MUSLIMAH

Menuju Insan yang Shalihah

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

MUTIARA DAKWAH

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

1 Agustus 2012

Menikmati Keindahan Alam


MENIKMATI PAGI DAN SORE
Ketika fajar mulai menyingsing, matahari mulai beranjak ke langit dan cahayanya mulai menerangi dan memancar dari ufuk timur, rasakanlah adanya kehidupan baru. Lihatlah pagi ketika matahari dimunculkan oleh Allah dan dipancarkan-Nya cahaya yang menerangi alam. Pepohonan mulai bangun dari tidurnya, binatang-binatang mulai meninggalkan sarangnya, dan embun-embun mulai menetes dari dedaunan.

Rasakanlah bahwa alam menyambut pagi dengan harapan yang penuh keindahan. Lihatlah indahnya cahaya matahari yang menerawang menembus daun-daun pepohonan. Lihatlah cemerlang cahayanya. Lihatlah keindahan yang Allah anugerahkan pada pagi hari. Kemudian tersenyumlah, sambutlah pagi dengan harapan yang tinggi dan rasa optimis yang memenuhi hati Anda. 

Tanamkan semangat dalam dada Anda dan langkahkan kaki Anda menyongsong hari ini. Hari yang baru adalah harapan baru. Tinggalkan kesusahan masa lalu dan gapailah kebahagiaan masa kini dan masa nanti. Dan sebutlah nama Allah memuji keagungan-Nya.

Ketika senja hari, lihatlah cahaya kemerahan dipancarkan matahari dari ufuk barat. Lihatlah seolah-olah langit diwarnai dengan warna merah. Awan berwarna kemerahan, dan pepohonan yang tertimpa cahaya juga berwarna kemerahan. Nikmatilah keindahan alam yang dianugerahkan Allah.


PANDANGLAH LANGIT MALAM INI
Ketika malam hari, saya suka memandangi langit. Saya melihat bintang-bintang yang bertaburan di angkasa. Bulan yang bersinar, apalagi ketika bulan purnama, kian indah wajah dan sinarnya. Ketika Anda dirudung kepedihan dan kesempitan, pandanglah langit malam. Nikmatilah megahnya angkasa dan berkelap-kelipnya bintang yang bertaburan, ada yang dekat dan ada yang jauh. 


Pandanglah bulan yang memancarkan sinarnya. Dan ingatlah Tuhan penguasa malam dan penguasa siang, yang bertahta di atas Arsy. Maka, tahulah Anda bahwa Anda sekali-kali tidak akan ditelantarkan oleh Sang Pencipta.
 

Jangan Menebar Fitnah


Abdullah Al-Jibrin dalam Fitan Hadza az-Zaman menyebutkan bahwa salah satu malapetaka atau fitnah yang terbesar zaman sekarang adalah eksploitasi kaum wanita. Beliau berkata, “Termasuk dalam deretan fitnah zaman sekarang adalah eksploitasi kaum wanita. Rasulullah telah mengabarkan bahwa wanita itu adalah salah satu fitnah yang terbesar. Beliau bersabda: ‘Berhati-hatilah dari godaan dunia dan waspadailah rayuan kaum wanita, sebab fitnah pertama kali yang menimpa Bani Israil adalah fitnah wanita.’ (HR. Muslim)

Rasulullah menyebut wanita sebagai fitnah (sumber godaan). Dan Rasul juga telah mengabarkan bahwa Bani Israil tersesat karena fitnah (godaan) wanita. Pada zaman sekarang ini eksploitasi kaum wanita banyak tersebar di mana-mana. Mayoritas kaum hawa itu berani bersolek dan menampakkan lekuk tubuh mereka di pasar dan di jalan-jalan. Memamerkan segala macam asesoris dan perhiasannya.

Barangsiapa yang Allah kehendaki terkena godaan, maka ia akan menyorotkan matanya atau melirikkan pandangannya kepada mereka (kaum wanita itu). Hingga dikhawatirkan ia akan terkena godaan daya tarik wanita itu dan terpedaya lantas timbul syahwat terlarang yang mendorongnya berbuat apa yang diharamkan Allah, yaitu berzina. Atau pengantar kepada zina (seperti berdua-duan tanpa mahram, berpacaran dan lain-lain). Memang, wanita adalah godaan yang paling besar.

Termasuk di antaranya eksploitasi kaum wanita melalui film-film. Ini merupakan musibah dan malapetaka besar. Demikian pula foto-foto mereka di majalah, koran-koran dan sampul barang-barang tertentu. Mereka sengaja memilih wanita-wanita cantik agar menarik minat orang, khususnya para pemuda. Dan yang lebih berbahaya lagi adalah munculnya foto-foto mereka dalam keadaan telanjang atau setengah telanjang yang diproduksi dengan kamera-kamera canggih dan ditebar dengan parabola.”

Banggakah bila seorang wanita memakai pakaian ketat yang tidak menutup aurat berjalan di depan umum menjadi tontonan para laki-laki? Jikalau ia merasa bangga, maka sesungguhnya ia sudah tidak punya rasa malu. Malu adalah kemuliaan bagi wanita. Wanita yang tidak tahu malu adalah wanita yang tidak tahu akan kemuliaan dirinya. Wahai wanita, ketahuilah bahwa sesungguhnya Anda sangat mulia.



Kiat Menggapai Kebahagiaan


Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di menulis sebuah kitab berjudul Al-Wasailu Al-Mufidah Lil Hayatis Sa’idah. Kitab ini berisi 23 kiat menggapai kebahagiaan. Beliau menulis kitab ini secara ringkas dan dengan bahasa yang mudah. Kiat pertama adalah beriman dan beramal shalih dengan sebenarnya.

Allah berfirman, “Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Qs. An-Nahl: 97)

Sedangkan kiat terakhir atau ke-23 adalah pandai-pandailah memilih dan memilah pekerjaan. Seyogyanya Anda memilih yang terpenting dari sekian pekerjaan yang bermanfaat, lalu yang berikutnya dan berikutnya, sesuai urutan nilai kepentingannya. Juga, hendaklah Anda memilah mana yang dicenderungi dan sangat diminati oleh hati Anda. Karena, hal sebaliknya akan membuahkan kebosanan, menurunnya semangat dan keruhnya pikiran. 

Jadikanlah pemikiran yang benar dan bermusyawarah sebagai penolong anda untuk itu. Maka, tidak akan menyesal seseorang yang meminta pendapat orang bijak. Pelajarilah dengan cermat apa yang hendak Anda lakukan. Jika Anda telah yakin akan kemaslahatan dan bertekad kuat untuk melakukannya, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal.

Merenungi isi kitab ini insya Allah akan mengantarkan Anda ke gerbang kebahagiaan.


MEMANDANG RINGAN SEGALA COBAAN
Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di menyebutkan bahwa di antara sarana yang paling bermanfaat untuk sirnanya keguncangan dan kegundahan manakala seorang hamba tertimpa aneka bencana adalah hendaknya ia berupaya memandang dan menjadikannya ringan. Yaitu dengan mengandaikan atau membayangkan kemungkinan yang lebih buruk dari yang telah terjadi, dan ia kuatkan hatinya dalam menghadapinya.


Jika ia lakukan itu, hendaknya ia berupaya, sejauh kemungkinan untuk meringankan apa yang mungkin diringankan. Maka, dengan penguatan hati dan upaya yang bermanfaat semacam ini akan hilanglah kegelisahan dan kegundahannya, dan berganti menjadi upaya keras untuk meraih berbagai hal yang bermanfaat dan menangkis berbagai madharat yang menimpa hamba. 

Lalu, jika ia terhampiri beberapa penyebab ketakutan, penyebab sakit, penyebab kemiskinan dan ketaktercapainya aneka hal yang disenanginya, hendaklah menghadapinya dengan tenang dan menguatkan hati dalam menanggung derita cobaan akan meringankannya dan menghilangkan tekanannya. Terutama jika ia menyibukkan dirinya untuk menangkis cobaan itu sebatas kemampuannya.

Dengan itu, menyatulah dalam dirinya tekad mengukuhkan batin seiring berupaya yang bermanfaat, yang hal itu akan membuatnya tidak kalut oleh berbagai musibah. Ia tekan dirinya agar memperbaharui kekuatannya untuk melawan berbagai cobaan dan bencana, seiring bersandar dan percaya penuh kepada Allah.

Tidak diragukan, bahwa upaya-upaya ini memiliki manfaat yang sangat agung untuk terwujudnya suatu kegembiraan dan kelapangan dada, di samping ia pun terus berharap pahala, baik didunia maupun di akhirat. Hal ini sudah dicoba dan disaksikan keberhasilannya. Bukti-bukti keberhasilannya bagi mereka yang telah mecobanya banyak sekali.


Ridha AtasTakdir


Disebutkan dalam kitab Fathur Rabbani, Abdul Qadir Al-Jailani berkata,
 “Barangsiapa yang ingin bersikap ridha terhadap takdir Allah, maka biasakanlah selalu mengingat kematian, sebab ingatan pada kematian dapat meringankan (beban) musibah dan petaka. Jangan salahkan Allah atas (musibah yang menimpa) dirimu, harta, dan anakmu, akan tetapi katakanlah, ‘Tuhanku, beritahukan kepadaku tentang diriku.’ 
Jika engkau tekun dan terus-menerus melakukan hal ini, maka engkau akan merasakan lezatnya bersikap ridha dan menerima. Petaka-petaka akan menghilang berikut akar-akar dan cabang-cabangnya, berganti kenikmatan dan kenyamanan hidup. Ketika engkau menerima tanpa membantah dan merasakan kelezatan ridha dalam suasana bencana, maka kenikmatan-kenikmatan akan datang kepadamu dari segala penjuru dan tempat.”

Janganlah Anda sekali-kali berpuruk sangka kepada Allah atas musibah yang menimpa Anda. Janganlah Anda menggugat Allah atas cobaan hidup yang menghimpit Anda.

JANGAN MELETAKKAN BOLA DUNIA DI ATAS KEPALA
Dalam kitabnya La Tahzan, Aidh Al-Qarni menyebutkan kiat agar kita tidak tertimpa beban pikiran yang berat. Beberapa orang merasa bahwa diri mereka terlibat dalam perang dunia, padahal mereka sedang berada di atas tempat tidur. Tatkala perang itu usai, yang mereka peroleh adalah luka di pencernaan mereka, tekanan darah ringgi dan penyakit aula. Mereka selalu merasa terlibat dengan semua peristiwa. 
Mereka marah dengan naiknya harga-harga, gusar karena hujan tak segera turun, dan kalang kabut tak karuan karena turunnya nilai mata uang. Mereka selalu berada dalam kegelisahan dan kesedihan yang tak berkesudahan. “Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka” (QS. Al-Munafiqun: 4).

Nasehat saya untuk Anda: jangan meletakkan bola dunia di atas kepala. Biarkan semua peristiwa itu terjadi, dan jangan disimpan di dalam usus. Orang yang memiliki hati seperti bunga karang akan menyerap semua isu dan kasak-kusuk, termakan oleh masalah-masalah kecil, dan mudah terguncang karena peristiwa-peristiwa yang terjadi. Hati seperti ini sangat potensial menjadi awal kehancuran.

Mereka yang berpegang pada prinsip yang benar akan senantiasa bertambah keimanannya dengan nasehat-nasehat dan ibrah. Sedangkan mereka yang berpegang pada prinsip yang lemah akan semakin takut terhadap keguncangan. Di hadapan segala bencana dan musibah, hal yang paling berguna adalah hati yang berani. 
Seorang pemberani memiliki sikap yang teguh dan emosi yang terkendali, keyakinan yang menancap tajam, syaraf yang dingin dan hati yang lapang. Sedangkan seorang pengecut justru akan membunuh dirinya sendiri berulang kali, setiap hari, dengan pedang khayalan, ramalan, kabar yang tak jelas, dan kasak-kusuk. Jika Anda menginginkan sebuah kehidupan yang berlandasan kuat, maka hadapilah semua permasalahan dengan keberanian dan ketabahan. Jangan terlalu mudah digoyang oleh mereka yang tidak memiliki keyakinan. 
Jangan merasa terjepit oleh semua tipu daya mereka. Jadilah orang yang lebih kuat dari peristiwa itu sendiri, lebih kencang dari angin puyuh, dan lebih kuat dari angin topan. Sungguh kasihan mereka yang memiliki hati yang lemah, betapa hari-hari selalu mengguncang dirinya. 


Buah Iman Terhadap Takdir


Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam kitabnya Syarh Ushul Iman menyebutkan tiga macam buah iman kepada takdir.

1. Tawakkal kepada Allah di saat mengerjakan sebab, tidak bersandar kepada sebab itu sendiri, karena segala sesuatu ditentukan dengan takdir Allah.
Ketika Anda meyakini bahwa segala sesuatu sudah ditakdirkan oleh Allah, niscaya Anda akan merasa tenang dengan segala hal yang menimpa Anda. Kemudian Anda akan mengerjakan sebab-sebab atau usaha untuk menghadapi cobaan atau kesulitan yang menimpa dan Anda akan tawakal kepada-Nya. Dengan begitu, hati Anda akan tenang, jiwa Anda akan tenteram, dan kehidupan Anda akan damai karena Anda selalu menggantungkan diri kepada Allah.

2. Agar seseorang tidak mengagumi dirinya ketika tercapai apa yang dicita-citakan. Karena tercapainya cita-cita merupakan nikmat dari Allah yang telah ditakdirkan-Nya dengan memudahkan sebab-sebab keberhasilan. Sedangkan sifat mengagumi diri akan dapat melupakan syukur kepada nikmat Allah.

Iman kepada takdir akan menghantarkan Anda pada sikap tawadhu’ dan syukur. Ketika Anda menyadari bahwa kesuksesan yang Anda raih, harta benda yang Anda peroleh, dan kemuliaan yang Anda sandang merupakan takdir Allah, maka Anda tidak akan mengagumi diri sendiri, tidak akan ujub, dan tidak akan menyombongkan diri.

3. Menimbulkan ketenangan serta kepuasan jiwa terhadap seluruh takdir yang terjadi, tidak gelisah karena hilangnya sesuatu yang disukai atau sesuatu yang tidak disukai menimpanya. Karena dia tahu bahwa hal itu terjadi dengan takdir Allah, Pemilik langit dan bumi dan bahwa hal itu pasti akan terjadi. Musibah yang menimpa Anda sudah ditakdirkan oleh Allah, jadi mengapa Anda terlalu bersedih. 


Hilangnya harta benda yang Anda kumpulkan juga takdir Allah, jadi mengapa Anda dirudung duka. Perginya orang-orang yang Anda kasihi juga takdir Allah, jadi mengapa Anda tenggelam dalam kenestapaan. Bersabarlah, sesungguhnya Allah bersama Anda.semua hal sudah Allah takdirkan, jadi janganlah bersedih, gundah, dan gelisah.


Jilbab Bukan Sekedar Hiasan


Ada sebagian muslimah yang memakai jilbab namun perilaku mereka tidak sesuai dengan akhlak Islam. Mereka melanggar aturan Islam. Mereka dijauhi orang karena akhlak buruk mereka. Mereka memberikan citra buruk pada Islam. 

Lalu orang-orang mencela bahwa muslimah yang berjilbab bisa saja kelakuannya lebih buruk daripada yang tidak berjilbab. Bahwa muslimah yang berjilbab belum tentu lebih baik daripada muslimah yang tidak berjilbab. 
Kemudian orang-orang melontarkan pertanyaan, “Lebih baik manakah wanita yang berjilbab tetapi akhlaknya buruk dibandingkan wanita yang tidak berjilbab tetapi berakhlak baik. Inilah kerancuan dan keragu-raguan yang dilemparkan oleh orang-orang yang di hatinya terdapat penyakit.

Untuk menghilangkan kerancuan dan mendatangkan keteguhan bagi muslimah untuk senantiasa berjilbab, marilah kita simak kisah seorang wanita berikut ini. Kisah ini disampaikan oleh Azka Asyrafa.

“Mungkin ada yang berpikir belum tentu yang berjilbab itu lebih baik, sekarang banyak yang berjilbab tapi kelakuannya tidak lebih baik dari yang tidak berjilbab.

Jilbab….

Tiba-tiba aku teringat pengalaman pertamaku memakai jilbab. Saat itu awal tahun ajaran SMA. Aku berjilbab bukan paksaan dari siapapun, bahkan saat SMP aku termasuk anak yang sangat nakal, bandel, urakan, ugal-ugalan, kebut-kebutan, jarang di rumah, dan entah apa kata yang pas untuk menggambarkan diriku saat SMP. 
Jangankan berjilbab, shalat saja masih kadang ingat kadang tidak (astaghfirullahaladzim). Dulu saat temanku menasehatiku untuk berjilbab, aku pun juga menjawab “Kelakuaku saja masih seperti ini. Lagian senakal-nakalnya aku, lebih baik diriku yang tidak berjilbab ini daripada wanita yang berjilbab itu yang kelakuannya seperti setan dan mau pacaran.”

Saat memasuki SMA aku memutuskan untuk berjilbab, alasannya simple, biar tidak semakin hitam. Saat aku katakan keinginanku pada orang tua untuk berjilbab, mereka tidak mengijinkan. Terutama ayahku. Beliau sangat menentang keinginanku itu. Aku masih ingat saat itu ayahku sampai mengatakan ”Kelakuanmu saja seperti itu kok mau berjilbab. Percuma memakai jilbab kalau kelakuanmu masih seperti itu, malah mempermalukan agamamu”. Tapi justru perkataan bapak itu membuatku semakin bertekad untuk berjilbab. Saat itu juga aku menangis, ‘Ya Allah, seburuk apa aku ini sampai ayahku berkata seperti itu’.

Rasanya aku begitu tertampar saat itu dan ingin memperbaiki diri sebisa mungkin. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk berubah, dan ingin kubuktikan kepada orang tuaku bahwa aku bisa jadi anak yang baik dan shalihah dengan jilbabku ini, bukan mempermalukan agamaku seperti yang ayahku katakan. Dan waktu pun berganti, sangat kurasakan bahwa jilbab inilah yang justru menjagaku.

Dengan berjilbab, aku menggenapkan shalat wajib bahkan menambah amalan-amalan sunnah. Dengan berjilbab membuatku semakin ingin memperdalam ilmu tentang agamaku. Dengan berjilbab aku lebih bisa menjaga kelakuanku, misalnya ketika akan berbuat yang aneh-aneh aku berpikir ”Eh, aku kan berjilbab, tidak boleh seperti ini, tidak boleh seperti itu”. Jilbab ini benar-benar membuatku menjauhi hal-hal yang haram dan menjauhkanku dari perbuatan dosa, dan alhamdulillah aku berusaha untuk menjalankan perintah Allah.

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Al Ahzab:59)

Pakaian bagi muslimah adalah pakaian yang tidak menampakkan aurat, yang menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan kedua telapak tangan.

Kalaupun ada yang mengatakan “Sekarang banyak yang berjilbab tetapi kelakuannya tidak jelas”. Hei kawan, untuk apa melihat atau menjadikan contoh orang-orang yang tidak pantas untuk dijadikan contoh. Banyak dari mereka yang berjilbab dan juga shalihah. Banyak dari mereka yang berjilbab dan berkepribadian baik, banyak dari mereka yang berjilbab dan bisa dijadikan teladan. 
Lihatlah mereka yang baik dan jadikan contoh, dan yang buruk cukup diambil pelajaran saja. Dan semoga kita bukan salah satu dari yang suka menjelek-jelekkan yang lain karena belum tentu kita lebih baik dihadapan Allah.”

Maka, ambillah pelajaran wahai para pendamba surga. 


Kesaksian Seorang Muslimah

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz berkata dalam kitabnya Ad-Da’watu ilallâh wa Akhlâqud Du’ât, ”Sesungguhnya ibadah itu adalah dengan merendahkan diri kepada Allah dan menghinakan diri di hadapan-Nya. Tugas-tugas berupa perintah (untuk melaksanakan perintah-Nya) dan meninggalkan larangan yang Allah perintahkan kepada mukallaf disebut sebagai ibadah, dikarenakan ibadah itu dikerjakan dengan merendahkan dan menghinakan diri di hadapan Allah.”

Jika Anda memakai jilbab dengan ikhlas karena Allah saja, maka itu bernilai ibadah. Dan setiap perintah Allah yang Anda laksanakan pasti akan mendapat balasan yang baik di akhirat. Saudariku, semoga kisah dari salah seorang saudari Anda berikut ini dapat memberikan manfaat bagi Anda.

Tanggal 27 Mei 2007, ketika Rohis sekolah mengadakan BBI (Bazar Buku Islami), aku mendapatkan buku dari sahabat seperjuangan di lembaga dakwah sekolah, kado terindah yang ia berikan padaku. Sebuah buku yang mampu memberikan ruh baru dalam jengkal kehidupanku. Sebuah buku yang memberikan motivasi, memberi inspirasi. Buku itu berjudul Agar Bidadari Cemburu Padamu. Waktu aku membuka buku tersebut hatiku begitu tertarik untuk membacanya, terbesit dalam pikiranku “Memang bidadari bisa cemburu?” atau “Memang kita bisa membuat bidadari cemburu?”

Dengan rasa penasaran kutelusuri lembar demi lembar buku itu. Isinya membuatku terkagum dan bersyukur bahwa aku diciptakan sebagai seorang wanita. Allah menciptakan wanita dari tulang rusuk kiri, bukan dari kaki untuk dialasi, bukan dari kepala untuk dijunjung tetapi dari rusuk kiri yang dekat dihati untuk dikasihi dan disayangi. Betapa Allah sayang kepada kita sebagai wanita karena wanita itu istimewa.

Setelah aku selesai membaca buku itu tak terasa berlinanglah air mataku. Aku yang selama ini menjadi seorang muslimah tetapi kerudungku masih gaul, pakaianku kurang syar’i, pergaulan dan tingkah lakuku jauh dari kata islami, apakah aku bisa membuat bidadari cemburu? Lalu dengan ucapan bismillah kuulurkan kerudung yang syar’i, pakaianku lebih longgar dan aku juga berusaha menjaga pergaulanku. 

Subhanallah, walaupun berat mencoba berubah demi menuai rahmat-Nya, tetapi Allah memberikan kemudahan dengan adanya teman-teman yang memberi motivasi, walau sebelumnya kaget dengan perubahanku.


Siapa Suami Idaman Anda



Wahai saudariku,

Engkau pasti menginginkan seorang suami yang baik. Suami yang bertanggung jawab yang mampu membimbingmu dalam ketaatan kepada Allah. Seorang suami yang mampu menjadi imam bagimu. Suami yang akan menanggung beban hidupmu, yang akan membuatmu selalu tersenyum. Suami yang selalu menyediakan pundaknya untuk tempatmu bersandar, suami yang akan membelai rambutmu dengan penuh kasih sayang. Suami yang akan mengusap air matamu dan mengatakan, “Dinda, semua akan baik-baik saja. Allah bersama kita.”

Engkau pasti mendambakan seorang suami yang bersikap lembut kepadamu. Suami yang mampu memahami perasaanmu, mampu menyelami hatimu. Suami yang tegas dalam menegur kesalahanmu, suami yang akan membimbingmu agar tindakanmu tidak salah. Engkau pasti mendambakan suami seperti itu. Engkau pasti memimpikan suami yang shalih.

Iya, saudariku. Suami yang shalih yang engkau dambakan. Suami yang akan membangunkanmu saat sepertiga malam terakhir dan mengajakmu bermunajat kepada Rabb semesta alam. Suami yang melantunkan dengan merdu ayat Al-Qur'an ketika kau bersandar padanya. Engkau pasti akan merasa bahagia bila mendapatkan suami shalih yang bertanggung jawab. Bertanggung jawab kepada Allah atas keadaan dirimu. Bertanggung jawab atas nafkahmu, perasaanmu, dan agamamu.

Impian mendapatkan suami idaman hanya akan menjadi mimpi tiada arti jikalau engkau tidak berusaha untuk mendapatkannya. Bagaimakah caranya? Sesungguhnya Allah berfirman dalam surat An-Nur ayat 26, “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)….”

Saudariku,
Saya mengajak diri saya pribadi dan dirimu untuk senantiasa memperbaiki diri. Menyucikan jiwa kita.

Setiap wanita menginginkan dirinya menjadi wanita yang baik. Wanita yang shalihah. Karena dengan menjadi wanita shalihah ia menjadi mulia dan menjadi perhiasan yang tiada tara keindahannya. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad, “Dunia dan seluruh isinya adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim)

Wanita shalihah adalah wanita yang selalu merasakan pengawasan Allah dimana pun ia berada. Wanita shalihah adalah wanita yang mengenakan jilbab tanpa paksaan. Wanita yang menjaga pandangannya. Ia berbicara dengan nada biasa tiada mendayu-dayu. Ia menjaga agar gerakan tubuhnya tidak mengundang perhatian orang lain. Ia berjalan lembut dan tenang tanpa mengundang keinginan laki-laki yang di hatinya ada penyakit. Ia memberikan senyum sewajarnya dan tidak mengumbar senyuman kepada setiap laki-laki.
Saudariku, jadilah wanita shalihah. Wanita shalihah.



Anda Berjilbab Sehingga Anda Disebut Muslimah


Mari kita sejenak berbicara dengan hati. Mari bersama-sama menumbuhkan pancaran hati nurani yang akan mampu menerangi jalan. Biarkan hati kita berbicara menyampaikan keinginannya.

Saudariku,
Sekarang ini, Anda akan mudah menemukan wanita yang berhias dan bersolek di jalan dan di tempat umum.
Anda lihat yang disuguhkan oleh media elektronik, mereka menyuguhkan wanita sebagai pemanis tayangan, sebagai penyejuk pandangan bagi laki-laki. Mulai dari penyiar berita sampai artis, sudah tidak tampak lagi kepribadian seorang muslimah dalam diri mereka. Mereka menanggalkan jilbab mereka. Mereka telah bermaksiat kepada Allah. Apakah mereka sudah tidak mempunyai rasa malu lagi? Apakah mereka masih berbangga menyebut diri mereka sebagai seorang muslimah.

Sedangkan Allah berfirman dalam surat Al-Ahzab ayat 59, (artinya), “Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu, dan isteri-isteri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka’, yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’.

Apakah wanita-wanita yang tidak mengenakan jilbab itu tidak pernah mendengar hadits bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Ada dua golongan penduduk neraka yang keduanya belum pernah aku lihat. (1) Kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi, yang dipergunakannya untuk memukul orang. (2) Wanita-wanita berpakaian, tetapi sama juga dengan bertelanjang, berjalan dengan berlenggok-lenggok, mudah dirayu atau suka merayu, rambut mereka (disasak) bagaikan punuk unta. Wanita-wanita tersebut tidak dapat masuk surga, bahkan tidak dapat mencium bau surga. Padahal bau surga itu dapat tercium dari (jarak) begini dan begini.” (HR. Muslim)

Merekalah wanita-wanita yang menyebarkan fitnah, yang mencengkeram hati setiap laki-laki yang lemah iman.

Ucapkan Alhamdulillah wahai saudariku,
Ungkapkanlah syukur kepada Allah yang telah memberikan karunia-Nya kepada
Anda, sehingga Anda termasuk wanita muslimah yang mengenakan jilbab. Bersyukurlah karena Anda telah melaksanakan perintah Allah. Bersyukurlah karena Anda telah berusaha menjaga diri dari panasnya api neraka.

Sungguh, nikmat hidayah berupa kesadaran untuk mengenakan jilbab adalah nikmat yang sangat besar.
Anda adalah seorang muslimah. Jilbab yang Anda pakai adalah bukti bahwa engkau benar-benar seorang muslimah.

Dengan mengenali Anda sebagai seorang muslimah maka orang lain akan memperlakukan Anda sebagai seorang muslimah. Orang lain tahu kalau Anda tidak makan makanan haram, sehingga Anda akan dihidangi makanan halal. Seorang muslim lain yang berjumpa dengan Anda akan mengucapkan salam. Laki-laki penggoda merasa segan untuk mengganggu Anda. Itu jika Anda menampakkan bahwa Anda adalah seorang muslimah.

Apabila bertemu di jalan dan Anda tidak memakai jilbab, maka saya tidak akan mengucapkan kepada Anda karena saya tidak tahu apakah Anda seorang muslimah atau kafir. Seorang muslimah dikenali dengan jilbabnya. 



Malu Adalah Perhiasan Terindah

Wanita diciptakan berbeda dengan laki-laki. Wanita lebih mempunyai perasaan. Hatinya selembut salju dan sebening embun. Dalam emosinya ada bermacam-macam perasaan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. 

Kita lihat wanita minum dan makan dengan hati-hati. Kita lihat wanita berjalan dengan pelan-pelan. Kita dengar wanita berbicara dengan lirih. Kita lihat wanita memerah pipinya tatkala mendapat pujian. Kita lihat wanita lebih malu daripada laki-laki. Malu adalah perhiasan terindah bagi wanita. Kita lihat wanita yang senantiasa menundukkan pandangan begitu dihormati dan disegani oleh orang lain.

Berbeda dengan wanita yang tertawanya keras di depan laki-laki. Atau yang berjalan cepat-cepat dengan langkah panjang. Atau yang suaranya mendayu-dayu, yang berpakaian tidak menutup aurat, yang menebar senyum dan fitnah bagi laki-laki. Wanita seperti itu tidaklah dihormati atau disegani. Wanita seperti itu hanya akan menyenangkan syahwat laki-laki, yang tidak pantas disebut wanita muslimah.

Kemuliaan wanita terukur seberapa besar rasa malunya. Malu adalah perhiasan Anda yang terindah.
 
MENANGISLAH!
Paradigma umum memandang bahwa wanita identik dengan menangis. Ya, karena memang wanita dianugrahi Allah perasaan yang lembut dan mudah tersentuh. Seberapa seringkah Anda menangis? Karena apa Anda menangis? Karena bersedih, karena ditinggal orang yang disayangi, karena ditimpa musibah. Maka, saya bertanya kepada Anda seberapa seringkah Anda menangis di hadapan Allah karena teringat akan dosa yang pernah Anda lakukan? Seberapa seringkah Anda menangis karena takut kepada-Nya? 



Mengusir Kegundahan

DUNIA DAN AKHIRAT
Pernahkah Anda mengalami sebuah musibah yang sangat besar. Musibah dunia yang sangat besar yang tidak semua orang mengalaminya. Ketahuilah, jika Allah merahmati Anda sehingga Anda dapat merasakan secuil kenikmatan akhirat, maka segala musibah dunia yang pernah Anda rasakan seolah-olah tidak pernah Anda rasakan. Anda akan mengatakan bahwa musibah terbesar di dunia tidak ada artinya apa-apa dibandingkan secuil kenikmatan di akhirat.


MENJAUHI MAKSIAT
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam kitabnya Ad-Da’ wa Ad-Dawa’ menyebutkan beberapa bahaya dan dampak buruk kemaksiatan. Salah satu dampak kemaksiatan bagi pelakunya adalah ia terhalang mendapatkan ilmu. Ilmu adalah cahaya yang dimasukkan oleh Allah ke dalam hati seorang hamba, sedangkan maksiat akan mematikan cahaya tersebut.

Ketika Imam Syafi’i duduk berguru di hadapan Imam Malik dengan membacakan kitab kepadanya, maka Imam Malik terkagum oleh kecepatan hafalannya, kecerdasannya yang sangat gemilang, dan pemahamannya yang sempurna. Beliau kemudian berkata kepada Imam Syafi’i, “Sungguh aku melihat bahwa Allah telah memberikan cahaya kepadamu, maka jangan padamkan cahaya itu dengan gelapnya kemaksiatan.”

Kemaksiatan juga dapat menghalangi datangnya rezeki. Sebagaimana halnya takwa dapat mendatangkan rezeki, maka meninggalkan ketakwaan akan mendatangkan kefakiran. Dampak lain dari kemaksiatan bagi pelakunya adalah ia akan merasakan kegelapan di dalam hati sebagaimana ia merasakan kegelapan malam yang gelap gulita. 


Kegelapan maksiat bagi hatinya adalah seperti kegelapan malam yang dilihat oleh matanya. Ketaatan adalah cahaya, sedangkan kemaksiatan adalah kegelapan. Manakala kegelapan itu semakin menguat, maka semakin bertambah pula kebingungan yang dirasakan oleh seseorang. Kalau sudah begitu, ia akan terjerumus ke dalam bid’ah, kesesatan, serta kepada hal-hal yang merusak, sedangkan ia tidak merasa. Untuk merasakan kebahagiaan, maka jauhilah kemaksiatan.


22 Juli 2012

Pelajaran mengenai Puasa, Tarawih, dan Zakat


Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, berkata: 
"Sesungguhnya segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, meminta pertolongan dan memohon ampun kepada-Nya. Dan kami berlindung kepada-Nya dari kejahatan diri-diri kami dan kejahatan perbuatan kami. Barangsiapa yang ditunjuki oleh Allah, tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa disesatkan-Nya, tidak ada yang dapat menunjukinya. Saya bersaksi bahwa tidak ada yang patut diibadahi kecuali Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah Hamba dan Rasul-Nya. Semoga shalawat dan salam tercurah kepadanya, keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan, sampai hari kemudian. Amma ba’du.

Dalam kesempatan ini dengan dekatnya kedatangan bulan Ramadhan yang diberkahi, kami ingin mempersembahkan kepada saudara-saudara Muslimin pelajaran-pelajaran berikut ini, memohon kepada Allah agar Dia menjadikan amalan ini ikhlas hanya untuk-Nya semata dan sesuai dengan ketetapan syariatnya, demikian juga sebagai sumber kemanfaatan bagi makhluk-Nya. Seungguhnya, Dialah Yang Maha Memberi lagi Maha Pemurah."

Buku (ebook) ini berisi 8 pelajaran, yaitu:


1. Hukum Puasa

Download kitab:
Pelajaran mengenai Puasa, Tarawih, dan Zakat karya Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Tabarruj

Wanita adalah makhluk yang kerap menjadi korban komoditi dan mode. Beragam kosmetik, parfum bermerek, hingga model pakaian yang lagi tren, dengan mudah menjajah tubuh mereka. Malangnya, dengan segala yang dikenakan itu, mereka tampil di jalan-jalan, mal-mal, atau ruang publik lainnya. Alhasil, bukan pesona yang mereka tebar tapi justru fitnah.

Pernah dengar kata tabarruj? Apa sih maknanya?
Allah Subhanahu wa Ta’ala menyinggung kata ini dalam firman-Nya:
Janganlah kalian (wahai istri-istri Nabi) bertabarruj sebagaimana tabarruj orang-orang jahiliah yang awal.” (Al-Ahzab: 33)

Dan perempuan-perempuan tua yang terhenti dari haid dan mengandung, yang tidak memiliki keinginan untuk menikah lagi, maka tidak ada dosa bagi mereka untuk menanggalkan pakaian luar1 mereka dengan tidak bermaksud tabarruj dengan perhiasan yang dikenakan … .” (An-Nur: 60)

Az-Zajjaj Abu Ishaq Ibrahim bin As-Sirri rahimahullahu berkata:
Tabarruj adalah menampakkan perhiasan dan segala yang dapat mengundang syahwat laki-laki.”

Mujahid rahimahullahu berkata:
Seorang wanita berjalan di hadapan orang-orang, itulah yang dinamakan tabarruj jahiliah.”
Qatadah rahimahullahu menambahkan bahwa wanita yang bertabarruj adalah wanita yang keluar rumah dengan berjalan lenggak-lenggok dan genit. (Tafsir Ath-Thabari, 10/294)

Ibnul Atsir rahimahullahu berkata:
“Tabarruj adalah menampakkan perhiasan kepada laki-laki yang bukan mahram (ajnabi). Perbuatan seperti ini jelas tercela. Adapun menampakkan perhiasan kepada suami, tidaklah tercela. Inilah makna dari lafaz hadits, ‘(menampakkan perhiasan) tidak pada tempatnya’.” (An-Nihayah fi Gharibil Hadits)

Dengan keterangan di atas insya Allah menjadi jelas bagi kita apa yang dimaukan dengan tabarruj. Hukumnya pun tampak bagi kita, yakni seorang muslimah dilarang keluar rumah dengan tabarruj.
Namun sangat disesalkan kenyataan yang kita dapatkan di sekitar kita. Berseliwerannya wanita dengan dandanan aduhai, ditambah wangi yang semerbak di jalan-jalan dan pusat keramaian, sudah dianggap sesuatu yang lazim di negeri ini. Bahkan kita akan dianggap aneh ketika mengingkarinya.

Tidak usahlah kita membicarakan para wanita yang berpakaian “telanjang” di jalan-jalan, karena keadaan mereka sudah sangat parah, membuat orang yang takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hari akhir bergidik dan terus beristighfar. Cukup yang kita tuju para muslimah yang masih punya kesadaran berislam walaupun mungkin setipis kulit ari, hingga mereka menutup rambut mereka dengan kerudung dan membalut tubuh mereka dengan pakaian sampai mata kaki dengan berbagai model. Sangat disesalkan para muslimah yang berkerudung ini ikut berlomba-lomba memperindah penampilannya di depan umum dengan model ‘busana muslimah’ terkini dan kerudung ‘gaul’ yang penuh pernak-pernik, pendek, dan transparan.

Berbusana yang sejatinya bertujuan menutup aurat dan keindahan seorang muslimah di hadapan lelaki selain mahramnya, malah justru menonjolkan keindahan. Belum lagi wajah dan bibir yang dipoles warna-warni, serta parfum yang dioleskan ke tubuh dan pakaian. Semuanya dipersembahkan di hadapan umum, seolah si wanita berkata, “Lihatlah aku, pandangilah aku…”. Wallahul musta’an…

Semua ini jelas merupakan perbuatan tabarruj yang dilarang dalam Al-Qur`anul Karim. Namun betapa jauhnya manusia dari bimbingan Al-Qur`an!!! Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang para wanita bertabarruj. Namun mereka justru bangga melakukannya, mungkin karena ketidaktahuan atau memang tidak mau tahu.

Bisa jadi ada yang menganggap bahwa larangan tabarruj ini hanya ditujukan kepada istri-istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena mereka yang menjadi sasaran pembicaraan dalam ayat 33 dari surat Al-Ahzab di atas. Jawabannya sederhana saja. Bila wanita-wanita shalihah, wanita-wanita yang diberitakan nantinya akan tetap mendampingi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di surga, para Ummahatul Mukminin yang suci itu dilarang ber-tabarruj sementara mereka jauh sekali dari perbuatan demikian, apatah lagi wanita-wanita selain mereka yang hatinya dipenuhi syahwat dunia. Siapakah yang lebih suci, istri-istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ataukah mereka? Bila istri-istri Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan cerminan shalihah bagi wanita-wanita yang bertakwa itu diperintah untuk menjaga diri, jangan sampai jatuh ke dalam fitnah dan membuat fitnah, apalagi wanita-wanita yang lain…

Kalau ada yang menganggap larangan tabarruj itu hukumnya khusus bagi istri-istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena mereka adalah pendamping manusia pilihan, kekasih Allah Subhanahu wa Ta’ala, sementara wanita-wanita selain mereka tidak memiliki keistimewaan demikian, maka kita tanyakan: Dari sisi mana penetapan hukum khusus tersebut, sementara alasan dilarangnya tabarruj karena akan menimbulkan fitnah bagi laki-laki?

Laki-laki yang memang diciptakan punya ketertarikan terhadap wanita, tentunya akan tergoda melihat si wanita keluar dengan keindahannya. Bila tidak ada iman yang menahannya dari kenistaan, niscaya ia akan berpikir macam-macam yang pada akhirnya akan menyeretnya dan menyeret si wanita pada kekejian. Bila tabarruj dilarang karena alasan seperti ini, lalu apa manfaatnya hukum larangan tersebut hanya khusus bagi para istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam? Apakah bisa diterima kalau dikatakan para istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dilarang tabarruj karena mereka wanita mulia yang harus dijaga, tidak boleh menimbulkan fitnah, sementara wanita selain mereka tidak perlu dijaga dan kalaupun bertabarruj tidak akan membuat fitnah??? Di manakah orang-orang yang katanya berakal itu meletakkan pikirannya? Wallahul musta’an.


Wanita yang keluar rumah dengan tabarruj hendaknya berhati-hati dengan ancaman yang dinyatakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya berikut ini:
Ada dua golongan dari penduduk neraka yang keduanya belum pernah aku lihat, pertama: satu kaum yang memiliki cemeti-cemeti seperti ekor sapi yang dengannya mereka memukul manusia. Kedua: para wanita yang berpakaian tapi telanjang, mereka menyimpangkan lagi menyelewengkan orang dari kebenaran. Kepala-kepala mereka seperti punuk unta yang miring/condong. Mereka ini tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium wanginya surga padahal wanginya surga sudah tercium dari jarak perjalanan sejauh ini dan itu.” (HR. Muslim no. 5547)

Kata Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu:
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencirikan wanita ahlun nar itu dengan (ÙƒَاسِÙŠَاتٌ) maksudnya mereka mengenakan pakaian, akan tetapi mereka itu (َعَارِÙŠَاتٌ) “telanjang”, karena pakaian yang mereka kenakan tidaklah menutupi aurat mereka dengan semestinya. Bisa jadi karena pakaian itu tipis, ketat, atau pendek. Mereka itu Ù…َائِلاَتٌ menyimpang dari jalan yang benar, Ù…ُÙ…ِÙŠْلاَتٌ menyimpangkan orang lain dari kebenaran karena fitnah yang dimunculkan dari mereka.
رُؤُوسُÙ‡ُÙ†َّ ÙƒَØ£َسْÙ†َÙ…َØ©ِ الْبُØ®ْتِ الْÙ…َائِÙ„َØ©ِ “rambut/kepala mereka seperti punuk unta yang miring”, karena rambut mereka ditinggikan hingga menyerupai punuk unta yang miring.” (Taujihat lil Mu`minat Haulat Tabarruj was Sufur, hal. 18)
Kedua golongan di atas belum ada di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun sekarang telah kita dapatkan. Hal ini termasuk mukjizat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana apa yang beliau kabarkan pasti terjadi. (Al-Minhaj, 14/336)

Yang perlu diingat, tidaklah satu dosa diancam dengan keras melainkan menunjukkan bahwa dosa tersebut termasuk dosa besar. Sementara wanita yang keluar rumah dengan berpakaian namun hakikatnya telanjang, yang bertabarruj, berjalan berlenggak lenggok di hadapan kaum lelaki hingga menjatuhkan mereka ke dalam fitnah, dinyatakan tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium bau surga.



Sumber: http://qurandansunnah.wordpress.com


Anda Begitu Berharga



Sesungguhnya dunia seluruhnya adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita sholehah.” (HR. Muslim)

Tak bisa dipungkiri saat ini keadaan sebagian besar wanita sudah jauh dari ajaran Islam. Betapa banyak wanita yang menjadi tunasusila. Berapa banyak wanita yang suka hura-hura di diskotik dan menenggak minuman keras. Berapa banyak wanita yang berjalan berlenggak-lenggok menebar syahwat. Berapa banyak wanita yang memakai jilbab tetapi hakikatnya mereka telanjang. Berapa banyak wanita yang hamil sedang ia belum bersuami.

Tiada aku meninggalkan suatu fitnah sesudahku lebih berbahaya terhadap kaum pria daripada godaan wanita.” (Mutafaq'alaih)

Ketahuilah, peradaban zaman ini di tangan kaum wanita. Siapakah yang melahirkan Umar bin Khathab. Siapakah yang melahirkan Shalahudin Al-Ayubi. Siapakah yang melahirkan George Whasington. Siapakah yang melahirkan Hittler. Siapakah yang melahirkan George Bush. Dari rahim wanitalah setiap pemimpin dunia dilahirkan. Wanitalah cikal bakal pembentuk peradaban, apakah menjadi baik atau buruk. Anak-anak dari para wanita kelak akan menjadi pengusung keberanan atau pengusung kebatilan.

Seorang laki-laki datang kepada Nabi dan bertanya: “Wahai Rasulullah! Siapa yang harus saya perlakukan dengan baik?” Rasulullah menjawab, “Ibumu”. Saya bertanya lagi, “Siapa yang harus saya perlakukan dengan baik?” Rasulullah menjawab, “Ibumu” Lalu saya bertanya, “Siapa yang harus saya perlakukan dengan baik?" Rasulullah menjawab, “Ibumu”. Saya bertanya, “Siapa yang harus saya perlakukan dengan baik?” Rasulullah menjawab, “Bapakmu, kemudian kerabat yang terdekat, lalu kerabat yang terdekat.” (HR Ahmad dan Abu Dawud)

Subhanallah, begitu tingginya Islam memuliakan seorang ibu, seorang wanita.

Sesungguhnya Anda sangat berharga. Melalui didikan kasih Anda akan tercetak generasi sesuai harapan Anda. Anda bisa mendidik anak Anda agar menjadi pembela Islam atau sebaliknya. Anak-anak Palestina mendapat didikan dari ibu dengan baik sehingga menjadilah mereka anak-anak yang tangguh berjuang membela agama mereka dengan darah.

Jadilah wanita yang mulia. Lahirkan dan didiklah anak Anda agar menjadi para da’i dan mujahid. Maka, mulai sekarang carilah ilmu agama sebanyak-banyaknya dan amalkan. Sesungguhnya masa muda adalah masa yang akan dimintai pertanggungjawaban di Hari Pengadilan. Dengan ilmu agama yang cukup Anda bisa mencetak anak-anak yang dapat dibanggakan umat ini.

Sesungguhnya Anda tetap dalam kejahilan (kebodohan) meskipun Anda sudah sarjana ataupun doktor. Meskipun Anda menjadi seorang professor dan menjadi rujukan dalam salah satu bidang ilmu pengetahuan, tetapi Anda masih bodoh kalau tidak mempelajari ilmu agama. Ilmu agama yang akan mengangkat kedudukan Anda dan memuliakan Anda di dunia dan akhirat, insya Allah.

Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah untuk memperoleh kebaikan, maka Allah membuat ia menjadi paham dalam hal keagamaan.” (Muttafaq 'alaih)


PERMATA ATAU KERIKIL
Emas,
Di manakah kamu bisa mendapatkannya,
Jauh ke dalam perut bumi yang sulit terjamah.
Permata,
Di manakah kamu bisa mendapatkannya,
Jauh di dalam tanah menutup diri bersama keindahannya.
Mutiara,
Di manakah kamu bisa mendapatkannya,
Jauh di dasar lautan terlindung kulit kerang yang keras.
Keindahan, selalu terlindung dan terjaga.

Lihatlah kerikil
Yang berserakan di jalanan,
Adakah orang memperhatikannya,
Adakah orang memujanya,
Adakah orang melihat keindahan padanya


Anda mau menjadi permata atau menjadi kerikil?!
Peliharalah “perhiasan” Anda. Pakailah jilbab yang sebenar-benarnya jilbab.


HIJAB WANITA MUSLIMAH

1) Meliputi seluruh badan selain yang dikecualikan (wajah dan telapak tangan)
2) Bukan sebagai perhiasan
3) Kainnya tidak transparan
4) Harus longgar (tidak ketat) sehingga tidak dapat menggambarkan sesuatu dari tubuhnya
5) Tidak diberi wewangian atau parfum
6) Tidak menyerupai pakaian laki-laki
7) Tidak menyerupai pakaian wanita-wanita kafir
8) Bukan pakaian syuhrah (untuk mencari popularitas)
( Jilbab al-Mar’ah al-Muslimah fil Kitabi was Sunnah, karya Syaikh Al-Albani)


Cinta Butuh Pembuktian


Saudariku, apa pendapat Anda tentang pernyataan-pernyataan berikut ini.

Ada seorang laki-laki yang mengaku sangat mencintai seorang wanita. Untuk membuktikan perkataan itu, wanita tersebut meminta laki-laki itu untuk menikahinya. Namun, si laki-laki tidak mau menikahinya dengan mengutarakan alasan bahwa cinta tidak harus diwujudkan dengan pernikahan. Wanita itu mengatakan bahwa pengakuan cinta laki-laki itu adalah bohong belaka. Si laki-laki beralasan bahwa yang penting hatinya tulus mencintai.

Seorang suami mengaku sangat mencintai istrinya, namun laki-laki itu tidak mau memberinya nafkah meskipun ia mampu. Si istri menuntut haknya untuk diberi nafkah, tetapi si suami tetap tidak mau memberikan nafkah. Si istri mengatakan bahwa suaminya tidak mencintainya lagi. Si suami mengatakan kepada istrinya bahwa ia masih mencintainya.

Saudariku,
Yang ingin saya katakan adalah bahwa cinta itu membutuhkan pembuktian. Cinta tidak hanya diucapkan saja. Cinta haruslah terwujud dalam tindakan. Orang yang mencintai akan mau membuktikan cintanya. Ia akan berkorban untuk orang yang dicintainya. Ia akan menanggun beban untuk kekasihnya. Ia akan berusaha memenuhi keinginan orang yang dicintainya. Ibaratnya, gunung tinggi akan dilalui dan samudera luas akan diseberangi. Itulah pengakuan cinta yang benar. Itulah cinta yang sesungguhnya.

Lalu bagaimana dengan orang yang mengaku mencintai namun tidak mau memenuhi keinginan kekasihnya. Bagaimana orang yang mengaku mencintai tetapi tidak mau berkorban untuk orang yang dicintainya. Maka, pengakuan cinta orang ini adalah bohong belaka.

Saudariku, apakah Anda mencintai Allah?

Saya yakin Anda akan menjawab bahwa Anda mencintai Allah. Seorang muslim pasti mengaku mencintai Allah. Perlu buktikah pengakuan cinta kepada Allah. Kita ketahui bahwa Allah Maha Mengetahui, Allah mengetahui hati hambanya. Allah mengetahui bahwa seseorang itu jujur mengaku mencintai Allah atau hanya pengakuan di bibir saja tetapi hatinya mengingkari. Maka, perlu buktikah pengakuan cinta kita kepada Allah?

Nabi Muhammad sebaik-baik hamba Allah dan orang yang paling bertakwa senantiasa beribadah kepada Allah. Dosa beliau yang lalu dan yang akan datang diampuni oleh Allah. Namun beliau masih tetap, beribadah kepada Allah. Bahkan beliau shalat malam sampai kakinya bengkak. Itulah bukti kecintaan beliau kepada Allah. 

Abu Bakar As-Sidiq, umat Nabi Muhammad yang terbaik dan mendapat jaminan masuk surga, beliau senantiasa beribadah kepada Allah. Beliau senantiasa melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Bahkan susu yang sudah diminumnya berusaha ia muntahkan setelah mengetahui bahwa minuman itu berasal dari jalan yang tidak halal. Beliau mengatakan bahwa seandainya susu itu hanya bisa keluar jika dibarengi dengan keluarnya nyawa beliau dari jasadnya, niscaya itu lebih beliau pilih. Itulah bukti cinta Abu Bakar kepada Allah dengan menjauhi larangan Allah berupa memakan barang haram.

Begitu juga para sahabat dan orang-orang shalih setelahnya. Allah mengetahui bahwa mereka adalah orang-orang yang jujur dalam pengakuan cintanya kepada Allah. Namun, mereka tetap dituntut untuk membuktikan pengakuan cinta mereka dan mereka dengan suka hati membuktikan cinta mereka kepada Allah. 

Lalu jika Allah memerintahkan hambanya yang wanita untuk menutupi auratnya, mengenakan hijab sehingga ia dikenali sebagai seorang muslimah, bagaimanakah seharusnya sikap seorang wanita yang mengaku cinta kepada Allah. Apakah ia cukup dengan mengatakan cinta di bibirnya dan ia tidak mau mengenakan hijab, ia tidak mau melaksanakan perintah Allah. Kemudian ia beralasan bahwa yang penting hatinya merasa cinta kepada Allah. 

Sungguh, ini adalah pengakuan cinta yang dusta. Karena sesungguhnya cinta itu membutuhkan pembuktian.


Kesuksesan Karir Bukan Jaminan Kebahagiaan



Seorang dokter wanita berteriak, “Ambillah ijazahku dan berilah aku suami.”

Kisah ini adalah kisah seorang wanita yang sukses menggapai karirnya sebagai dokter sebagaimana yang dimuat dalam kitab Thariq Sa’adah. Setelah perjuangannya yang berat dalam mendaki puncak karirnya tersebut, wanita ini merasakan bahwa ia tidak merasakan kebahagiaan. Ia merasa hidup ini sempit. 


Saat ia memasuki kantornya, ia menggambarkan bahwa kantornya ibarat kuburan atau penjara yang menyengsarakannya. Pakaian jaket khas dokter yang ia kenakan diibaratkan sebagai pakaian besi yang mengukungnya dalam kenestapaan. Dan stetoskop yang mengalungi lehernya ia ibaratkan sebagai tali yang membelit lehernya. Wanita ini berada pada puncak karirnya, tetapi ia belum mendapatkan seorang suami. Nalurinya sebagai wanita terusik. Ia ingin mendapatkan kebahagiaan sejati. Bukan ketenaran, bukan kesuksesan karir, bukan harta yang melimpah.

Akhirnya ia berteriak, “Ambillah ijazahku, jaketku, dan semua referensiku. Ambillah kebahagiaan palsu, dan perdengarkan kepadaku kalimat, ’Mama…’”

Renungkanlah wahai saudariku,

Ambillah pelajaran dari kisah di atas. Juga ambillah pelajaran dari perkataan artis dunia yang mencapai kesuksesan karir dan bergelimangan kemewahan, Marilyn Monroe. Marilyn Monroe, yang pada masanya banyak dipuja kaum laki-laki maupun kaum wanita, pernah berkata, 
“Waspadalah kepada ketenaran dan kepada setiap orang yang memberimu fasilitas mewah untuk menjadi bintang. Sesungguhnya saya adalah wanita yang paling sengsara di muka bumi ini karena tidak bisa menjadi seorang ibu. Sebenarnya saya ingin menjadi wanita yang mengurus rumah tangga dan keluarga. Kebahagiaan wanita hakiki adalah pada kehidupan keluarga yang terhormat dan suci. Semua orang telah merusak hidup saya. Bekerja di sinema hanya membuat harga seorang wanita menjadi murah dan tidak berguna walaupun kelihatannya terkenal.” 

Pada masa sekarang banyak wanita yang lebih mementingkan karir daripada memenuhi kebutuhan nalurinya sebagai seorang wanita yang mendambakan seorang suami dan mendambakan seorang bayi mungil yang memanggilnya, “Mama…”. Perkembangan zaman mempengaruhi para wanita untuk meninggalkan rumah dan mengejar karirnya. Banyak yang berpikiran wanita karir yang sukses akan mendapatkan kebahagiaan. 

Ingatlah wahai saudariku, naluri Anda sebagai wanita tidak akan pernah bisa dibendung dalam waktu lama. Anda mempunyai keinginan untuk membina rumah tangga dengan seorang laki-laki yang Anda cintai dan ia pun mencintai Anda. Kemudian Anda mendambakan memilik seorang “malaikat kecil” yang akan selalu kau jaga dan sayangi. Itulah fitrah wanita. Jadi, jangan sampai karir Anda mengambil kebahagiaan hidup Anda dan menggantinya dengan kenestapaan. 


PROMO BUKU

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More