MUSLIMAH

Menuju Insan yang Shalihah

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

MUTIARA DAKWAH

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

15 Februari 2013

Di Manakah Kebahagiaan

Cara Menggapai Kebahagiaan

Orang-orang bertanya-tanya, “Di manakah kebahagiaan itu?”
Sebagian besar orang selama hidupnya mencari kebahagiaan dan mereka tidak menemukannya. Orang-orang kaya, pejabat, artis, mereka merasakan kesedihan, kegundahan, dan kebimbangan di sebagian besar waktu mereka. Dan mereka merasa amat jauh dengan kebahagiaan.

Inilah salah satu kebahagiaan yang bisa dirasakan jiwa. Ketika Anda berada di antara saudara-saudara seiman yang shalih, ketika Anda melaksanakan qiyamul lail bersama mereka, ketika kau bersama-sama mendengarkan nasihat-nasihat, ketika Anda bersama-sama makan sahur bersama mereka, dan ketika Anda melaksanakan shalat Subuh berjamaah. Inilah aktivitas-aktivitas yang dapat menghantarkan Anda merasakan kebahagiaan. 

Berkumpul bersama orang-orang shalih akan mampu meningkatkan iman Anda. Benarlah para ulama ketika mereka menulis sebuah kitab tentang kebahagiaan, mereka menempatkan iman dan amal shalih di urutan pertama sebagai jalan untuk menggapai kebahagiaan yang hakiki.

Abdullah Al-Inthaqi berkata, “Ada lima hal yang termasuk penawar hati, yaitu: 1) bergaul dengan orang-orang shalih, 2) membaca Al-Quran, 3) sedikit makan, 4) shalat malam, dan 5) bermunajat kepada Allah pada waktu sahur.” (Nashaihul ’Ibaad)

Berkaitan dengan poin pertama, yaitu bergaul dengan orang-orang shalih, ada sebuah kisah yang dicantumkan dalam kitab Thariq As-Sa’adah tentang seorang pemuda yang tidak menemukan kebahagiaan dalam ketenaran dan kemewahan hidupya sehingga ia berusaha mencari kebahagiaan yang hakiki. Pemuda ini bernama Sa’id Az-Zayyani.

Sa’id Az-Zayyani bercerita, “Saya berkata dalam hati, ‘Sesungguhnya orang-orang yang bahagia adalah para aktor dan aktris.’ Lalu saya ingin bergabung dengan mereka (para artis) sehingga saya ikut dalam dunia film, kemudian menjadi artis papan atas. Saya tidak akan bermain film kecuali menjadi aktor utama dalam semua sesi yang dilakukan. Sebenarnya saya menjadi pribadi yang terkenal di negeriku (yakni Maroko). Saya tidak mengendarai kecuali mobil termewah dan termahal. Saya tidak memakai pakaian kecuali pakaian mahal. Kedudukan sosial berada di strata atas.

Teman-temanku adalah para pembesar dari kalangan pejabat dan lain-lain. Saya berpindah dari satu istana ke istana lainnya. Semua pintu dibukakan bagiku seakan-akan saya adalah pemilik istana itu. Akan tetapi, walaupun mendapatkan semua itu, saya tetap merasa belum mencapai kebahagiaan yang selama ini dicari.”

Begitulah, wahai saudaraku, ternyata harta dunia dan kemewahan perhiasan tidak dapat mendatangkan kebahagiaan. Sa’id Az-Zayyani melanjutkan ceritanya, “Saya berencana untuk mengadakan perjalanan santai ke Belgia untuk mengunjungi saudaraku. Saya berencana lewat sebentar di sana, kemudian melanjutkan perjalanan ke berbagai negara di dunia.

Saya melakukan perjalanan ke Belgia dan bertemu saudaraku di sana. Akan tetapi, saya dikejutkan oleh keadaannya yang berubah dan kehidupannya yang berbeda. Yang paling penting dari semua itu adalah kebahagiaan yang memenuhi rumah dan kehidupannya. Saya banyak terpengaruh dengan apa yang terlihat, terutama hubungan yang kuat di antara pemuda muslim di kota itu. Mereka memelukku dengan penuh kehangatan dan menyambutku dengan sebaik-baik sambutan. Mereka mengundangku untuk menghadiri majelis dan perkumpulan mereka, serta berkenalan dengan mereka secara lebih intens.

Saya menghadiri pertemuan itu. Saya merasakan perasaan yang aneh ketika duduk bersama mereka. Saya merasakan kebahagiaan besar meliputi, sesuatu yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Bersamaan dengan berlalunya waktu, saya menghabiskan liburanku untuk melanjutkan kebahagiaan ini, yaitu kebahagiaan yang selama ini saya cari dan belum mendapatkannya.

Saya merasa bahagia bersama dengan orang-orang pilihan itu. Kebahagiaan itu bertambah hari demi hari, sedangkan kesempitan, kegalauan, dan kesusahan berkurang hari demi hari, sampai akhirnya hatiku dipenuhi cahaya iman. Saya mengetahui jalan menuju Allah yang selama ini saya tersesat menempuhnya, padahal saya memiliki harta, kekayaan, dan ketenaran.

Ketika itu saya mengetahui bahwa bahagia bukanlah dalam perhiasan palsu itu. Kebahagiaan itu hanya ada dalam ketaatan kepada Allah.


SURAT AL-WAQI’AH
Mari kita renungi bersama Al-Quran surat Al-Waqi’ah ayat 10-40, yang terjemahannya berikut ini.

10. Dan orang-orang yang beriman paling dahulu,
11. mereka itulah yang didekatkan kepada Allah.
12. Berada dalam jannah kenikmatan.
13. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu,
14. dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian.
15. Mereka berada di atas dipan yang bertahta emas dan permata,
16. seraya bertelekan di atasnya berhadap-hadapan.
17. Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda,
18. dengan membawa gelas, cerek dan minuman yang diambil dari air yang mengalir.
19. Mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk,
20. dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih,
21. dan daging burung dari apa yang mereka inginkan.
22. dan ada bidadari-bidadari bermata jeli,
23. laksana mutiara yang tersimpan baik.
24. Sebagai balasan bagi apa yang telah mereka kerjakan.
25. Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa,
26. akan tetapi mereka mendengar ucapan salam.
27. Dan golongan kanan, alangkah bahagianya golongan kanan itu.
28. Berada di antara pohon bidara yang tak berduri,
29. dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya),
30. dan naungan yang terbentang luas,
31. dan air yang tercurah,
32. dan buah-buahan yang banyak,
33. yang tidak berhenti (berbuah) dan tidak terlarang mengambilnya,
34. dan kasur-kasur yang tebal lagi empuk.
35. Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung
36. dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan,
37. penuh cinta lagi sebaya umurnya,
38. (kami ciptakan mereka) untuk golongan kanan,
39. (yaitu) segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu,
40. dan segolongan besar pula dari orang-orang yang kemudian.


0 komentar:

Posting Komentar

PROMO BUKU

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...