MUSLIMAH

Menuju Insan yang Shalihah

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

MUTIARA DAKWAH

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

27 April 2014

Limpahan Ilmu dalam Rekaman Kajian


“Demi Allah,” kata Abdul Aziz bin Muhammad bin Adbullah As-Sadhan, “rekaman kaset (berupa tilawah, kajian, dan lainnya yang bermanfaat) merupakan salah satu bentuk kenikmatan dari Allah. Tapi kebanyakan kita menyia-nyiakannya. Penyebabnya ialah ketidakpedulian kita mengaturnya.”

Dalam kitabnya, Ma’alim fi Thariq Thalab Al-Ilm, Abdul Aziz bin Muhammad bin Adbullah As-Sadhan menyebutkan pasal tentang kesempatan yang sering disia-siakan oleh sebagian penuntut ilmu. Salah satunya yaitu adanya kaset rekaman (berupa tilawah, kajian, dan lainnya yang bermanfaat) yang tidak dimanfaatkan secara maksimal. Padahal, pada zaman sekarang, sarana untuk menimba ilmu sangat melimpah. Salah satunya rekaman kajian yang memuat ilmu-ilmu yang bermanfaat yang disampaikan oleh para ulama.

Abdul Aziz bin Muhammad bin Adbullah As-Sadhan mengatakan, “Orang-orang yang telah memanfaatkan fasilitas tersebut mengatakan bahwa rekaman tersebut sangat bermanfaat. Saya sendiri pun telah memanfaatkan kenyamanan tersebut. Dan sungguh saya telah mendapatkan kebaikan yang sangat banyak. Saya menyampaikan hal ini sebagai bentuk tahadduts binni’mah (ungkapan rasa syukur atas nikmat Allah, bukan karena kesombongan).”

Memang benar apa yang dikatakan tersebut. Saya sendiri juga mendapatkan banyak kebaikan dari mendengarkan rekaman kajian. Di tengah kesibukan sehari-hari, sebagian dari kita tidak mempunyai waktu yang banyak dan rutin untuk bisa menghadiri majelis ilmu para ulama secara langsung. Oleh karena itu, mendengarkan rekaman kajian menjadi aktivitas menimba ilmu yang bermanfaat.

Saya senang mendengarkan rekaman kajian ketika sedang menghadap komputer. Atau ketika ada waktu luang, misalnya ketika sedang menunggu seseorang. Atau ketika di dalam perjalanan. Ketika masih kuliah, saya mendengarkan rekaman kajian saat perjalanan berangkat dan pulang yang masing-masing memerlukan waktu sekitar setengah jam.

Saya telah selesai mendengarkan rekaman kajian yang membahas kitab Aqidah Thahawiyah yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Shaleh Hadrami. Rekaman kajian tersebut terdiri dari sekitar 100 file rekaman yang masing-masingnya berdurasi sekitar 1 jam. Alhamdulillah, saya telah selesai mendengarkannya di sebagian besar perjalanan.

Saya mempunyai teman yang biasa menyalakan rekaman kajian di dalam kendaraannya. Teman saya tersebut adalah seorang manajer salah satu perusahaan penerbitan. Hampir setiap minggu ia tugas dinas ke luar kota sehingga ia senantiasa berada dalam kesibukan. Salah satu cara yang ia lakukan untuk menimba ilmu ialah dengan mendengarkan rekaman kajian selama dalam perjalanan. Beberapa kali ketika naik di dalam mobilnya, saya mendengarkan rekaman kajian pembelajaran bahasa Arab yang dinyalakannya.

Imam Ash-Shan’ani menyebutkan bait syair,
Siapa saja yang belum pernah mencoba, ia tidak akan tahu manfaatnyaCobalah, niscaya engkau akan dapatkan apa yang telah saya sebutkan

Segala pujian bagi Allah yang telah memudahkan kita untuk mendapatkan ilmu. Adalah sebuah kelalaian jika kita tidak memanfaatkan nikmat tersebut. Abdul Aziz bin Muhammad bin Adbullah As-Sadhan memberikan nasehat, “Aturlah waktu untuk mendengarkan pelajaran dalam perjalanan Anda; apalagi jarak rumah jauh, atau sering melakukan bepergian untuk bekerja dan berkunjung, seperti mengunjungi kerabat dan saudara seiman, atau membeli kebutuhan rumah tangga. Lakukanlah hal ini terus-menerus. Ibaratnya, jangan turun dari mobil kecuali setelah mendengarkan berbagai pelajaran bermanfaat.”

“Saya menyebutkan hal ini,” lanjutnya, “karena rekaman kaset (berbentuk CD atau semisalnya) banyak terdapat di mana-mana. Ia menyimpan banyak ilmu. Seolah-olah ilmu para guru dan ulama tersimpan di dalamnya. Rekaman-rekaman tersebut dijual dengan harga murah (bahkan, ada yang bisa diunduh gratis dari internet), dan kita semua dapat memanfaatkannya setiap saat. Saya tahu bahwa banyak saudara-saudara kita yang tidak sempat menghadiri majelis ilmu karena kesibukan mereka dan karena pekerjaan mereka. Maka seyogyanya mereka mengganti hal tersebut dengan mendengarkan rekaman. Melalui rekaman itu, dia akan mendapatkan manfaat yang banyak.”

Aktivitas pokok dalam menimba ilmu ialah menghadiri majelis ilmu secara langsung. Mendengarkan rekaman kajian memang mendatangkan banyak kebaikan, namun menghadiri majelis ilmu secara langsung mendatangkan kebaikan yang lebih banyak. Maka, sediakanlah waktu luang untuk menghadiri majelis ilmu. Apalagi, saat ini banyak diadakan kajian di masjid-masjid.

Bakr bin Abdillah Abu Zaid mengatakan dalam Hilyah Thalabil Ilmi, “Pada prinsipnya, menuntut ilmu itu harus dengan belajar kepada guru dan langsung mendengarkan ucapan syaikh, bukan dari tulisan atau buku.”

Mendengarkan secara langsung dengan menghadiri majelis ilmu mempunyai banyak kelebihan dari sekadar mendengarkan rekaman kajian. Beberapa kelebihan tersebut di antaranya: (1) bisa bertemu dengan saudara seiman dan sesama penuntut ilmu, (2) duduk di majelis ilmu dapat mendatangkan rahmat dari Allah, (3) mendapatkan penjelasan yang lebih melalui gerak dan ekspresi ulama yang menyampaikan ilmu, (4) dapat belajar adab dari ulama, dan (5) menambah kebaikan dari panjangnya perjalanan ke tempat majelis ilmu.

Apapun cara dan sarana dalam menuntut ilmu, yang perlu kita tekankan ialah niat ikhlas di dalamnya. Kemudian juga perlunya penjagaan semangat dan motivasi dalam menuntut ilmu. Hal yang penting juga ialah memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk mendapatkan ilmu.

Bakr bin Abdillah Abu Zaid memberi nasehat, “Jagalah waktu dengan sungguh-sungguh dan penuh kesungguhan, selalu belajar bersama guru, dan sibuk dengan ilmu, baik dengan membaca, membacakan, mengkaji, menghayati, menghafal, dan mencari (menelaah).”

***
Abdul Aziz bin Muhammad bin Abdullah As-Sadhan. Ma’alim fi Thariq Thalab Al-Ilm. (Terjemahan: Adab dan Kiat dalam Menggapai Ilmu. 2013. Jakarta: Penerbit Darus Sunnah Press.)

Bakr bin Abdullah Abu Zaid. Hilyah Thalibil 'Ilmi. (Terjemahan: Perhiasan Penuntut Ilmu. 2014. Surakarta: Penerbit Al-Qowam

***
Sukrisno Santoso
Ditulis pada hari Minggu, 27 April 2014, di rumah, kota Sukoharjo


0 komentar:

Posting Komentar

PROMO BUKU

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...