MUSLIMAH

Menuju Insan yang Shalihah

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

MUTIARA DAKWAH

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

23 April 2014

Keridhaan dan Ketenangan


Ketika ujian semakin terasa berat, mungkin kita merasakan seolah-olah Allah berlaku zalim kepada kita. Kita merasa ditelantarkan, dihinakan, dan dijatuhkan ke dalam jurang kehancuran. Namun, apakah kita akan menolak takdir itu? Sekali-kali tidak, karena kita tidak mempunyai hak dan tidak mempunyai kemampuan untuk menolak takdir.

Umar bin Khaththab pernah berkata, 
“Aku tidak peduli dengan keadaanku, apakah aku dalam hal yang aku senangi, atau yang aku benci. Itu karena aku tidak tahu apakah kebaikan itu terdapat dalam hal yang aku senangi atau dalam hal yang aku benci.”

Sikap yang baik dalam menghadapi ujian adalah ridha atas ketentuan Allah tersebut. Meskipun kita membenci kejadian buruk menimpa kita, akan tetapi “boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Dalam kitab Jadid Hayataka, Muhammad A-Ghazali mengatakan, 
“Ketentuan yang dialami manusia yang tidak menyenangkannya, tidak ada tempat untuk menyesal atau kecewa dan tidak ada tempat untuk khawatir dan ragu.”

Ketentuan Allah yang “dirasakan tidak menyenangkan” bagi orang-orang beriman tidak ada tempat untuk menghindarinya atau menyesalinya. Juga tidak ada kekhawatiran dan ketakutan. Karena orang-orang yang beriman sudah memasrahkan jiwanya untuk ditimpa ketentuan apapun yang datang dari Allah. Keridhaan semacam itulah yang melahirkan ketenangan hati dan ketenteraman pikiran.

Umar bin Khaththab berkata, “Sesungguhnya kebaikan itu semuanya berada dalam keridhaan. Jika engkau mampu untuk ridha, maka lakukanlah. Dan jika tidak bisa maka bersabarlah.”

Dalam kitabnya, Syarh Ushul Iman, Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menyebutkan salah satu buah iman kepada takdir yaitu dapat menimbulkan ketenangan serta kepuasan jiwa terhadap seluruh takdir yang terjadi, tidak gelisah karena hilangnya sesuatu yang disukai atau sesuatu yang tidak disukai menimpanya. Karena dia tahu bahwa hal itu terjadi dengan takdir Allah, Pemilik langit dan bumi dan bahwa hal itu pasti akan terjadi.

Aidh Al-Qarni memberikan nasehat dalam kitabnya Hada’iq Dzatu Bahjah, “Ridha kepada Allah akan membuat Anda senantiasa ridha dengan semua hukum syariah-Nya sehingga Anda akan ridha dengan semua perintah-Nya dan taat menjalankannya. Anda akan ridha dengan semua larangan-Nya dengan senantiasa menjauhinya.

Anda akan ridha dengan takdirnya yang terasa getir sehingga akhirnya Anda akan ridha dengan semua nikmat dan musibah. Anda akan senantiasa tenang dalam keterhalangan dan pemberian, dalam kesulitan dan kemudahan.

Anda akan ridha kepada-Nya jika Dia memberi kesehatan dan memberi kesembuhan. Anda akan ridha dengan semua cobaan yang Allah timpakan kepada Anda. Anda akan ridha kepada-Nya jika Dia membuat Anda sakit.

Anda akan ridha jika Allah menempatkan Anda dalam penjara sehingga Anda terisolasi. Anda ridha jika Dia membuat Anda kaya dan memanjakan Anda. Anda ridha jika Dia menjadikan Anda fakir dan tak berdaya.

Allah sangat senang jika hambanya ridha dengan semua ketentuan-Nya. Dia Mahabijaksana. Tak diragukan lagi bahwa semua takdir dan qadha-Nya adalah baik. Dia Maha Pengatur dan semua rekayasa-Nya adalah baik.

Dia akan senantiasa memilih yang terindah, paling sempurna, dan paling utama bagi hamba-Nya. Oleh karena itu, janganlah Anda menentang semua pilihan-Nya dengan kebencian. Janganlah Anda membentur semua takdir-Nya dengan penolakan. Jangan pula Anda merespon ketentuan-Nya dengan pembangkangan.”

***
Referensi:
Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Syarh Ushul Iman. (Terjemahan: Penjelasan Tentang Prinsip-prinsip Dasar Keimanan. 2007. Ebook oleh islamhouse.com)

Aidh Abdullah Al-Qarni. Hada’iq Dzatu Bahjah. (Terjemahan: Berbahagialah. 2004. Jakarta: Penerbit Pustaka Al-Kautsar)

Muhammad Al-Ghazali. Jadid Hayataka. (Terjemahan: Perbaharuilah Hidupmu. 2009. Yogyakarta: Sajadah Press.)

Shalih Ahmad Asy-Syami. Mawa’izu Ash-Shahabah. (Terjemahan: Untaian Hikmah Penggugah Jiwa. 1999. Sukoharjo: Penerbit Roemah Buku)
***

Sukrisno Santoso
Ditulis pada hari Rabu, 23 April 2014, di rumah, Kota Sukoharjo


0 komentar:

Posting Komentar

PROMO BUKU

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...