MUSLIMAH

Menuju Insan yang Shalihah

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

MUTIARA DAKWAH

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

17 Agustus 2016

Adab Berdoa

Adab Berdoa

Doa memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam. Doa menunjukkan betapa manusia sangat bergantung kepada Allah SWT. Dan bahwasanya tiada daya upaya selain dari Allah SWT. Berikut ini adab-adab berdoa yang baik.

1. Menghadirkan Hati
Hendaklah seseorang berdoa dengan menghadirkan hati, penuh kekhusyukan, dan rasa takut.

Allah SWT berfirman, “Sungguh mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan, dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya’: 90)

Allah berfirman SWT, “Berdoalah kepada Rabb-mu dengan rendah hati dan suara yang lembut.” (QS. Al-A’raf: 55)

2. Memperbanyak Doa

Allah berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orangy yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka jahanam dalam keadaan hina dina.” (QS. Al-Mukmin: 60)

Setiap muslim hendaknya memperbanyak doa setiap saat karena ia adalah ibadah yang mulia dan perkara yang tinggi di sisi Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada sesuatu pun yang lebih mulia daripada doa di sisi Allah.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Hakim)

Rasulullah Saw bersabda, “Jika salah seorang dari kalian berdoa, maka hendaklah dia memperbanyaknya karena sesungguhnya dia meminta dari Tuhannya.” (HR. Ibnu Hibban)

3. Memulai dengan Memuji Allah SWT dan Menyebutkan Nama dan Sifat-Nya
Dianjurkan kepada setiap muslim untuk memulai segala urusannya dengan memuji Allah SWT karena Dia-lah yang berhak atas segala pujian tersebut.

Rasulullah Saw bersabda, “Apabila salah seorang kalian hendak berdoa, hendaklah memulainya dengan memuji dan menyanjung Rabb-nya serta bershalawat kepada Nabi. Setelah itu, barulah berdoa sesuai dengan kehendaknya.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, dan An-Nasa’i)

Rasulullah Saw suatu saat mendengar seseorang berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan perantara bahwa sesungguhnya segala puji adalah milik-Mu, tiada Tuhan selain Engkau, Engkau Yang Maha Esa yang tidak mempunyai sekutu, Yang Maha Memberi, Pencipta langit dan bumi, yang memiliki keagungan dan kemuliaan.”
Lalu Rasulullah Saw bersabda, “Dia telah memohon kepada Allah dengan nama-Nya yang agung, yang jika Dia diminta dengannya pasti akan memberi, dan jika dimohon dengannya Dia akan mengabulkan.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah)

Imam Nawawi berkata, “Para ulama telah sepakat atas sunnahnya memulai doa dengan memuji dan menyanjung Allah SWT, serta membaca shalawat atas Rasulullah Saw. Demikian pula, disunnahkan menutup doa dengan kedua hal tersebut.”

4. Membaca Shalawat kepada Nabi Muhammad Saw

Rasulullah Saw bersabda, “Apabila salah seorang kalian hendak berdoa, hendaklah memulainya dengan memuji dan menyanjung Rabb-nya serta bershalawat kepada Nabi. Setelah itu, barulah berdoa sesuai dengan kehendaknya.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, dan An-Nasa’i)

5. Berdoa dengan Bersungguh-sungguh
Seyogyanya seseorang berdoa dengan sungguh-sungguh karena doa adalah ibadah dan ibadah memerlukan kesungguhan dan ketulusan.

Rasulullah Saw bersabda, “Janganlah salah seorang dari kalian berdoa, ‘Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau berkenan. Ya Allah, rahmatilah aku jika Engkau berkenan. Ya Allah, berilah aku rezeki jika Engkau berkenan.’ Hendaklah dia meminta dengan bersungguh-sungguh karena sesungguhnya dia melakukan apa yang dikehendaki dan tidak terpaksa.” (HR. Bukhari dan Muslim)

6. Yakin Doanya Akan Dikabulkan
Hendaklah orang yang berdoa yakin bahwa doanya akan dikabulkan oleh Allah SWT.
Allah berfirman, “Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (katakanlah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 186)

Rasulullah Saw bersabda, “Berdoalah kalian kepada Allah dengan penuh keyakinan akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak akan menerima doa dari hati yang lalai.” (HR. Tirmidzi dan Hakim)

7. Tidak Berdoa untuk Suatu Keburukan, Kemaksiatan, atau Memutus Silaturahmi
Rasulullah Saw bersabda, “Tidaklah seseorang berdoa kecuali Allah akan memberikan apa yang dia minta, atau Allah akan menyelamatkannya dari keburukan serupa itu, selama orang tersebut tidak berdoa untuk suatu dosa atau memutus hubungan silaturahmi.” (HR. Tirmidzi)

Akan tetapi, doa yang buruk untuk orang-orang kafir dan orang-orang zalim tidak termasuk dalam larangan ini karena doa semacam itu banyak didapati di dalam Al-Quran dan Hadits.

Janganlah berdoa untuk diri sendiri, harta, anak, kerabat, dengan doa yang mengandung keburukan.
Rasulullah Saw bersabda, “Janganlah kalian mendoakan kecelakaan atas diri sendiri, anak-anak kalian, dan harta benda kalian, jangan sampai engkau berdoa (dengan hal tersebut) pada saat mustajab yang setiap permintaan akan dikabulkan.” (HR. Muslim)

8. Memilih Waktu yang Mustajab
Ada beberapa kesempatan yang telah diterangkan dalam berbagai hadits yang merupakan saat mustajab dikabulkannya doa. Di antara saat-saat tersebut ialah waktu antara azan dan iqamah, di dalam shalat, saat berbuka puasa, saat akhir malam, saat menunaikan haji, saat berada di ka’bah, dll.

9. Tidak Tergesa-gesa Ingin Dikabulkan
Tidak boleh tergesa-gesa agar doanya dikabulkan oleh Allah SWT karena hal tersebut dapat menghalangi terkabulnya doa. Sikap tergesa-gesa ini bisa menjadi indikasi bahwa orang tersebut tidak percaya dengan janji Allah yang akan mengabulkan semua doa.

Rasulullah Saw bersabda, “Doa salah seorang dari kalian akan dikabulkan selama dia tidak tergesa-gesa, yaitu dengan mengatakan, ‘Aku telah memohon tetapi tidak dikabulkan.’” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika seseorang berdoa lalu merasa bahwa doanya tidak dikabulkan, hendaklah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah SWT mengabulkan doanya dengan berbagai cara, yaitu Allah memberikan apa yang dia minta, Allah menyimpan suatu kebaikan untuknya, atau Allah menghindarkannya dari suatu bencana.

Rasulullah Saw bersabda, “Tidaklah seseorang berdoa kecuali Allah akan memberikan apa yang dia minta, atau Allah akan menyelamatkannya dari suatu keburukan serupa itu, selama orang tersebut tidak berdoa untuk suatu dosa, atau memutus hubungan silaturahmu.” (HR. Tirmidzi)

Rasulullah Saw bersabda, “Tidaklah seseorang berdoa kecuali Allah akan mengabulkan apa yang dia minta, baik Allah menyegerakannya di dunia, atau menyimpannya di akhirat selama orang tersebut tidak berdoa untuk suatu dosa, atau untuk memutus hubungan silaturahmi, atau tergesa-gesa.”
Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana dia tergesa-gesa?”
Beliau menjawab, “Orang itu berkata, ‘Aku telah memohon kepada Tuhanku tetapi tidak dikabulkan.” (HR. Tirmidzi)


Referensi:
An-Nawawi, Abu Zakariya Yahya bin Syaraf. 2010. Adzkar Nawawi: Ensiklopedia Dzikir dan Doa yang Bersumber dari Al-Quran dan Al-Hadits. Terjemahan oleh Muhammad Isa Anshory. Solo: Pustaka Arafah

Nada, Abdul Aziz bin Fathi As-Sayyid. 2008. Ensiklopedia Etika Islam. Terjemahan oleh Muhammad Isnaini, dkk. Jakarta: Maghfirah Pustaka


***

Disusun oleh Sukrisno Santoso
Sukoharjo, 17 Agustus 2016



12 Agustus 2016

Syair Imam Syafii tentang Merantau


Tidak ada tempat istirahat bagi orang yang berakal dan beradab
Maka tinggalkanlah tanah air dan asingkan diri
Pergilah!
Niscaya kau akan mendapatkan ganti dari orang-orang yang kautinggalkan
Bersungguh-sungguhlah, karena nikmatnya hidup adalah dengan kesungguhan

Sungguh aku melihat air yang diam itu akan merusak
Jika mengalir ia akan baik, jika menggenang ia akan rusak
Singa jika tidak keluar dari sarangnya tidak akan buas
Sedang anak panah jika tidak keluar dari busurnya tidak akan mengenai sasaran
Jika matahari hanya diam pada satu garis edar
Maka seluruh manusia Ajam dan Arab akan jemu melihatnya

Di tempat asalnya
Bijih emas bagaikan debu yang terbuang
Kayu gaharu yang harum wanginya
Di tempat aslinya hanyalah kayu bakar
Tetapi saat berpindah ke tempat lain, kayu tersebut akan menjadi mulia
Begitu pula bijih emas akan mulia jika sudah menjadi emas di tempat lain



(Diwan Imam Syafii dalam Minhajul Mukmin, Musthafa Murad)




4 Agustus 2016

Lelaki yang Dimandikan oleh Malaikat


Inilah Hanzhalah, lelaki yang dimandikan oleh malaikat. Bagaimanakah kisahnya? Berikut ini kisahnya sebagaimana dikutip dari kitab 184 Kisah Perindu Surga karya Muhammad bin Hamid Abdulwahab.

Ketika itu, Hanzhalah baru menikah dengan Jamilah binti Abdullah bin Ubay bin Sahlul. Ia lalu bermalam dengan istrinya, sedangkan esok paginya akan berkecamuk Perang Uhud. Hanzhalah sebelumnya telah meminta izin kepada Rasulullah dan beliau mengizinkannya.

Pada pagi harinya, setelah shalat Subuh, Hanzhalah bermaksud segera ikut dalam barisan Rasulullah ke Uhud. Akan tetapi, sebelum berangkat, ia terlebih dahulu menggauli istrinya hingga ia junub.

Istrinya lalu menginformasikan dan mempersaksikan hal tersebut, yaitu bahwa Hanzhalah telah menggaulinya, kepada empat orang kerabatnya. Ketika ditanya latar belakang tindakannya itu, Jamilah berkata, “Aku melihat dalam tidur bahwa langit tiba-tiba merekah lalu Hanzhalah masuk ke dalamnya. Setelah itu langit kembali bertaut. Aku lalu menakwilkan bahwa Hanzhalah akan syahid.”

Dari hubungan dengan suaminya tersebut, Jamilah melahirkan anak yang diberi nama Abdullah bin Hanzhalah.

Sambil mengusung pedang, Hanzhalah bergegas menemui Rasulullah yang saat itu tengah merapikan barisan pasukan kaum muslimin. Setelah pertempuran berlangsung beberapa lama dan pasukan kaum muslimin terdesak, Hanzhalah lalu menerjang ke arah Abu Sufyan dan kemudian menebas tumit kuda pemimpin musyrikin Mekah itu dengan pedangnya. Akan tetapi, seorang laki-laki dari pasukan musyrikin lantas menyarangkan tombaknya sehingga Hanzhalah pun roboh.

Ketika peperangan berakhir, Rasulullah lalu berkata, “Aku sungguh melihat para malaikat tengah memandikan Hanzhalah bin Abu ‘Amir di antara langit dan bumi dengan air hujan yang ditampung dalam bejana dari perak.”

Sungguh Hanzhalah telah melakukan perbuatan yang luar biasa dengan meninggalkan istri yang baru satu hari dinikahinya demi memenuhi panggilan perang. Iman yang kuat telah mendorongnya untuk bersegera memenuhi Rasulullah, bahkan meski dengan tidak mandi junub terlebih dahulu agar tidak terlambat. Hasilnya, Allah menganugerahkan kepadanya mati syahid dan rezeki yang melimpah ruah.


Dari kisah di atas dapat kita ambil beberapa pelajaran.

  1. Sunnahnya menikah dan menyegerakannya, bahkan dalam keadaan sehari sebelum perang, pernikahan tetap dilaksanakan.
  2. Etika sahabat meminta izin terlebih dahulu kepada Rasulullah untuk tidak ikut persiapan perang karena ada keperluan menikah dan bermalam dengan istrinya.
  3. Mempersaksikan suatu perbuatan agar tidak menimbulkan prasangka, sebagaimana istri Hanzhalah yang mempersaksikan kepada kerabatnya bahwa suaminya telah menggaulinya agar ketika ia hamil dan melahirkan, orang-orang yakin bahwa itu adalah hasil hubungannya dengan Hanzhalah.
  4. Semangat para sahabat dalam memenuhi panggilan jihad. Hanzhalah rela meninggalkan istri yang baru sehari dinikahinya.
  5. Bersegera dalam berangkat jihad, bahkan Hanzhalah tidak sempat mandi junub terlebih dahulu.
  6. Keutamaan orang yang mati syahid, sebagaimana Hanzhalah yang dimandikan oleh malaikat dengan air hujan yang ditampung di dalam bejana perak.
  7. Kebenaran mimpi orang-orang yang beriman, sebagaimana mimpi istri Hanzhalah yang ditakwilkan bahwa Hanzhalah akan mati syahid.

***
Referensi:
Muhammad bin Hamid Abdulwahab. 184 Kisah Perindu Surga. 2011. Jakarta: Penerbit Al-Qalam)

***
Ditulis oleh: Sukrisno Santoso
Ditulis pada hari Rabu, 14 Mei 2014, di SMPIT Mutiara Insan Sukoharjo




31 Juli 2016

Pembagian Hati: Hati yang Sehat, Mati, dan Sakit


Hati ibarat raja yang mengatur bala tentara. Hati ibarat raja bagi jasad, sementara jasad ibarat tentara yang siap melaksanakan perintah dan menerima petunjuknya. Setiap amal perbuatan bersumber dari hati. Hati memimpin perbuatan jasad. Dan hati bertanggung jawab terhadap kinerja jasad. Karena, setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.

Jika hati baik maka amal perbuatan menjadi baik. Sebaliknya, jika hati buruk maka amal perbuatan menjadi buruk.

  • Rasulullah bersabda, “Ketahuilah, bahwa di dalam jasad manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik maka baik pula seluruh jasadnya, dan jika ia rusak maka rusak pula seluruh jasadnya. Ketahuilah, bahwa segumpal daging itu ialah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Menurut sifatnya, hati dibagi menjadi tiga jenis, yaitu (1) hati yang sehat, (2) hati yang mati, dan (3) hati yang sakit.

1. Hati yang Sehat
Hati yang sehat yaitu hati yang bersih yang menyelematkan seseorang pada hari Kiamat saat menghadap Allah. 

  • Allah berfiman, “(Yaitu) pada hari harta dan anak laki-laki tidak berguna, kecuali yang menghadap Allah dengan hati yang sehat.” (QS. Asy-Syu’ara: 88-89)
Qolbun salim (hati yang sehat) yaitu hati yang bersih dan selamat dari berbagai syahwat yang menyalahi perintah dan larangan Allah, serta dari syubhat (kesamaran) yang bertentangan dengan firman-Nya. Ia selamat dari penghambaan kepada selain Allah dan dari ketetapan selain Rasul-Nya. Amal perbuatannya ikhlas karena Allah. Ia mencintai karena Allah dan membenci karena Allah.

2. Hati yang Mati
Hati yang mati ialah hati yang di dalamnya tiada kehidupan. Ia tidak mengetahui Rabb-nya sehingga tidak menyembahnya sesuai perintah, serta tidak mencintai apa yang dicintai dan diridlai-Nya. Hati yang mati berjalan bersama syahwat dan kesenangan-kesenangannya meskipun mengandung amarah dan murka dari Rabb-Nya.

Ia mencintai dan membenci karena hawa nafsunya. Ia memberi dan menolak karena hawa nafsunya. Hawa nafsu adalah pemimpinnya, syahwat adalah komandannya, kebodohan adalah sopirnya, kelalaian adalah kendaraannya. Tujuan duniawi membuatnya tenggelam, nafsu dan cinta dunia menjadikannya mabuk kepayang.

3. Hati yang Sakit
Hati yang sakit ialah hati yang hidup tetapi terjangkit penyakit. Terkadang hatinya condong pada kebaikan, namun terkadang cenderung pada kemaksiatan. Di dalam hati tersebut ada cinta kepada Allah, iman kepada-Nya, ikhlas untuk-Nya, tawakal kepada-Nya dan itulah yang menyebabkan hatinya hidup. Namun, di dalamnya ada pula cinta dan kesenangan pada syahwat serta memiliki hasrat kuat untuk meraihnya.

Di dalam hati yang sakit terdapat dua penyeru yang saling bertentangan. Penyeru pertama mengajaknya kepada Allah, Rasul-Nya dan kehidupan akhirat. Penyeru kedua mengajaknya kepada kehidupan dunia. Ada kalanya ia mengikuti seruan yang pertama, ada kalanya ia mengikuti seruan yang kedua.


Referensi:
Al-Jauziyah, Ibnu Qayyim. Ighatsatul Lahfan fi Mashayidisy Syaithan. Ringkasan oleh Ali Hasan Abdul Hamid. (Terjemah oleh Ainul Haris Umar Arifin Thayib). 2010. Manajemen Qalbu: Melumpuhkan Senjata Setan. Bekasi: Darul Falah


Farid, Ahmad. Al-Bahru Ar-Raqa’iq fiz Zuhdi war Raqa’iq. (Terjemah: Muhammad Suhadi). 2014. Tazkiyatun Nafs: Penyucian Jiwa dalam Islam. Jakarta: Ummul Qura



.................................
Disusun oleh:
Sukrisno Santoso
Sukoharjo, 31 Juli 2016


13 Januari 2016

Tafsir Al-Quran Surat An-Nas Ayat 1-6

Tafsir Al-Quran Surat An-Nas Ayat 1-6
An-Nas (Manusia), surat Makkiyah 

(1) Katakanlah: "Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.
(2) raja manusia.
(3) sembahan manusia.
(4) dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi,
(5) yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,
(7) dari (golongan) jin dan manusia.

Inilah tiga dari sifat-sifat Rabb, yaitu Rububiyah, Raja, dan Ilahiyah (ayat 1-3). Allah adalah pemelihara segala sesuatu sekaligus sebagai Raja dan Rabb. Dengan demikian, segala sesuatu yang ada ini adalah makhluk ciptaan-Nya, hamba sekaligus abdi-Nya. Oleh karena itu, Dia memerintahkan kepada semua yang hendak memohon perlindungan agar berlindung kepada Dzat yang memiliki ketiga sifat di atas, dari kejahatan bisikan syaitan khannas, yaitu syaitan yang ditugaskan untuk menggoda manusia, karena tidak ada seorang pun keturunan Adam melainkan dia memiliki satu teman yang akan senantiasa menjadikan segala perbuatan keji itu indah dipandang dan dia tidak akan mengenal kata lelah dalam menjalankannya. Dan orang yang terlindungi adalah orang yang mendapat perlindungan Allah.

Telah ditegaskan di dalam sebuah hadits shahih, “Tidak seorang pun di antara kalian melainkan telah diutus kepadanya pendampingnya.”
Para Sahabat bertanya, “Termasuk juga engkau, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab, “Ya, hanya saja Allah membantuku dalam menundukkannya sehingga ia masuk agama Islam, karenanya dia tidak menyuruhku kecuali hal-hal yang baik-baik.
(HR. Muslim)

Ditegaskan pula dalam kitab Ash-Shahihain, dari Anas tentang kisah kunjungan yang dilakukan oleh Shafiyyah kepada Nabi ketika beliau beritikaf dan keluarnya beliau bersamanya pada malam hari untuk mengantarnya pulang. Kemudian beliau berpapasan dengan dua orang laki-laki dari kaum Anshar.Ketika melihat Nabi, keduanya mempercepat jalannya, maka Rasulullah bersabda, “Berjalanlah seperti biasa, karena sesungguhnya dia adalah Shafiyyah binti Huyay.” Kemudian keduanya berkata, “Mahasuci Allah, wahai Rasulullah.”

Beliau pun bersabda, “Sesungguhnya syaitan itu mengalir dalam tubuh anak Adam seperti aliran darah. Dan sesungguhnya aku khawatir dia akan memasukkan sesuatu ke dalam hati kalian berdua.”

Imam Ahmad meriwayatkan, Muhammad bin Jafar memberitahu kami dari orang yang pernah membonceng Rasulullah, dia berkata, “Keledai Nabi pernah terpeleset, lalu kukatakan, ‘Celakalah syaitan!’
Maka Nabi bersabda, ‘Janganlah engkau mengatakan ‘celakalah syaitan’ karena sesungguhnya jika engkau mengatakannya, niscaya dia akan merasa bertambah besar dan mengatakan, ‘Dengan kekuatanku, aku menjatuhkannya.’ Dan jika engkau mengucapkan, ‘Bismillah,’ niscaya dia akan merasa bertambah kecil sehingga dia menjadi seperti lalat.’”
(Diriwayatkan oleh Imam Ahmad seorang diri, dengan sanad jayyid dan kuat)

Di dalam hadits di atas terkandung dalil yang menunjukkan bahwa hati jika berdzikir kepada Allah, niscaya syaitan akan merasa bertambah kecil dan kalah. Dan jika tidak berdzikir kepada Allah, niscaya syaitan akan merasa bertambah besar dan menang.

Mengenai firman Allah: alwaswasil khannas ‘syaitan yang biasa bersembunyi’ (ayat 4), Said bin Jubair mengatakan dari Ibnu Abbas, “Yaitu syaitan yang selalu bercokol di dalam hati manusia, di mana jika manusia lengah dan lalai maka dia akan memberikan bisikan, dan jika manusia berdzikir kepada Allah maka syaitan itu akan bersembunyi.”

Firman Allah: Alladzi yuwaswisufi sudurinnas ‘Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia” (ayat 5), apakah yang demikian itu khusus pada anak Adam saja –sebagaimana tampak pada lahiriahnya—ataukah mencakup anak Adam dan juga jin? Mengenai hal tersebut terdapat dua pendapat. Di mana mereka semua telah masuk ke dalam lafazh an-nas. Ibnu Jarir mengatakan, “Dan tidak jarang jin laki-laki dipekerjakan oleh manusia. Oleh karena itu, bukan suatu hal yang aneh jika jin-jin itu disebut dengan sebutan an-nas.” 


Firman-Nya: minal jinnati wannas ‘dari jin dan manusia’ (ayat 6), ayat ini sebagai penjelas ayat di atasnya “yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia”. Hal ini memperkuat pendapat kedua.

Ada juga yang berpendapat bahwa firman-Nya, minal jinnati wannas, sebagai tafsiran bagi pihak yang selalu memberi bisikan ke dalam dada manusia yang terdiri dari syaitan, manusia, dan jin. Sebagaimana firman-Nya, “Dan demikianlah kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (QS. A.-An’am: 112)

Imam Ahmad meriwayatkan, Waki memberitahu kami dari Ibnu Abbas, dia berkata, “Ada seseorang datang kepada Nabi seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya telah terbesit di dalam diriku sesuatu, di mana jatuh dari langit lebih aku sukai daripada harus membicarakannya.’ “

Lebih lanjut dia menceritakan, “Lalu Nabi bersabda, ‘Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, segala puji hanya bagi Allah yang telah mengembalikan tipu dayanya kepada godaan.’”
(Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan An-Nasa’i)


Referensi:
Ibnu Katsir. Tafsirul Quranil Azhim. Ditahqiq dan diringkas oleh Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh dengan judul Lubabut Tafsir Min Ibni Katsir. Terjemahan oleh M. Abdul Ghoffar & Abu Ihsan Al-Atsari. 2008. Tafsir Ibnu Katsir. Cetakan ke-4 tahun 2012. Jakarta: Pustaka Imam Syafii



21 Desember 2015

Pentingnya Belajar Adab


Telah banyak diriwayatkan perkataan para ulama salaf yang memuji dan menyanjung adab (etika) dan orang-orang yang beradab, dan anjuran mereka untuk berpegang teguh pada adab. Syaikh Abdul Aziz bin FathiAs-Sayyid Nada dalam kitab Mausuah Al-Adab Al-Islamiyah menyebutkan beberapa perkataan ulama yang menunjukkan pentingnya adab bagi seseorang.


Abdullah Al-Mubarak ditanya oleh Habib Al-Jallab, “Apakah hal terbaik yang diterima manusia?”
Dia menjawab, “Akal yang bagus.”
Habib lalu bertanya, “Jika tidak?”
Dia berkata, “Adab yang baik.”

Ibnu Sirin berkata, “ Dahulu mereka (ulama salaf) mempelajari adab sebagaimana mereka mempelajari ilmu pengetahuan.”

Al-Hasan berkata, “Dahulu, seseorang pergi setiap dua tahun sekali untuk menjadikan dirinya beradab.”

Habib bin Asy-Syahid berpesan kepada anaknya, “Wahai anakku, bergaullah dengan ahli fikih dan para ulama, dan pelajarilah adab dari mereka. Sesungguhnya hal itu lebih aku sukai daripada banyak bicara.”

Beberapa orang zaman dahulu berpesan kepada anaknya, “Wahai anakku, jika engkau mempelajari satu bab tentang masalah adab, itu lebih aku sukai daripada engkau mempelajari tujuh puluh bab ilmu pengetahuan yang lainnya.”

Abu Bakar Al-Muthawwa’i berkata, “Aku bergaul dengan Imam Ahmad bin Hambal selama dua belas tahun. Selama itu dia membacakan kitab Al-Musnad kepada anak-anaknya, tetapi aku tidak menulis satu hadits pun selama itu kecuali memperhatikan tingkah laku dan akhlaknya saja.”

Adz-Dzahabi berkata, “Majelis ilmu Imam Ahmad dihadiri oleh lima ribuan jamaah, lima ratus orang dari mereka menulis hadits dari Imam Ahmad, sedangkan yang lainnya sekadar memperhatikan tingkah laku, akhlak, dan adabnya saja.”

Ibnu Al-Mubarak pernah bersyair, “Aku menundukkan nafsuku dan aku tidak mendapatkan kekuatan yang lebih baik daripada adab –di samping takwa—untuk menundukkan nafsu.”

Ibnu Al-Mubarak berkata, “Aku telah belajar adab selama 30 tahun dan belajar ilmu pengetahuan selama 20 tahun. Orang-orang terdahulu belajar adab dahulu baru kemudian belajar ilmu pengetahuan.”

Al-Qarafi dalam bukunya Al-Furuq menerangkan kedudukan adab, “Ketahuilah bahwa sedikit adab lebih baik daripada perbuatan yang banyak. Karena itu, Ruwaim –seorang alim yang saleh—berkata kepada anaknya, ‘Wahai anakku, jadikanlah perbuatanmu sebagai garam dan adabmu sebagai tepung gandum’”.
Maksudnya, perbanyaklah adab hingga perbandingannya dengan perbuatanmu seperti perbandingan tepung dengan garam, atau adab yang baik dibarengi amal perbuatan yang sedikit lebih baik daripada kurang beradab walaupun banyak amal perbuatan.

Pentingnya adab membuat para imam penyusun kitab hadits memasukkan bab adab dalam kitab mereka. Kitab Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan Tirmidzi, dan Sunan Ibnu Majah memuat bab khusus tentang adab di dalamnya. Selain itu, para ulama juga menulis kitab yang khusus membahas tentang adab. Berikut ini contohnya:

  1. Adabul Mufrad karangan Bukhari
  2. Al-Adab karangan Baihaqi
  3. Al-Jami’ li Al-Akhlak Ar-Rawi wa Adab As-Sami karangan Al-Khatib Al-Baghdadi
  4. Al-Jami’ Al-Bayan Al-Ilm wa Fadhuluhu karangan Ibnu Andul Barr
  5. Tadzkirah As- Sami’ wa Al-Mutakallim fi Adab Al-Alim wa Al-Muta’allim karangan Ibnu Jamaah.
  6. Al-Adab Asy-Syar’iyyah karangan Ibnu Muflih Al-Hambali
  7. Adab Al-Akl karangan Ibnu ‘Imad Al-Aqfahasi Asy-Syafii
  8. Min Adab Al-Islam karangan Abdul Fattah Abu Ghuddah
  9. Al-Adab karangan Fuad Asy-Syalhubi


Referensi:
Abdul Aziz bin Fathi As-Sayyid Nada. Mausuah Al-Adab Al-Islamiyah Al-Murattabah ‘ala Al-Huruf Al-Hija’iyyah. Terjemahan: Muhammad Isnaini, dkk. 2008. Ensiklopedia Etika Islam. Cetakan ke-3. Jakarta: Maghfirah Jakarta

***
Disusun oleh Sukrisno Santoso
Sukoharjo, 21 Desember 2015


14 Desember 2015

Dosa Syirik atau Menyekutukan Allah

Dosa-dosa Besar #1 Syirik
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menulis sebuah kitab berjudul Al-Kabair yang menerangkan sebanyak 76 dosa besar. Dosa terbesar yang beliau sebutkan pertama kali ialah syirik (menyekutukan Allah).

Syirik ada dua. Pertama, menjadikan sesuatu sebagai tandingan bagi Allah dan atau beribadah kepada selain-Nya, baik berupa batu, pohon, matahari, bulan, nabi, guru, bintang, raja, ataupun yang lain. Inilah syirik besar yang tentangnya Allah berfirman,
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa’: 48 & 116)
“Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13)
“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka.” (QS. Al-Maidah: 72)
Barangsiapa mempersekutukan Allah lalu meninggal dalam keadaan seperti itu, sungguh ia termasuk penghuni neraka. Seperti halnya seseorang yang beriman kepada Allah lalu meninggal dalam keadaan seperti itu maka ia termasuk penghuni surga, walaupun mungkin diazab di neraka terlebih dahulu.

Rasulullah bersabda, “Maukah aku beritahukan apa kabair (dosa besar) yang paling besar?” Beliau mengulang tiga kali. Para sahabat menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.” Lalu Rasululah bersabda, “Yaitu mempersekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.” Saat itu beliau bersandar lalu duduk dan melanjutkan, “Juga kesaksian palsu, kesaksian palsu.” Begitu Rasulullah mengulang-ulang sampai-sampai kami mengatakan, “Andai beliau menghentikannya.” (HR. Bukhari & Muslim)

Rasulullah bersabda, “Jauhilah tujuh perkara yang merusak!” Lalu beliau menyebutkan, “Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali karena alasan yang dibenarkan, memakan harta anak yatim, memakan riba, meninggalkan medan perang, dan menuduh wanita mukminah baik-baik telah berzina.” (HR. Bukhari & Muslim)

Jenis syirik yang kedua yaitu menyertai amal dengan riya’.
Allah berfirman, 

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabb-nya.” (QS. Al-Kahfi: 110)
Maksud dari “janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabb-nya", yaitu hendaknya tidak menyertakan riya’ bersama amalnya.

Rasulullah bersabda, “Jauhilah syirik kecil!” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah syirik kecil itu?” Beliau menjawab, “Yaitu riya’. Pada Hari Pembalasan untuk segala yang dikerjakan oleh manusia, Allah berkata, ‘Pergilah kepada orang-orang yang kalian ingin mereka melihat amal-amal kalian. Lalu, lihatlah! Adakah pahala yang disediakannya?” (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihain)

Dalam hadits qudsi, Allah berfirman, “Barangsiapa mengerjakan suatu amal, dalam hal itu ia mempersekutukan seorang denganku, maka amal yang dikerjakannya itu untuk sekutu yang ia angkat. Dan aku berlepas diri darinya.” (HR. Muslim)

Rasulullah bersabda, “Barangsiapa berlaku riya’, Allah akan memperlihatkan keburukannya. Dan barangsiapa berlaku sum’ah, Allah akan memperdengarkan aibnya.” (HR. Bukhari & Muslim)

Rasulullah bersabda, “Betapa banyak orang yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan dahaga, dan betapa banyak orang yang bangun shalat malam tetapi tidak mendapatkan apa-apa selain berjaga.” (HR. Ahmad & Ibnu Majah, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’)

Maksudnya, jika puasa dan shalat dikerjakan bukan untuk Allah maka tidak ada pahalanya.
Allah berfirman, 

“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (HR. Al-Furqon: 23)
Maksudnya, amal-amal yang dikerjakan untuk selain mengharapkan wajah Allah, Allah membatalkan pahalanya serta menjadikannya bagai debu yang berterbangan, yaitu debu yang dapat dilihat dari sebuah celah di mana cahaya matahari masuk melaluinya.

Para ahli hikmah ditanya tentang orang yang ikhlas, mereka menjawab, “Yaitu yang menyembunyikan kebaikan-kebaikannya seperti halnya menyimpan keburukan-keburukannya.”

Ada pula yang ditanya tentang puncak ikhlas, menjawab, “Hendaknya kamu tidak menyukai pujian dari manusia.” Fudhail bin Iyadh berkata, “Meninggalkan amal karena manusia itu riya’, sedangkan mengerjakannya karena mereka itu syirik. Ikhlas adalah apabila Allah menjagamu dari keduanya.”

Ya Allah, jagalah kami dari kedua jenis syirik itu dan ampunilah kami.


Referensi:
Adz-Dzahabi. Al-Kabair. Terjemahan: Imtihan Asy-Syafi’i. 2013. Dosa-dosa Besar. Solo: Pustaka Arafah


---------------------------------------------------------

PEMESANAN BUKU
Dosa-Dosa Besar karya Imam Adz-Dzahabi, diterbitkan oleh penerbit Pustaka Arafah

Judul buku : Dosa-Dosa Besar
Penulis : Imam Adz-Dzahabi
Penerbit : Pustaka Arafah
Halaman : 418 halaman
Harga : Rp 55.000,- 45.000,-

 
--------------------------------------------------------------------
Cara pembelian
SMS dengan format :
(buku) DOSA-DOSA BESAR (nama) (alamat)
Kirim ke : 0856 4231 8421


Contoh:
(buku)
DOSA-DOSA BESAR (Santoso) (Kec. Grogol, Kab. Sukoharjo)

Selanjutnya kami akan segera membalas dan memproses pesanan anda.
Informasi pembelian buku:
Telp/SMS: 0856 4231 8421
Pin BBM: 5782EAE1


Prosedur pembelian
1. Kirim SMS pesanan ke nomor 0856 4231 8421.
2. Kami akan konfirmasi harga dan biaya kirim.
3. Membayar sejumlah harga pesanan dan biaya kirim ke rekening:
 
  • Bank Muamalat a.n. Sukrisno Santoso. Nomor rekening: 5300001052 
  • Bank Syariah Mandiri (BSM) a.n. Sukrisno Santoso, Nomor rekening: 7076497065 
4. Kami akan mengirimkan pesanan setelah transfer pembayaran sudah masuk.
5. Kami akan mengirimkan SMS yang berisi nomor resi pengiriman sebagai bukti bahwa barang pesanan benar-benar sudah dikirim.


7 Desember 2015

Adab Sebelum Tidur


Allah berfirman,
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring.”
(QS. Ali-Imran: 190-191)

Rasulullah bersabda, “Barangsiapa duduk di suatu majelis tanpa berdzikir kepada Allah, niscaya menjadi kekurangan atasnya di sisi Allah. Dan barangsiapa berbaring di tempat tidur tanpa berdzikir kepada Allah, niscaya menjadi kekurangan atasnya di sisi Allah.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, & Ahmad)

Seorang muslim hendaknya memperhatikan aktivitas sebelum tidurnya agar tidurnya berpahala dan mendatangkan kebaikan serta menjauhkan dari segala keburukan. Berikut ini beberapa adab sebelum tidur.

1. Tidak mengakhirkan tidur setelah Isya

Hendaknya setiap muslim segera tidur setelah Isya, kecuali untuk beberapa keperluan, seperti mempelajari ilmu, bercakap-cakap dengan tamu, dan keperluan yang mendatangkan kebaikan lainnya.

Diriwayatkan dari Aisyah, “Bahwasanya Rasulullah tidur pada awal malam dan bangun pada penghujung malam, lalu beliau melakukan shalat.” (HR. Bukhari & Muslim)

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan ngobrol-ngobrol setelahnya.” (HR. Bukhari)

2. Menutup pintu, jendela, dan memadamkan api/lampu

Rasulullah bersabda, “Padamkanlah lampu di malam hari apabila kamu akan tidur, tutuplah pintu, tutuplah rapat-rapat bejana-bejana dan tutuplah makanan dan minuman.” (HR. Bukhari & Muslim)

3. Berwudhu sebelum tidur dan berbaring miring ke sebelah kanan
Rasulullah bersabda, “Apabila kamu akan tidur maka berwudhulah sebagaimana wudhu untuk shalat kemudian berbaringlah dengan miring ke sebelah kanan.” (HR. Bukhari & Muslim)

4. Mengibaskan sprei (alas tidur) tiga kali sebelum berbaring
Rasulullah bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian akan tidur pada tempat tidurnya maka hendaklah mengibaskan kain tempat tidurnya itu terlebih dahulu karena ia tidak tahu apa yang di atasnya.” (HR. Bukhari & Muslim)
Dalam satu riwayat dikatakan, “(dilakukan) tiga kali.”

5. Muhasabah (introspeksi diri) sebelum tidur

Dianjurkan bagi setipa muslim untuk melakukan muhasabah sesaat sebelum tidur, mengevaluasi segala perbuatan yang telah ia lakukan di siang hari. Jika ia dapatkan perbuatannya baik maka hendaknya memuji Allah, dan jika sebaliknya maka hendaknya segera memohon ampunan-Nya dan bertaubat kepada-Nya.

6. Membaca doa dan dzikir sebelum tidur
Ada beberapa doa dzikir yang bisa dibaca sebelum tidur. Ulama telah mengumpulkannya dalam kitab-kitab mereka. Salah satu doa sebelum tidur yaitu, “Bismikallahumma amutu wa ahya” ‘Dengan menyebut namamu, ya Allah, aku mati dan aku hidup’. Juga membaca ayat Kursi, dua ayat terakhir Surat Al-Baqarah, Surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas, serta masih banyak doa dan dzikir yang lainnya.


Referensi:
An-Nawawi. Al-Adzkar. Terjemahan: Muhammad Isa Anshory. 2010. Adzkar Nawawi: Ensiklopedia Dzikir dan Doa yang Bersumber dari Al-Quran dan Al-Hadits. Solo: Pustaka Arafah

Murad, Musthafa. Minhaj Al-Mu’min. Terjemahan: Irwan Raihan, dkk. 2011. Minhajul Mukmin: Pedoman Hidup bagi Orang Mukmin. Solo: Pustaka Arafah

Lajnah Ilmiah Darul Wathan. Adab Al-Muslim fi Al-Yaum waAl- Lailah. Terjemahan: Musthofa Aini. 2015. Minhajul Mukmin: Pedoman Hidup bagi Orang Mukmin. Solo: Pustaka Arafah

6 Desember 2015

Al-Kabair: Dosa-dosa Besar

Al-Kabair: Dosa-dosa Besar
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menulis sebuah kitab berjudul Al-Kabair yang menerangkan sebanyak tujuh puluh dosa besar. Pengertian kabair (dosa-dosa besar) adalah semua larangan Allah dan Rasulullah yang tercantum di dalam Al-Quran dan As-Sunn­ah, serta atsar dari para salafus shalih.

Allah menjamin bagi siapa saja yang menjauhi dosa-dosa besar dan perkara-perkara yang diharamkan akan diampuni semua dosa-dosa kecil yang dilakukannya. Allah berfirman, 

“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (Surga).” (QS. An-Nisa’: 31)
Berdasarkan nash di atas, Allah menjamin Surga bagi yang menjauhi dosa-dosa besar.
Allah juga berfirman,

“Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf.” (QS. Asy-Syura’: 37)

“(Yaitu ) orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Rabb-mu maha luas ampunan-Nya.” (QS. An-Najm: 32)

Rasulullah bersabda, “Shalat lima waktu, shalat Jumat, dan puasa Ramadhan menghapuskan dosa-dosa yang dilakukan di sela-selanya jika dosa-dosa besar telah dijauhi.” (HR. Muslim)

Dari sini lazim bagi kita untuk meneliti apa saja yang termasuk kabair (dosa-dosa besar) supaya kita dan semua orang Islam bisa menjauhinya. Para ulama berbeda pendapat di dalam menentukannya. Ada yang mengatakan kabair itu ada tujuh, berdasarkan sabda Nabi, “Jauhilah tujuh perkara yang merusak!” Lalu beliau menyebutkan, “Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali karena alasan yang dibenarkan, memakan harta anak yatim, memakan riba, meninggalkan medan perang, dan menuduh wanita mukminah baik-baik telah berzina.” (HR. Bukhari & Muslim)

Ibnu ‘Abbas berkata, “Kabair itu jumlahnya lebih dekat kepada tujuh puluh daripada kepada tujuh.”

Demi Allah, ucapan Ibnu ‘Abbas di atas benar adanya. Hadits sebelumnya tidaklah membatasi jumlah kabair. Pendapat yang benar dan dilandasi dengan dalil menyebutkan bahwa siapapun yang melakukan perbuatan dosa yang memiliki had di dunia, seperti membunuh, berzina, mencuri, atau yang pelakunya mendapat ancaman, kemurkaan, serta laknat dari Nabi Muhammad di akhirat, maka perbuatan itu termasuk dosa besar. Harus diterima pula bahwa dosa besar yang satu bisa lebih besar daripada dosa besar yang lain. Adalah Rasulullah menghitung syirik sebagai salah satu dosa besar, padahal pelakunya kekal di neraka dan tidak akan diampuni selama-lamanya.

Allah berfirman, 

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa: 48 & 116)

Tujuh Puluh Dosa Besar

1. Syirik (mempersekutukan Allah)
2. Membunuh
3. Sihir
4. Meninggalkan Shalat
5. Tidak membayar Zakat
 

6. Berbuka di siang hari pada bulan Ramadhan tanpa udzur
7. Meninggalkan haji padahal mampu
8. Mendurhakai orang tua
9. Memutuskan hubungan kerabat
10. Zina
 

11. Liwath (homoseks)
12. Riba
13. Memakan harta anak yatim dan menzhaliminya.
14. Berbuat dusta terhadap Allah dan Rasulullah
15. Melarikan diri dari medan perang
 

16. Pemimpin penipu dan penganiaya rakyat
17. Sombong dan yang sejenisnya
18. Kesaksian palsu
19. Minum-minuman keras
20. Berjudi
 

21. Menuduh wanita mukminah berbuat zina
22. Ghulul terhadap harta ghanimah, baitul mal, dan zakat
23. Mencuri
24. Menyamun
25. Sumpah palsu
 

26. Berbuat aniaya
27. Memungut cukai
28. Memakan barang haram
29. Bunuh diri
30. Banyak berdusta
 

31. Hakim yang jahat
32. Menerima suap
33. Perempuan menyerupai lelaki dan sebaliknya
34. Lelaki yang membiarkan istrinya berbuat serong (dayyuts)
35. Muhallil dan muhallil lahu
 

36. Tidak menjaga diri dengan saksama terhadap air seni
37. Riya’
38. Menuntut ilmu untuk dunia dan menyembunyikan ilmu
39. Khianat
40. Mengungkit-ungkit pemberian
 

41. Mendustakan takdir
42. Menguping rahasia orang lain
43. Namimah (mengadu domba)
44. Banyak melaknat
45. Menipu dan mengingkari janji
 

46. Membenarkan dukun dan tukang ramal
47. Durhaka terhadap suami
48. Menggambar dan melukis
49. Memukul wajah, menjerit-jerit, merobek baju, menggunduli kepala, dan bersumpah serapah di kala mengalami musibah
 

50. Bertindak melampaui batas
51. Bertindak semena-mena terhadap orang yang lemah, budak, istri, dan binatang
52. Menyakiti tetangga
53. Menyakiti orang-orang Islam dan mencela mereka
54. Menyakiti hamba Allah dan bertindak lalim terhadap mereka
 

55. Isbal (menjulurkan kain di bawah mata kaki dengan sombong)
56. Memakai kain sutera dan emas bagi kaum lelaki
57. Budak yang melarikan diri dari tuannya
58. Menyembelih karena selain Allah
59. Menasabkan diri kepada selain bapaknya sendiri
60. Berdebat dan bersengketa
 

61. Menahan kelebihan air dari orang yang memerlukan
62. Mengurangi timbangan dan ukuran
63. Merasa aman dari makar Allah
64. Berputus asa dari rahmat Allah
65. Meninggalkan shalat jamaah lalu mengerjakannya sendirian tanpa udzur

66. Terus-menerus menginggalkan shalat Jumat dan shalat jamaah tanpa halangan
67. Mendatangkan kerugian dalam wasiat
68. Makar dan tipu daya
69. Memata-matai orang Islam dan membeberkan rahasia mereka
70. Mencela salah seorang sahahat Nabi


Referensi:
Adz-Dzahabi. Al-Kabair. Terjemahan: Imtihan Asy-Syafi’i. 2013. Dosa-dosa Besar. Solo: Pustaka Arafah


---------------------------------------------------------

PEMESANAN BUKU
Dosa-Dosa Besar karya Imam Adz-Dzahabi, diterbitkan oleh penerbit Pustaka Arafah

Judul buku : Dosa-Dosa Besar
Penulis : Imam Adz-Dzahabi
Penerbit : Pustaka Arafah
Halaman : 418 halaman
Harga : Rp 55.000,- 45.000,-

 
--------------------------------------------------------------------
Cara pembelian
SMS dengan format :
(buku) DOSA-DOSA BESAR (nama) (alamat)
Kirim ke : 0856 4231 8421


Contoh:
(buku)
DOSA-DOSA BESAR (Santoso) (Kec. Grogol, Kab. Sukoharjo)

Selanjutnya kami akan segera membalas dan memproses pesanan anda.
Informasi pembelian buku:
Telp/SMS: 0856 4231 8421
Pin BBM: 5782EAE1


Prosedur pembelian
1. Kirim SMS pesanan ke nomor 0856 4231 8421.
2. Kami akan konfirmasi harga dan biaya kirim.
3. Membayar sejumlah harga pesanan dan biaya kirim ke rekening:
 
  • Bank Muamalat a.n. Sukrisno Santoso. Nomor rekening: 5300001052 
  • Bank Syariah Mandiri (BSM) a.n. Sukrisno Santoso, Nomor rekening: 7076497065 
4. Kami akan mengirimkan pesanan setelah transfer pembayaran sudah masuk.
5. Kami akan mengirimkan SMS yang berisi nomor resi pengiriman sebagai bukti bahwa barang pesanan benar-benar sudah dikirim.



15 November 2015

Cara Menghadapi Kritikan dan Hinaan


Kritik dan hinaan adalah keniscayaan yang akan diterima oleh setiap orang yang hidup dalam lingkungan sosial. Orang-orang miskin dan lemah dihina atas kemelaratan dan kepayahannya. Orang kaya dikritik atas pengumpulan dan penggunaan hartanya. Para pejabat dihina dan dikritik atas kebijakannya. Seorang raja juga sering menjadi sasaran hinaan dan kritikan. Bahkan, manusia termulia di muka bumi, Nabi Muhammad, tak lepas dari hinaan. Beliau sebagai manusia maksum, takberdosa, mendapat hinaan dan fitnahan sebagai seorang penyihir dan orang yang gila.

Dengan memahami bahwa panah hinaan dan tombak kritikan selalu mengarah siap menembus kehormatan kita, seyogyanya kita bisa menghadapinya dengan sabar, penuh perhitungan, dengan ketenangan berpikir dan kelapangan jiwa.

Hinaan yang diarahkan kepada kita, anggaplah ia sebagai batu pengasah kesabaran dan keikhlasan kita. Kritikan yang diumpankan kepada kita, ambillah apa yang sekiranya bisa kita ambil sebagai pelajaran. Namun, tak jarang pula kritikan itu hanyalah wujud rasa iri dan dengki dari orang-orang yang hatinya terdapat penyakit.

Allah mengajarkan kepada kita, “Dan, janganlah kamu hiraukan gangguan-gangguan mereka dan bertawakallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai pelindung.” (QS. Al-Ahzab: 48)

Janganlah hinaan dan kritikan yang berdasarkan dengki menghancurkan kita. Janganlah mendengarkan dan menghiraukan segala celaan, gangguan, dan hinaan mereka itu. Karena melayani semua itu hanya akan menguras waktu kita, sedangkan banyak hal bermanfaat yang menunggu untuk kita kerjakan. Serahkanlah urusan orang-orang yang mencela dan menghina kepada Allah. Allah-lah yang akan memberi pembalasan.

“Sesungguhnya Anda akan mendapatkan pahala,” kata Aidh Al-Qarni dalam kitab La Tahzan, “dikarenakan kesabaran Anda menghadapi kritikan dan cercaan itu. Dan kritikan mereka itu pada dasarnya pertanda bahwa Anda memiliki harga dan derajat. Sebab, manusia tak akan pernah menendang bangkai anjing dan orang-orang yang tak berharga pastilah tak akan pernah terkena sasaran pendengki. Artinya, manakala kritikan yang Anda terima semakin pedas maka semakin tinggi pula harga Anda.”

“Jangan bersedih karena banyaknya komentar orang-orang terhadap diri Anda,” nasehat Mahmud Al-Mishri dalam La Tahzan Wabtasim li Al-Hayah. “Sebagian besar gosip itu,” lanjutnya, “tidak ada kebenarannya, bahkan semua hal itu bertentangan dengan kemampuan Anda dan kedudukan Anda di mata mereka. Jika Anda tidak memiliki kedudukan dan nama baik, mereka tidak akan sibuk membicarakan Anda selama-lamanya. Anda mengetahui bahwa orang-orang tidak melempar pohon kurma dengan batu kecuali karena ada kurma yang berbuah. Maka, tidurlah dengan nyenyak dan pikiran tenang.”

Orang-orang hanya melempari pohon mangga yang berbuah. Pohon itu dilempari karena memiliki harga dan derajat, yaitu buah mangga. Pohon mangga yang tak berbuah tentu tak akan menjadi sasaran lemparan. Dan belajar pula dari pohon mangga yang berbuah itu, saat orang-orang melemparinya, justru pohon itu membalasnya dengan memberi buah mangga yang ranum dan manis rasanya. Begitulah, balaslah orang-orang yang memusuhi kita dengan kebaikan. Lalu berdoalah agar Allah membuka pintu hati mereka.

Dengarkan syair yang dikutip Aidh Al-Qarni berikut ini:
Aku berjumpa dengan orang bodoh yang mencelaku
Kutinggalkan ia seraya berkata, “Aku tidak peduli”
Syair yang lain mengungkapkan:
Jika orang bodoh bicara, jangan kau timpali
Sebab sebaik-baik jawaban baginya adalah diam seribu bahasa
Seorang sastrawan Barat mengatakan, “Lakukan apa yang kau pandang benar, dan palingkan punggungmu dari semua kritikan yang tak berharga.”

Lupakan segala cercaan, hinaan, dan kritikan yang tak berharga itu. Lakukan pekerjaan dan ibadah yang memberi manfaat. Ingatlah, waktu kita sedikit sedangkan bekal yang harus kita persiapkan amat banyak. Pergunakan waktu sebaik mungkin untuk menyiapkan bekal, bukan untuk membalas cercaan dan hinaan.

Nasehat Aidh Al-Qarni berikut ini patut kita renungi.
“Jangan pernah membalas cercaan atau olok-olok yang melukai hati Anda. Karena, kesabaranmu dalam menghadapi semua itulah yang akan dengan sendirinya menguburkan semua kehinaan. Kesabaran adalah sumber kemuliaan, diam adalah sumber kekuatan untuk mengalahkan musuh, dan memaafkan adalah sumber dan tangga untuk mencapai pahala dan kemuliaan.

“Ingat, separoh dari orang-orang yang pernah mencerca atau mengkritik Anda itu akan melupakan cercaan mereka, sepertiganya tidak sadar dengan apa yang mereka lontarkan, dan selebihnya tidak akan mengerti apa dan mengapa mereka mencerca Anda. Maka dari itu, jangan pernah cercaan mereka kau masukkan hati dan jangan pula berusaha untuk membalas apa yang mereka katakan itu.”

***

Referensi:
Aidh Al-Qarni. La Tahzan. (Terjemahan: La Tahzan: Jangan Bersedih! Cetakan ke-60. 2015. Jakarta: Qisthi Press)

Mahmud Al-Mishri. La Tahzan Wabtasim li Al-Hayah. (Terjemahan: La Tahzan for Trouble Solutions. 2009. Solo: Pustaka Arafah)
 

***
Sukrisno Santoso
Sukoharjo, 15 November 2015

20 Juli 2015

Keutamaan Ilmu


Ilmu memiliki keutamaan yang besar, khususnya ilmu yang diwariskan oleh para nabi, yaitu ilmu yang membawa kepada keselamatan dan kebahagiaan abadi di akhirat. 

Rasulullah bersabda, 
"Sesungguhnya para nabi tidak pernah mewariskan dinar ataupun dirham, akan tetapi mereka mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambilnya, ia telah mendapatkan bagian yang sangat besar." (HR. Abu Dawud, At-Tirmizi, dan Ibnu Majah. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami')

Imam Al-Manawi dalam Faidhul Qadir --sebagaimana dikutip oleh Abu Anas Majid Al-Bankani dalam Rihlatul Ulama fi Thalibil Ilmi-- mengatakan tentang hadits tersebut, 

"Maksudnya mencakup seluruh para rasul, sebagaimana yang sudah jelas. Para nabi tidak mewariskan dinar ataupun dirham, akan tetapi mereka mewariskan ilmu. Sebagian ulama berkata, 'Seseorang biasanya hanya mewariskan kepada orang yang paling dekat dengannya, baik dari segi keluarga, nasab, atau amal. Maka, para ulama adalah yang paling dekat kepada para nabi dan yang paling berani dalam mengikuti amal mereka; mereka mewariskan keadaan, perkataan, dan amalan, secara zahir maupun batin. Bisa kita ketahui bahwa memperoleh kedudukan ini hanyalah karena pengamalan mereka akan ilmunya. Orang yang mengamalkannya berhak untuk dihormati dan dimuliakan karena adalah orang-orang pilihan, cahaya, yang menerangi bumi, pilar-pilar agama, dan pejuang-pejuang yang akan menghadapi musuh Allah. Mereka adalah wali Allah dan pengganti para Nabi."

Terkait dengan hadits di atas, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah membawakan sebuah riwayat dalam kitabnya Miftah Dar As-Sa'adah sebagai berikut

Dikisahkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa pada suatu hari ia melewati sebuah pasar dan melihat orang-orang sedang berdagang dan berjual beli, lalu Abu Hurairah r.a. berkata, "Kalian ada di sini. Mengapa kalian tidak ikut mengambil warisan Rasulullah saw. yang dibagikan di mesjid?" Lalu mereka segera bangkit dan pergi menuju ke masjid. Akan tetapi, ketika sampai di masjid mereka tidak menemukan sesuatu kecuali orang-orang yang membaca Al-Qur'an, berzikir, dan majelis ilmu. Maka, mereka pun bertanya kepada Abu Hurairah r.a., "Wahai Abu Hurairah, mana yang engkau katakan tadi?" Abu Hurairah menjawab, "Inilah warisan Nabi Muhammad saw. yang dibagikan kepada para ahli warisnya, bukannya harta dan kernewahan dunia."

Ilmu memiliki keutamaan yang besar dan banyak. Muhammad Al-Utsaimin dalam Kitabul llmi merangkum keutamaan ilmu dalam tiga belas poin sebagai berikut. 


1. Ilmu adalah Warisan Para Nabi

Para nabi tidaklah mewariskan dirham ataupun dinar. Yang mereka wariskan hanyalah ilmu. Maka barangsiapa yang telah mengambil ilmu berarti dia telah mengambil bagian yang banyak dari warisan para nabi. Engkau sekarang berada pada abad ke-15 Hijriah, jika engkau seorang ahli ilmu berarti engkau menerima warisan dari Nabi, dan ini adalah keutamaan yang paling besar.

2. Ilmu itu Abadi, sedangkan Harta adalah Fana (akan sirna)

Contohnya adalah Abu Hurairah, ia termasuk Sahabat yang fakir sehingga ia sering terjatuh seperti pingsan menahan lapar. Dan -demi Allah- saya bertanya kepada kalian, apakah nama Abu Hurairah selalu disebut di kalangan manusia pada zaman kita sekarang atau tidak? Ya, namanya banyak disebut sehingga Abu Hurairah mendapatkan pahala dari pemanfaatan hadits-haditsnya, karena ilmu akan abadi, sedangkan harta akan rusak. Maka engkau wahai penuntut ilmu, wajib memegang teguh ilmu.
Di dalam satu hadits, Nabi menyatakan, "Apabila anak Adam mati, maka terputuslah segala amalnya, kecuali tiga: shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakan orang tuanya." (HR. Muslim)

3. Pemilik Ilmu Tidak Merasa Lelah dalam Menjaga Ilmu

Apabila Allah memberi rezeki kepadamu berupa ilmu, maka tempat ilmu itu adalah di dalam hati yang tidak membutuhkan peti, kunci, atau yang lainnya. Dia akan terpelihara di dalam hati dan terjaga di dalam jiwa. Dan dalam waktu yang bersamaan, dia pun menjagamu karena dia akan memeliharamu dari bahaya atas izin Allah, maka ilmu itu akan menjagamu. Adapun harta, engkaulah yang harusn menjaganya, yang harus engkau simpan dalam peti-peti yang terkunci. Sekalipun demikian, hatimu tetap tidak merasa tenang."

4. Dengan Ilmu, Manusia dapat Menjadi Para Saksi atas Kebenaran

Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala, 'Allah bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Dia, demikian juga para malaikat, dan orang-orang berilmu yang tegak di atas keadilan.' (QS. Ali Imran: 18)
Apakah dalam ayat ini Allah berfirman, 'dan juga pemilik harga'? Tidak! Tetapi Dia berfirman, 'dan orang-orang berilmu yang tegak di atas keadilan'. 
Maka cukupkah menjadi kebanggaan bagimu, wahai penuntut ilmu, engkau menjadi orang yang bersaksi bagi Allah bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Dia, beserta para malaikat yang menyaksikan keesaan Allah."

5. Ahli Ilmu Termasuk Salah Seorang dari Dua Golongan Ulil Amri yang Wajib Ditaati

Hal ini berdasarkan perintah Allah, 'Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan ulul amri di antara kalian.' (QS. An-Nisa: 59)

Ulul amri di sini mencakup Ulul amri dari kalangan para penguasa dan para hakim, ulama dan para penuntut ilmu. Maka, wewenang ahli ilmu adalah menjelaskan syariat Allah dan mengajak manusia untuk melaksanakannya, sedangkan wewenang penguasa adalah menerapkan syariat Allah dan mewajibkan manusia untuk melaksanakannya.

6. Ahli Ilmu adalah Orang yang Melaksanakan Perintah Allah Sampai Hari Kiamat

Yang menjadi dalil tentang hal itu adalah hadits Muawiyah bahwa ia berkata, 'Aku mendengar Nabi bersabda, 'Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan membuatnya paham tentang agamanya. Aku hanyalah Qasim dan Allah-lah yang memberi. Dan di kalangan umat ini akan senantiasa ada sekelompok orang yang selalu tegak di atas perintah Allah, tidak ada yang akan membahayakan mereka dari orang-orang yang menyelisihi mereka. Hingga datang urusan Allah.'' (HR. Bukhari)
Imam Ahmad telah berkata tentang kelompok ini, 'Jika mereka bukan kelompok ahli hadits, maka aku tidak tahu lagi siapa mereka itu.' 
Al-Qadhi 'Iyadh mengatakan, 'Yang dimaksud oleh Imam Ahmad adalah ahlussunnah dan orang yang meyakini madzab ahlul hadits.'

7. Besarnya Keutamaan Ilmu sehingga Boleh Iri terhadap Orang yang Mencari dan Mengamalkannya

Rasulullah tidak pernah mendorong seseorang agar iri kepada orang lain atas suatu nikmat yang telah Allah karuniakan, kecuali dua macam nikmat: pertama, mencari ilmu dan mengamalkannya; kedua, pedagang yang menjadikan hartanya sebagai alat untuk memperjuangkan Islam.
Dari Abdullah bin Mas'ud, ia berkata, "Rasulullah bersabda, 'Tidak boleh iri kecuali dalam dua hal: seseorang yang diberi harta oleh Allah lalu dia habiskan hartanya itu untuk membela kebenaran, dan seseorang yang diberi ilmu oleh Allah lalu dia mengamalkan dan mengajarkannya.'" (HR. Bukhari & Muslim)

8. Ilmu bisa Memberi Manfaat pada Diri Sendiri dan Orang Lain

Sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Abu Musa Al-Asy'ary, dari Nabi shalallahu alaihi wassalam, beliau bersabda, "Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang Allah telah mengutusku dengan membawa keduanya adalah seperti hujan yang turun ke bumi,maka di antara bumi itu ada tanah yang baik yang menyerap air dan menumbuhkan tumbuhan dan rumput yang banyak. Ada pula tanah yang keras yang bisa menahan air, lalu Allah memberi manfaat kepada manusia dari tanah itu, mereka minum dan bercocok tanam. Hujan pun menimpa tanah yang lain yaitu qii'aan yang tidak bisa menahan air dan tidak bisa menumbuhkan rumput.
Demikianlah perumpamaan orang yang memahami agama Allah dan bisa memberikan manfaat dari apa yang Allah telah mengutusku dengan membawa ajaran ini, lalu dia mengetahui dan mengajarkannya. Dan perumpamaan orang yang tidak mau mengangkat kepalanya untuk hal itu dan orang yang tidak mau menerima petunjuk dari Allah yang aku diutus dengan membawa petunjuk itu."

9. Ilmu adalah Jalan Menuju Surga

Sebagaimana ditunjukkan oleh hadits Abu Hurairah, bahwa Nabi shalallahu alaihi wassalam bersabda, "Dan barangsiapa yang meniti jalan untuk mencari ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim)

10. Barangsiapa yang Dikehendaki Kebaikan oleh Allah, maka Allah Akan Membuatnya Paham tentang Agamanya

Sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadits dari Mu'awiyah, ia berkata, Rasulullah bersabda, "Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan membuatnya paham tentang agamanya." (HR. Bukhari & Muslim)
Artinya, Allah akan menjadikannya seorang yang faqih tentang agama Allah. Dan faqih tentang agama Allah bukan hanya memahami hukum-hukum amaliyah tertentu menurut ahli ilmu berdasarkan ilmu fiqih saja, akan tetapi maksudnya adalah ilmu tauhid dan ushuluddin (pokok-pokok agama) dan apa-apa yang berkaitan dengan syariat Allah.
Seandainya tidak ada keterangan dari Al-Kitab dan As-Sunnah tentang keutamaan ilmu kecuali hadits ini saja, maka ini pun sudah sempurna dalam mrmberikan dorongan untuk mencari ilmu syariat dan pemahaman terhadapnya.

11. Ilmu adalah Cahaya yang Menerangi Jalan Hidup Seorang Hamba

Dia pun akan mengetahui bagaimana (seharusnya) beribadah kepada Rabb-nya dan bagaimana cara bergaul dengan sesama hamba-Nya, maka jalan hidupnya akan selalu berada di atas ilmu dan bashirah.

12. Orang yang Berilmu Adalah Cahaya yang Menerangi Manusia dalam Urusan Agama dan Dunia Mereka

Tidaklah samar dalam ingatan kebanyakan manusia tentang orang yang membunuh 99 orang dari kalangan Bani Israil, lalu dia bertanya tentang orang yang paling berilmu di muka bumi, lalu dia ditunjukkan kepada seorang abid (ahli ibadah), lalu dia bertanya apakah dia bisa bertaubat?
Ahli ibadah itu telah menganggap dosanya terlalu besar sehingga dia menjawab, "Tidak!"
Lalu dibunuhnya ahli ibadah tadi sehingga dia membunuh genap 100 orang.

Kemudian dia pergi menemui seorang alim (orang yang berilmu), lalu dia bertanya kepadanya (dengan pertanyaan yang sama). Maka orang yang berilmu tersebut menjawab bahwa dia bisa bertaubat dan tidak ada yang bisa menghalangi antara dia dengan taubatnya.
Lalu orang alim itu menunjukkannya pada suatu negeri yang penduduknya adalah orang-orang saleh agar dia datang ke negeri itu. Kemudian dia pun pergi, tetapi di tengah jalan, maut pun menjemputnya.
Kisah ini amat masyur. Perhatikanlah perbedaan orang yang berilmu dan orang yang bodoh.

13. Sesungguhnya Allah Akan Mengangkat Derajat Ahli Ilmu di Akhirat dan juga di Dunia

Adapun di akhirat, Allah mengangkat derajat mereka sesuai dengan dakwah mereka kepada Allah dan amal yang mereka lakukan berdasarkan ilmu mereka. Sedangkan di dunia, Allah akan mengangkat derajat mereka di kalangan hamba-hamba-Nya yang juga sesuai dengan amal mereka. Allah ta'ala berfirman, "Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat." (QS. Al-Mujadilah: 11)

------------------------------------------------------------

Referennsi:
Abu Anas Majid Al-Bankani. Rihlatul Ulama fil Thalibil Ilmi. Terjemahan: Perjalanan Ulama Menuntuk Ilmu. 2012. Bekasi: Darul Falah
 

Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Kitabul Ilmi. Terjemahan: Panduan Menuntut Ilmu. 2012. Jakarta: Pustaka Ibnu Katsir
 

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Miftah Dar As-Sa'adah. Terjemahan: Kunci Kebahagiaan. 2004. Jakarta: Abrar (ebook oleh Maktabah Raudhatul Muhibbin)




Sesungguhnya Semua Amalan Tergantung Niatnya


Dari Umar bin al-Khaththab radhiallahu 'anhu, beliau berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Sesungguhnya perbuatan-perbuatan itu dengan niat, dan sesungguhnya setiap orang bergantung dengan apa yang ia niatkan. Maka barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya untuk dunia yang ingin ia perolehnya, atau untuk wanita yang ingin ia nikahinya, maka hijrahnya kepada apa-apa yang ia berhijrah kepadanya."

(Diriwayatkan oleh dua orang Imam ahli hadits; Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Bardizbah Al-Bukhari, dan Abul Husain Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim Al-Qusyairi An-Naisaburi, di dalam kedua kitab Shahih mereka yang merupakan kitab paling shahih yang pernah ditulis.)

Ibnu Rajab, dalam Jami'ul 'Ulumi wal Hikam berkata, "Para ulama telah sepakat atas keshahihan dan diterimanya hadits ini. Dan Al-Bukhari pun memulai kitab Shahihnya dengan hadits ini, dan memposisikannya sebagai khuthbah (muqaddimah)nya. Hal ini sebagai isyarat dari beliau bahwa setiap amalan (apapun) yang tidak diperuntukkan (dalam mengamalkannya) karena wajah Allah, maka amalan tersebut bathil, tidak menghasilkan suatu apapun, baik di dunia maupun di akhirat".



 

Asbabul Wurud
Imam Nawawi dalam Riyadhush Shalihin mengatakan, “Hadis di atas adalah berhubungan erat dengan persoalan niat. Rasulullah menyabdakannya itu ialah karena di antara para sahabat sewaktu mengikuti untuk berhijrah dari Makkah ke Madinah, semata-mata sebab terpikat oleh seorang wanita yakni Ummu Qais. Beliau mengetahui maksud orang itu, lalu bersabda sebagaimana di atas. Karena orang itu memperlihatkan sesuatu yang bertentangan dengan maksud yang terkandung dalam hatinya -meskipun sedemikian itu boleh saja- tetapi sebenarnya tidak patut sekali sebab saat itu sedang dalam suasana yang amat genting dan rumit, maka ditegurlah secara terang-terangan oleh Rasulullah."

Meskipun hadits itu berkaitan dengan seseorang, namun kaidahnya bisa diberlakukan untuk umum. Kata Imam Nawawi, "Sekalipun datangnya hadis itu mula-mula tertuju pada manusia yang salah niatnya ketika ia mengikuti hijrah, tetapi sifatnya adalah umum. Para imam mujtahidin berpendapat bahwa sesuatu amal itu dapat sah dan diterima serta dapat dianggap sempurna apabila disertai niat. Niat itu ialah sengaja yang disembunyikan dalam hati, ialah seperti ketika mengambil air sembahyang atau wudhu', mandi shalat dan lain-lain sebagainya."

Bagaimana jika berniat mengerjakan suatu amalan, namun karena suatu hal ia terhalangi untuk mengerjakannya? Dalam masalah ini, Imam Nawawi mengatakan, "Perlu pula kita maklumi bahwa barangsiapa berniat mengerjakan suatu amalan yang bersangkutan dengan ketaatan kepada Allah ia mendapatkan pahala. Demikian pula jikalau seseorang itu berniat hendak melakukan sesuatu yang baik, tetapi tidak jadi dilakukan, maka dalam hal ini orang itupun tetap juga menerima pahala. Ini berdasarkan Hadis yang berbunyi: "Niat seseorang itu lebih baik daripada amalannya."
Maksudnya: Berniatkan sesuatu yang tidak jadi dilakukan sebab adanya halangan yang tidak dapat dihindarkan itu adalah lebih baik daripada sesuatu kelakuan yang benar-benar dilaksanakan, tetapi tanpa disertai niat apa-apa.

 

Arti Niat 
"Ketahuilah bahwa niat," kata Imam Nawawi dalam Syarah Hadits Arbain, "menurut istilah bahasa artinya adalah qashdu (maksud, kehendak). Dikatakan: nawakallahu bikhair, yakni qashadakan bihi. Sedangkan niat menurut istilah syar'i adalah bermaksud kepada sesuatu yang disertai perbuatan. Jika dia bermaksud kepada sesuatu, tetapi tidak disertai perbuatan, maka ini namanya 'azzam. Niat itu disyariatkan dengan tujuan untuk membedakan urusan adat kebiasaan dengan ibadah atau untuk membedakan tingkatan antara ibadah yang satu dengan yang lain."

Kemudian Imam Nawawi mencontohkan niat orang yang duduk di masjid. Ada yang niat sekadar istirahat, ada yang niat untuk beribadah itikaf. Juga niat dalam shalat, misalnya shalat empat rakaat, ada yang meniatkannya untuk shalat Dhuhur, ada yang meniatkannya untuk shalat sunnah.

Syaikh Utsaimin dalam Syarah Hadits Arbain menyebutkan, "Semua amalan sesuai dengan wasilahnya. Kadangkala sesuatu yang asalnya mudah dapat menjadi ibadah ketaatan jika diniatkan untuk kebaikan, misalnya seseorang yang makan dan minum dengan niat agar badannya menjadi kuat untuk mengerjakan ibadah ketaatan kepada Allah"

Dalam Fathul Bari’ disebutkan, “ Setiap pekerjaan harus didasari dengan niat. Al Khauyi mengatakan, seakan-akan Rasulullah memberi pengertian bahwa niat itu bermacam-macam sebagaimana perbuatan. Seperti orang yang melakukan perbuatan dengan motivasi ingin mendapat ridha Allah dan apa yang dijanjikan kepadanya, atau ingin menjauhkan diri dari ancaman-Nya.”


 
Faidah Hadits
Syaikh 'Abdul-Muhsin bin Hamd Al-'Abbad Al-Badr dalam Fat-hul Qawiyyil Matin menyampaikan beberapa pelajaran faidah dari hadits niat ini.
  1. Sesungguhnya tidak ada amal (perbuatan) kecuali dengan niat.
  2. Sesungguhnya setiap amal (perbuatan) itu dianggap sah dengan niat-niatnya.
  3. Sesungguhnya balasan untuk si pelaku amalan (perbuatan) berdasarkan niatnya.
  4. Hendaknya seorang alim (ulama) memberikan perumpamaan sebagai penjelasan dan penerangan.
  5. Keutamaan hijrah, karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melakukannya. Dan telah terdapat dalam Shahih Muslim (121) dari 'Amr bin Al-'Ash radhiallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Tidakkah engkau mengetahui bahwa Islam menghapuskan apa-apa yang terjadi sebelumnya? Dan hijrah juga menghapuskan apa-apa yang terjadi sebelumnya?Dan ibadah haji juga menghapuskan apa-apa yang terjadi sebelumnya?”
  6. Seseorang itu mendapatkan pahala, atau dosa, atau tidak mendapatkan apapun sesuai dengan niatnya.
  7. Almalan-amalan bergantung pada wasilah yang mengantarkan kepadanya. Mungkin saja sesuatu itu pada asalnya hukumnya mubah, namun ia dapat berubah menjadai sebuah ketaatan (ibadah) jika seseorang berniat kebaikan dengannya. Seperti makan dan minum, jika seseorang meniatkan dengannya sebagai penguat dirinya untuk beribadah.
  8. Sesungguhnya sebuah amalan (perbuatan) dapat menjadi pahala bagi pelakunya, dan dapat pula menjadi penghalang dari pahala tersebut.

---------------------------------------------------------------------------
Referensi:
Riyadush Shalihin, Imam Nawawi
Fathul Bari’, Ibnu Hajar Al-Asqalani
Fat-hul Qawiyyil Matin fi Syarhil Arba'in wa Tatimmatul Khamsin, 'Abdul-Muhsin bin Hamd Al-'Abbad Al-Badr
Syarhul Hadits Arba'in Nawawiyah, Imam Nawawi


---------------------------------------------------------------------------
Sukrisno Santoso
Disusun pada pagi hari yang cerah, Selasa, 8 Oktober 2014, di rumah, Kota Sukoharjo 



PROMO BUKU

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More