MUSLIMAH

Menuju Insan yang Shalihah

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

MUTIARA DAKWAH

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

25 April 2014

Kisah Orang yang Masuk Neraka dan Masuk Surga Gara-gara Seekor Lalat


Katakanlah, sesungguhnya shalatku, sembelihanku (ibadahku), hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An’am: 162)

Dalam menafsirkan ayat tersebut, Ibnu Katsir berkata, “Allah memerintahkan Rasulullah agar memberitahukan kepada orang-orang musyrik yang menyembelih selain untuk Allah dan menyembelih dengan menyebut selain nama-Nya, bahwa dalam hal itu beliau berseberangan dengan mereka. Karena sesungguhnya shalatnya untuk Allah dan sembelihannya adalah atas nama-Nya saja yang tiada sekutu bagi-Nya.

Hal ini sama seperti firman-Nya, “Maka dirikanlah shalat karena Rabb-mu dan berkurbanlah,” (QS. Al-Kautsar: 2). Dengan pengertian, serahkanlah dengan tulus ikhlas kepada-Nya, shalat dan penyembelihanmu itu. Karena orang-orang musyrik itu menyembah berhala dan menyembelih untuk para berhala tersebut. Maka Allah memerintahkan beliau (Rasulullah) untuk menyelisihi mereka dan berpaling dari apa yang mereka lakukan, dan mengarahkan tujuan, niat, dan keinginan hanya tertuju pada Allah semata.”

Berkurban merupakan bentuk salah satu ibadah. Ibadah haruslah ditujukan hanya untuk Allah. Berkurban (menyembelih) untuk selain Allah merupakan kesyirikan. Dan syirik adalah dosa terbesar. Sebagaimana perkataan Adz-Dzahabi dalam kitabnya Al-Kaba’ir, “Dosa terbesar adalah syirik, menyekutukan Allah.”

Kemudian Adz-Dzahabi menyebutkan dua macam kesyirikan, yang salah satunya yaitu, “menjadikan sesuatu sebagai salah satu tandingan Allah dan atau beribadah kepada selain-Nya, baik berupa batu, pohon, matahari, bulan, nabi, guru, bintang, raja, maupun yang lain.”

Dalam Kitabut Tauhid bab “Menyembelih Binatang Bukan Karena Allah”, Muhammad bin Abdulwahab menyebutkan kisah orang yang berkurban dengan seekor lalat yang menyebabkan ia masuk neraka. Kisah ini dituturkan oleh Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

Rasulullah bersabda, “Ada seseorang yang masuk surga karena seekor lalat, dan ada lagi yang masuk neraka karena seekor lalat pula.”Para sahabat bertanya, “Bagaimana itu bisa terjadi, ya Rasulullah?
Rasul menjawab, “Ada dua orang berjalan melewati sekelompok orang yang memiliki berhala, yang mana tidak boleh seorang pun melewatinya kecuali dengan mempersembahkan sembelihan binatang untuknya terlebih dahulu.
Maka mereka berkata kepada salah satu di antara kedua orang tadi, ‘Persembahkanlah sesuatu untuknya! Ia menjawab, ‘Saya tidak mempunyai apapun yang akan saya persembahkan untuknya.’ Mereka berkata lagi, “Persembahkan untuknya walaupun seekor lalat!’
Ia pun mempersembahkan untuknya seekor lalat, maka mereka lepaskan ia untuk meneruskan perjalanannya, dan ia pun masuk ke dalam neraka karenanya.
Kemudian mereka berkata lagi kepada seseorang yang lain, ‘Persembahkanlah untuknya sesuatu!’ Ia menjawab, “Aku tidak akan mempersembahkan sesuatu apapun untuk selain Allah. Maka mereka pun memenggal lehernya, dan ia pun masuk ke dalam surga.”

Muhammad bin Abdulwahab menyebutkan beberapa faidah dari kisah tersebut di antaranya:
1. Masuknya orang tersebut ke dalam neraka dikarenakan mempersembahkan seekor lalat yang ia sendiri tidak sengaja berbuat demikian, tapi ia melakukan hal tersebut untuk melepaskan diri dari perlakuan buruk para pemuja berhala itu.

2. Mengetahui besarnya bahaya kemusyrikan dalam pandangan orang-orang mukmin, bagaimana ketabahan hatinya dalam menghadapi eksekusi hukuman mati dan penolakannya untuk memenuhi permintaan mereka, padahal mereka tidak meminta kecuali amalan lakhiriyah saja.

3. Mengetahui bahwa amalan hati adalah tolok ukur yang sangat penting, walaupun bagi para pemuja berhala.

***
Referensi:

Ibnu Katsir. Tafsir Al-Qur’anil Adzim. Peneliti dan Peringkas: Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh. (Terjemahan: Tafsir Ibnu Katsir. 2008. Jakarta: Penerbit Pustaka Imam Syafi’i)

Adz-Dzahabi. Al-Kaba’ir. (Terjemahan: Dosa-dosa Besar. 2007. Surakarta: Penerbit Pustaka Arafah)

Muhammad bin Abdulwahab. Kitabut Tauhid. (Terjemahan: Kitab Tauhid. 2009. Yogyakarta: Penerbit Media Hidayah)

***

Sukrisno Santoso
Ditulis pada hari Jumat, 25 April 2014, di rumah, Kota Sukoharjo



0 komentar:

Posting Komentar

PROMO BUKU

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...