

Adapun faktor internal adalah sebagai berikut, di antaranya:
  1. Kejahilan/Kebodohan Tentang Ilmu Agama
  2. Kelalaian
  3. Berbuat Dosa
  4. Jiwa yang Mengajak pada Kejelekan

Sementara itu, faktor-faktor eksternal (luar) juga banyak sekali, di antaranya:
  1. Setan
  2. Fitnah Gemerlapnya Dunia
  3. Teman yang Jelek


Faktor Internal

1. Kejahilan/Kebodohan Tentang Ilmu Agama
Sebagaimana ilmu adalah faktor bertambahnya iman, maka demikian juga sebaliknya, kejahilan adalah faktor utama lemahnya iman. Jika ilmu adalah sumber segala kebaikan maka demikian juga kejahilan adalah sumber segala kejelekan.

Orang yang berbuat syirik, dosa, kezaliman, dan kemaksiatan, sebab utamanya adalah kejahilan. Allah عزّوجلّ berfirman:
قَالُواْ يَا مُوسَى اجْعَل لَّنَا إِلَـهاً كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ
Bani Israil berkata: "Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)." Musa menjawab: "Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan)." (QS. al-A'raf[7]: 138)

Oleh karena itu, para ulama salaf seperti Abu Aliyah, Qatadah, Mujahid, dan sebagainya menyebutkan bahwa setiap orang berbuat dosa maka dia adalah jahil.1 Mengapa demikian? Syaikhul Islam menjelaskan karena ilmu yang sejati adalah ilmu yang mencegah seorang dari menyelisihi apa yang dia ketahui berupa ucapan atau perbuatan.2

Maka kejahilan adalah penyakit ganas yang menjerumuskan pemiliknya kepada jurang kebinasaan. Oleh karenanya hendaknya seorang untuk bersegera mengobatinya dengan ilmu yang bermanfaat agar dia tidak terus bergelimang dalam kejahilan.

2. Kelalaian

Kelalaian dan sikap acuh adalah sifat orang-orang kafir dan munafik. Allah سبحانه و تعالى sering mencelanya dalam al-Qur'an. Allah عزّوجلّ berfirman:
وَإِنَّ كَثِيراً مِّنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ
Dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami. (QS. Yunus [10]: 92)

يَعْلَمُونَ ظَاهِراً مِّنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ
Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai. (QS. ar-Rum [30]: 7)

Maka tanyakanlah pada dirimu: "Sampai kapankah kelalaian ini?" Sudah saatnya Anda bangun dan sadar dari kelalaian Anda selama ini untuk menuju ketaatan kepada Allah عزّوجلّ.

3. Berbuat Dosa
Dosa sangat mempengaruhi lemahnya iman. pengaruhnya bertingkat-tingkat sesuai dengan jenisnya apakah dosa kecil atau besar, waktunya, ukurannya, pelakunya dan lain sebagainya.

Dan sebagai penopang seorang hamba agar tidak terjerumus dalam kubang dosa adalah hendaknya dia selalu ingat bahwa dosa akan menimbulkan bahaya dan dampak negatif yang sangat berbahaya bagi dirinya dan orang lain.
 
4. Jiwa yang Mengajak pada Kejelekan
Hampir tidak ada manusia yang lepas dari jiwa yang mengajak kepada keburukan ini kecuali orang-orang yang diberi taufik oleh Allah عزّوجلّ.
وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلاَّ مَا رَحِمَ رَبِّيَ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Yusuf [12]: 53)

Jiwa yang mengajak kepada keburukan ini sangat berbahaya bagi iman seorang hamba jika dilepas kendalinya begitu saja. Sebab itu, hendaknya seorang hamba selalu berintrospeksi dan berusaha mengekang nafsunya dari kejelekan sehingga dia selamat dari mara bahaya.

Faktor Internal
 
1. Setan
Setan memiliki misi dan ambisi untuk merusak iman seorang hamba. Jika seorang hamba pasrah dan menyerah pada bisikan dan godaan setan, maka dia akan menjadi budak setan dan akan semakin lemah imannya. Karena itu, Allah عزّوجلّ mengingatkan kita semua agar berhati-hati dari tipu daya setan.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَن يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاء وَالْمُنكَرِ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. (QS. an-Nur [24]: 21)

Maka bagi setiap hamba yang ingin menyuburkan imannya untuk melawan nafsunya agar tidak tertipu dengan godaan dunia yang sangat banyak sekali. Dan hal itu terwujudkan dengan dua hal:
Pertama: Memahami bahwa dunia ini finishnya adalah fana dan kehancuran.
Kedua: Menyongsong kehidupan akhirat yang penuh nikmat dan abadi.

Ibnul Jauzi رحمه الله berkata, "Sewajibnya bagi setiap hamba yang berakal untuk waspada dari tipu daya setan yang telah memproklamasikan permusuhannya sejak masa Nabi Adam عليه السلام. Dia telah menghabiskan seluruh umurnya untuk merusak anak Adam."1

Setan adalah musuh bebuyutan yang sangat berambisi untuk merusak iman dan aqidah. Barangsiapa yang tidak membentengi dirinya dengan dzikir kepada Allah سبحانه و تعالى dan berlindung kepada-Nya maka dia akan menjadi prajurit setan yang terombang-ambing dalam dosa. Sungguh, alangkah malangnya dan rusaknya iman prajurit setan!!

2. Fitnah Gemerlapnya Dunia
Termasuk perusak iman adalah sibuk dengan gemerlapnya dunia dan mengikuti arus godaan dunia. Ibnul Qayyim رحمه الله berkata, "Semakin manusia cinta terhadap dunia maka semakin malas dari ketaatan dan amal untuk akhirat sesuai dengan kadarnya."1

Oleh sebab itu, Allah عزّوجلّ banyak menjelaskan dalam al-Qur'an tentang hinanya dunia dan celaan terhadanya, di antaranya firman Allah سبحانه و تعالى:
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرّاً ثُمَّ يَكُونُ حُطَاماً وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (QS. al-Hadid [57]: 20)

3. Teman yang Jelek
Mereka adalah perusak iman dan akhlak yang sangat dominan. Nabi صلى الله عليه وسلم pernah bersabda:
الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
"Seorang itu berdasarkan agama temannya, maka hendaknya seseorang melihat dengan siapakah dia berteman." (HR. Abu Dawud 13/179 - Aunul Ma'bud, Tirmidzi 4/589, Ahmad 2/203, al-Hakim 4/171; hadits ini hasan. Lihat Silsilah Ahadits ash-Shahihah 2/634 oleh al-Albani.)
 
Islam melarang kita berteman dengan teman-teman yang rusak karena tabiat manusia itu meniru temannya. Bila dia berteman dengan para penuntut ilmu maka akan bangkit semangat menuntut ilmu. Bila berteman dengan orang yang cinta dunia maka akan bangkit cinta dunia, dan demikian seterusnya.

Maka hendaknya seorang memilih teman-teman yang baik sehingga membuahkan kebaikan dan manf aat baginya serta pengaruh yang positif baginya dan sebaliknya hendaknya mewaspadai dari teman-teman yang rusak karena pengaruh mereka sangatlah besar. Betapa banyak orang baik menjadi rusak karena teman.

Termasuk dalam hal ini pada zaman kita sekarang adalah duduk menyaksikan parabola dan situs-situs rusak yang beredar di dunia maya yang diselundupkan oleh musuh-musuh Islam ke rumah-rumah kaum muslimin sehingga menyebarlah racun-racun yang ganas.

Maka hendaknya bagi kaum muslimin untuk menjaga dirinya dan rumahnya dari perusak-perusak iman.

Hanya kepada Allah عزّوجلّ kita memohon agar Allah memantapkan iman kita dan menghindarkan kita semua dari perusak-perusaknya., Amin…[]

 
Sukoharjo, 17 Mei 2013
 
Dikutip dari:
Faktor-faktor Pasang Surutnyanya Iman. Disadur secara bebas oleh Ustadz Abu Ubaidah Yusuf as-Sidawi dari kitab Asbabu Ziyadatil Iman wa Nuqshanihi karya Syaikh Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad. Ebook oleh http://ibnumajjah.wordpress.com


17 Mei 2013

Faktor Bertambahnya Iman


Allah عزّوجلّ menjadikan segala sesuatu pasti ada sebabnya, demikian halnya dengan iman, Allah سبحانه و تعالى telah menjadikan beberapa faktor bertambahnya iman dalam al-Qur'an atau melalui lisan rasul-Nya, di antaranya adalah:

  1. Menuntut Ilmu Syar’i
  2. Membaca al-Qur'an dan Merenunginya
  3. Memahami Nama dan Sifat Allah عزّوجلّ
  4. Mempelajari Sirah Perjalanan Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم
  5. Merenungi Keindahan Agama Islam
  6. Membaca Kisah-kisah Salaf Shalih
  7. Memikirkan Kekuasaan Allah عزّوجلّ dalam Makhluk-Nya
  8. Semangat beramal shalih

1. Menuntut Ilmu Syar’i
Ini adalah faktor yang paling penting, yaitu menuntut ilmu syar'i yang bersumber dari al-Qur'an dan sunnah Rasulullah صلى الله عليه وسلم sesuai dengan pemahaman salaf shalih. Bertambahnya iman dengan sebab ilmu dari sisi ketika dia keluar menuntut ilmu, duduk di majelis ilmu, mempelajari masalah ilmu, dan mengamalkan ilmu.

Sungguh betapa banyak ayat-ayat al-Qur'an dan hadits Nabi صلى الله عليه وسلم yang menunjukkan tentang keutamaan ilmu. Hal itu karena ilmu adalah sarana yang mengantarkan seorang untuk beribadah kepada Allah صلى الله عليه وسلم secara benar.

Namun, perlu diketahui bahwa ilmu yang bermanfaat dan dianjurkan oleh syari'at adalah ilmu yang membuahkan amal karena ilmu hanyalah sarana belaka, sedang intinya adalah amal. Camkanlah baik-baik ucapan Imam Ibnul Qayyim رحمه الله tatkala mengatakan, "Setiap ilmu dan amal yang tidak menambah kuatnya iman maka ia tercemar."

2. Membaca Al-Quran dan Merenunginya
Ini juga merupakan faktor yang sangat penting untuk bertambahnya iman sebab Allah عزّوجلّ menurunkan Al-Quran kepada para hamba-Nya sebagai petunjuk, cahaya, rahmat, dan peringatan. Oleh karena itu, Allah سبحانه و تعالى mengabarkan bahwa orang-orang yang beriman apabila membaca
Al-Quran maka akan bertambah iman mereka.


إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal. (QS. al-Anfal [8]: 2)

Syaikh Muhammad Rasyid Ridha رحمه الله berkata, "Ketahuilah bahwa kuatnya agama dan iman tidak mungkin diraih kecuali dengan banyak membaca
Al-Quran atau mendengarkannya dengan penuh renungan dan dengan niat untuk mengamalkan perintah dan menjauhi larangannya."

Namun, perlu ditandaskan bahwa maksud membaca
Al-Quran yang merupakan faktor penyubur iman di sini bukan hanya sekadar membaca, melainkan membacanya dan memahami makna kandungannya serta mengamalkan isinya. Oleh karena itu, Allah عزّوجلّ mengabarkan bahwa tujuan inti Al-Quran ini diturunkan adalah untuk dipelajari dan direnungi bersama.
كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ
Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran. (QS. Shad [38]: 29)
3. Memahami Nama dan Sifat Allah عزّوجلّ
Memahami nama dan sifat Allah عزّوجلّ akan menjadikan hamba makin mengenal Allah سبحانه و تعالى dan takut kepada-Nya sehingga memotivasi dirinya untuk berbuat amal ketaatan. Allah سبحانه و تعالى berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء
Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. (QS. Fathir [35]: 28)

Seorang ulama salaf mengatakan, "Barangsiapa semakin mengenal Allah عزّوجلّ maka akan semakin takut kepada Allah."

Contohnya, jika seorang hamba mengetahui bahwa Allah Maha Mendengar dan Melihat maka hal itu akan menjadikan dirinya untuk menjaga anggota tubuhnya dan mengarahkan anggota tubuhnya dalam kecintaan kepada Allah عزّوجلّ.

4. Mempelajari Sirah Perjalanan Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم
Mempelajari sirah perjalanan hidup Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم merupakan faktor penguat iman karena pada diri beliau tersimpan akhlak yang mulia dan contoh yang sangat indah. Siapa pun yang mau mempelajari sirah Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang terdapat dalam
Al-Quran dan hadits Nabi صلى الله عليه وسلم maka akan menjadikannya terpacu untuk semakin cinta kepada Nabi صلى الله عليه وسلم yang membuahkan semangat tinggi untuk mencontoh beliau dalam ucapan dan perbuatannya. 
"Dan ilmu yang paling pokok dan paling bermanfaat adalah mempelajari sirah Nabi صلى الله عليه وسلم dan sahabatnya".
 
5. Merenungi Keindahan Agama Islam
Sesungguhnya Islam adalah agama yang indah dalam semua bidang. Aqidahnya paling benar, akhlaknya paling indah, serta hukumnya paling adil dan bijaksana. Bila hal ini telah tertanam dalam hati maka seseorang akan merasakan kelezatan iman dalam hati. Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ
"Ada tiga hal, apabila ada pada diri seorang maka dia akan merasakan lezat/manisnya iman: apabila Allah dan rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya; apabila mencintai seorang dia mencintainya tidak lain karena Allah; dan orang yang takut untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana dia tidak ingin dicampakkan ke dalam Neraka." (HR. Bukhari 1/22 dan Muslim 1/66)

Maka golongan yang ketiga tersebut tidak mau kembali kepada kekufuran. Mengapa?! Karena dia masuk Islam berdasarkan ilmu dan kemantapan hati. Dia betul-betul yakin akan keindahan agama Islam dibandingkan dengan agama-agama lainnya. Jika memang dia telah nyaman dengan keindahan Islam, lantas untuk apa dia berpindah agama?!

6. Membaca Kisah-kisah Salaf Shalih
Kisah-kisah para salaf shalih, khususnya para sahabat Nabi صلى الله عليه وسلم bertabur dengan pelajaran berharga dan iman. Siapa pun yang mau mencermati sirah perjalanan mereka, akhlak mereka, kesungguhan mereka dalam mengikuti Nabi صلى الله عليه وسلم, konsentrasi mereka dalam menjaga iman, rasa takut mereka dari dosa, riya', nifaq (kemunafikan), dan semangat mereka dalam ibadah dan amal shalih yang tercatat dalam dalam kitab-kitab tarikh (sejarah), sirah, zuhud, dan lainnya maka akan tergerak hatinya untuk meniru keindahan hidup mereka. 
Sungguh benar ucapan Syaikhul Islam رحمه الله tatkala mengatakan, "Siapa saja yang lebih menyerupai mereka, maka keadaannya akan semakin sempurna."

7. Memikirkan Kekuasaan Allah عزّوجلّ dalam Makhluk-Nya
Allah telah menganjurkan kepada umat manusia untuk merenungi dan memikirkan keajaiban makhluk-makhluk ciptaan-Nya.

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنزَلَ اللّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِن مَّاء فَأَحْيَا بِهِ الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَآبَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخِّرِ بَيْنَ السَّمَاء وَالأَرْضِ لآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. (QS. al-Baqarah [2]: 164)

Perhatikanlah secara saksama keajaiban-keajaiban makhluk Allah سبحانه و تعالى di sekitar anda; langit, bumi, matahari, bulan, rembulan, bintang, malam, siang, gunung, pohon, lautan, sungai, hewan, bahkan keajaiban ciptaan Allah عزّوجلّ yang ada pada diri kita sendiri terdapat pelajaran berharga yang bila kita merenunginya maka akan menambah iman kita kepada Allah عزّوجلّ.

8. Semangat Beramal Shalih

Di antara faktor penguat iman yang sangat penting adalah semangat untuk mengerjakan amal shalih ikhlas karena Allah سبحانه و تعالى dan selalu kontinu menjaganya. Sesungguhnya setiap amal shalih yang dilakukan oleh seorang muslim akan semakin menambah kuatnya iman sebab iman itu bertambah dengan ketaatan.

Dan ibadah yang disyari'atkan itu bermacam-macam modelnya, adakalanya dengan hati, lisan, dan anggota badan. Contoh amalan hati ialah ikhlas, cinta, tawakal, takut, berharap, ridha, sabar, dan sebagainya. Contoh amalan lisan ialah membaca
Al-Quran, istighfar, takbir, tasbih, tahlil, shalawat, dan sebagainya. Adapun contoh ibadah amalan badan ialah wudhu, shalat, shadaqah, haji, dan sebagainya.

Oleh karena itu, para ulama salaf selalu mengatakan, "Marilah duduk sebentar bersama kami untuk menambah iman."




Dikutip dari:
Faktor-faktor Pasang Surutnyanya Iman. Disadur secara bebas oleh Ustadz Abu Ubaidah Yusuf as-Sidawi dari kitab Asbabu Ziyadatil Iman wa Nuqshanihi karya Syaikh Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad. Ebook oleh http://ibnumajjah.wordpress.com
Sukoharjo, 17 Mei 2013
 

Sekali Saja dalam Sepekan


Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, dari Abu Wa'il berkata, "Bahwasanya Abdullah bin Mas'ud memberi nasehat kepada masyarakat setiap hari Kamis. Lalu salah seorang bertanya kepadanya, 'Wahai Abu Abdurrahman, alangkah senangnya saya jika engkau memberi nasehat kepada kami setiap hari.'

Abdullah bin Mas'ud menjawab, 'Yang menghalangiku untuk melakukan hal itu adalah saya khawatir kalian bosan. Maka, aku menasehati kalian dengan tidak terus-menerus., sebagaimana Rasulullah melakukan hal itu kepada kami karena khawatir rasa bosan menimpa kami.'"

Abdullah bin Mas'ud menasehati manusia setiap hari Kamis, sekali dalam sepekan, tidak lebih dari itu, walaupun orang-orang memintanya lebih dari itu. Abdullah bin Mas'ud menerangkan bahwa Rasulullah juga melakukan hal yang sama, dan ia juga ingin mengikuti sunnah Nabi, serta menerangkan hikmah perbuatannya itu.

Ada beberapa faedah yang dapat dipetik dari hadits di atas, sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Shalih Ahmad Asy-Syami dalam kitabnya Mawa'izhu Ash-Shahabah, yaitu:
  1. Bahwasannya Nabi menasehati manusia, dan tidak memperbanyak nasehat sehingga tidak membuat mereka merasa jenuh.
  2. Bahwasanya nasehat ini tidak berkaitan dengan wahyu yang harus segera disampaikan, apalagi ia berkaitan dengan waktu tertentu. Ini berarti sasaran dari peringatan itu adalah memberikan nasehat, dan mengingatkan sesuatu yang telah disampaikan sebelumnya, atau perkara-perkara yang berkaitan dengan akhlak serta hari Kiamat.
  3. Bahwasanya para Sahabat mengambil peran mereka dengan melaksanakan kewajibannya, yaitu menasehati manusia setelah wafatnya Rasulullah. Dan di antara mereka adalah Abdullah bin Mas'ud dan yang lainnya.
  4. Bahwasannya para Sahabat mencontoh Rasulullah dalam segala macam amalannya.

*Sukoharjo, 26 September 2012


7 Mei 2013

Manfaat Menundukkan Pandangan



Allah telah memerintahkan kita untuk menundukkan pandangan (ghadhul bashar). Karena mengumbar pandangan mendatangkan banyak keburukan. Pandangan mata ibarat anak panah yang beracun. Ia dapat merusak hati sebagaimana racun yang dapat merusak badan. Maka, menundukkan pandangan mempunyai manfaat yang besar untuk menjaga hati.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam kitabnya Ad-Da' wa Ad-Dawa' menyebutkan beberapa manfaat dari menundukkan pandangan, di antaranya yaitu berikut ini.
  1. Menjalankan perintah Allah yang merupakan inti dari kebahagiaan hamba dalam kehidupan dunia maupun akhirat.
  2. Mencegah dari pengaruh anak panah yang beracun.
  3. Menjadikan hati dekat dengan Allah. Sebab, mengumbar pandangan akan memecah hati dan menjauhkan hati dari Allah.
  4. Meneguhkan dan menghibur hati. Sebaliknya, mengumbar pandangan akan melemahkan dan menyebabkan kesedihan dalam hati.
  5. Melahirkan cahaya di dalam hati. Sebaliknya, mengumbar pandangan bisa menyebabkan hati menjadi gelap gulita.
  6. Melahirkan firasat yang benar yang bisa membedakan antara yang benar dan yang batil.
  7. Menjadikan hati teguh dan berani.
  8. Mencegah masuknya setan ke dalam hati karena setan masuk dan menembus ke dalam jiwa bersamaan dengan pandangan mata.
  9. Memberikan kesempatan bagi hati untuk berpikir mengenai berbagai kemaslahatannya. Sebaliknya, mengumbar pandangan bisa menimbulkan lupa akan hal itu serta menjadi penghalang untuk meraihnya.
  10. Di antara hati dan mata itu terdapat jalan masuk yang menghubungkan antara keduanya. Jika salah satunya baik, maka yang lain menjadi baik pula. Dan jika salah satunya buruk, maka yang lain juga rusak. Demikian juga, jika pandangannya rusak, hatinya turut rusak pula.


*Sukoharjo, 26 September 2012

Beberapa Permasalahan yang Berkaitan dengan Wudlu





 
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub Maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, Maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.” (Qs. Al-Maidah: 6)
 
Beberapa Permasalahan yang Berkaitan dengan Wudlu

1. Buang air kecil harus dibersihkan dengan baik agar wudlu menjadi sah
Sebelum wudlu kita harus yakin bahwa pakaian kita tidak terkena najis. Dan yang penting adalah kita membersihkan diri dengan baik ketika buang air kencing.

Dari Ibnu Abbas ra., ia berkata: Rasulullah saw. pernah melewati dua buah kuburan, lalu beliau bersabda: Ingat, sesungguhnya dua mayit ini sedang disiksa, namun bukan karena dosa besar. Yang satu disiksa karena ia dahulu suka mengadu domba, sedang yang lainnya disiksa karena tidak membersihkan dirinya dari air kencingnya. …….. (HR. Muslim)

Maka dari itu, buang air kecil tidak boleh di sembarang tempat. Usahakan buang air kecil di kamar mandi/toilet sehingga kita bisa membersihkan diri.

2. Niat wudlu
Niat wudlu tidak harus dilafalkan. Niat letaknya di dalam hati. Setiap orang yang hendak berwudlu berarti ia sudah mempunyai niat di dalam hatinya sehingga tidak perlu melafalkan niat. Jadi, kita tidak perlu mengucapkan niat, misalnya nawaitu wudlu…, atau niat saya wudlu…, atau niat ingsun wudlu….dan sebagainya. Niat cukup di dalam hati saja. Sedangkan, untuk memulai wudlu kita membaca basmallah.

3. Tidak boleh wudlu dengan tergesa-gesa
Berwudlu harus dengan baik dan tidak boleh tergesa-gesa agar wudlunya sempurna, agar bagian-bagian tubuh terkena basuhan air. Meskipun kita sedang tergesa-gesa (misalnya ketika sudah iqomat) kita tidak boleh berwudlu dengan terlalu cepat sehingga ada bagian yang tidak terbasuh air. Termasuk tidak boleh tergesa-gesa juga ketika kita mendatangi tempat shalat. Biasanya kalau sudah iqomat, orang yang terlambat terburu-buru berjalan, sampai ada yang berlari kecil, sehingga menimbulkan mengganggu jamaah shalat. Meskipun sudah iqomat dan imam sudah takbir, kita mendatangi tempat shalat harus dengan tenang, tidak boleh tergesa-gesa. Begitu pula dengan berwudlu kita juga tidak boleh tergesa-gesa agar wudlu kita sempurna.

Hadis riwayat Abdullah bin Umru ra., ia berkata: Bersama Rasulullah saw. kami kembali dari Mekah menuju Madinah. Ketika kami berada pada sebuah oase (danau kecil) di tengah jalan, beberapa orang tergesa-gesa menunaikan salat Ashar. Mereka berwudlu dengan tergesa-gesa. Lalu kami dekati mereka, tampak tumit mereka tidak terkena air, maka Rasulullah saw. bersabda: “Siksa neraka bagi (pemilik) tumit itu. Sempurnakanlah wudlu kalian”. (HR. Muslim)

4. Tidak boleh wudlu menggunakan air yang berlebihan
Islam mengajarkan untuk tidak berlebih-lebihan dalam segala hal, termasuk dalam wudlu. Wudlu harus menggunakan air secukupnya, tidak boleh membuang-buang air yang banyak.

Nabi SAW melihat Sa'ad yang sedang berwudhu, lalu beliau berkata, “Pemborosan apa itu, hai Sa'ad?” Sa'ad bertanya, “Apakah dalam wudhu ada pemborosan?” Nabi menjawab, “Ya, meskipun kamu (berwudhu) di sungai yang mengalir.” (HR. Ahmad)

Nabi mengisyaratkan bahwa meskipun berwudlu di tempat yang banyak airnya kita tetap tidak boleh berlebih-lebihan.

5. Sunnah menghisap air dengan hidung dan menghembuskannya
Dalam wudlu ada wajib dan sunnah wudlu. Salah satu sunnah wudlu yang jarang dimengerti dan dilaksanakan orang adalah menghisap air dengan hidung dan menghembuskannya.

Dari Humran bahwa Utsman meminta air wudlu. Ia membasuh kedua telapak tangannya tiga kali, lalu berkumur dan menghisap air dengan hidung dan menghembuskannya keluar, kemudian membasuh wajahnya tiga kali. Lalu membasuh tangan kanannya hingga siku-siku tiga kali dan tangan kirinya pun begitu pula. Kemudian mengusap kepalanya, lalu membasuh kaki kanannya hingga kedua mata kaki tiga kali dan kaki kirinya pun begitu pula. Kemudian ia berkata: Saya melihat Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam berwudlu seperti wudlu-ku ini. (HR. Bukhari & Muslim)

6. Tidak perlu berwudhu karena ada keragu-raguan (apakah berhadats atau tidak) hingga dia yakin sudah batal wudhunya

Abu Hurairah radliyallaahu 'anhu berkata bahwa Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila seseorang di antara kamu merasakan sesuatu dalam perutnya, kemudian dia ragu-ragu apakah dia mengeluarkan sesuatu (kentut) atau tidak, maka janganlah sekali-kali ia keluar dari masjid kecuali ia mendengar suara atau mencium baunya." (HR. Bukhari & Muslim)

7. Memulai dengan anggota badan yang kanan
Dari Abu Hurairah radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila kamu sekalian berwudlu maka mulailah dengan bagian-bagian anggotamu yang kanan.” (HR. Imam Empat dan shahih menurut Ibnu Khuzaimah)

8. Sunnah bersiwak dalam wudlu
Termasuk sunnah Nabi yang sekarang ini sudah jarang dilaksanakan adalah bersiwak dalam wudlu.

Dari Abu Hurairah radliyallaahu 'anhu dari Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa Sallam bahwa beliau bersabda: “Seandainya tidak memberatkan atas umatku niscaya aku perintahkan mereka bersiwak pada setiap kali wudlu.” (HR. Malik, Ahmad dan Nasa'i)

Menurut ilmu kesehatan, bersiwak sangat bermanfaat bagi kesehatan mulut dan gigi. Para dokter modern memuji siwak sebagai alat yang bagus dan bermanfaat sekali untuk menjaga kesehatan mulut dan gigi.

9. Makan dan minum tidak membatalkan wudlu, kecuali makan daging unta
Makan dan minum tidak membatalkan wudlu, kecuali makan daging unta. Jadi, tidak apa-apa ketika kita sudah berwudlu kemudian makan atau minum, setelah itu shalat tidak perlu berwudlu lagi. Kecuali kalau kita makan daging unta, maka kita wajib wudlu lagi.

Dari Jabir Ibnu Samurah radliyallaahu 'anhu bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shallallaahu 'alaihi wa Sallam : Apakah aku harus berwudlu setelah makan daging kambing? Beliau menjawab: “Jika engkau mau.” Orang itu bertanya lagi: Apakah aku harus berwudlu setelah memakan daging unta? Beliau menjawab: “Ya.” (HR. Muslim)

10. Berdoa setelah wudlu
Salah satu doa setelah wudlu adalah sebagai berikut:

  أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ  

“Aku bersaksi, bahwa tiada Tuhan yang haq kecuali Allah, Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagiNya. Aku bersaksi, bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya”.

Umar radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Tiada seorang pun di antara kamu yang berwudlu dengan sempurna, kemudian berdo'a: Ashadu alla ilaha illallah wahdahula syarikalahu wa asyhaduanna muhammadan abduhu wa rasuluhu,-kecuali telah dibukakan baginya pintu syurga yang delapan, ia dapat masuk melalui pintu manapun yang ia kehendaki." (HR. Muslim) 



Bagaimana Cara Shalatnya Musafir?




 
Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya: Bagaimana cara shalat musafir dan bagaimana pula puasanya ?

Jawaban Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
Shalat musafir adalah dua rakaat sejak saat dia keluar dari kampung halamannya sampai kembali kepadanya, berdasarkan kata-kata Aisyah:
"Awal diwajibkannya shalat adalah dua rakaat, lalu ditetapkanlah hal itu untuk shalat di waktu safar dan disempurnakan shalat di waktu mukim, dalam riwayat lain dan ditambahi untuk shalat di waktu mukim." [1]

Anas bin Malik berkata.

"Kami keluar bersama Nabi dari Madinah menuju Makkah, lalu beliau shalat dua rakaat dua rakaat sampai kami kembali ke Madinah." [2]

Akan tetapi apabila seseorang shalat bersama imam, maka ia harus menyempurnakan shalat empat rakaat, sama saja apakah dia mengikuti shalat sejak awal atau kehilangan sebagian rakaat darinya; berdasarkan keumuman sabda Nabi.

"Apabila kalian mendengar iqamah maka berjalanlah menuju shalat dan wajib atas kalian menjaga ketenangan dan ketentraman, jangan terburu-buru, apa yang kalian dapati (dari shalat) kerjakanlah sedangkan apa yang hilang dari kalian sempurnakanlah." [3]

Keumuman sabda beliau "apa yang kalian dapati (dari shalat) kerjakanlah sedangkan apa yang hilang dari kalian sempurnakanlah" meliputi para musafir yang shalat di belakang imam yang mengerjakan shalat empat rakaat dan selain mereka. Ibnu Abbas ditanya tentang bagaimana keadaan musafir yang shalat dua rakaat manakala bersendiri dan empat rakaat apabila bersama orang tempatan? Dia menjawab, "Itulah sunnah".

Kewajiban shalat jamaah tidak gugur bagi musafir, karena Allah memerintahkannya di dalam kondisi perang, Dia berfirman.

"Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat bersertamu) sujud (telah menyempurnakan serakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersembahyang, lalu bersembahyanglah mereka denganmu." )Qs. An-Nisa: 102)

Berdasarkan dalil ini, apabila ada seorang musafir berada di suatu daerah yang bukan daerahnya, dia wajib menghadiri shalat jamaah di masjid ketika mendengar adzan, kecuali bila letaknya sangat jauh, atau khawatir kehilangan teman-temannya, sesuai keumuman dalil yang menunjukkan pada wajibnya shalat berjamaah bila mendengar adzan atau iqamah.

Sedangkan mengenai mengerjakan shalat sunnat; seorang musafir boleh melaksanakan shalat sunnat selain rawatib Dhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya, dia boleh mengerjakan shalat Witir, shalat Lail, shalat Dhuha, shalat rawatib Fajar dan selain dari itu berupa shalat sunnat selain rawatib yang dikecualikan tersebut.

Tentang menjamak (mengumpulkan shalat): jika dia dalam keadaan berjalan (naik kendaraan) yang lebih utama adalah menjamak antara Dhuhur dan Ashar, antara Maghrib dan Isya, bisa dengan jama taqdim maupun jama takhir, melihat mana yang lebih mudah baginya, segala hal yang lebih mudah adalah lebih utama.

Jika dia dalam keadaan berhenti (tinggal di suatu daerah) yang lebih utama adalah tidak menjamak shalat, jika dia tetap menjamak maka tidak mengapa; berdasarkan pengesahan dua hal itu dari Rasulullah.

Adapun tentang puasa musafir di bulan Ramadhan, yang lebih utama adalah dia tetap berpuasa, namun jika dia berbuka pun tidak mengapa, lalu dia mengganti jumlah hari berbukanya, kecuali jika berbuka lebih memudahkannya maka berbuka menjadi lebh utama, karena Allah menyukai orang yang menjalankan rukhshah (keringanan)nya, segala puji milik Allah Pemelihara semesta alam.


[Disalin dari kitab Majmu Fatawa Arkanil Islam, edisi Indonesia Majmu Fatawa Solusi Problematika Umat Islam Seputar Akidah dan Ibadah, Oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, terbitan Pustaka Arafah]
_________
Foote Note
[1]. Bukhari mengeluarkannya : Kitab Taqshir Shalat, Bab : Meringkas Apabila Kaluar dari Tempat Tinggalnya 1090. Muslim : Kitab Shalat Musafirin wa Qashriha. Bab : Shalat Para Musafir dan Peringkasannya 685.
[2]. Telah diriwayatkan oleh Bukhari : Kitab Taqshir Shalat, Bab : Apa Yang Datang Tentang Meringkas 1081. Muslim : Kitab Shalat Musafirin qa Qashriha, Bab Shalat Para Musafir dan Peringkasannya 693
[3]. Bukhari mengeluarkan dalam Kitab Adzan, Bab : Tidak Boleh Terburu-Buru Mendatangi Shalat, Hendaklah Datang Dengan tenang dan Tentram 636

Sumber: http://almanhaj.or.id 

29 Maret 2013

Download Kitab Aqidah Washitiyah Karya Ibnu Taimiyah dengan Syarah Said bin Ali Al-Qahthani


Muqaddimah dari Said bin Ali Al-Qahthani

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam yang lengkap dan sempurna semoga dilimpahkan kepada Nabi dan Rasul paling mulia, Nabi dan Imam kita, Muhammad bin Abdullah, juga kepada segenap keluarga, shahabatnya, dan siapa saja yang mengikuti jejak mereka dengan baik, hingga Hari Kiamat. Amma ba'du.

Kitab "Al-Aqidah Al Wasithiyah" tulisan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah adalah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Adapun latar belakang penulisan, dan penamaannya dengan Al Wasithiyah, ialah: bahwa seorang Qadhi dari negeri Wasith yang sedang melaksanakan haji datang kepada Syaikhul Islam dan memohon beliau untuk menulis tentang Aqidah Salafiyah yang beliau yakini. Maka, beliau menulisnya dalam tempo sekali jalsah (sekali duduk), seusai shalat 'Ashar.

Ini merupakan bukti nyata bahwa beliau memiliki ilmu yang luas dan dikaruniai oleh Allah kecerdasan dan keluasan ilmu yang mengagumkan. Dan itu tidak aneh, karena karunia Allah itu diberikan dan diharamkan bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Kepada Allah Yang Maha Tinggi dan Agung, kita memohon akan keutamaan dan kemuliaan-Nya.

Ketika saya mengetahui betapa pentingnya kandungan Kitab "Al-'Aqidah Al-Wasithiyah" tersebut, saya berkeinginan untuk membuat syarah -penjelasan- ringkas tentang kitab Aqidah ini. Saya memohon kepada Allah agar hal itu saya laksanakan semata-mata untuk mencari ridha-Nya. Tidak diragukan lagi bahwa banyak ulama telah melakukan upaya yang besar untuk menjaga, mengajarkan, mengulas, dan mensyarah, terhadap kitab "Al-.'Aqidah Al-Wasithiyah" ini dan di antara yang aku ketahui dari syarah-syarah tersebut antara lain : "Ar-Raudhah An-Nadiyyah, Syarh Al-'Aqidah Al-Wasithiyah" tulisan Syaikh Zaid bin Fayadh, "Al-Kawasyif Al-Jaliyyah 'An- Ma'ani Al-Aqidah Al-Wasithiyah" tulisan Syaikh Abdul Aziz bin Muhammad1, "Syarh Al-'Aqidah Al-Wasithiyah" tulisan Muhammad Khalil Al-Haras, dan "At-Ta'liqat Al-Mufidah 'ala Al-''Aqidah Al-Wasithiyah" tulisan Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Asy-Syarif.

Beberapa syarah tersebut cukup baik dan berhasil menjelaskan makna-makna aqidah tersebut. Adapun dalam syarah ringkas yang saya susun ini, saya melakukan hal-hal sebagai berikut:

Saya mentakhrij hadist-hadits Rasulullah dan menisbahkannya, kadang-kadang kepada sumber aslinya, tapi kadang-kadang cukup saya tunjukkan sumber aslinya tanpa teks. Saya juga menisbahkan ayat-ayat kepada surah dan nomornya, selain saya juga memberikan judul yang sesuai untuk setiap tema, misalnya : "Definisi Al-Firqah An-Najiyah:, "Madzhab Ahlus Sunnah wal Jama'ah tentang Sifat-sifat Allah", "Rukun Iman menurut Firqah Najiyah", Metode Ahlus Sunnah wal Jama'ah dalam Menafikan dan Menetapkan Asma' dan Sifat-sifat Allah", "Madzhab Mereka dan Ayat-ayat serta hadits-hadits tentang Asma' dan Sifat-sifat Allah".

Kemudian saya membuat judul sendiri untuk masing-masing sifat, tapi kadang-kadang saya gabungkan beberapa sifat dalam satu judul. Ini tidak saya maksudkan untuk membatasi, melainkan untuk menyebutkan sifat-sifat yang telah disebutkan oleh penulis. Penulis juga menyebutkan banyak ayat dan hadits, akan tetapi saya hanya menyebutkan satu dalil untuk setiap sifat, dari ayat atau hadits, sementara yang lain saya hapuskan untuk meringkaskan syarah ini.

Kemudian saya menyebutkan "Sikap pertengahan Ahlus Sunnah dalam masalah sifat Allah" di antara golongan-golongan lain yang ada. Sikap pertengahan mereka dalam masalah perbuatan manusia, Sikap pertengahan mereka dalam masalah ancaman Allah", Sikap pertengahan mereka mengenai nama-nama Iman dan Dien", "Sikap pertengahan mereka mengenai shahabat-shahabat Rasulullah, "Iman kepada Hari Akhir dan hal-hal yang berkaitan dengannya", "Takdir dengan keempat tingkatannya", "Madzhab Ahlus Sunnah wal Jama'ah tentang Iman dan Dien, Shahabat Rasulullah, dan Karamah para wali", serta "Akhlak mulia Ahlus Sunnah wal Jama'ah".

Semoga Allah memberikan taufik kepada saya dalam melaksanakan apa yang dicintai dan diridhai-Nya. Shalawat, salam, dan barakah, semoga dilimpahkan Allah kepada hamba dan Rasul-Nya, Muhammad, juga kepada segenap keluarga dan shahabatnya.


Download Kitab Aqidah Washitiyah Karya Ibnu Taimiyah
dengan Syarah Said bin Ali Al-Qahthani (chm)
DOWNLOAD


20 Maret 2013

Teladan Akhlak Syaikh Abdurrazaq Al-Badr



Ada banyak pelajaran akhlak yang dapat kita petik dari kehidupan Syaikh Abdurrazaq Al-Badr sebagaimana ditulis oleh Ustadz Firanda dengan judul “Dari Madinah Hingga ke RadioRodja: Mendulang Pelajaran Akhlak dari Syaikh Abdurrazaq Al-Badr.”

Ustadz Abu Muhsin Firanda Andirja merupakan salah satu murid Syaikh Abdurrazaq Al-Badr di Universitas Islam Madinah. Ustadz Firanda menceritakan pelajaran-pelajaran akhlak yang dapat diambil selama pergaulannya dengan Syaikh Abdurrazaq Al-Badr.

Syaikh Abdurrazaq Al-Badr mempunyai pengalaman yang sangat berkesan dengan gurunya, yaitu Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Syaikh Abdurrazaq Al-Badr pernah menjadi moderator saat Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menyampaikan nasehat kepada para mahasiswa di Universitas Islam Madinah. Syaikh Abdurrazaq Al-Badr memulai moderasinya dengan kalimat, “Alhamdulillah, pada kesempatan yang berbahagia ini kita akan mendengarkan muhadharah yang akan disampaikan oleh Al-‘Alamah Muhammad bin Shalih….”

Tiba-tiba Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menimpali dengan suara yang lantang, “Uskut!” (Diam!)

Syaikh Abdurrazaq tersentak mendengar kalimat Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin yang memintanya diam. Beberapa saat kemudian barulah beliau sadar bahwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin tidak ridha jika digelari dengan Al-‘Alamah (orang yang sangat alim).

Peristiwa itu sangat membekas di dalam hati Syaikh Abdurrazaq sehigga beliau sering mengulang-ulang cerita ini dengan mengatakan, “Lihatlah bagaimana Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin sama sekali tidak suka untuk digelari dengan gelar Al-’Allamah. Spontan beliau menegurku di hadapan begitu banyak mahasiswa, tanpa ragu-ragu dan tidak dibuat-buat.”

Menolak Penulisan Gelar
Syaikh Abdurrazaq Al-Badr merasa enggan mencantumkan gelarnya pada buku-buku karangannya. Dikisahkan bahwa Saat salah seorang ikhwan dari Indonesia meminta izin untuk menerjemahkan buku beliau yang berjudul Fikhul Ad’iyaa wal Adzkar (Fikh Doa dan Dzikir) ke dalam bahasa Indonesia, beliau mengizinkan dengan syarat: tatkala buku tersebut dicetak, nama beliau hanya ditulis ‘Abdurrozaq bin Abdulmuhsin Al-Badr’, tanpa embel-embel gelaran Profesor Doktor. Begitu pula buku-buku beliau yang dicetak di Arab Saudi maupun di Aljazair (Algeria), semua tanpa embel-embel gelar tersebut.

Mengajarkan Ilmu kepada Siapa pun
Syaikh Abdurrazaq Al-Badr mempunyai semangat yang tinggi dalam menyampaikan ilmu. Beliau tidak menolak -bahkan sangat bersemangat- untuk mengisi kajian di Radio Rodja agar umat Islam di Indonesia dapat mengenyam ilmu dari beliau.
Padahal, beliau sangat sibuk mengajar di universitas dan di tempat lain. 

Ustadz Abu Muhsin mengisahkan saat ia menyampaikan permintaan kepada beliau untuk mengisi kajian di RadioRodja.
“Syaikh, saya menyampaikan permintaan teman-teman di Radiorodja agar Syaikh mengisi kajian rutin, seminggu sekali.”

Dan, jawaban beliau sungguh-sungguh di luar dugaan saya (Abu Muhsin). Syaikh berkata: “Saya siap mengisi kajian setiap hari.”

Saya takjub sekaligus bingung mendengar jawaban tersebut, karena justru sayalah yang tidak siap. Saya pun menawarkan kepada beliau untuk mengisi kajian sepekan dua kali, dengan mempertimbangkan kesiapan dari berbagai teknisnya. Alhamdulillah, Syaikh setuju dengan usulan tersebut.

Tawadhu’
Syaikh Abdurrazaq Al-Badr menunjukkan sikap tawadhu yang patut kita teladani. Dalam salah satu kajian, Syaikh Abdurrazaq Al-Badr memaksa penerjemahnya yaitu Ustadz Abu Muhsin agar mau duduk di kursi yang bagus, sedangkan beliau memilih duduk di kursi yang jelek dan datar tanpa spon. 


Tatkala kru Radio Rodja mengabarkan kepada Syaikh bahwa ternyata yang menghadiri tabligh akbar Syaikh Abdurrozzaq dengan materi yang berjudul "Sebab-sebab kebahagiaan" berjumlah lebih dari 100 ribu peserta, dan ini merupakan rekor terbaru, karena Masjid Istiqlal tidak pernah dihadiri oleh jamaah pengajian seramai ini dalam sejarah Indonesia. Maka Syaikh dengan tersenyum berkata, "Mereka para hadirin yang datang bukan karena aku akan tetapi karena si penerjemah Firanda". Spontan kami pun tertawa tatkala mendengar hal ini.

Ada juga kejadian lain yang menunjukan sikap tawadhu Syaikh, yaitu suatu ketika tatkala Syaikh mengisi pengajian di Radio Rodja ada seseorang yang bertanya kepada beliau, dan sebelum bertanya penanya tersebut berkata, "Wahai syaikh, aku setiap mendengar pengajian yang Anda sampaikan hatiku menjadi lembut, dan aku lihat dari tutur kata Anda tatkala menyampaikan pengajian menunjukan bahwa Anda adalah orang yang berhati lembut". 

Syaikh berkata mengomentari perkataan si penanya ini, "Adapun perkataan si penanya bahwa aku berhati lembut, maka itu hanyalah persangkaan penanya saja, dan
aku berharap dan berdoa agar Allah menjadikan aku berakhlak mulia, dan juga para
pendengar Radio Rodja sekalian". Sungguh sikap tawadhu dan tidak terpedaya dengan pujian yang sampai kepada beliau.


Syaikh Abdurrazaq Al-Badr bersikap lemah lembut kepada anak-anak orang tua. Beliau menyalami anak-anak, mengusap kepala mereka, dan memberikan hadiah kepada mereka. Terhadap orang tua, beliau merangkul mereka dengan sikap tawadhu dan sopan.
 
Menyenangkan Hati Saudara

Berikut ini pelajaran akhlak yang berharga dari Syaikh Utsaimin dan Syaikh Abdurrazaq.
Suatu saat, Syaikh Utsaimin datang mengunjungi kota Madinah. Salah seorang kaya
mengundang beliau makan malam di rumahnya. Hadir bersama beliau dalam jamuan makan malam tersebut, empat orang, termasuk Syaikh Abdrurrozaq dan Syaikh Utsaimin. 


Saat memasuki ruang makan, pandangan Syaikh Utsaimin tertuju pada tumpukan buah-buahan beraneka ragam yang tertata rapi menyerupai gunung kecil. Syaikh lalu mengambil buah apel dari tumpukan tersebut, lantas berkata kepada kami, “Tahukah kalian, kapan pertama kali akumemakan buah apel?”

Kemudian, Syaikh Utsaimin pun bercerita, “Dahulu, Syaikh As-Sa’di mengajar buku yang agak berat, yaitu Qawa’id Ibni Rajab. Kitab ini agak sulit dipahami karena berkaitan dengan kaidah-kaidah fikih. Pada awalnya, banyak murid beliau yang hadir, namun lama-kelamaan berkurang, hingga akhirnya saat beliau menamatkan kitab tersebut, hanya tinggal aku sendiri bersama beliau. Setelah itu, beliau merogoh sakunya dan mengeluarkan sebutir apel berwarna merah. Baru pertama kali aku melihat buah seperti itu. Beliau berkata, ‘Ini buah tuffahah (apel), yang dimakan bagian dalamnya. Ada bijinya di dalam. Jangan dimakan.’ Aku sangat gembira menerima hadiah tersebut, maka aku segera pulang dan mengumpulkan seluruh keluargaku, istri dan anak-anakku, lalu kutunjukkan kepada mereka buah tersebut. Karena mereka juga baru pertama kali melihat buah apel, maka ada yang berkata, ‘Apakah ini tomat?’ Akhirnya aku membelah-belah buah apel tersebut lantas kubagikan kepada
keluargaku.”


Demikianlah, Syaikh Abdurrozak menceritakan kisah yang pernah didengarnya langsung dari Syaikh Utsaimin. Hanya sebutir apel akan tetapi sangat berkesan di hati Syaikh Utsaimin dan menyenangkan beliau bahkan keluarga beliau. 

Syaikh Abdurrozaq pernah berkata, “Ya Firanda, meskipun sebuah hadiah nilainya tidak
seberapa tetapi bisa jadi sangat menyenangkan hati orang yang diberi. Suatu saat, aku pernah bertemu seorang penuntut ilmu dari Kuwait, dan aku hampir lupa kalau aku pernah mengajarnya. Lantas, saat kami bertemu, dia segera memelukku kemudian mengingatkan aku bahwa dia pernah aku ajar di bangku kuliah. Bahkan dia berkata, ‘Ya Syaikh, aku tidak pernah lupa hadiah bunga yang Syaikh berikan kepadaku, sampai sekarang masih aku simpan di bukuku.”
Lihatlah setangkai bunga yang tidak bernilai tetapi sangat berkesan di hati orang tersebut.


Akhlak dalam Dakwah
Ust. Firanda bertanya, “Ya Syaikh, sebagian orang ada yang menyatakan bahwa aku adalah kadzab (pendusta). Apakah aku berhak membela diri dan membantah tuduhan tersebut?”

“Wahai Firanda, jangan kau bantah dia, bagaimanapun dia adalah saudaramu se-aqidah,” jawab beliau. 

“Bahkan jika ada orang yang bertanya kepadamu tentang dia, maka tunjukkan bahwa engkau tidak suka untuk membantahnya dan tidak suka membicarakan tentangnya.”

Beliau terdiam sejenak, lalu melanjutkan nasihatnya, “Engkau bersabar, dan jika engkau
bersabar percayalah suatu saat dia akan melunak dan akan menjadi sahabatmu.”


Seorang mahasiwa berkata kepada Syaikh, "Ya Syaikh, sesungguhnya saya telah dikatakan sebagai seorang pendusta, dajjaal, dan khobiits oleh seseorang yang bermasalah denganku. Padahal orang tersebut telah merendahkan engkau dan merendahkan Syaikh Abdul Muhsin Al-'Abbad, serta menyatakan bahwa Syaikh Ibnu Jibrin adalah imam kesesatan, dan lain-lainnya. Saya sudah mengajak orang itu untuk berdialog perihal tuduhan yang ia lontarkan kepadaku dengan syarat pembicaraan kita harus direkam, akan tetapi orang itu menolak dan berkata bahwa jika aku datang menemuinya untuk mengakui kesalahanku maka dia akan menerimaku di rumahnya, namun jika aku mendatanginya untuk mendebatnya maka dia akan mengusirku dan akan memboikot aku serta tidak akan memberi salam kepadaku jika bertemu denganku. Bahkan orang ini mendoakan keburukan kepadaku dengan perkataannya, 'Semoga Allah memeranginya, aku berlindung kepada Allah dari si pendusta yang sombong, dan dia akan menjadi sampah sejarah.'


Demikianlah, ya Syaikh, perkataannya yang buruk yang dia lontarkan untukku, dan aku mendengarnya sendiri dengan kedua telingaku. Yang jadi masalah juga dia menyebarkan tuduhan tersebut di kalangan para da'i di negaraku. Apakah aku berhak untuk membela diriku dan menjelaskan keadaan yang sesungguhnya, mengingat terlalu banyak ikhwan yang bertanya melalui telepon atau surat perihal masalah ini?.

Syaikh serta merta berkata, "Sekali-kali jangan kau bantah dia, selamanya jangan kau bantah dia!. Apakah engkau ingin engkau yang membela dirimu sendiri?, ataukah engkau ingin Allah yang akan membelamu??!!". 

Lalu syaikh menunjukkan buah hadits yang terdapat dalam kitab Al-Adab Al-Mufrod karya Al-Imam Al-Bukhori yang menjelaskan agar seseorang sejauh mungkin menjauhkan dirinya dari perdebatan dengan saudaranya.

Dari 'Iyaadl bin Himaar bahwasanya ia bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
seraya berkata, "Wahai Rasulullah, bagaiamana pendapatmu jika ada  seseorang mencelaku padahal nasabnya lebih rendah daripada nasabku?, maka Nabi berkata , "Dua orang yang saling mencela adalah dua syaitan yang saling mengucapkan perkataan yang batil dan buruk dan saling berdusta" (HR. Ahmad 29/37 no 17489 dan Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrod no 427 dan dishahihkan oleh syaikh Al-Albani)


Syaikh berkata, "Hadits ini menunjukan bahwa dua orang yang bertikai dan saling mencaci
maka disifati oleh Nabi dengan 2 syaitan.  Bahkan Nabi berkata bahwa keduanya pendusta dan saling mengucapkan perkataan yang buruk, rendah dan batil. Orang yang membantah saudaranya pasti –mau tidak mau- akan terjerumus dalam kedustaan agar bisa membuat orang-orang benci terhadap musuhnya. Atau paling tidak dia tidak akan menjelaskan kejadian yang terjadi antara dia dan musuhnya sebagaimana mestinya, akan tetapi dia menyajikan kejadian itu seakan-akan dialah yang berada di pihak yang benar, dan dengan cara pengajian yang menjadikan para pendengar akan benci terhadap musuhnya.
Selain itu dia akan terjerumus dalam peraktaan-perkataan yang rendah dan kotor serta batil"


 
Sukoharjo, 20 Maret 2013


18 Maret 2013

Menggapai Keikhlasan


Dalam kitab Tazkiyatun An-Nafs disebutkan bahwa Abu Muslim Abdullah bin Qutaibah Ad-Danuri menuturkan dalam kitabnya ‘Uyunul Akhbar bahwa Maslamah mengepung sebuah benteng. Ia menyuruh orang-orang untuk meyelinap masuk ke terowongannya. Tapi tidak ada seorang pun yang masuk. 

Lalu ada seorang lelaki dari pasukannya yang menawarkan diri. Ia berhasil menembusnya. Dan Allah akhirnya memenangkan mereka. Maslamah lalu memanggil, “Mana pemilik terowongan (maksudnya orang yang menembus lewat terowongan)?” Tidak ada seorang pun datang.

Maslamah lalu memanggil, “Aku telah memerintahkan memasukkan dia saat ini. Aku berharap di datang.”

Lalu seorang lelaki datang, “Izinkan aku menghadap panglima.”
Seorang pengawal bertanya, “Apakah kamu pemilik terowongan?”
Lelaki itu menjawab, “Aku akan mengabarkan kepadanya tentang pemilik terowongan.”

Pengawal lalu menghadap Maslamah dan mengabarkan tentangnya. Maslamah mengizinkannya menghadap. Lelaki itu berkata kepada Maslamah, “Pemilik terowongan memintamu untuk menepati tiga hal. Jangan kau tulis namanya dalam catatan ke khalifah, jangan kau perintahkan untuk member sesuatu kepadanya, dan jangan kau tanyakan dari mana dia?”

Maslamah menjawab, “Itu akan penuhi untuknya.”
Lelaki itu menjawab, “Akulah dia.”
Se
telah itu, setiap shalat Maslamah selalu berdoa, “Ya Allah, jadikanlah aku bersama pemilik terowongan.”

Menghindari Riya'
ibnu Qudamah dalam Mukhtashar Minhajil Qasidin berkata, "Bila seseorang merasakan adanya perbedaan amal yang dilihat manusia dan amal yang tidak dilihat manusia, maka di dalam dirinya terdapat suatu unsur riya’.

Termasuk obat yang manjur untuk menyembuhkan penyakit riya’ adalah membiasakan diri mengerjakan ibadah secara sembunyi-sembunyi dan menutup tempat beribadah persis seperti menutup pintu rumah agar tidak bisa mengerjakan perbuatan-perbuatan jahat. Sungguh tidak ada obat yang lebih manjur menyembuhkan penyakit riya’ daripada merahasiakan amal.

Merahasiakan ketaatan dapat memelihara keikhlasan dan menyelamatkan diri dari riya’. Sementara memperlihatkannya bisa mendorong orang lain untuk mengikuti dan memotivasi mereka untuk berbuat kebaikan. Orang yang memperlihatkan amalnya wajib memeriksa hatinya agar ia bebas dari riya’ samar dan mesti meniatkannya untuk menjadi teladan bagi orang lain."

Ibnul Jauzi dalam kitabnya Talbis Iblis menyebutkan kisah orang-orang shalih yang menyembunyikan amal mereka karena takut terhadap riya'. Amir bin Abdi Qais tidak suka jika orang-orang melihat dia sedang mendirikan shalat. Karena itu. Dia tidak pernah shalat sunnat di masjid.

Salafush shalih suka menyembunyikan ibadahnya. Bahkan, semua amal yang dilakukan Ar-Rabi’ bin Khutsaim tersembunyi. Ketika ada seseorang masuk ke dalam rumahnya, yang saat itu dia sedang menggelar mushaf, maka dia segera menutupi mushaf dengan selembar kain. Ahmad bin Hambal juga senantiasa membaca Al-Qur’an, namun tidak pernah diketahui kapan dia mengkhatamkannya.

Karena takut pada riya’, orang-orang shalih biasa menyembunyikan amal-amal mereka dan menampakkan sikap sebaliknya. Ibnu Sirin biasa tersenyum pada siang hari, namun dia banyak menangis pada malam harinya. Jika Ibnu Adham sakit, maka dia memperlihatkan makanannya seperti yang biasa dimakan orang yang sehat.

Sufyan Ats-Tsauri pernah berkata, “Aku tidak terbiasa memperlihatkan amalku.” Dia pernah berkata kepada seorang teman yang dilihatnya sedang shalat, “Apa yang mendorongmu berani mendirikan shalat, sementara semua orang melihatmu?”

Dari Muhammad bin Ziyad, dia berkata, “Abu Umamah melewati seseorang yang sedang sujud. Lalu dia berkata, “Buat apa dia mendirikan shalat itu? Andaikan saja dia mendirikannya di dalam rumahnya.”
Di antara orang-orang yang mempunyai harta ada yang membelanjakan harta untuk membangun masjid dan jembatan. Hanya saja dia melakukannya untuk riya’ dan mencari ketenaran, agar dirinya tetap dikenang dan namanya ditulis pada bangnunan itu. Andaikan perbuatannya itu karena Allah, cukuplah Allah yang mengetahuinya.

Orang-orang shalih pada zaman dulu suka memasukkan kepingan uang dinar yang lebih berat ke dalam tempat yang kecil, ia memberikannya kepada orang-orang miskin secara sembunyi-sembunyi.

Imam Adz-Dzahabi dalam Al-Kabair menyebutkan bahwa Muhammad bin Mubarok Ash-Shuri berkata, “Menampakkan ketaatan itu lebih baik di malam hari daripada di siang hari. Sebab, menampakkan ketaatan di siang hari itu untuk makhluk, sedangkan di malam hari untuk Rabb Semesta alam.”

Suatu hari Ibnu Sirin mendengar seseorang berkata kepada temannya, “Aku sudah berbuat baik kepadamu. Aku sudah melakukan ini dan itu.” Maka Ibnu Sirin menegurnya, “Hei, diamlah! Tidak ada kebaikan dalam amal kebajikanmu jika ia disebut-sebut.”

Sebagian ulama berkata, “Barangsiapa mengungkit-ungkit kebaikannya, ia bukan termasuk orang yang bersyukur. Dan barangsiapa merasa bangga dengan amalnya, pahalanya menjadi terhapus.”

Imam Syafi’I bersyair,

Janganlah engkau menerima kebaikan dari mereka
Yang mereka akan mengungkit-ungkitnya di hadapanmu
Pilihlah bagi dirimu apa yang menjadi bagianmu
Dan bersabarlah, karena sabar itu adalah surge
Ungkitan seseorang itu apabila melukai hati
Itu lebih sakit daripada tusukan tombak


Imam Nawawi dalam Syarh Hadits Arba'in berkata, "Sebagaimana halnya dengan riya’, sum’ah juga dapat menghapus (pahala) amalan. Sum’ah adalah mengerjakan amalan untuk Allah dalam kesendirian (tidak dilihat manusia), kemudian dia menceritakan amalannya itu di depan manusia.

Nabi bersabda,
“Barangsiapa berbuat sum’ah (menceritakan amalannya kepada orang lain), maka Allah akan menceritakan aibnya, dan barangsiapa berbuat riya’ (memperlihatkan amalannya kepada orang lain), maka Allah akan memperlihatkan aibnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Para ulama berkata, “Jika dia seorang ‘alim yang menjadi teladan, dan dia menyebutkan amalannya itu dalam rangka mendorong orang-orang yang mendengarnya agar mengerjakan amalan tersebut, maka tidaklah mengapa.”


Referensi:
Ibnul Jauzi. Talbis Iblis. (Terjemahan Kathur Suhardi). 2011. Perangkap Setan. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar

Imam Adz-Dzahabi. Al-Kabair. (Terjemahan Abu Zufar Imtihan Asy-Syafi’i). 2007. Dosa-dosa Besar. Surakarta: Pustaka Arafah

Imam An-Nawawi. Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah. (Terjemahan Ahmad S. Marzuqi). 2006. Syarah Hadits Arba’in Imam Nawawi. Yogyakarta: Media Hidayah

M. Abdul Qadir Abu Faris. Tazkiyatun An-Nafs. (Terjemahan Habiburrahman Saerozi). 2005. Menyucikan Jiwa. Depok: Gema Insani 


PROMO BUKU

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More